Ting~Tong~Teng...
Tidak terasa bel istirahat pun berbunyi, semuanya langsung bergegas pergi ke kantin sekolah. Seakan berlomba-lomba untuk sampai lebih dulu, tapi tidak begitu dengan Phujia, dia seakan tidak perduli dan tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya duduk saat ini.
Hal itu menimbulkan tanya di hati kedua sahabatnya, karena mereka bertiga memang selalu bersama kemanapun itu. Yulisa yang duduk di sebelah Phujia pun menepuk pundak Phujia sambil berkata "Ayo Jia, nanti keburu penuh kantinnya." Ajak Yulisa.
Namun sepertinya Phujia tidak ingin melewatkan hal yang menurutnya sangat menarik, dia pun berbohong "Aku nggak ikut ke kantin dulu hari ini, lagi pengen di kelas aja nih." Bohong Phujia.
Kaget?! Tentu saja. Itu sebabnya Alina bertanya "Beneran nih Jia? kamu nggak mau ke kantin?" Tanya Alina, ada sedikit kekhawatiran karena biasanya Phujia adalah orang yang paling tidak sabar untuk segera pergi ke kantin.
"Iya nih, nggak sakit kan lu?" Tambah Yulisa dengan kekhawatiran yang sama dengan Alina.
"Enggak apa-apa kok gue, beneran deh. Ah, pada lebay nih kalian." Jawab Phujia cuek, namun tanpa disadari dua sahabatnya itu ada sedikit kekesalan pada nada bicaranya Phujia.
"Ya udahlah kalau emang nggak apa-apa, kita tinggal ke kantin nggak apa-apa kan ya? Kita udah laper banget nih. " Kata Yulisa pasrah, dia tidak ingin memaksa jika memang Phujia tidak mau. Mungkin saja kan temannya itu sedang ingin sendiri dulu, atau ya mungkin sedang mager (males gerak) iya kan.
"Emh, ya udah deh. Nanti aku beliin minuman sama makanan juga ya Jia. Siapa tau nanti kamu laper gitu atau haus, kan bisa di simpen juga." Tambah Alina sedikit ragu, pasalnya tidak biasanya Phujia bersikap seperti saat ini.
"Iyah!! Udah sana pada ke kantin, keburu masuk nanti. Kelamaan ngomong lu pada ah!!" Kata Phujia masih dengan nada kesal yang sama.
Akhirnya Alina dan Yulisa pergi ke kantin tanpa Phujia, mereka berdua pun tidak ingin terlalu banyak pikiran dan sepertinya sepakat untuk tidak mempermasalahkan hal itu. 'mungkin sedang tidak ingin pergi saja.' begitulah pikiran Alina dan Yulisa.
Tapi tanpa diketahui kedua temannya, tentu saja begitu Alina dan Yulisa pergi ke kantin. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Phujia, dia langsung memanfaatkan kesempatan yang ada dan langsung mengambil buku Diary Alina yang disembunyikan oleh nya dan langsung pergi ke Toilet wanita yang berada paling pojok.
Bukan tanpa alasan Phujia memilih tempat paling ujung, tentu saja karena Phujia tidak ingin ada orang lain yang tau bahwa dia sudah membaca buku Diary milik orang lain.
Meskipun saat ini tidak akan ada yang tahu Diary itu milik siapa, tapi kedepannya dia tidak ingin menimbulkan sedikitpun masalah dengan membuat saksi mata atas apa yang akan dia perbuat dikemudian hari.
Dengan sedikit tenaga Phujia mencoba membuka buku diary Alina, pasalnya buku Diary itu memiliki gembok yang terkunci. Tapi saking penasarannya, Phujia melakukan segala cara untuk membuka buku Diary milik Alina.
Phujia tidak perduli sedikitpun walau dia harus merusak benda milik sahabatnya sendiri dia sama sekali tidak gentar dan terus membukanya dengan paksa, hingga akhirnya Phujia berhasil membuka buku Diary itu dengan merusaknya.
Lembar demi lembar telah di baca oleh Phujia, dia sangat senang menemukan kelemahan dari sahabatnya hingga sesekali bibir nya menyeringai licik saat membaca Diary Alina.
'Dasar wanita bermuka dua, ternyata dia tidak sebaik yang orang lain pikirkan selama ini. Hah!! Dasar wanita ular!!' Ujar Phujia dalam hati, sekarang dia merasa jika bukan hanya dirinya yang memiliki hati iri tapi juga sahabatnya itu memiliki rahasia yang sama seperti dirinya.
Di dalam buku Diary yang di baca oleh Phujia itu, tentu saja tertulis jelas bagaimana Alina selama ini menyimpan perasaan lebih terhadap Phiandra, Alina mencurahkan segala yang dia rasakan pada Phiandra ke dalam buku Diary yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah dan berbagi rahasia tentang hidupnya.
Dalam Diary Alina dia menuliskan bagaimana dirinya ingin dekat dengan lelaki yang sangat dia cintai namun keadaan yang tidak berpihak kepada dirinya, Alina juga menceritakan bagaimana d**a nya berdebar begitu kencang jika berada di dekat Phiandra, sampai hal terkecil sekalipun dia tuliskan di Diary tersebut seperti bagaimana dirinya mencuri pandang pada Phiandra namun bisa membuatnya senang bukan kepalang, juga bagaimana dia senang hanya dengan bertukar pikiran bersama lelaki pujaan hatinya yaitu Phiandra.
Apa kalian bertanya apa hubungannya curahan hati Alina tentang Phiandra dengan gumaman Phujia ??
Tentu saja ada hubungannya!!
Karena Alina dan Phujia tau kalau selama ini Yulisa juga menyimpan perasaan cinta yang sama kepada Phiandra! Ya, sahabat Alina lebih tepatnya Yulisa juga jatuh hati pada Phiandra.
Yulisa sering bercerita pada kedua sahabatnya bagaimana dia ingin sekali memiliki Phiandra sebagai pacarnya, itulah sebabnya Alina menyimpan perasaannya kepada Phiandra sendirian di dalam hatinya. Alina lebih memilih menyukai pria itu diam-diam daripada harus kehilangan sahabat yang selalu ada untuknya, Alina sama sekali tidak berniat untuk bersaing dengan yulisa.
Malah Alina hanya ingin membiarkan perasaan nya hingga nantinya akan memudar dengan sendirinya, akan tetapi jalan hidupnya ternyata tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Phujia menutup buku diary Alina dengan seringai licik, di otaknya sudah banyak hal buruk yang dia rencanakan untuk Alina. Phujia sendiri merinding dengan bagaimana dia bisa berpikiran kejam seperti itu, namun dia sudah tidak sabar dengan reaksi teman-teman sekelas mereka jika tahu selama ini Alina menaruh hati kepada Phiandra.
Terlebih...!!! Reaksi dari Yulisa yang pastinya akan membuat permainan Phujia semakin menarik untuk dirinya sendiri.
'HaHaHaHaHa' Phujia tertawa sendiri dalam hatinya membayangkan semua itu akan terjadi nanti.
~•••~
Alina dan Yulisa sudah berada di kelas sejak tadi, mereka bahkan membawa makanan dan minuman untuk Phujia. Tetapi saat mereka berdua datang ke kelas, Phujia sudah tidak ada sampai bel masuk pun akhirnya berbunyi.
"Tuh kan udah bel masuk, kemana lagi nih si jia??" Kata Yulisa sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar kelas.
"Ya nih, kan gak sempet makan dia. Kalau sakit gimana nanti." Tambah Alina cemas.
Tidak lama setelah bel masuk Phujia datang agak tergesa-gesa, saat melihat kedua sahabatnya dia tersenyum manis menyembunyikan keburukan hatinya di balik senyuman itu.
Kedua sahabatnya melambaikan tangan dan merasa lega setelah melihat Phujia, tanpa basa-basi Alina dan Yulisa langsung mencecar Phujia dengan pertanyaan yang begitu banyak saat Phujia duduk di kursinya.
"Lu kemana aja sih Jia? Tadi katanya mau di kelas aja, pas kita ke sini kok kamu udah ga ada?!" cecar Yulisa karena khawatir.
"He'emh nih, kita nyari kamu loh dari tadi. Bikin panik aja deh, nih makan dulu sebelum ada guru mapel (mata pelajaran)." Tambah Alina sambil menyodorkan makanan dan minuman yang tadi mereka beli.
"Mules kali guy's gue. Santai aja sih." Jawab Phujia singkat lalu meminum apa yang tadi di berikan oleh Alina.
"Nanti lagi bilang kalau mau kemana-mana Jia, kita kan khawatir. " kata Alina.
'Sok peduli banget lu, munafik dasar!!' Dengus Phujia dalam hatinya.
"Iyah~~ bawel lu berdua yah." Jawab Phujia sambil tersenyum palsu kepada dua sahabatnya.
Mereka berdua lalu tertawa kecil mendengar dan melihat kelakuan Phujia yang menurut mereka agak kekanak-kanakan hingga tidak lama guru pelajaran mereka pun masuk ke ruangan kelas.