Bab.4 Kamu Tidak Bisa Menuntutnya

993 Kata
  "Baik!" Kepala Pelayan juga gentar akibat kemarahan tuannya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Rian begitu marah. Kondisi ini membuat Kepala Pelayan memiliki penilaian berbeda terhadap Serafina.   "Nona Serafina, silakan."   Kepala Pelayan berjalan ke depan dan mengulurkan tangannya ke Serafina. Meski merupakan kalimat undangan, tetapi dari nadanya terdengar paksaan.   Serafina menelan ludahnya. Wajahnya sangat pucat. "Jika aku bersikeras untuk tetap pergi?"   Kepala Pelayan menganggukkan kepalanya ke arah pintu tanpa ekspresi. Serafina menoleh ke belakang dan melihat di belakangnya sudah dipenuhi para penjaga. "Nona Serafina, Anda sedang mengandung anak keluarga Prawiranto, sebaiknya Anda berhenti berpikir untuk melarikan diri.”   "Ini ilegal! Jika aku menuntut kalian, Pak Rian akan diadili!"   Serafina menggertakkan giginya. "Mereka bukan bangsawan, mereka hanya segerombolan berand*lan!"   "Seluruh Kota Tiara ini milik Pak Rian. Nona Serafina, Anda tidak bisa menuntutnya."   Serafina terdiam. Saat ini, dia baru menyadari betapa tidak berharganya dia. Nasibnya bisa dengan mudah dikendalikan oleh orang lain, dan dia tidak punya hak untuk melawan.   Tidak, dia tidak rela.   Mana mungkin dia menyerah begitu saja? Ingin dia melahirkan bayi dan membiarkan anak itu tumbuh dalam lingkungan yang dingin seperti ini? Dia tidak bisa melakukannya!   "Kenapa kalian masih berdiri di sana? Kalian sudah membersihkan kamarnya? Bawa Nona Serafina ke kamar sekarang juga!" Kepala Pelayan memarahi para pelayan yang berdiri di pojok.   "Baik!"   Ada beberapa orang datang dan memegang lengan serta bahu Serafina, kemudian mendorongnya ke lantai atas.   Setelah tiba di depan sebuah kamar, Serafina dimasukkan ke dalamnya. Kemudian pintu ditutup di belakangnya, tidak lama terdengar suara pintu dikunci.   ……   Tiga hari kemudian.   Ketika Rian kembali ke rumah dari perjalanan bisnis, dia melemparkan jas ke pelayan yang berada di depan pintu, melonggarkan dasinya sambil menuju ke lantai atas. "Siapkan air, aku mau mandi."   "Baik." Pelayan itu pergi dengan gugup. Ketakutan di wajahnya terlihat jelas.   Rian melihat kondisi yang berbeda itu. Dia mengernyitkan alisnya dan menatap Kepala Pelayan yang berdiri di sampingnya. "Apa yang terjadi?"   Kepala Pelayan memberanikan diri untuk berkata, "Tuan, selama Anda pergi tiga hari ini, Nona Serafina menolak untuk makan."   "Menolak untuk makan?"   Rian berjalan menuju kamar Serafina dengan wajah muram. Suasana hatinya yang awalnya baik tiba-tiba menjadi suram.   Saat ini, Serafina bersembunyi di dalam selimut sambil diam-diam makan roti. Menolak makan hanya formalitas, agar mereka menyadari bahwa dia bukanlah orang yang bisa ditindas begitu saja. Dia juga bisa melawan mereka!   Tiba-tiba, pintu dibuka dengan kasar. Serafina refleks menyimpan roti ke bawah bantalnya, lalu menutup wajahnya dengan selimut.   Awalnya Serafina mengira yang datang adalah Kepala Pelayan dan para pelayan untuk membujuknya agar mau makan. Namun, dia tidak menyangka selimutnya disibak dengan tiba-tiba. Rian menekan pundaknya dengan tangannya yang besar. Tubuh Serafina kaku.   "Hm."   Serafina kewalahan menahan berat badan Rian, dia tidak bisa bernapas. Dia mengerjapkan matanya karena takut.   Meski sudah mempersiapkan diri untuk melawan, tetapi dia tetap saja ketakutan dan gemetar saat melihat pria dingin ini.   "Pak.. Pak Rian, tolong turun."   Rian hampir saja menumpukan seluruh berat badannya pada tubuh Serafina. Selain bagian perut, Serafina merasa anggota tubuhnya yang lain akan hancur.   "Kenapa kamu menyiksa bayiku seperti ini? Hah?"   Rian mengulurkan satu tangan untuk memegang dagu Serafina. Rasanya sangat nyaman, lembut seperti jelly.   Rian menyeringai ketika dia melihat ada remah roti di sudut bibir Serafina, dan dia mengusapnya dengan jari panjangnya.   Ternyata masih tahu untuk makan. Tidak terlalu bodoh.   Rian merasa lega, tetapi dia tetap berpura-pura marah dan berbicara dengan suara dingin, "Makan roti saja tidak cukup. Kamu memang tidak akan mati kelaparan, tetapi bayiku akan menderita."   Wajah Serafina memerah. "Ba.. Bayi apa? Aku tidak akan melahirkannya."   Rian menjadi luluh ketika melihat wajah Serafina yang memerah dan matanya yang berbinar, dia berkata dengan lembut, "Patuh. Turun dan makanlah. Aku sudah meminta Kepala Pelayan mempekerjakan ahli nutrisi khusus untukmu. Dia akan datang besok."   "Rian, aku tidak akan melahirkan bayimu!"   Serafina membalas dengan keras dan menyela kesombongan Rian. Namun, dia menyesal begitu menyelesaikan kata-katanya.   "Hebat, coba katakan sekali lagi."   Rian mencengkeram Serafina lebih keras. Tatapan Rian semakin dingin. Saat mendengar jawaban Serafina, Rian merasa kesal, marah, dan ingin meluapkan amarahnya.   "Lepaskan. Lepaskan aku!"   Serafina kesakitan. Dia menggerakkan tangan dan kakinya, berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Rian. Namun, dia tidak tahu tindakannya itu malah membuat Rian semakin b*******h.   "Kamu m***m!"   Wajah Rian menjadi gelap. Tidak ada wanita di dunia ini yang berani mengatakan bahwa dia m***m. Wanita yang tak terhitung jumlahnya mencoba segala macam cara untuk memiliki hubungan dengannya.   Oh, Rian hampir lupa bahwa gadis kecil yang berada di bawahnya adalah contoh yang sukses.   Jadi, dia sengaja menggodaku? Usianya begitu muda, tetapi caranya sangat hebat.   Dia tidak bisa menahan untuk mengingat manisnya Serafina malam itu. Namun, Rian adalah orang yang bisa menahan diri dan memahami prioritas.   Dia mengerutkan bibir tipisnya dan memegang tangan Serafina dengan satu tangan sambil menahan kekesalan. Dia menunduk, "Apa yang kamu inginkan? Uang?"   Rian teringat percakapan antara Serafina dan Heryanto di ruang tamu hari itu. Dia adalah gadis materialistis yang menjual malam pertamanya untuk 5 miliar rupiah. Dia benar-benar mementingkan uang dalam hidupnya!   "Aku bisa memberimu cek kosong dan kamu bisa mengisi jumlahnya sebanyak yang kamu mau. Setelah kamu melahirkan bayiku, kamu bisa mendapatkan kekayaan yang tak ada habisnya dariku. Nona Serafina, pikirkan lagi. Ini kesepakatan yang adil untukmu. "   Kesepakatan?   Dia menganggap itu sebagai kesepakatan?   Serafina sangat marah sampai dia ingin tertawa. Dia mengerutkan bibir merah mudanya dan tertawa terbahak-bahak.   Melihat Serafina tertawa, Rian menganggap Serafina menyetujui sarannya. Rian mengernyitkan dahi, merasa kecewa.   Jarang baginya untuk begitu peduli pada seorang wanita, tetapi pada akhirnya, Serafina datang kepadanya hanya untuk mendapatkan uang.   "Jika kamu setuju, turunlah untuk makan. Aku akan meminta staf dapur memasak makanan segar untukmu."   Rian akhirnya melepaskan Serafina dan beranjak dari tempat tidur dengan wajah dingin.   Melihat Rian beranjak ke luar, Serafina segera berdiri sambil mengulangi kata-katanya, "Rian! Tidak peduli berapa banyak uang yang kamu berikan padaku, aku tidak akan melahirkan bayimu!"   Dia memang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan adiknya dan untuk biaya sekolahnya. Ibunya yang bekerja sebagai pelayan tidak mampu menanggung semua biaya ini, tetapi dia juga tidak bisa bercanda tentang melahirkan seorang bayi ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN