BAB 1

2390 Kata
Orang yang ikhlas dan pandai bersyukur akan selalu mendapat jalan keluar dari setiap masalah. _____________ Dia adalah Keynara, gadis cantik yang berhijab, wajahnya yang ayu membuat semua mata yang memandangnya akan terpesona dalam sekali pandang. Awalnya, Keynara adalah seorang gadis yang periang, namun kehidupannya menjadi gelap, seperti awan kelabu yang membawa pahitnya kehidupan dalam dirinya. Kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu sangat terpukul, ia menjadi gadis yang murung. Namun, sosok bibi yang sangat menyayanginya membuat ia masih ingin bertahan hidup. Secercah cahaya masuk dalam kehidupannya yang gelap saat ia menyandang gelar magister karena kerja kerasnya sendiri. Mendapatkan sebuah beasiswa S2 karena kecerdasannya adalah anugrah Tuhan yang sangat ia syukuri. Ia menjadi fresh graduate dan mendapatkan gelar master ekonomi diumurnya yang ke 24 tahun. Hari ini, ia akan mencoba mencari pekerjaan untuk membantu finansial bibi dan pamannya, karena mereka bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Keynara sudah siap dengan setelan kerjanya. Kemeja ungu muda, rok hitam lebarnya dan tak lupa ia mengenakan jilbab berwarna hitam yang menjulur menutupi dadanya. Ia berpakaian sesuai yang Allah inginkan dalam surat cinta yang diturunkan untuk hambanya, yaitu Al-Qur’an, dimana ayat itu berbunyi: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59). “Terima kasih Ya Allah. Engkau memberikan hidayah kepadaku untuk menutup auratku. Semoga aku bisa istiqamah di jalan ini dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin.” Keynara mulai mengenakan jilbab saat masih menduduki bangku SMP. Saat itu, ia adalah alumni pesantren di salah satu pesantren yang berada di Kota Bandung. Ia sangat bahagia bisa mempertahankan jilbabnya sampai sekarang. Senyuman Keynara tidak pernah luntur, ia menatap lamat pantulan dirinya di dalam cermin. Matanya berkaca-kaca mengingat semua kerja kerasnya selama ini dalam belajar keras agar mendapatkan gelar sarjana dan magister. Sekarang, waktunya ia berjuang kembali untuk mendapatkan pekerjaan agar ia bisa membantu finansial bibi dan pamannya yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. “Jika orang lain bisa, kenapa kamu tidak? Semua orang bisa menggapai impiannya, jika ia berusaha, berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Jadi ayo semangatlah Key,” ucap Key menyemangati dirinya sendiri dengan semangat membara di depan cermin sambil mengepalkan kedua tangannya. Suara pintu terbuka membuat gadis manis berkulit putih bersih itu menoleh. Ia tersenyum melihat bibinya yang sudah berumur 47 tahun itu menghampirinya. “Sarapan dulu yuk, otak dan tubuhmu butuh nutrisi loh, supaya kamu bisa kuat seharian cari kerjanya,” ucap Hani membuat Keynara terkekeh. “Siap Bibi.” Mereka menuju dapur dan siap menyantap sarapannya. “Paman udah berangkat?” tanya Key sambil memasukkan nasi goreng kesukaannya dalam mulut kecilnya. “Iya, dia berangkat jam 6 tadi. Katanya bos besar di perusahaan tempat ia kerja baru pulang dari luar negeri dan langsung menuju kantornya. Untuk itu, pamanmu cepat datang karena kantor itu perlu besih dan kinclong, sekinglong kinclongnya,” jawab Hani sangat semangat sambil menampilkan ekpresi menggemaskan membuat Keynara tertawa. “Aduh Bibi udah tua gitu semangat bicaranya kok kayak anak ABG aja sih.” Keynara berteriak saat Hani mencubit pipinya dengan sangat gemas. “Dasar, mau jadi keponakan durhaka kamu yah?” Keynara terkekeh karena ucapan bibinya. Hani ikut tertawa melihat anak gadisnya itu tertawa bahagia. Inilah yang membuat Key tidak lagi menjadi gadis yang pemurung, karena kehadiran Hani dan Anton yang mewarnai hidupnya membuat gadis itu semangat lagi dalam menjalani kehidupannya. “Bibi, aku berangkat dulu yah. Udah jam 7 nih.” Key berdiri hendak mencuci piringnya, namun Hani menahannya. “Biar Bibi saja. Sudah sana berangkat.” Key mengangguk, ia mencium tangan bibinya dan tak lupa dengan kebiasaanya, ia mencium kedua pipi bibi yang sudah menjadi pengganti ibunya itu. “Aku pergi. Assalamu’alaikum bibi sayang.” “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati nak.” Key tersenyum kepada Hani kemudian memakai helem pinknya, ia tidak lupa membaca Ayat kursi agar sepuluh ribu malaikat menjaganya, ia kemudian mengucapkan basmalah dan menancap gas motor matic berwarna merah itu. *** Di Bandara Soekarno Hatta, Seorang pria tampan berjalan dengan begitu gagah di bandara, ia menyeret sebuah koper besar berwarna hitam dengan merek ternama. Matanya yang tertutup kaca mata hitam melirik ke segala penjuru arah, ia mencari seseorang yang menjemputnya hari ini. Tatapannya berhenti pada satu titik. Di luar dugaannya, ia mengira orang yang akan menjemputnya hanyalah sahabatnya saja, ternyata ibunya juga berada di sana. Perasaannya mulai tidak enak melihat ibunya. Ia tahu, ibunya akan membahas pernikahan lagi. Awalnya, ia akan langsung pergi ke kantor dan akan kembali ke apartemennya. Ia tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya. Ia ingin menghindari interogasi orang tuanya, tapi apalah daya. Pasti ibunya tahu, bahwa saat ini ia sedang ingin menghindar. “Hei malin kundang. Kamu mau jadi anak durhaka yah? Bisa-bisanya kamu hanya menghubungi sahabatmu ini. Untungnya dia baik hati mau memberitahu mami.” Wanita paruh bayah yang tak lain adalah Rahmi berbicara dengan nada sendu saat ia sudah berada di depan anaknya, Azzam. Ya, pria tampan yang baru saja pulang dari Amerika itu bernama Azzam Aulian Evren. Dia adalah pria yang memiliki darah orang Turki yang diturunkan langsung dari ayahnya, Izmeth Evren. Bukan hanya itu, ia juga memiliki darah orang Jepang dari neneknya. Bisa bayangkan bagaimana tampannya sosok Azzam ini, bukan? Karena dia adalah anak blasteran, ia memiliki ketampanan yang luar biasa, ia sampai digilai banyak kaum hawa di negaranya itu. Matanya yang berwarna coklat terang atau istilah kerennya berwarna amber, hidung yang sangat mancung, bibir tipis berwarna merah jambu, alis tebal dan bulu mata yang sangat lentik menambah keindahan matanya. Ia memiliki tinggi badan sekitar 185 cm. Ia adalah sosok lelaki tampan bak pangeran di negeri dongeng. “Kamu tidak merindukan mami yah?” lanjut Rahmi dengan mata berkaca-kaca. “Ya, kok mami nangis sih. Jangan gitu dong. Maafin aku yah. Aku rindu mami kok. Mana mungkin aku tidak merindukan mami.” Azzam memeluk sosok perempuan yang sudah melahirkannya 25 tahun lalu itu dengan sangat lembut. Sesekali, ia mengecup puncak kepala ibunya. “Kenapa mami juga ikut ke bandara?” Azzam bertanya begitu lembut pada ibunya setelah melepaskan pelukannya. “Ya kamu sih. Nggak bilang mami kalau udah pulang hari ini.” Rahmi mengerucutkan bibirnya membuat Azzam terkekeh. “Ya, aku rencana akan menemui mami besok. Aku ingin menenangkan diri dulu sehari sebelum mami menginterogasi diriku lagi tentang pernikahan. Capek tahu dengar mami dan papi bahas pernikahan terus.” Azzam menarik tangan ibunya lembut dan mulai berjalan mendekati mobilnya, ia tidak mau melewatkan meeting pentingnya hari ini. Jadi secepat mungkin, ia harus tiba di kantornya. “Bukannya begitu sayang. Mami dan papi udah tua loh. Mami mau cepat punya cucu. Kamu tahu sendiri kan mami sangat kesepian setelah adikmu meninggal 4 tahun yang lalu. Jadi, tinggal kamu anak mami satu-satunya. Mami ingin kamu secepatnya bawa istri ke rumah agar rumah itu tidak terasa sepi lagi. Kami ingin melihat kamu menikah sebelum kami meninggal. Kakek dan nenekmu juga udah nggak sabar lihat cucunya menikah. Kamu nggak kasihan yah sama kami?” Azzam menoleh, menatap ibunya yang duduk di sampingnya. Mereka sudah berada di dalam mobil. Azzam dan Rahmi duduk di kursi penumpang. Sedangkan Adrian yang mengemudikan mobil mewah berwarna putih itu. Adrian adalah sahabat Azzam dari kecil. Mereka sangat akrab hingga serasa seperti saudara. “Ya, mami. Jangan bicara gitu dong. Aku pasti akan menikah kok kalau udah ketemu sama perempuan itu.” “Ya, perempuan itu lagi. Sampai kapan lo mau nunggu perempuan itu. Bagaimana kalau dia udah nikah? Lo mau rebut dia dari suaminya, gitu?” cerca Adrian membuat Azzam melototinya dari belakang. Azzam melemparkan botol air minum hingga mengenai kepala Adrian. “Auhh sakit tahu. Gue lagi nyetir ni. Gimana kalau kita kecelakaan?” “Lo sih bicara ngelantur,” ucap Azzam jengkel. Hatinya pasti akan hancur berkeping-keping jika memang benar perempuan yang ia kagumi dari SMA itu benar-benar sudah menikah. “Ngelantur apaan. Jangan nunggu wanita itu mulu. Nanti jadi bujang lapuk loh. Sayang tuh barang,” ucap Adrian blak-blakan membuat Azzam mendengus sebal. “Benar kata Adrian, Nak. Bagaimana kalau wanita itu sudah menikah? Yah, mending kamu cari yang lain deh, kamu nggak usah tunggu wanita itu. Kuping mama udah mau bu-dek nih dengar kamu nunggu perempuan itu terus. Sampai kapan kau menunggunya, Zam? Sampai mami dan papi meninggal begitu? Percuma punya banyak duit kalau nggak punya keturunan.” “Nah benar tuh.” “Diam aja lo, Syamsuddin penyok.” Adrian tertawa melihat wajah Azzam yang sangat jengkel lewat kaca spion di depannya. Ia sama sekali tidak keberatan dengan sebutan nama itu. Sebaliknya, ia sangat rindu dipanggil seperti itu oleh sahabatnya. “Kok mami bilang itu terus sih. Jangan bawa-bawa mati dong. Iya deh, aku akan cari calon istri secepatnya. Puas?” Rahmi tersenyum mendengar jawaban anaknya. Sedangkan Azzam memutar bola matanya jengah dengan sikap ibunya. Ia yakin, umur 25 tahun bagi seorang lelaki belum bisa dikatakan telat nikah bahkan menurut Azzam dengan umur segitu tergolong cepat nikah untuk para lelaki. Tetapi ia tahu keinginan ibunya, semenjak adiknya meninggal saat ia duduk di bangku kuliah, ibunya merindukan sosok anak perempuan di keluarga mereka. Azzam melamun mengingat kejadian dimana adiknya meninggal saat ia duduk di bangku kuliah. Lamunanya buyar saat mobil berhenti tepat di depan kantornya. Ia kemudian mengambil tas kerjanya dan merapikan jasnya. Ia sudah memakai setelan kemeja itu dari awal ia berangkat di Amerika “Ian. Antar mami gue pulang yah. Gue udah telat nih. Thanks for today.” Azzam mencium tangan ibunya kemudian turun dari mobil. Ia sudah berdiri di depan perusahaan Evren House Group. Dia merindukan perusahaannya ini. Selama dua tahun, ayahnyalah yang menjalankan perusahaannya saat ia melanjutkan strata 3 nya di Negeri Paman Sam. Azzam mulai melangkahkan kakinya ke dalam perusahaan yang bergelut di bidang property pembangunan apartemen, rumah mewah, perumahan elite, perusahaan, dan hotel itu. Bahkan, keluarganya memiliki toko besar yang menjual kain import dan eksport yang tersebar di seluruh Indonesia. Perusahaan Evren House Group ini juga telah memiliki 38 anak perusahaan dengan berbagai proyek property yang tersebar di wilayah Jakarta, Bandung, Surabaya, Karawang, Bali, Balikpapan, dan Makassar. Para karyawan sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan CEO sekaligus pemilik perusahan itu. Semua kayawan wanita sangat heboh dengan kedatangan Azzam tanpa terkecuali, bahkan wanita yang sudah memiliki suamipun sangatlah antusias. Bagaimana tidak, paras tampan nan rupawan, otak cemerlang yang tak perlu diragukan lagi dan sikap ramahnya kepada semua orang menjadi daya tarik tersendiri. Ia bukanlah seorang CEO dingin dan cuek yang sering diceritakan di banyak novel. Dia hanyalah Azzam Aulian Evren yang memilki sikap lemah lembut kepada semua orang, tapi sikapnya itu hanya kepada orang-orang yang sopan dan bersikap baik kepadanya. Jika ada yang mengusiknya, dia akan menjadi seekor macan ganas jika dalam keadaan marah. Ya, Azzam susah mengontrol dirinya jika terlalu marah terhadap sesuatu. “Selamat datang kembali Pak.” COO (chief operating officer) perusahaan itu menyambut ramah bosnya. Azzam tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Ia masuk ke dalam lift pribadinya untuk sampai ke ruangannya yang berada di lantai paling atas yaitu lantai 40. TING. Suara lift terbuka. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya. Sekretarisnya mengekorinya kemanapun pria itu pergi. “Apakah berkas untuk meeting hari ini sudah siap semua?” tanya Azzam kepada Ana, yang tak lain adalah sekretaris pribadinya. “Sudah Pak. Ini berkasnya.” Ana menunduk seakan memberikan hormat. Kemudian memberikan berkas-berkas itu pada Azzam. Pria itu membaca berkasnya dengan sangat teliti, ia melirik Ana sekilas kemudian kembali membaca berkas-berkas tersebut. “Meeting nya jam 9 kan?” Azzam berbicara pada Ana tanpa menatap wanita itu. Ia masih fokus membaca berkas yang ada di tangannya. “Iya pak meeting nya akan diadakan satu jam lagi.” Azzam mengangguk pelan mendengar ucapan Ana. “Kalau sudah tidak ada lagi yang bapak perlukan. Saya mau undur diri dulu pak. Nanti saya akan mendampingi bapak untuk meeting sebentar.” “Ya, silahkan.” Ana berbalik, namun belum beberapa langkah ia berjalan. Suara Azzam menghentikan langkahnya. “Tunggu, tolong bawakan aku roti panggang dan s**u coklat. Aku belum sarapan hari ini. Seperti biasa, susunya jangan terlalu manis. Aku tidak suka.” Azzam adalah pecinta s**u coklat, itu dimulai sejak ia duduk di bangku SMA, dan s**u coklat itu memiliki kisah indah tersendiri dalam hidupnya. *** Pukul 11.30 Selama berjam-jam Key mencari pekerjaan sesuai keahliannya, tapi tak kunjung ia menemukan lowongan kerja. Di kota metropolitan seperti Jakarta memang sangat susah mencari kerja. Key menarik napasnya pelan, ia beristirahat sebentar di bawah pohon rindang di depan restaurant mewah yang berada di samping perusahan besar bernama Evren House Group. Matanya menatap ke arah restaurant mewah berdinding kaca itu. Ia bisa melihat begitu banyak pelangg@n yang sedang menikmati makanan yang terlihat begitu lezat di mata Key. Gadis itu menelan salivanya. Siapa yang tidak tergiur dengan makanan lezat sepeti itu. Key mengambil dompetnya di tas, ia membuka dan di sana hanya tinggal satu lembar uang merah. “Mungkin ini cukup untuk beli minum kali yah.” Key berdiri dan masuk ke dalam restaurant. Para pelayan menyambutnya dengan sangat ramah. “Silahkan duduk mba. Ini buku menunya.” Key tersenyum, kemudian matanya menyapu setiap menu yang ada di buku menu tersebut. Ia menelan salivanya susah melihat setiap harga makanan yang tercantum di sana. Namun, seketika ia tersenyum saat menemukan harga yang cocok dengan kantong keringnya. Sebuah minuman chocolate milk iced capp dengan harga 38k. Tapi menurutnya, itu adalah harga yang sangat mahal untuk segelas s**u coklat. Salahnya, seharusnya ia pergi ke mini market saja untuk membeli minuman seharga 7k, rasanya bahkan sudah lumayan. Tapi sudahlah, ia sudah terlanjur berada di restaurant itu. Malu juga, kalau dia keluar tanpa pesan apapun. “Mba aku pesan chocolate milk iced cup saja, 1 yah mba,” ucap Key sopan. Ia mau membawa minumannya ke luar. Minum di bawah pohon rindang tadi lebih enak menurutnya. Beberapa menit kemudian, pelayan membawakan pesanan Key. Wanita itu berterima kasih kemudian berjalan keluar dan … BUG… “Ehh maaf. Maafkan saya.” “Saya tidak sengaja. Maafkan saya.” Mendengar kata maaf itu lagi, Azzam memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia sadar, yang salah adalah dirinya karena tidak memperhatikan jalan. Tatapannya beralih kepada pemilik suara lembut itu dan tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat sama seperti beberapa tahun yang lalu. Dia. Batin Azzam, ia masih menatap wanita itu tanpa berkedip sedikitpun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN