Hujan masih meninggalkan sisa-sisa dinginnya ketika Tuan Halim melangkah masuk ke vila. Tubuh gadis itu terkulai di lengannya—ringan, rapuh, seolah seluruh keberaniannya tertinggal di jalan gelap tempat ia ditemukan. Selimut tipis yang membungkusnya telah basah, jas Halim pun ikut basah, namun langkahnya tetap mantap. Pintu kayu kamar tamu dibuka. Cahaya lampu temaram menyambut, hangat dan tenang. “Bi Suti,” ucapnya pelan namun tegas. Perempuan itu datang tergesa, wajahnya langsung berubah saat melihat kondisi gadis muda di pelukan tuannya. “Ya Allah… kenapa, Tuan?” “Saya menemukannya tergeletak di tengah jalan,” jawab Halim singkat. “Tolong urus wanita ini. Pastikan dia aman.” Bi Suti mengangguk tanpa banyak tanya. “Serahkan pada saya, Tuan.” Halim membaringkan gadis itu di ranj

