Hidup Kedua Valeri : Alam membawa kehidupan

1235 Kata

Pagi itu udara di kaki gunung masih segar, embun belum sepenuhnya kering dari daun-daun teh yang terhampar di kejauhan. Cintia—atau tepatnya jiwa Valeri yang bersemayam di tubuhnya—bangun lebih dulu. Ia mengenakan kain sederhana pemberian Eyang Tika, lalu berjalan keluar menuju halaman kecil di samping rumah kayu itu. Eyang Tika sudah ada di sana, jongkok dengan tangan keriputnya yang cekatan menyiangi rumput liar. “Bangun pagi itu obat panjang umur, Nduk,” ucapnya tanpa menoleh, suaranya bergetar namun penuh kehangatan. Cintia tersenyum samar. “Aku terbiasa bangun pagi, Yang. Dulu… aku suka menyiapkan sarapan untuk seseorang,” katanya lirih, entah berbicara kepada Eyang atau kepada dirinya sendiri. Eyang Tika berhenti sejenak, lalu menatap gadis itu dengan sorot mata penuh rahasia. “Ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN