Arian berjalan santai melewati lorong apertemen yang siang menjelang sore itu tampak sepi. Ia memutar-mutar kunci di jari telunjuknya sambil bersenandung kecil. Beberapa langkah lagi tiba di depan unitnya, tahu-tahu ada pintu yang membuka dan seorang remaja perempuan berseragam putih abu-abu keluar sambil berlari dan tertawa terbahak-bahak. Beberapa detik kemudian, ada empat orang remaja lain yang berlari mengejarnya sambil meneriakinya. "Tsabinaaaa! Berhenti nggak lo!" "Hahahaha!" Remaja berambut ikal sebahu itu terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, melihat seberapa jauh jaraknya dengan teman-temannya yang tampak kesal. "Awas ya lo! Berani-beraninya ngasih tikus ke kita!" "Jangan lari, oi! Tsabiiin!" "Hahahaha! Aaaw!" Brak! Cewek yang dipanggil Tsabina itu tiba-tiba ja

