Alina yang kaget karena ulah Dhama tadi hanya terdiam, dia tidak bisa melanjutkan kembali kata-katanya. Melihat hal itu, akhirnya semua orang di kelas melihat ke arah Alina dan juga Dhama karena merasa ada yang aneh. Bagaimana tidak, sebelumnya Alina dan Dhama tidak sedekat ini, tapi sekarang mereka bahkan datang ke sekolah bersama-sama. Merasakan pandangan aneh semua teman sekelasnya, lalu tanpa sadar Alina menatap ke arah Dhama dalam seperti memint penjelasan karena dia juga merasa bingung dengan apa yang Dhama lakukan.
"Tidak usah mengurusi hal yang tidak penting, kamu hanya harus fokus belajar dan tidak perlu memikirkan hal yang lainnya yang akan membuat kamu pusing." Kata Dhama santai tanpa memperdulikan orang lain.
"Tapi aku juga punya perasaan Dham, aku tidak ingin ada yang bergunjing tentang diriku apalagi mereka melakukannya tepat di hadapanku." Rengek Alina pada Dhama, dia merasa sedang diperlakukan sangat tidak adil saat ini.
"Apa yang perlu kamu resah kan, apa kamu yang melakukan itu semua? Apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, apakah hal yang benar?" Tanya Dhama pada Alina, dia bertanya dengan tanpa emosi sehingga membuat Alina merasa tidak enak.
"Apa maksudmu? Tentu saja itu semua tidak benar." Jawab Alina penuh emosi, pasalnya entah kenapa Alina sangat menginginkan Dhama berada di pihak nya.
"Jika memang omongan orang lain itu tidak benar, lalu apa yang harus kamu takutkan? Biarkan saja mereka berbicara sesuka hatinya, tapi tuhan dan kamu sendiri yang tau kebenarannya dan apa yang sebenarnya terjadi." Nasihat Dhama pada Alina yang di dengar oleh semua orang di kelas mereka, Dhama sendiri tidak peduli dengan hal itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah membuat Alina mengabaikan semua orang yang sedang meledek kearahnya.
"Aku tau itu, tapi tetap saja aku tidak bisa diam jika diperlakukan tidak adil seperti ini." Bela Alina terhadap dirinya sendiri, dia tau Dhama benar. Tapi tetap saja rasanya akan salah jika dia diam saja saat diperlakukan seperti sekarang ini.
"Apa jika kamu berbicara dan menjelaskannya kepada mereka semua sekarang, maka mereka semua akan percaya dan kembali memperlakukan kamu dengan normal seperti tidak terjadi apa-apa? Mereka saja tidak percaya dengan sepatah katapun dari apa yang sudah kamu ucapkan Alina, untuk apa terus membuang waktumu yang berharga demi orang yang tidak mengerti dan tidak percaya padamu." Dhama sedikit kesal karena Alina terus menyanggah ucapannya tadi, dia tidak ingin Alina terus menerus menjelaskan sedangkan orang lain sudah menutup mata dan hatinya sehingga apa pun yang dikatakan oleh Alina tidak akan ada yang mempercayainya meskipun itu semua benar.
Kali ini Alina diam, apa yang dikatakan Dhama sangat menusuk kedalam hatinya. Alina juga berpikir bahwa mereka terlalu memojokkan dirinya tanpa mendengar penjelasan dari mulut Alina sendiri, akhirnya Alina pasrah dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Biarlah orang-orang berkata apa saja tentang dirinya, yang penting Alina tau jika bukan dia yang melakukan semua yang sudah dituduhkan kepada dirinya saat ini.
"Baiklah aku akan diam sekarang." Ucap Alina dengan pasrah ke arah Dhama.
"Good girl." Celetuk Dhama sambil menepuk pundak Alina dan tersenyum kearah nya, membuat semua mata kini memandang ke arah mereka berdua dengan penuh rasa tanda tanya.
"Anjir, lo kira ini kisah romantis?! Hidup gue anjing yang dia umbar!! Enak lo bela-belain dia ya!!" Kesal Yulisa melihat drama yang dilakukan oleh Alina dan juga Dhama, dia merasa seakan mereka berdua tidak peduli dengan penderitaan yang dia alami. Bayangkan jika aib kalian terungkap ke orang di sekitar kalian, rasanya akan sangat malu sekali bukan.
"Tambah nggak tau malu emang si Alina sekarang!! Dia tuh jago banget menggoda cowok-cowok, seakan dialah disini yang tersakiti." Tambah Phujia memanas-manasi, dengan sengaja dia membuat suasana semakin keruh agar pertengkaran antara Yulisa dan Alina semakin besar.
"Serasa di drama romantis kali mereka berdua." Seru anak sekelas Alina yang berteriak, Alina juga tidak tau itu siapa. Tapi sepertinya semua orang kini menjauhi dirinya.
"Eh anjing!! Gue gak didengerin dari tadi, berasa paling bener lo sekarang." Sentak Yulisa kesal karena tidak di pedulikan oleh Alina, dia pikir saat ini Alina akan merasa malu dan tidak akan berani masuk ke sekolah. Namun ternyata apa yang dipikirkan oleh Yulisa salah, Alina terlihat baik-baik saja dan bahkan dia seolah menjadi korban di sini.
Saat Yulisa akan menghampiri Alina tiba-tiba saja Phiandra bangun dan menarik tangan Yulisa, dia sedikit mendorong Yulisa agar menjauh dari meja Alina. Perlakuan Phiandra tadi memancing perhatian dari sekitar mereka.
"Bisa hentikan ini semua?! Pelajaran akan segera di mulai!!" Pinta Phiandra dengan tegas membuat hati Yulisa semakin sakit.
"Tapi Phian, kamu sendiri sudah tau apa yang dia lakukan kepadaku. Kenapa kamu masih membelanya?" Tanya Yulisa sedikit manja dan juga merengek kepada Phiandra.
"Aku tidak membela siapapun Yulisa, tapi ini di dalam kelas. Aku harap tidak ada yang membuat kegaduhan di sini!!" Jelas Phiandra membuat Yulisa menerima semua itu, tapi tetap saja dalam hatinya merasa semakin benci kepada Alina.
"Baiklah jika itu mau kamu Phian." Yulisa mengalah tentu saja karena semua itu permintaan Phiandra, jika tidak dia sudah menghajar Alina habis-habisan kali ini.
Teman?! Sahabat?! Kata-kata itu sudah hilang di tiup angin. Bagi Yulisa saat ini Alina adalah musuh terbesarnya, yang bisa melakukan apa saja demi kemenangan dirinya sendiri. Menjatuhkan Yulisa yang merupakan sahabat dekatnya salah satu contoh nyata, Yulisa tertutup matanya untuk melihat bahwa musuh dalam selimut yang sebenarnya adalah Phujia bukan Alina.
Tapi kata manis Phujia mampu menutupi semua bau busuk di dalam hatinya, bahkan Alina pun tidak menyadari akar dari masalah yang menimpa dirinya adalah Phujia sahabatnya sendiri.
Tidak lama guru pun datang dan semua orang melupakan sejenak drama yang terjadi di kelas mereka tadi, semua fokus pada pelajaran yang di berikan oleh guru terkecuali Phujia dan juga Yulisa. Ada hal yang mereka berdua rencanakan saat ini dan sepertinya rencana mereka berdua itu bukanlah rencana yang baik, terlihat jelas dari raut wajah keduanya jika semua yang mereka pikirkan sekarang adalah hal yang mengerikan.
•••
Tanpa terasa jam istirahat pun telah datang, saat bel berbunyi semua anak langsung bergegas ke kantin sekolah seakan takut kehabisan apa yang mereka inginkan.
Begitu juga halnya dengan Dhama, dia mengajak Alina pergi ke kantin bersama dengannya. Tapi saat Alina akan pergi dengan Dhama, ada anak kelas sebelah yang mengatakan kepada Dhama jika dia di panggil oleh salah satu Guru ke ruangannya. Dhama bingung harus bagaimana, tapi Alina meyakinkan Dhama untuk pergi ke ruang guru, dengan terpaksa Dhama meminta maaf kepada Alina karena dia harus pergi dan membiarkan Alina harus istirahat sendirian.
"Tidak apa-apa kan Lin? Aku juga tidak tau Ibu Guru ada perlu apa denganku, tapi kalau kamu mau ikut ayo nanti kita istirahat bareng." Jelas Dhama segan.
"Tidak apa-apa kok Dham, aku gak usah ikut kamu tenang saja. Aku bukan anak kecil tau, kamu ke ruang guru saja." Tambah Alina bercanda sambil tersenyum lebar agar Dhama tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Beneran nih? Ya sudah kalau begitu, aku tinggal ya." Kata Dhama pamit, walaupun entah kenapa hatinya tidak tenang meninggalkan Alina sendirian. Alina hanya menjawab Dhama dengan anggukan kepala saja.
Dhama kemudian berjalan keluar meninggalkan Alina sendirian, meskipun perasaan Dhama sedikit berat dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan semua nya. Sementara itu Alina menatap punggung Dhama yang pergi sampai menghilang di balik pintu kelasnya, begitu Dhama tidak terlihat lagi tiba-tiba saja Alina merasakan kekosongan di dalam hatinya. Tapi Alina juga tidak bisa terus menerus bergantung kepada Dhama kan? Siapalah dirinya ini bagi Dhama, dan lagi Dhama juga tidak akan mungkin terus berada di sisinya selamanya. Bukan tidak mungkin Dhama hanya merasa kasihan terhadap dirinya saja, sehingga dia selalu berada disisi Alina seperti sekarang. Alina berpikir bukan tidak mungkin suatu saat Dhama tidak akan berada di pihaknya lagi, dan dia akan kembali sendiri seperti hari-hari lalu.
Alina berdiri hendak pergi ke toilet saat ada seorang pria yang tiba-tiba menariknya, hingga Alina tidak bisa berontak sesuai keinginannya dan akhirnya berjalan mengikuti arah tarikan lelaki itu. Alina sedikit bingung ketika melihat siapa lelaki yang sedang menarik tangannya, dia adalah kaka kelas yang sebenarnya Alina tidak terlalu dekat dengannya.
Dalam kebingungannya Alina tanpa sadar sudah berada di ruangan tempat dia dengan kedua sahabatnya mengobrol kemarin, tetapi kali ini di ruangan itu banyak sekali orang. Bahkan di sana ada kakak kelas yang tadi meneriaki Alina saat baru saja sampai di sekolah, dan tidak ketinggalan juga dua sahabat baiknya. Upss, mungkin sekarang bisa di bilang mantan sahabat baiknya.
Alina mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ada perasaan was-was di dalam hatinya saat ini. Alina sekarang masih menerka-nerka apa yang sedang terjadi, tapi dengan tiba-tiba Yulisa langsung saja menampar pipi Alina tanpa aba-aba dan membuat Alina terhuyung jatuh ke samping.
"Yulisa!!" Sentak Alina yang terkejut dengan tamparan Yulisa dan juga dia merasakan panas dan perih di pipinya.
"Itu buat lo yang udah ngerusak nama baik gue!!" Marah Yulisa kepada Alina yang saat ini terjatuh di lantai.
"Apa?! Bukan aku Lis!! Harus berapa kali kubilang itu bukan aku, lagi pula sebelumnya tidak ada yang tau itu nama kamu sebelum kamu sendiri yang menceritakan nya kepada orang lain." Jelas Alina yang tidak terima jika dirinya dituduh seperti itu, bukan nya dia membenarkan orang yang menulis semua itu. Tapi bagi Alina jika saja Yulisa, Phujia, atau Phiandra tidak buka suara tidak akan ada yang tau jika orang dalam tulisan itu adalah Yulisa.
"Apa?! Sekarang kamu menyalahkan aku!! Kamu nggak punya otak ya!!" Sentak Yulisa lalu menarik rambut Alina ke belakang, dia merasa Alina kini sudah mulai keterlaluan. Bukannya mengakui perbuatan salahnya dan minta maaf, kini Alina malah menyalahkan dirinya karena semua orang kini tau orang yang di maksud dalam tulisannya adalah dirinya.
Bukankah itu sangat keterlaluan, malah mencoba menjadi korban dihadapan korbannya sendiri.