Hampir masuk jebakan

1014 Kata
Juni tidak pulang ke rumah malam itu, bahkan dia sering tidak pulang, kalau bisa, ia ingin menghindari rumah selama mungkin. Sejak ayah nya yang duda menikah lagi, rumah tak bisa lagi ia sebut layak nya rumah, semua terjadi saat ia baru saja masuk sekolah menengah pertama, kehadiran ibu tiri dan adik tiri perempuan seusianya, sejak saat itu lah rumah baginya seperti neraka. Bahkan mereka, ibu dan anak itu, sering mengadu domba antara Juni dengan ayahnya, membuat mereka bertengkar, dan Juni semakin menjadi tidak terkendali. Dari seorang gadis manis yang baik, ia berubah menjadi sedikit nakal, hingga membuat nilai-nilai ujiannya saat SMA menurun drastis, bahkan ada mata pelajaran yang membuat nya tidak lulus ujian akhir. Kesempatan itu pun di gunakan ibu tiri dan adik tiri nya untuk menghasut sang ayah. Agar Juni sebaik nya tidak perlu kuliah saja. Mereka mengatakan untuk apa mengeluarkan banyak uang demi seorang pecundang. Jelas Juni merasa kecewa, menangis dan meratap pun tak ada gunanya, kini ayah nya malah banting tulang hanya demi menyekolah kan seorang yang bahkan bukan darah daging nya sendiri. Kenyataan ini sungguh miris, namun Juni tidak ingin terus larut dalam keterpurukan, ia mencoba untuk bangkit, ia mencoba ingin mencari jalan nya sendiri, bertekad untuk bisa berdiri di atas kaki nya sendiri, dengan begitu dia akan benar-benar bisa pergi dari rumah, dari neraka dunia nya. "Lili, aku mau keluar sebentar, kau mau ikut tidak?" Juni mengalungkan tas selempang nya ke pundak saat ia tengah bicara pada Lili. Ia juga sudah tampak berpakaian rapi. Lili yang sejak tadi asik membaca novel sembari tiduran di ranjang, membalik tubuhnya menatap Juni, "kau mau kemana malam-malam begini?" "Aku mau pergi sebentar, editor ku mengajak ku bertemu di restoran, katanya ada yang ingin di bicarakan." "Oh... Begitu, memang nya harus malam ini juga?" Tatapan Lili beralih ke arah jam dinding yang ada di kamar nya. Jam menunjukkan pukul 20.30. Sudah lumayan larut. "Kau yakin mau pergi jam segini? Tidak besok saja?" Lili merasa sedikit khawatir. "Entahlah, aku juga tidak tahu, aku janji hanya sebentar saja, begitu selesai aku janji akan langsung kembali." Juni seolah mengerti kekhawatiran yang terlihat di wajah Lili, dan ia berusaha meyakin kan gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja. "Baiklah, jaga diri mu baik-baik, maaf... Aku tak bisa ikut keluar bersama mu, badan ku terasa letih dan aku ingin beristirahat saja." "Terimakasih, Lili. Atas perhatian mu selama ini, aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada dirimu, Ayah dan ibu mu juga sangat baik padaku, mereka selalu menerimaku, maaf jika aku sering merepotkan mu dan keluarga mu." "Astaga... Juni, kau ini bicara apa? Kita sudah bersahabat cukup lama,sejak kita SD, tapi kau masih saja sungkan begitu. Aku juga senang memiliki dirimu sebagai sahabat ku, aku yang anak tunggal ini jadi tidak kesepian karena seperti memiliki saudara." Kedua nya pun terkekeh kecil, mata Juni bahkan mulai berkaca-kaca karena merasa terharu. Selama ini hanya Lili dan keluarga nya yang ada di sisi nya saat ia harus menghadapi masa-masa sulit. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." "Hati-hati." Juni melangkah meninggal kan kamar, entah kenapa Lili seolah memiliki firasat akan terjadi suatu hal yang tidak baik terhadap sahabat nya itu. Namun ia buru-buru menepis nya dan melanjutkan aktifitas nya membaca novel. *** Sesampainya di restoran, Juni dengan mudah menemukan editor nya yang sudah duduk di salah satu meja. Pria berkaca mata itu terlihat senang menyambut kedatangan nya. "Maaf, kak. Membuat mu menunggu lama." "Ah... Tidak, tidak lama, kok. Sekarang duduk lah." Pria itu bahkan menarik kan kursi untuk Juni duduk. Juni merasa sedikit canggung, pasal nya, pria yang ada di hadapannya saat ini terus menatap nya dengan senyum tak biasa. Juni bahkan sampai berpikir, apa yang salah dengan diri nya. "Kak, sebenar nya kau ingin membicarakan apa? Apa bisa kita mulai sekarang saja? Aku tidak ingin pulang terlalu larut," Juni mencoba memecah keheningan. "Santai sebentar, kita makan saja dulu...." Mata pria itu pun tampak celingukan, "Nah, itu pesanan nya sudah datang," lanjut nya dengan tersenyum senang saat melihat seorang pelayan membawa nampan penuh makanan berjalan ke arah meja nya. Sang pelayan sibuk meletak kan semua pesanan di meja, tak lama kemudian berlalu. "Ayo... Mari kita nikmati hidangan nya dulu." Juni hanya mengangguk, pria di hadapannya mengacung kan gelas berisi cairan merah ke udara, "kita bersulang dulu." Sebenar nya Juni merasa ada yang janggal, kenapa pria di hadapannya itu tiba-tiba bersikap baik pada nya. Padahal siang tadi dia bersikap sebalik nya, mengatakan naskah nya hanya lembaran sampah. Namun kenapa sekarang pria itu berubah, ada apa dengan nya? Di tengah kebimbangan yang tengah ia rasakan, Juni tetap menuruti keinginan editor nya untuk bersulang, kemudian meneguk sedikit minuman yang terasa aneh di lidah nya. "Sebenar nya naskah novel mu bagus," pria di hadapannya itu memulai, "namun kau hanya kurang memberinya sentuhan rasa, dan mungkin kau harus mempraktekkan apa yang kau tulis agar cerita mu lebih memiliki nyawa." Juni jadi teringat pada Lili, tadi siang sahabat nya itu juga mengatakan hal yang sama. Juni kaget ketika tiba-tiba saja sang editor yang memiliki badan gempal dan kepala botak itu menyentuh tangannya di atas meja, "bagaimana, kalau kau mulai dengan bercinta dengan ku." Mendengar itu perut Juni seketika terasa mual, wajah nya pun berubah pucat. Astaga... Yang benar saja, tidak mungkin baginya untuk melakukan simulasi jatuh cinta dengan orang seperti itu kan? Dasar tua bangka tidak tahu diri. Apa maksud nya dengan bercinta? Tak hentinya Juni mengumpat dalam hati. Juni yang merasa risih segera menarik tangannya kembali, "maaf, sepertinya aku harus segera pulang." Ia tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, ia ingin segera pergi dari sana sebelum pria itu mencoba untuk merayu diri nya lagi. Namun saat hendak berdiri, Juni merasakan kepalanya tiba-tiba pusing luar biasa, ia pun kembali jatuh terduduk, bahkan kini matanya ikut terasa berat, apa yang telah terjadi? Pria itu sengaja memberi Juni obat perangsang melalui minuman yang di minumnya tadi. Saat Juni hampir tak sadarkan diri, dia buru-buru beralih ke arah gadis itu dan menopang tubuh nya yang kini terlihat tak berdaya. "Ah... Panas, kenapa terasa sangat panas." Juni terus meracau di sepanjang perjalanan menuju parkiran, pria itu hendak membawa nya menuju hotel. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN