Sabrina tanpa malu-malu membelai bagian belakang telinga Vando dan membuat pria muda berbuat cepak itu melenguh karena itu adalah salah satu titik sensitifnya.
"Kamu jangan nakal ...!" protes Vando tidak terima, tapi ucapannya berbanding terbalik dengan tingkahnya yang seakan suka terhadap apa yang dilakukan kekasihnya ini.
"Van ... Coba kamu mau ... menikahi aku ..." ucap Sabrina terbata karena Vanda memainkan jemarinya di area leher bersih dan wangi miliknya. "... kita nggak akan perlu ... sembunyi-sembunyi kayak begini ...."
Vando menarik tangannya dan mengembuskan napas berat. Dia masih ingat bagaimana penolakan sadis yang dia terima dari ayah Sabrina saat dirinya berniat melamar kekasihnya itu.
"Kerja saja kamu Senin-Kamis, bagaimana kamu mau kasih makan anak saya?"
Ucapan itu jelas sangat melukai harga diri Vando sebagai seorang lelaki pekerja keras meskipun belum bisa sesukses bayangan ayah Sabrina.
"Apa kamu mencintai suami kamu?" tanya Vando sambil memandang Sabrina dengan ekspresi yang tidak seantusias tadi.
"Enggak," geleng Sabrina tanpa berpikir. "Aku terpaksa menikah gara-gara ayah aku, kamu tahu kan?"
Vando menarik napas.
"Andai saja ayah kamu mau kasih aku kesempatan untuk membuktikan seberapa dalamnya cinta aku sama kamu," kata Vando sambil kembali membelai kulit wajah Sabrina yang halus. "Kita nggak akan perlu seperti ini, aku sendiri nggak suka harus sembunyi-sembunyi di belakang suami kamu, aku nggak suka ...."
Sabrina mendadak bertindak agresif dengan menarik wajah Vando mendekat dan beradu bibir dengan ganasnya.
Di rumah, Cendric yang bosan lantas pergi ke ruang kerja ayahnya untuk memantau perusahaan yang dia tinggalkan selama cuti menikah.
Selama beberapa saat Cendric sibuk dengan laptopnya yang menyala di atas meja. Setelah itu dia mematikannya karena tidak bisa fokus bekerja.
Ada bayangan remaja yang selalu menari-nari di pelupuk mata Cendric setiap kali dia menatap layar.
Bayangan sosok Vedra yang masih remaja, polos dan menjengkelkan karena telah ikut serta dalam trik-nya untuk menghindari malam pertamanya dengan sang istri.
Cendri meninggalkan ruang kerja dan kembali ke kamarnya sendiri. Saat dia melewati kamar Sabrina, Cendric teringat dengan rencananya yang gagal karena lagi-lagi justru Vedra yang dia temukan sedang tidur di kamar Sabrina.
"Tuan, makan siangnya sudah siap." Erni memberi tahu ketika Cendric hampir melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Sabrina sudah pulang belum, Bu?" tanya Cendric sambil menoleh dengan wajah datar.
"Sepertinya belum, Tuan ... atau mau saya cek dulu ke kamar sebelah?" tanya Erni yang tahu kalau selama ini Cendric dan Sabrina tidur dalam kamar yang terpisah.
"Nggak usah, Bi. Biar aku sendiri yang cek," geleng Cendric tegas. "Makanannya diamankan dulu, nanti aku turun."
Erni menganggukkan kepalanya dengan sopan kemudian segera berlalu pergi.
Cendric memgurungkan niatnya utnuk masuk ke kamarnya sendiri, sebagai gantinya dia membuka pintu kamar Sabrina dan tentu saja ruangan itu dalam keadaan kosong.
"Istri macam apa ini?" gumam Cendric sambil menutup pintu kamar Sabrina yang kosong melompong. "Menantu pilihan ayah."
Hari itu Sabrina kembali ke rumah mertuanya dengan langkah-langkah ringan tanpa beban dan wajah yang seakan tak punya dosa.
Cendric yang masih berusaha sabar karena Sabrina adalah menantu pilihan orangtuanya, dia memilih tak peduli dan membiarkan sang istri untuk bersikap sesuka hati di rumah itu.
Namun, ketidakpedulian Cendric disalahartikan Sabrina sebagai kesepakatan mereka berdua untuk tidak saling mengganggu privasi masing-masing.
***
Beberapa waktu berlalu dan Vedra kini sudah resmi menyandang gelar mahasiswi baru di kampusnya. Dia yang memilih jurusan ilmu keguruan, mulai mempertimbangkan keputusan untuk tinggal mandiri di kos dekat kampusnya.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Rosita sangsi. "Kamu kan selama ini tidak pernah jauh dari rumah ...."
Vedra hanya manggut-manggut dengan wajah antuasias.
"Ibu nggak akan tahu kalau aku nggak mencobanya," kilah Vedra. "Ibu nggak usah khawatir, kosnya dekat sama kampus kok. Jadi irit bensin ...."
"Tapi jadi boros bayar kos," timpal Rosita logis, membuat Vedra seketika meringis.
Karena keinginan Vedra untuk mencoba hidup mandiri sudah bulat, Rosita akhirnya memberi izin setelah terlebih dahulu dia merundingkannya dengan matang bersama ayah Vedra.
"Jangan lupa untuk selalu laporan sama ayah setiap malam," pesan Baskara ketika dia menurunkan putri keduanya di depan kos-kosan yang lokasinya tepat di belakang kampus. "Kalau bisa, setiap jam kamu telepon ibu kamu biar tidak kepikiran ...."
Vedra nyengir saja mendengar ucapan ayah kandungnya itu.
"Aku akan jaga diri, Yah!" kata Vedra berulang-ulang, lantas dia mencium tangan ayahnya dan segera berbalik untuk memasuki kamar kos yang sudah dia bayarkan uang mukanya.
Karena kepribadian Vedra yang mudah bergaul dan ramah kepada siapa saja yang dia temui di bangunan kos, hanya dalam waktu singkat saja dia sudah memiliki dua orang teman baru yang sama-sama berkuliah di fakultas keguruan.
Akhir pekan itu Vedra terbangun di kosnya dengan rasa malas yang mendarah daging. Namun, karena dia ingat bahwa hari itu dia ada kelas, mau tak mau dia memaksa kedua kakinya untuk mandi.
"Kelar kuliah, kita mampir minum kopi yuk?" ajak Triana dengan senyum gigi gingsulnya. "Aku ngantuk banget ini ...."
Vedra mengangguk setuju dan menoleh untuk minta pendapat kepada teman lainnya yang bernama Meta.
"Kalau aku nggak disamperin cowok aku," kata Meta dengan nada senang.
Ketika mereka bertiga hampir saja mencapai gedung fakultas keguruan, pandangan mata Vedra tanpa sengaja menangkap sosok familiar yang sedang nongkrong bersama para mahasiswa lainnya di depan taman.
"Sebentar, ya?" Vedra menoleh kepada dua temannya dan langsung membelokkan langkahnya ke arah sekumpulan tadi.
"Oza?" panggil Vedra sambil memandang ke arah salah satu pemuda jangkung yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Wah, siapa nih?"
"Nggak pernah lihat, mahasiswi baru ya?"
Oza mengamati Vedra selama beberapa detik, kemudian segera meminta teman-temannya untuk diam.
"Dia saudara iparku, duluan ya!" pamit Oza sambil meraih tas ranselnya dan mendatangi Vedra.
"Kamu adiknya Kak Sabrina kan?" tanya Oza memastikan.
Vedra mengangguk.
"Aku baru tahu kalau kita satu kampus," komentar Vedra dengan senyum tersungging di wajahnya yang cerah terkena sinar matahari.
"Bukannya kamu masih SMA saat terakhir kali kita bertemu?" tanya Oza dengan kening yang berkerut keheranan.
"Aku sudah hampir ujian saat itu!" jawab Vedra sambil menoleh sekilas ke arah kedua temannya yang berdiri kepanasan. "Za, aku duluan ya!"
Oza menganggukkan kepala dan menatap ke arah Vedra yang bergabung bersama kedua temannya hingga mereka pergi dari pandangan matanya.
Sorenya, Oza pulang ke rumah orangtuanya dan menemukan Cendric yang sudah berdiri di pintu depan ketika dirinya melangkah masuk.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Oza heran karena setahu dia Cendric sudah pindah ke rumah pribadinya dengan memboyong serta Sabrina. "Ayah sama ibu masih di Singapura kan?"
"Mereka sudah di Adelaide," jawab Cendric datar. "Aku punya tugas penting buat kamu."
"Cepat amat pindah kerjanya," komentar Oza seraya melangkah melewati kakaknya yang bergeming di dekat pintu. "Tugas apa?"
"Balaskan dendam aku ke Vedra," suruh Cendric.
Bersambung –