Sepuluh menit berlalu, waktu yang diperlukan untuk menghabiskan makan siangnya. Ny. Pratja yang berada di dekat wastafel melihat Wish naik kembali ke kamarnya. “Thank you Bu.” Ucap Wish berjalan cepat menaiki tangga. Ny. Pratja dapat merasakan bahwa Wish benar-benar merasa kecewa karena dikeluarkan dari sekolahnya yang baru.
Wish merebahkan tubuhnya di kasur dan melihat ke langit-langit kamarnya. Ia memikirkan kembali kenangan sekolahnya. Ia tak menghiraukan lagi buku tua yang berada di samping tubuhnya. “Apa yang terjadi sebenarnya?” Pikirnya dalam hati. Sesekali ia merasa ada yang aneh. Ia tahu alasan mengapa dirinya dikeluarkan adalah karena kepintarannya melebihi murid lain. Jika diteruskan bersekolah di sekolah elit itu, ia bisa di blacklist pemerintah karena melanggar peraturan pemerintah.
Keluarga Wish termasuk golongan dari keluarga Rakyat Pembantu. Ayahnya bekerja di pabrik baja yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Keluarga kecil ini sebenarnya sudah mampu untuk mendaftarkan diri menjadi golongan atas, karena pendapatan ayahnya sudah mencapai angka minimum untuk mendaftar menjadi golongan atas. Tetapi setelah dipertimbangkan, mereka tidak ingin mengambil resiko karena biaya pendidikan untuk Wish akan sangat besar. Meski ada pertimbangan lain seperti mereka harus pindah ke daerah tempat tinggal golongan atas, ataupun pembayaran pajaka yang cukup tinggi meski ini sebanding dengan kenyamanan yang ditawarkan bagi golongan atas.
Orang tua Wish tidak bisa berharap banyak dari tindakan ilegal mereka ini, yaitu memasukkan Wish ke sekolah para golongan atas. Sebenarnya ada banyak pelanggaran yang telah dilakukan kedua orang tua Wish. Dari awal, anak mereka seharusnya tidak dapat bersekolah di sekolah yang dikhususkan bagi anak Rakyat Atas. Mereka juga memberikan biaya tambahan agar Wish mendapat les tambahan dari dosen sepulang sekolah. Tn. dan Ny. Pratja sengaja berkompromi dengan pihak sekolah untuk mencarikan dosen bagi anak mereka. Ini tentu melanggar undang-undang. Seorang anak dari golongan pembantu tidak seharusnya dapat diajar oleh seorang dosen apalagi Wish masih berumur tiga belas tahun - masih menginjak sekolah menengah pertama.
Uang yang harus dihabiskan Tn. dan Ny. Pratja tidaklah sedikit. Uang sekolah yang sangat mahal ditambah uang yang harus mereka keluarkan untuk menyogok sekolah adalah tiga kali gaji Tn. Pratja dalam sebulan. Untung saja, uang tabungan mereka cukup untuk menutupi pengeluaran sekolahnya. Selain uang sekolah, Wish juga harus berupaya untuk tidak mencolok dari segi nilai dan rangking di kelas. Itu akan membuatnya mendapat masalah. Ia sudah mencoba untuk tidak berkomentar saat gurunya mengajar di depan. Tapi sesekali ia tidak dapat menahan jika penjelasan sang guru salah atau mengajarkan sesuatu dengan rumit. Tentu, ini menimbulkan kecurigaan murid-murid lain. Yah, kali ketiga ini terjadi. Ada orang tua murid yang curiga bahwa Wish mendapat perlakuan lebih dibanding murid lain. Ini akan menjadi masalah besar saat orang tua murid yang lain mengetahui bahwa Wish mendapat pelajaran tambahan. Dan jika ia benar-benar tertangkap hidup-hidup bersalah, dan diketahui bahwa ia dari Kalangan Pembantu, hukuman penjara seumur hidup akan berlaku kepada dirinya, meski ia masih dibawah umur. Benar-benar dunia yang aman. Keadilan bisa berubah tergantung dari sudut penglihatan.
Masalah ini benar-benar membuat kedua orang tua Wish tidak dapat melakukan apapun bagi anak mereka. Pemerintah di zaman mereka membuat peraturan menjadi sangat berbeda. Ada banyak yang meninggal di pemerintahan sebelumnya dikarenakan wabah penyakit. Tetapi, justru setelah itu selesai, wabah yang lain pun datang – kemiskinan pendidikan.
Wish berbeda dari anak lainnya. Ia memiliki kelebihan dengan IQ diatas rata-rata. Ia juga mengidap Sindrom Hyperthymesia yang membuatnya bisa mengingat banyak hal. Pendidikan normal tidaklah cukup baginya. Ia memerlukan pendidikan yang setidaknya setara dengan kapasitas yang bisa diterima otaknya. Tn. dan Ny. Pratja berusaha keras agar anaknya dapat pendidikan yang layak. Tapi baru saja tiga bulan, semuanya menjadi kacau balau. Tidak ada yang dapat diperbuat lagi untuknya karena semua sekolah kalangan Pembantu dan b***k sama sekali tidak memenuhi standar pengajaran. Pendidikan yang diberikan hanyalah ilmu-ilmu dasar yang sebenarnya cukup untuk dapat bertahan hidup. Tetapi, sebagai orang tua mereka memiliki hak untuk menuntut agar anaknya mendapat pengetahuan sesuai dengan kapasitas yang bisa diterimanya.
Inilah siasat yang digunakan pemerintah untuk mengendalikan kekuasaan mereka sendiri. Mereka mencoba memelihara kekuasaan mereka dengan tidak memberikan pendidikan bagi keluarga rakyat Pembantu dan b***k. Itu sudah pasti alasan yang masuk akal agar keseimbangan bagi mereka bisa terjaga. Pendidikan yang rendah membuat Kalangan Atas saja yang bisa menguasai dunia beserta keturunannya. Sedangkan kedua golongan rendah itu tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka benar-benar dijajah oleh kekayaan dan kekuasaan.
Pikiran Wish yang berputar-putar itu membuatnya tidak tahu apa yang ia inginkan saat ini. Sesekali ia berpikir untuk kembali ke sekolah lamanya, yaitu sekolah bagi anak Golongan Pembantu. Jika ingin menyombongkan diri, ia sebenarnya tidak perlu belajar kurikulum Golongan Pembantu. Pengetahuan yang ia dapat cukup sebagai kualifikasi menjadi seorang guru di sekolah itu. Karena pikirannya saat ini sedang kacau ia pun keluar dari kamarnya mencari udara segar.
Wish berpikir bahwa menghirup udara segar mungkin bisa membuatnya lebih tenang. Ia pun berjalan ke arah belakang rumah dan duduk di kursi taman. Hanya terlihat warna hitam dengan warna biru di ujung langit. Satu persatu muncul dan hilang kemudian langit menjadi bersih. Matahari mulai tenggelam mengucapkan salam perpisahan. Wish melihat bintang mulai mengedipkan matanya menyambut Wish yang menyapa malam.
Sepoi-sepoi angin membuatnya menjadi tertidur. Meski tertidur, ia bisa mencium aroma yang dingin yang dibawa angin. Ia bisa mendengar jeritan kumbang yang bertengger di pohon seperti hitungan domba yang sedang melompat di pikirannya. Tanpa ia sadari, ia masuk ke bawah alam sadarnya.
***
Lapangan luas panti begitu gelap. Hanya ada satu lampu yang menerangi halaman agar hewan liar tidak bisa melintasi panti. Kakek tua yang berada di ruangan kantornya melihat ke arah jendela. Ia memperhatikan salah satu dari anak asuhnya berjalan-jalan di luar. Ini adalah jam malam dan saatnya untuk tidur. Kakek keluar dengan cepat mengejar Wish sebagai tanda bahwa ia sedang marah. Wish berumur 4 tahun waktu itu.
Tak jauh dari pintu panti, ia menatap tajam kepada Wish yang sedang berdiri melihat ke arah bintang-bintang. Wish ternyata mengendap-endap keluar kamar agar bisa melihat Bulan. 'Bulan punya banyak rahasia.' Ucapnya pelan. Kakek yang mengarah kepada Wish mencoba menahan amarah karena Wish yang melanggar peraturan panti. Ia sadar bahwa anak yatim sudah cukup menderita. Kemarahan sekecil apapun tidak untuk mereka yang kehilangan kedua orang tua mereka. Kakek mengubah raut wajahnya menjadi lebih ramah.
"Wish,,, Lagi!!” Nada kesal dari kakek karena Wish yang masih kecil itu keluar dari kamarnya hanya untuk melihat Bulan.
"Kakek! Wish...," ucap Wish ingin meminta maaf tetapi tertahan di bibirnya. Ia merasa bersalah karena ini sudah kesekian kalinya ia keluar saat jam tidur.
"Ayo masuk." Ucap Kakek lembut mencoba meraih tangannya. Wish menghindari genggaman kakek.
Tentu ada banyak bahan pertimbangan yang diberlakukan di panti. Mereka mengharuskan jam 8 malam semua anak panti harus segera tidur atau setidaknya berada di dalam kamar.
Karena panti itu terletak di tengah hutan karet, bisa jadi ada binatang buas yang bisa saja menyerang. Tapi, Wish malah keluar dari kamarnya dan berdiri di tengah lapangan yang hanya diterangi satu lampu itu. Ini sudah terjadi beberapa kali.
"Ayo.. masuk. Atau.." Kakek mencoba membuat peringatan yang tampak akan ia sesali jika ditolak Wish.
"Iya kek, iya kek." Ucap Wish lalu menyambut tangan Kakek.
"Ada yang mengamati kita Kek." Ucap Wish begitu pelan. Tetapi masih terdengar jelas oleh kakek karena kesunyian tempat itu. Sambil berjalan kakek melihat sekeliling, jangan-jangan ada binatang buas di dekat mereka atau bisa jadi hantu. Ia tampak takut dengan apa yang Wish katakan.
"Siapa? Dimana?" Ucap kakek. Mereka berhenti sebentar dan tangan Wish ia genggam erat.
"Dimana?" Tanya kakek lagi karena Wish tidak menjawab.
Wish melihat wajah kakek dan menatap ke langit.
Dan.. "Dwarr" sontak Wish
Wish tersadar bahwa ia sedang bermimpi. Tangannya dengan refleks memukul-mukul kakinya karena nyamuk. Ia berdiri dan melihat bahwa hari sudah malam. Ternyata potongan ingatannya muncul dalam mimpi. Ia pergi masuk kedalam rumah, dan dalam hati ia berkata,’Bagaimana bisa mimpiku sama dengan kejadian yang sesungguhnya?’
Wish berjalan ke rumah menaiki tangga ke arah kamarnya. Ia bisa mencium aroma masakan Ny. Pratja dan segera mandi agar bisa mencicipinya. Mood-nya sekarang terasa lebih baik dibanding di awal hari tadi.