Tante?
Apa Meta tidak salah dengar? Yang benar saja! Memangnya, dia sudah kelihatan seperti tante-tante, apa?
Meta segera bangkit, membersihkan roknya yang kotor terkena pasir, kemudian berjalan mendekati Aby. Dan, tolong... itu ekspresinya kenapa kayak kesal, begitu, ya?
"Apa? Tante?" tanya Meta, memastikan.
Aby mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Hem?"
"Kamu tadi manggil saya apa?"
Sepertinya, Aby mulai terganggu, karena ekspresi itu ditunjukkannya terang-terangan. "Tante kenapa?"
"Hoh?" Meta mendengus tertawa, lalu mengangkat kelima jarinya yang setiap kukunya diberi kuteks warna merah jambu ke hadapan Aby. "Kamu tadi nginjak tangan saya!" katanya, ketus.
Aby mengembuskan napas pendek yang terkesan jengkel. "Masa?" katanya, acuh tak acuh.
"Iya, lah! Minta nomer HP!"
"Apa?"
Meta tersenyum manis sekaligus misterius. "Iya, saya minta nomor HP kamu!"
Aby mundur selangkah. "Sori nih, Tante, tapi saya mau pulang."
"Heh! Heh! Tunggu!" Meta berlari kecil mengejar langkah lebar Aby, sampai cowok itu berhenti lagi.
"Apaan, sih? Gue mau pulang."
Astaganaga, dia mulai tidak sopan!
"Iya, tahu. Tapi, minta nomer HP-nya dulu. Atau, IG, LINE, Tiktoknya juga boleh, deh." Meta meminta, namun ekspresinya sombong sekali. Meta benar-benar menunjukkan jati dirinya. Padahal, niatnya tadi kan mau bersikap manis di depan berondong satu ini. Namun, entah mengapa, jadinya malah seperti ini.
"Enggak. Apaan sih nih orang?" Aby menengok Meta dengan pandangan ngeri. Lalu, ketika Meta lengah, ia segera lari terbirit-b***t menuju motornya.
"Heh! Bocah! Ya ampun, sombong banget sih luuu!" Meta memberengut. Namun, detik berikutnya, ia tersenyum genit, dan berkata, "Tapi, cakeeeep. Hihihi."
****
Alby Okta Keanu. Lahir pada bulan Oktober, tahun 1995. Sedang menuju 18 tahun. Jomblo.
"Aby itu songong, sok cakep, sok tajir. Murid paling bandel di kelasnya. Paling males disuruh bikin PR, dan nilai ulangannya nggak pernah di atas enam. Dia suka main games kalau guru lagi ngajar. Pokoknya, dia itu nggak banget!"
Begitulah informasi yang didapat Meta dari Jingga. Awalnya, Meta sudah memutuskan untuk mendekati teman Jingga yang bernama Gaska, karena tampangnya oke punya. Tetapi, begitu dilihatnya Aby, Meta langsung berubah pikiran.
Aby itu tipikal cowoknya banget. Dulu sewaktu ia masih SMA, di sekolahnya punya cogan yang karakternya mirip-mirip Aby gitu. Belagu tapi dipuja-puja banyak cewek. Jadi, ketika untuk pertama kalinya ia bertemu Aby, Meta merasa seperti terlempar ke masa lalu, masa di mana untuk pertama kalinya ia jatuh cinta. Ya, walaupun Meta tahu kalau yang dirasakannya itu cinta monyet, sih. Tapi, tetap saja, cowok itu sempat membuat hari-harinya di sekolah berwarna. Andai saja, di kantornya ada yang model begitu, pasti Meta akan semangat kerja.
Omong-omong, kalau bicara soal Aby, cowok satu itu memang menyebalkan sekali, ya. Kenapa dia memanggil Meta dengan sebutan tante, sih? Meta benar-benar kesal kalau mengingatnya!
"Mendingan, Mbak kepoin si Gaska. Si Aby itu nggak waras."
"Apaan sih, Mbak maunya sama Aby. Mau dia orangnya kayak gimana juga, bodo amat."
Jingga memutar bola mata saking jengkelnya. "Nggak mungkin banget bisa jadian sama dia. Ngaca dulu kenapa, Mbak!"
Meta memilin-milin rambutnya sambil senyum-senyum sendiri. Dengan posisi telungkup, ia melihat-lihat foto Aby di ponselnya, tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh tatapan kesal adiknya.
"Kalau Mbak jadi kamu nih, pasti udah Mbak kode-kode aja nih cowok. Kamu, kan cantik. Memangnya, kamu nggak pengen gitu punya pacar?"
Jingga diam sejenak, bingung harus menjawab apa. Curhat sama kakaknya sendiri, bukan dirinya banget. Jingga begitu tertutup pada Meta, padahal, Meta adalah satu-satunya saudara yang dimilikinya. Seharusnya, Jingga seperti Tiara, yang terlihat begitu dekat dengan kakaknya, juga adiknya. Hubungan mereka harmonis dan kadang kala membuat Jingga iri. Ia ingin seperti itu, tapi dengan Meta?
Bagaimana mengatakannya, ya? Meta itu benar-benar ekspresif, kepo, dan paling tidak bisa menyimpan rahasia. Jingga pernah curhat sekali padanya, dan besoknya, Meta terus menggodanya sambil menyebut nama cowok yang dia ceritakan di depan mama dan papa, bahkan teman-temannya yang main ke rumah. Malu-maluin aja! Sejak itu, Jingga tidak mau lagi curhat soal apa pun pada Meta, apalagi soal cowok. Yang benar saja! Nggak bakal, titik.
Oh ya, soal pertanyaan Meta itu... siapa sih yang tidak mau punya pacar? Apalagi, dia kan sudah 17 tahun. Dia juga pengen dong seperti remaja lainnya : punya cowok yang bikin jadi semangat ke sekolah, pulang dan pergi bareng, terus diajak nonton dan makan-makan. Tapi, sebagai cewek, Jingga cuma bisa menunggu.
Ya, walaupun pada kenyataannya ia sudah menunggu begitu lama untuk sekedar dilihat oleh cowok yang disukainya. Jingga terus menunggu tanpa mau berusaha sedikit pun. Karena ia adalah Jingga, bukan Meta yang pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Seandainya saja, Jingga punya sedikit keberanian seperti yang dimiliki kakaknya, mungkin Jingga akan mendekati Biru, cowok yang selalu diam-diam diperhatikannya. Biru yang misterius, yang terlihat begitu mencintai gitar dan buku. Jingga bahkan tahu apa warna, lagu, makanan, juga film kesukaan Biru. Ah, ya, bagaimana Jingga tidak tahu, dia kan rajin nge-stalk semua akun media sosial Biru.
"Ini yang cewek-cewek siapa, sih?"
Suara Meta membuyarkan lamunan Jingga. Remaja itu kemudian sedikit memajukan kepalanya untuk bisa melihat layar ponsel Meta yang sedang menampilkan foto-foto Aby bersama keempat sahabatnya.
"Yang rambut panjang itu, namanya Cantika. Yang di sebelah Aby, namanya Tirani. Mereka udah temenan sejak SMP."
Baik Cantika maupun Tirani, sama-sama memiliki wajah cantik. Dan, keduanya sepertinya suka fashion, hal itu kelihatan dari cara mereka berpakaian di beberapa foto. Intinya, menurut pandangan Meta, mereka itu anak gaul papan atas.
"Mereka sombong, nggak?"
Jingga mengangkat bahu. "Aku nggak pernah ngobrol sama mereka. Kan, aku udah bilang, mereka itu ribet."
Sebenarnya, Jingga mau bilang, kalau ia tidak pernah berani menyapa mereka. Ia takut bakal dicuekin, seperti yang sering dialami teman-temannya. Tapi, untuk apa mengakui hal itu pada Meta? Nggak penting juga.
"Ya, kan kamu bisa lihat gimana sikap mereka di sekolah? Maksud Mbak tuh gini loh, mereka suka nindas orang nggak? Atau belagu nggak jelas gitu?"
"Selama yang aku tahu, mereka itu nggak pernah jahat di sekolah. Selain Aby, yang lainnya itu waras. Aby doang tuh yang suka bikin ulah di sekolah."
Mendengar nama Aby disebut, Meta langsung sumringah. "Kenapa tuh bocah, suka berantem?"
"Enggak. Suka usil, suka ngerjain teman-temannya. Sok kegantengan, lagi."
"Pasti dia lucu banget, yaaaaaa?"
Jingga memutar bola matanya, mulai merasa geli dengan sikap genit kakaknya itu. "Mbak nggak bakal bisa jadian sama Aby. Aby emang nggak waras, tapi dia nggak gila juga sampe mau sama Mbak!"
Meta tidak peduli sama sekali dengan perkataan Jingga yang begitu blak-blakan. Ia justru makin asik mengamati puluhan foto Aby di i********: cowok itu.
"Eh, Mbak, tadi gimana sama Aby?"
Jangan harap Meta mau menjawabnya. Itu aib banget.
"Pokoknya, kamu harus bantuin Mbak deketin dia! Sekian dan terima kasih, bye!" Meta kemudian bangkit dan pergi begitu saja, tanpa peduli dengan teriakan Jingga yang tidak terima dirinya diajak berkonspirasi.
"Ih, nggak mau, ya! Awas aja kalau bawa-bawa aku!"
*****