Bab 6: Kembali Pada Masa Lalu

1897 Kata
*** Tidak semua orang bisa menjadi seperti apa yang kita mau, jadi kenapa harus memaksa? *** Karlita menatap Prasetyo dengan sangat ragu sekali, mereka tengah dalam perjalanan menuju Solo, pakaian yang mereka gunakan juga sudah sesuai dengan tema yang di angkat dalam acara makan malam ini. Dress yang Karlita gunakan hari ini di belikan oleh Prasetyo kemarin saat mereka sedang menikmati waktu santai mereka di sebuah pusat perbelanjaan. Prasetyo sepanjang hari selalu menyakinkan Karlita dan mengatakan kalimat-kalimat menyenangkan yang sungguh sedikit banyak berhasil membuat Karlita merasa lebih baik namun saat mobil Prasetyo terus melaju menuju tempat di mana acara keluarga Adipura di adakan, keraguan dan ketakutan itu kembali menyelimuti Karlita. "Mas berapa lama lagi? Acaranya di rumah atau di restoran?" Tanya Karlita sembari menatap Prasetyo. "Sekitar dua puluh menit lagi dan acaranya di restoran milik keluarga, kalau kamu mau merapikan penampilan silahkan lakukan sekarang," jawab Prasetyo, pria itu tetap fokus pada kemudi. Jalan yang sedang mereka lalui lumayan padat membuat Prasetyo harus fokus lebih. Karlita menarik napasnya, dia berusaha dengan sangat keras untuk meyakinkan dirinya. Dia tidak boleh mengecewakan Prasetyo sedikitpun. Pria itu sudah bersabar menghadapi dan memahaminya sejak kemarin dan sekarang Karlita harus melakukan yang terbaik. Karlita harus bersikap dengan baik di hadapan keluarga Prasetyo apapun yang akan dia hadapi nanti, Karlita tidak boleh melakukan sesuatu yang buruk dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri dan Prasetyo di depan keluarga Prasetyo. Saat mobil Jeep yang dikendarai oleh Prasetyo berbelok masuk ke arena restoran yang sangat khas Solo sekali kemudian terparkir dengan sempurna di salah satu spot parkir yang di sediakan, saat itu detak jantung Karlita benar-benar tidak terkendali lagi, dia menarik napasnya kemudian menghembuskannya secara perlahan dan langsung tersenyum pada Prasetyo yang membukakan pintu mobil untuknya. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan Lita, seperti apapun orang-orang yang akan kamu temui di dalam sana, jika mereka tidak membuat kamu nyaman maka tatap aku sepanjang acara itu. Kamu memiliki aku di samping kamu," ucap Prasetyo, Karlita mengangguk patuh kemudian dia mengikuti langkah Prasetyo tentu saja pria itu sekarang menggenggam tangannya dengan sangat lembut. Suasana restoran milik keluarga Adipura benar-benar sangat khas Jawa sekali, hal ini membuat Karlita merasa di lemparkan pada masa lalu, suasana ini mengingatkannya pada rumahnya. Rumah keluarga Samantha juga sangat Jawa sekali. Keluarganya sangat menjunjung adat-istiadat, tata Krama dan hal-hal yang menurut Karlita terkadang sangat kolot dan dulu Karlita harus melakukan dan menjalankan semua tradisi itu. Satu hal yang sangat Karlita harapkan, semoga keluarga Prasetyo tidak seperti keluarganya. Semoga mereka tidak menghakimi, membandingkannya dan menjatuhkannya. Karlita berharap mereka semua bisa menerimanya dengan apa adanya seperti Prasetyo menerimanya selama ini. Ketika mereka memasuki ruangan yang cukup luas dan suara orang-orang dengan tutur kata lembut nan anggun terdengar saat itulah Karlita tahu bahwa dia kini sudah ada di antara keluarga Adipura. Semua tatapan orang yang ada di meja panjang yang sudah di hias sedemikian rupa itu tertuju padanya dan Prasetyo. Karlita berusaha dengan keras untuk mengukir senyum terbaiknya, Karlita benar-benar ingin memberikan kesan pertama yang baik. "Mas, aku tungguin dari tadi loh, aku kira nggak datang," ucap seorang gadis tiba-tiba memeluk Prasetyo begitu saja membuat genggaman tangan Prasetyo dan Karlita langsung terlepas. "Papa bisa marah kalau aku nggak datang ke acara penting kamu, Abiyana," ucap Prasetyo, gadis yang tadi memeluk Prasetyo itu terlihat mengerucutkan bibirnya. Karlita nggak bisa berbohong sedikitpun. Gadis yang bernama Abiyana ini sangat cantik sekali. Karlita yakin dia adalah adik Prasetyo Adipura yang baru saja selesai dengan pendidikan S2-nya di luar negeri. "Jadi Mas datang ke acara aku karena Papa bukan karena aku?" Tanya gadis itu, terlihat mulai merajuk. Prasetyo terlihat menarik napasnya dan kembali menatap Abiyana. "Abiyana, please, jangan mulai," ucap Prasetyo, dari nada suaranya Karlita dapat menyadari ada nada penuh peringatan di sana. Abiyana terlihat menghembuskan napasnya pasrah, tatapan gadis itu kemudian beralih pada Karlita. "Dan siapa yang Mas bawa malam ini?" Tanya Abiyana pada Prasetyo. Entah perasaan Karlita saja atau memang benar, Karlita dapat menangkap nada tidak suka dari suara Abiyana. "Dia Karlita, pacarku," jawab Prasetyo, pria itu membawa Karlita untuk berdiri tepat di sampingnya. Abiyana menatap Karlita dari atas sampai bawah penuh penilaian kemudian gadis itu mengalihkan tatapannya dan melangkah ke arah meja, di mana para keluarga Adipura sedang berkumpul. Karlita tersenyum pada Prasetyo ketika menyadari pria itu menatap ke arahnya kemudian mereka bergabung dengan para anggota keluarga Adipura. Karlita menyapa mereka satu persatu dengan sangat sopan tentu saja di dampingi oleh Prasetyo. Tatapan yang Karlita harapkan tidak dia dapatkan satupun dari keluarga Prasetyo bahkan dari Mama dan Papa Prasetyo, Karlita juga tidak mendapatkannya. Tidak ada tatapan ramah penuh kehangatan tapi justru Karlita mendapatkan tatapan penuh penilaian, benar-benar tatapan penuh penilaian sampai Karlita berulang kali menahan napasnya. "Jadi Karlita sudah berapa lama dengan Prasetyo?" Pertanyaan itu datang dari salah satu tante Prasetyo. Karlita yang baru saja duduk di kursinya langsung tersenyum lebih tepatnya mengusahakan diri untuk tersenyum apalagi menyadari tatapan semua orang kini tertuju padanya. "Sudah hampir jalan satu tahun lebih, Tante," jawab Karlita sesopan mungkin. Dia benar-benar tidak ingin mengecewakan Prasetyo sedikitpun. "Kalau di lihat-lihat kamu seumuran sama Abiyana, apa pendidikan terakhir kamu Karlita?" Kali ini pertanyaan itu datang dari Hilmaya yang baru saja Karlita tahu adalah Ibu Prastyo. "Baru selesai S1, Tante," jawab Karlita dengan cepat. "Kenapa baru selesai S1, pendidikan itu sangat penting Karlita. Jangan terlalu asik dengan apa yang di berikan oleh Prasetyo sama kamu. Keluarga kami adalah orang yang berpendidikan tinggi. Abiyana kami bahkan sudah menyelesaikan S2-nya,"ucap Hilmaya, nada suaranya sinis sekali, persis seperti Maryani ketika berbicara. Karlita lagi-lagi berusaha tersenyum walau sekarang keadaan hatinya benar-benar kacau balau, dia benar-benar merasa di tarik pada masa lalu, setelah dia lari sekencang yang dia bisa untuk menghindari segala hal yang seperti ini namun pada akhirnya Karlita kembali masuk ke lingkaran yang sama. Lingkaran yang membuat dadanya terasa begitu sesak. "Saya akan segera S2 dalam waktu dekat, Tante," jawab Karlita dengan sangat cepat, walau Karlita tidak tahu kapan dia benar-benar akan melakukannya namun Karlita benar-benar akan melanjutkan pendidikannya. "Baguslah, walau kamu sudah sangat-sangat terlambat." Hilmaya kembali kemudian fokus pada makanannya. "Sekarang kegiatan sehari-harinya apa, Karlita?" seroang yang lain bertanya. Karlita lagi-lagi berusaha keras untuk tersenyum dengan sangat baik. "Sekarang kerja di Bank, Tante," jawab Karlita. "Kenapa jadi karyawan? Keluargamu nggak punya perusahaan atau usaha yang bisa kamu lanjutkan? Please, ya, Karlita jangan menjadi beban Prasetyo kami. Dia yang terbaik di sini, rasa-rasanya kami rugi besar jika Prasetyo hanya mendapatkan gadis seperti kamu." Kali ini Karlita benar-benar bungkam. Senyumnya lenyap begitu saja. Sekarang rasanya benar-benar sakit. "Keluarga kami memiliki tata krama dan adat-istiadat yang sangat hidup di sini. Sepertinya kamu juga harus belajar banyak karena saya lihat banyak hal yang kurang dari kamu," lanjut seorang yang lain. "Karlita, kamu sepertinya harus jaga pola makanmu, tubuhmu terlihat gendut." "Mbak Karlita kayaknya orang yang malas merawat diri, kulitnya kusam kayak nggak pernah di urus, kalau dia nggak bisa ngurus diri sendiri bagaimana dia bisa mengurus mas Prasetyo aku dengan baik?" Ucapan-ucapan itu terus bergulir begitu saja, kedua tangan Karlita saling menggenggam dengan erat satu sama lain, menahan segala gejolak emosi yang ada dalam dirinya, Karlita rasanya benar-benar ingin berteriak dengan keras kemudian memaki orang-orang di hadapannya ini. Hari ini apa yang Karlita harapkan tidak terjadi sedikitpun, dia benar-benar di tarik pada masa lalu yang menyesakkan. Karlita sekarang hanya ingin meninggalkan tempat ini kemudian menangis sampai dia benar-benar merasa lega. Acara keluarga Adipura kemudian berlangsung dengan meriah setelahnya, mereka benar-benar menikmati makan malam dan berbagai rangkaian acara lainnya dengan penuh suka cita, canda dan tawa seolah apa yang mereka ucapkan pada Karlita beberapa waktu yang lalu bukan lah masalah apa-apa. Karlita berdiri di sisi kosong ruangan itu, benar-benar berdiri layaknya sebuah pajangan, tadi Prasetyo selalu ada di sampinya namun Abiyana membawa pria itu untuk bergabung dengan yang lain, merayakan hari baik gadis itu. Tidak ada satupun dari anggota keluarga Prasetyo yang mengajak Karlita berbicara atau mengobrol dengan baik. Mereka semua benar-benar mengabaikannya dan tidak menganggap keberadaanya. Lagi-lagi hal ini membuat Karlita merasa di tarik pada masa lalu. Dulu sewaktu dia kecil semua teman-temannya juga melakukan hal yang sama padanya. Tidak ada yang mengajaknya berbicara atau bermain, Karlita juga tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu padanya, Karlita juga tidak tahu apa yang sebenarnya kurang darinya. Sekarang hanya satu harapan Karlita, dia berharap acara keluarga ini cepat selesai dan dia bisa kembali pulang ke indekos-nya. Menenangkan dirinya. *** Baik Karlita maupun Prasetyo tidak berbicara sedikitpun bahkan ketika mereka sudah meninggalkan Solo dan kembali ke Yogyakarta. Karlita benar-benar bungkam, Prasetyo juga melakukan hal yang sama. "Mas, aku pulang ke indekos ya," ucap Karlita ketika mereka sebentar lagi akan melewati kawasan indekos Karlita. Sekarang Karlita hanya ingin sendiri, rasa tidak pantas dan tidak bisa di terima dengan baik kini sedang menyelimutinya, Karlita butuh beberapa waktu untuk membuat dirinya merasa jauh lebih baik. Sekarang benar-benar sudah tengah malam, jalanpun nyaris sepi sekarang, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. "Kamu nginep di tempat aku," ucap Praseto. Karlita langsung menggeleng. "Mas, please, aku benar-benar ingin pulang ke indekos-ku, antar aku ke sana," ucap Karlita, kali ini penuh dengan permohonan membuat Prasetyo pada akhirnya mengangguk dengan pasrah dan mengiyakan pada yang di minta oleh Karlita. "Aku turun ya, Mas, kamu hati-hati di jalan, besok pulang ke Solo hati-hati juga, ya," ucap Karlita ketika mobil Prasetyo terparkir di depan indekos-nya. Gadis itu melepas seatbelt-nya dan tersenyum tipis pada Prasetyo yang kini menatapnya dengan begitu lekat. Saat Karlita ingin turun dari mobil, Prasetyo menahan tangan gadis itu, dia menatap Karlita dengan sangat lekat. Prasetyo sangat-sangat mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Karlita sekarang, untuk orang yang memiliki trauma pada banyak hal yang begitu menuntut dan terasa menyekik leher, hari ini pasti keadaan Karlita benar-benar buruk setelah mendengarkan kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh keluarganya. "Kenapa, Mas?" tanya Karlita dengan sikap yang sangat-sangat terlihat berusaha santai. "Aku minta maaf ya," ucap Prasetyo. Karlita terdiam untuk beberapa saat, Prasetyo itu jarang sekali seperti ini, jadi terkadang Karlita sangat kaget ketika Prasetyo melakukannya untuknya. "Untuk apa? Kamu nggak melakukan kesalahan apapun, yang salah itu aku, Mas, aku minta maaf ya, aku gagal meyakinkan keluarga kamu malam ini, tapi aku berjanji akan berusaha lebih keras, Mas. Mungkin yang mereka katakan memang benar adanya, aku tidak boleh terus-menerus diam dan merepotkan kamu. Aku harus berusaha lebih," ucap Karlita sembari tersenyum, senyum yang jelas di paksakan sekali. Prasetyo sangat menyadari itu. "Aku turun ya, kamu hati-hati di jalan dan nggak perlu khawatir, aku akan baik-baik aja kali ini," ucap Karlita lagi, gadis itu terliihat benar-benar meyakinkan Prasetyo. Prasetyo sekarang benar-benar bingung untuk melakukan apa lagi, satu-satu hal yang dia lakukan adalah menarik Karlita ke dalam pelukannya, mendekap Karlita dengan sangat erat dan menghujami puncak kepala gadis itu dengan ciuman. Prasetyo selalu tidak bisa melihat Karlita yang seperti ini. Prasetyo hanya ingin gadis ini terus tersenyum tanpa adanya tekanan apapun. Karlita berhak bahagia, gadis ini tidak boleh di hakimi terus-menerus. Prasetyo tidak mengerti kenapa orang-orang selalu mengatakan kalimat-kalimat pedas pada Karlita sedangkan semua hal yang Karlita miliki nyaris sempurna menurut Prasetyo. Apa orang-orang itu merasa iri pada Karlita? Prasetyo rasa itu adalah jawaban paling tepat. Mereka semua merasa iri pada Karlita. "Lita kamu punya aku, kamu harus ingat itu apapun yang terjadi," ucap Prasetyo ketika dia mengurai pelukannya dengan Karlita. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. "Terimakasih mas Pra," ucap Karlita, dia benar-benar turun dari mobil setelahnya dengan sebuah keyakinan bahwa dia tidak boleh lagi lemah dan merasa frustasi. Karlita harus merubah semuanya. Dia tidak boleh mengecewakan Prasetyo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN