9 - Abang Artis

1323 Kata
"Abang Romy!" Flora berseru sesaat kakinya memasuki kamar apartemen besar milik Romy, kakak sepupunya yang seumuran dengan Gera. Lalu memeluk tubuh Romy erat. Sejak Flora kecil, Romy dan Gera sudah sering main bersama kata orang tuanya. Namun cita-cita Romy sebagai artis cilik pada masa itu membuatnya harus lebih sering casting ke sana kemari. Jarang kumpul bersama keluarga, hanya dua kali setahun. Saat hari raya dan ulang tahunnya. Waktunya untuk bermain dengan Gera pun berkurang dulu sampai Gera harus pergi ke Aussie. Romy yang sukses menjadi aktor terkenal di umur 25 cukup bagi Flora untuk menyombongkan dirinya pada seluruh orang yang membencinya. Siapa yang tidak tahu Romy Roy? Pria idaman sejuta wanita, yang sering disebut memiliki wajah blasteran surga. Romy adalah harga diri Flora yang paling mahal. "Wah gila! Abang ganteng banget!" pekik Emi tidak percaya. "Wah siapa nih?" Romy menyapa Emi yang sedang histeris tidak percaya melihatnya. Ya mirip-miriplah sikapnya dengan Flora, jadi Romy tidak heran mengapa mereka bisa bersahabat. "Abang, saya Emi sahabatnya Flora sejak awal SMA!" "Hai Emi, santai aja pake lo-gue juga gak apa-apa kok." "Astaga abang jangan senyum-senyum!" "Kenapa?" "Nanti pasien sakit jantung bertambah satu, gue." Semua orang mendeli geli kecuali Romy yang justru tertawa lucu. "Bisa aja Emi, ayo duduk." Tiga sofa besar saling berhadapan, kecuali yang di posisi tengah menghadap ke televisi besar. Emi dan Flora duduk bersama. Sedangkan Jimmy di hadapan kedua sahabatnya itu. Romy dan Gera duduk di sofa tengah. "Wah, kalian kok bisa jadi nikah sih sekarang?" Romy mendecak kagum ke arah Gera dan Flora. "Gue juga gak tau," sahut Gera mendesah resah. "Jodoh bekerja dengan caranya, bang," ucap Flora sok bijak. "Padahal abang hampir aja mau jodohin Flora sama temen abang nanti, artis juga loh." "Jodohin aja, Rom." "Ih calon suami! Kok mintanya gitu sih!" rajuk Flora membuat Romy tertawa lepas. "Bilangin bang, gue udah sold out." "Duh, kalian dari dulu sama aja deh." Romy menggeleng tidak kuat menahan tawanya. "Kenapa? Dulu Gera juga suka liatin gue?" Flora melirik malu-malu ke arah Gera yang memang sedari tadi menatapnya kesal. "Idih, pedean banget lo!" "Bukan, dari dulu kalian suka debat, tapi lucu." "Emang hubungan kalo banyak debat bagus ya? Bukannya nanti bisa kewalahan?" Jimmy membuka suara terhadap perbincangan mereka. "Ikutan aja deh lo bocah!" tegur Emi geram. "Debat bagus kalo ada solusinya, jadi bisa sama-sama belajar dewasa," sahut Romy tersenyum ke arah Jimmy. "Flora mana ada dewasanya." "Nah makanya lo berdua tuh beda banget, jadi cocok. Saling melengkapi." "Ah abang bisa aja!" Flora memukul lengan Romy manja dan tersipu-sipu. Berbeda dengan Gera yang justru mendecih geli. "Abang udah punya pacar?" Ini saatnya Emi bertindak untuk mendekati Romy. Kapan lagi bertemu aktor tampan blasteran surga? Duh mama, calon mantunya udah ketemu ini! "Sekarang belum," jawab Romy tersenyum ramah. "Tipe pacar abang kayak gimana?" "Hm... kayak kamu?" Emi terbeku kaku dengan mata berbinar dan senyum merekah. "Abang, pasien jantungnya nambah satu ini!" "Mau dianter ke dokter?" goda Romy. "Mau! Mau!" "Aduh, berisik deh, Mi!" Flora jengkel sendiri karena tubuhnya terus terperanjat saat Emi meninggikan nada bicaranya. Memang dari dulu Emi selalu mendesaknya untuk mengenalinya dengan Romy. Sejak SMA 1, bahkan sejak Emi tahu Flora sepupu Romy, dia selalu memuji Romy begitu hebohnya. Seluruh film yang Romy perankan pasti ditonton. Poster-poster film Romy tertempel sempurna di dinding kamar Emi. Hampir dua tahun Emi menunggu waktu ini tiba. Sebenarnya sejak Flora tahu Emi menyukai Romy, dia segera memberi tahu Romy akan hal itu. Romy yang memang dasarnya ramah dan humoris, dia senang-senang saja mendengarnya. Seperti halnya saat ini, Romy menanggapi seluruh candaan dan gombalan Emi. Bahkan dia juga membalas godaan tersebut. "Kalian mau makan gak? Ada makanan banyak tuh di dapur." Romy menunjuk ruangan dapur yang terlihat dari tempat mereka duduk. "Makan yuk, gue laper." Flora berdiri lebih dulu dan mengajak dua sahabatnya ke dapur tersebut. Melihat Jimmy yang menekuk wajahnya tiada henti, membuat Flora merasa kasihan. Seharusnya akan lebih baik jika Jimmy dan Gera berhubungan selayaknya sahabat. Namun mau bagaimana lagi, di pertemuan pertama mereka ini aura gelap mereka saling bertubrukan. Jimmy yang sinis kepada Gera dan Gera yang seakan meremehkan kemampuan bocah SMA itu. Sejujurnya Flora merasa sifat mereka tidak jauh berbeda. Hanya saja Jimmy tidak sekejam itu mulutnya seperti Gera. Jimmy lebih perhatian dan menjaga kedua sahabat wanitanya dari segala hal apapun. Sehingga tidak sedikit cewek-cewek di sekolah mereka iri dengan Flora dan Emi. Kalau kata Flora sih, mereka itu cewek-cewek butek halu. Flora dan kedua sahabatnya duduk di kursi tinggi dekat meja dapur. Banyak sekali cemilan dari Indonesia sampai luar negeri yang dibeli Romy saat pria itu memerankan film di luar. Flora dan Emi mengambil sebungkus permen jeli yang mereka sukai. Sementara Jimmy hanya diam termenung. "Lo gak ambil? Ambil aja," ucap Flora santai. "Enak, Jim, mumpung di rumah calon jodoh gua, ambil deh mendingan." "Emang Romy mau sama lo?" ejek Jimmy pada Emi, "Maulah! Kenapa nggak!" "Iya deh, gue percaya." "Sumpah ya Jim, lo kenapa hari ini nyebelin banget?" Jimmy hanya mendelik sekilas menanggapi ocehan Emi itu. Baginya sudah biasa diomeli dua cewek sejoli ini. "Gue mah berharapnya lo sama Gera akur karena lo berdua sama-sama cowok. Eh, malah dingin-dinginan kagak jelas!" ucap Flora sebal. "Gue gak dingin, gue hot." "Jim, jangan sampe lo gue lepehin permen jeli ya," ancam Emi dengan wajah datarnya. "Duh, lagian harus banget ya lo nikah sama cowok galak kayak dia? Dia nggak ngehargain lo banget, Flo!" jelas Jimmy panjang lebar. "Ya gimana? Dia emang gitu orangnya. Gue juga udah terlanjur cinta sama dia." "Cinta? Lo cinta digituin sama dia? Sanggup seumur hidup lo sama orang kayak gitu?" cecar Jimmy penuh penekanan. "Jim, cewek kalo udah cinta, diselingkuhin aja mereka gak nyalahin pasangannya, tapi nyalahin dirinya sendiri," ucap Emi membela Flora. Jimmy mendecih sekilas sembari mengalihkan pandangannya. "Terus? Lo mau Flora kayak gitu?" "Jim, udah deh, ini terlalu dalem bahasnya. Gue cinta sama Gera, gue pisah sama dia 13 tahun lalu dan tiba-tiba kita ada di dalam situasi pernikahan, apalagi namanya kalo bukan jodoh?" jelas Flora mencoba meyakinkan Jimmy. Dia paham bahwa Jimmy khawatir dengannya dan Flora sangat berterima kasih akan hal itu. Karena itu, Flora ingin meluruskan segalanya agar Jimmy tidak lagi khawatir. "Flo, jodoh gak bisa dipatokin dengan pernikahan, buktinya banyak orang cerai. Mereka yang cerai juga pasti mikir hal yang sama kayak lo pas mau nikah." "Ya terus lo mau gue gimana? Undangan udah disebar, cinta gue ke Gera udah tumbuh, tugas gue cuma bikin dia sepenuhnya buat gue." "Lo lebih pilih undangan yang udah disebar, cinta lo yang baru sebesar biji jagung, dan tugas lo yang gak tentu hasilnya dibanding masa depan lo sebagai istri yang punya suami macam Gera?" Jimmy tertawa menggeleng-geleng. "Gue gak ngerti sama lo beneran." "Jim, ini masalah rumah tangga Flora, masalah keluarga Flora dan Gera juga, lo gak bisa tiba-tiba suruh Flora batak nikah gitu aja," ucap Emi. "Jim, gue cinta sama Gera. Seluruh kelemahan dan kelebihan dia, gue cinta." "Cinta lo gak akan tumbuh kalo Gera jutekin lo dan bentak-bentak lo setiap hari." "Tunjukin cinta lo karena itu akan membuat satu penyesalan lo di masa depan berkurang, gue percaya kata-kata itu." "Itu cuma kata-kata, cowok kayak Gera gak akan bikin lo nyesel kalo lo hindarin sekarang," ucap Jimmy masih keras kepala. "Duh, Jim, kok lo ribet banget sih? Lo takut Flora gak akan ada waktu lagi buat kita kalo dia nikah? Atau apa?" Emi benar-benar tidak mengerti akan jalan pikir Jimmy dan apa tujuan sahabatnya itu mendesak Flora atas segala hal pernikahannya yang dianggap tidak masuk akal. Dari awal juga Flora dijodohkan, bahkan dibuat kejutan. "Kalo itu yang lo takutin, tenang aja, gue gak bakal lupain kalian cuma karena gue jadi seorang istri." Jimmy menghela nafssnya kasar sembari mengacak rambutnya frustasi. "Intinya gue gak suka lo sama Gera! Dia gak bener!" "Terus maksudnya lo lebih bener dari gue? Lo suka sama Flora?" Seketika suasana mendadak hening. Gera berdiri menyandari dinding dengan kedua tangan bersedekap. Menatap Jimmy yang juga menatapnya penuh kebencian. Mati si Jimmy, batin Flora.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN