6 - Skinship Check

1354 Kata
"Ok! Tahan dulu! 1.. 2.. 3!" Sang photographer memotret calon pengantin yang kini tengah berangkulan mesra. Gera yang biasanya tidak menunjukkan senyumnya pada Flora, kini terlihat tersenyum manis. Ditambah dengan tatapan mesra yang mampu membuat jantung Flora jatuh entah kemana. "Pose dipeluk dari belakang dong, biar kayak titanic." "Boleh! Ayo Gera dipeluk calon istrinya dari belakang." Flora tersenyum lebar sembari mendesis kata 'yes' pada dirinya sendiri. Tubuh Flora terasa hangat saat dua lengan kekar Gera mendekap tubuh dari belakang. Tidak hanya lengan, Flora juga merasa terlena akan hembusan hangat nafas Gera yang terasa di atas kepalanya. Walaupun sudah mengguna high heels, Gera masih tetap jauh lebih tinggi darinya. "Boleh pose liat-liatan gak?" "Coba cium pipi dong! Biar keliatan suaminya sayang banget sama istri." "Gimana kalo Gera gendong aku? Lucu, kan?" Mendengar banyak ide dari Flora membuat tugas Bagas, sang photographer, berkurang banyak. Sedari tadi Floralah yang memimpin pose-pose prewedding mereka. Bagas sih senang-senang saja. Selain idenya yang cemerlang, keduanya juga dapat bekerja sama dengan baik. Buktinya Gera terus mengabulkan permintaan Flora tanpa mengeluh. Ya walaupun dalam hatinya sudah menyumpah serapahi Flora. "Oke! Ada pose lain yang mau kamu lakuin?" tanya Bagas kepada Flora. Begitu banyak foto sudah terpotret dan seharusnya mereka sudah cukup. Tetapi berjaga-jaga jika Flora ada permintaan lain. "Ehm... foto ciuman gak ada?" tanya Flora pelan-pelan dengan wajah polosnya. "Flora! Malu-maluin ih!" "Flora, kamu masih kecil loh." Flora yang ditegur oleh kedua orang tuanya itupun langsung menunjukkan wajah cemberutnya. Berbeda dengan Gera yang tersenyum puas dibalik wajah datarnya itu. Flora tahu kalau Gera tengah menatapnya seakan berkata 'emang-enak-lo-bocah-kecil'. Huh, seandainya orang tuanya tidak ikut, pasti idenya akan disetujui Bagas. "Kalau keduanya setuju, aku sih juga setuju," ucap Gina tersenyum memberi harapan pada Flora. "Iya, mereka juga akan menjadi pasangan suami istri. Jadi gak masalah kalau fotp prewedding mereka ada kissnya." Flora melirik Gera dengan tatapan kemenangan. Jika orang tua Gera setuju, mana bisa putranya menolak? Tinggal orang tuanya saja nih yang harus ikut setuju dengan idenya. Lagipula foto prewedding kan hanya sekali seumur hidup, masa ciuman saja tidak boleh? "Memangnya Gera mau? Pasti gak nyaman deh dia." Farah menatap Gera khawatir. Sepertinya dia tahu kalau Flora sering menindas Gera dengan segala kejahilannya. "Hm, aku rasa Flora masih kecil untuk foto ciuman gitu." Flora mendecak kesal mendengar jawaban Gera. Sudah pastilah pria itu tidak ingin melakukannya. Minta peluk saja dia ogah-ogahan. "Tuh Flora, dengerin calon suami kamu. Dia niatnya baik loh." Apanya yang baik? Jika calon suami enggan mencium calon istrinya, bukankah itu aneh? Harusnya Paul lebih menganalisa setiap kata dari Gera. "Ah ya udah deh, aku turutin Gera aja." Flora dan Gera akhirnya menyelesaikan pemotretan prewedding mereka setelah berjam-jam lamanya. Di dalam studio, di luar studio, bahkan entah berapa kali mereka mengganti pakaiannya. Hari sudah malam dan mereka semua pun berniat untuk makan malam sebelum pulang. Flora berjalan sembari memijat pelan bahunya menuju mobil Gera. Orang tuanya sudah masuk ke dalam mobil mereka masing-masing menuju rumah makan masakan Indonesia. "Capek gak tadi?" tanya Flora lemas kepada Gera yang fokus menyetir. Wajahnya juga terlihat seperti Flora. "Capek." "Semoga hasilnya bagus-bagus ya, badan gue sampe pegel kayak gini." Flora kembali memijat bahunya dan tangannya sendiri. Merasa sudah mendingan, dia beralih menatap lengan Gera yang berada di sandaran kursinya. Tanpa aba-aba, Flora mulai menaruh kedua tangannya di lengan Gera dan memijat dari atas sampai bawah. Entah karena lelah atau pasrah, Gera tidak menepis seperti biasanya. Pria itu tetap menatap lurus membiarkan Flora memijatnya. "Pasti lo capek banget deh, sampe tegang gini ototnya." "Hm," deham Gera sebagai jawaban. "Besok lo kerja lagi?" "Enggak, besok kan Sabtu." "Oh iya." Flora tidak lagi bertanya. Dia memilih untuk fokus memijat Gera yang kelelahan itu. Sebenarnya Flora menikmati semua proses pemotretan tadi. Berasa sekali keintiman mereka sebagai calon pengantin. Jika biasanya Flora hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya, kini dia tahu rasanya melakukan skinship dengan Gera. Gera memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di depan rumah makan tersebut. Kedua mobil orang tuanya juga sudah terparkir di sebelahnya. Flora mengikuti Gera masuk ke dalam. "Nih, kalian tinggak makan aja. Mama udah pesenin," ucap Gina begitu melihat Flora dan Gera melangkah menuju mereka. "Terima kasih ya, Tante." Flora tersenyum manis lalu duduk di sebelah Farah. Sementata Gera duduk berhadapan dengan Flora di sebelah Gina. "Oh iya Flora, nanti kamu dan Gera tinggal di apartemen yang kalian lewatin tadi. Lihat gak?" ucap Henry bersemangat. Tentu saja Flora terkejut sampai hampir tersedak. Dia baru tahu kalau dirinya akan tinggal berdua saja dengan Gera. Karena belum ada percakapan mengenai tempat tinggal, Flora pikir dia akan pindah ke rumah keluarga Armanto. Jika benar tinggal berdua dengan Gera, dirinya yakin akan lebih cepat punya anak dari yang dibayangkannya. "Lihat, Om, wah aku gak tau loh kalau nanti tinggak berdua aja sama Gera." "Ck! Kamu ini harus sering-sering cerita sama Flora! Masa apa-apa Flora yang cari tau sendiri sih?" omel Gina jengkel. "Nanti juga dia tau." "Mungkin Gera kurang waktu ngobrol kali sama Flora, jadi banyak yang belum mereka obrolin," ucap Farah memberikan pendapatnya. "Kalo gitu nanti kalian pulang ke apartemen aja? Biar langsung istirahat juga." "Jangan!" "Boleh, Tante!" Flora dan Gera saling berpandangan ketika jawaban mereka tidak sinkron. Flora tersenyum kecil ke arahnya. Dia sangat merasa bersyukur mendapat calon mertua yang supportive seperti Gina. Kapan lagi Flora bisa menghabiskan malam bersama Gera jika bukan hari ini? "Gimana kalau kita istirahat bersama saja di apartemen Gera? Sekalian menghabiskan waktu bersama." Flora sedikit tidak setuju dengan ide Paul. Masa iya mau malam berduaan tapi ditemani orang tua? Memangnya Flora anak kecil? "Ide bagus! Kalau dipikir-pikir kita sudah lama loh tidak berkumpul bersama," ucap Henry. "Bener, itu juga sebelum Gera pergi ke Aussie. Udah 13 tahun lalu," ucap Farah. Tunggu dulu. Flora pernah liburan bersama dengan keluarga Gera 13 tahun lalu? Duh, kok dirinya tidak pernah dikasih tahu sih? Dan kenapa Flora harus berumur 4 tahun saat itu? Kan jadi sulit mengingat memori emas seperti itu. "Ya sudah, kita semua nginap di apartemen kamu ya malam ini," ucap Gina kepada Gera yang segera disetujuinya. Gera jauh lebih merasa tenang jika ada yang menjaga Flora selain dirinya. Takut-takut kalau gadis itu hilang kendali dan melecehkannya. º~º "Di sini ada tiga kamar, Om sama Tante bebas kok mau tidur dimana aja." Flora mendecak kagum melihat interios apartemen Gera yang luar biasa indahnya. Untuk ukuran pria, Gera termasuk bersih. Bahkan tidak ada noda sedikitpun di dalam apartemen yang berdominasi warna putih. "Aku tidur sama Gera ya!" Flora segera merangkul lengan Gera erat. "Kamu ini! Tidur sama mama papa dong!" Farah berusaha menarik Flora, namun gadis itu tidak bergeming. "Ih! Emang Flora anak kecil tidur sama orang tua?!" dumel Flora membuat Gina tertawa geli. "Sudah biarinin aja, Gera pasti gak macem-macem kok. Inget ya Flora, kamu tinggal teriak nanti Tante tinggal dateng." Flora mengangkat jempolnya ke udara. "Siap Tante!" "Duh, aku malah takut Flora yang apa-apain Gera." Farah menatap cemas ke arah Gera dan Flora. "Kalau Flora yang apa-apain Gera, ya gak apa-apa, kan bentar lagi nikah." "Wah, Om pengertian banget," ucap Flora terperangah bahagia mendengarnya. "Sudah kalian istirahat gih, kita mau ngobrol-ngobrol dulu di sini," ucap Paul lalu menuju sofa bersama istri dan sahabatnya itu. Gera segera berbalik menuju kamarnya yang paling besar diantara 2 kamar lainnya. Wajahnya sudah sangat tertekuk jengkel. Mungkin beginilah nanti rasanya jika sudah menikah, Flora akan terus mengikutinya kemanapun. Dirangkul pula tangannya. "Wah! Kamarnya bagus banget, kayaknya gue bakal betah di sini!" Flora menghempas tubuhnya ke atas kasur Gera. Bahkan memeluk guling dan memakai selimut abu-abu Gera dengan santainya. "Lo gak tidur sini nanti," ucap Gera yang kini juga membaringkan tubuhnya di sebelah Flora. "Loh? Terus?!" "Ya kamar lain." "Kenapa?!" "Ya karna gue gak mau tidur sama lo." Gera membelakangi Flora yang masih melotot kesal. "Eh! Dosa tau suami bikin sakit hati istri!" "Biarin, gue udah sering bikin dosa." Plak! "Aduh! Apaan sih?!" Gera tersentak berbalik saat pukulan keras mendarat pada lengannya. Kecil-kecil begini tangannya bisa bikin pedes juga ya. "Gak mau tau pokoknya gue tidur sama lo!" "Berisik, tidur." "Mau dipeluk gak?" tawar Flora yang sudah siap memeluk Gera sari belakang. Siapa suruh bahu kekarnya sangat menggoda untuk dipeluk. "Gue teriak nih." "Good night." Flora mengurungkan niatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN