Bab 22 - Trauma Wish

1324 Kata
Sebuah mesin berbentuk pintu tak berdaun didorong oleh beberapa pelayan mendekati Mr. Cat. Beberapa pelayan mengikuti untuk memastikan agar kabel-kabel tidak menghalangi jalannya mesin. Mr. Cat terlihat mencuap-cuapkan bibirnya, menginstruksikan letak yang cocok untuk menaruh mesin. Setelah semua sesuai dengan letaknya, ia menatap murid-murid ke arah kursi berisi. "Hai semua!" Suara microphone berdecit kuat memekakkan telinga. Jeritanpun bergema dari paduan suara murid-murid. Mr. Cat menutup telinganya dan melirik pelayan agar cepat memperbaiki sound system di belakang panggung.  Suasana tenang dan Mr. Cat melanjutkan pembicaraannya, "Bapak akan jelaskan kepada kalian mengenai pemilihan bidang kalian. Tetapi sebelum itu, mulai dari ujung, maksud saya sudut podium ujung bisa berbaris maju melewati Walk Through Major Detector atau WTMD." Ia menunjuk kepada mesin di belakang kirinya. Semua mulai bergerak dan memasuki pintu pendeteksi jurusan. Kusen pintu dikelilingi lampu kecil yang berkerlap-kerlip. Jika lampu itu tidak ada, dan daun pintu dipasang - jangan lupa cat dengan warna biru, pintu itu akan mirip seperti pintu doraemon. Kabel-kabel berseliweran dimana-mana mengelilingi pintu seperti akar napas yang sebagian akarnya berada di permukaan tanah. Tentu banyak yang curiga bahwa bisa jadi alat itu membuat otak mereka dicuci untuk melakukan hal jahat. Salah satu yang termasuk disitu adalah Wish. Mereka bertiga mengikuti barisan. Sebentar lagi adalah giliran mereka untuk melewati pintu detector itu. Wish merasa kurang beruntung karena duduk di sudut yang membuat gilirannya menjadi lebih cepat. "Apa itu maksudnya?" Tanya Wish dengan wajah takut. Chery pura-pura tidak mendengar karena tidaklah sulit untuk melewati pintu itu. Ia lebih takut tidak makan dibanding hanya berjalan melewati pintu. Karena tidak mendapat tanggapan, Wish menepuk punggung Chery yang ada di depannya dan berkata, "Apakah ini ada dalam ceritamu dengan girl squad?" Ia ingin tahu lebih banyak karena sebelumnya yang Chery ceritakan hanyalah hasil dari yang ia dengarkan dari teman-teman wanitanya. "Wish, kamu ini. Ya ini gak usah diceritain juga tahu. Ini pendeteksi jurusan, dari arti bahasa inggrisnya saja sudah tahu." Ucap Chery dengan kuat mengikuti barisan maju. Ia kembali melihat ke depan, lalu kembali berbalik melihat Wish lagi dengan ide baru. Tubuhnya lambat berbalik untuk menghasilkan rasa penasaran. Chery merasa wajah Wish seperti wajah orang yang sedang melihat hantu gundoruwo. Chery menatap Wish serius mencoba menakuti, "Atau, ini akan menghapus ingatan kita mengenai keberadaan sekolah ini. Kau tau rumor itu kan?" Suara creepy yang dihasilkan sangat cocok untuk memerankan film hantu. "Sssttt.." sekelilingnya memperingati Chery. "Huff.." bibir Chery hampir copot melihat orang-orang disekitarnya merasa terganggu. Ia pun berbalik. Bukannya minta maaf ia malah mengejek salah satu dari pesorak itu dan juga membuat matanya juling untuk meledek. Wish hanya diam saja mencoba agar pikirannya teralihkan. Lalu ia menarik napas. "Kuat kali suaramu." Ucap Ardy yang membalikkan tubuhnya melihat Chery dan Wish di belakangnya. "Lagian, ini nih, si Wish." Ucap Chery menyalahkan Wish tapi ia berbicara dengan memelankan suaranya dan memberikan tembok agar tak terdengar dengan tangan kanannya. Mereka berjalan mengikuti antrian. "Ketika kalian melewati pintu, akan ada alat yang keluar di sebelah kanan pintu." Instruksi dari Mr. Cat kepada murid yang pertama melakukannya. "Bentuknya seperti ponsel layar lebar, tetapi itu hanya layar. Hanya ada satu tombol bulat di tengah. Saya akan jelaskan nanti. Silahkan kalian ambil dan jangan hilang. Foto dan nama kalian akan langsung nampak di layar dashboard dan tolong pastikan apakah nama kalian benar atau tidak. Kalian bisa melihat ramalan cuaca dan ada fungsi alarm yang bisa dipakai untuk mengingatkan kalian waktu untuk masuk kelas nantinya. Kalian harus bawa itu kemanapun sewaktu keluar dari kamar kalian. Karena apa???" Mr. Cat menatap salah satu murid dari barisan itu. "Karena itu peraturan." Lanjutnya. Matanya melotot yang menyiratkan jangan pernah melanggar itu. "Di sini alat itu disebut ID Card Electronics (ICE)" Ucap Mr. Cat lagi memberi info. Wish bertindak beda. "Aku ingin menjadi yang terakhir." Ucap Wish setelah mendengar Mr. Cat selesai mengoceh. "Apa maksudmu?" Tanya Ardy kesal. "Untuk memastikan bahwa mesin itu aman." Jelas Wish lalu menukar antriannya dengan yang lain. Ia pergi ke ujung barisan. "Apa yang kau lakukan Wish?" Ucap Ardy pelan lalu mengikutinya ke belakang barisan membuat mereka semakin jauh. Melihat Wish yang selalu berpindah-pindah semakin ke belakang antrian, Chery dan Ardy merasa ini keterlaluan. Mereka akan lebih banyak berdiri jadinya. "Kau ini kenapa?" Kata Chery. Ia merasa itu sia-sia karena reaksi wajah Wish yang ketakutan tetapi tetap terlihat sangat manis. 'Wajahnya kok gitu banget!' Kata Chery dalam hati. "Sudahlah, tidak ada salahnya!" Ucap Chery melerai masalah karena melihat keimutan Wish. Mereka akhirnya berada di barisan paling akhir. Ardy diam saja dan berdiri di depan Chery sedangkan Wish di barisan paling belakang. Wish memiliki trauma sendiri sewaktu melihat mesin yang tidak ia kenal. Sewaktu kecil, saat ia harus menjalani penelitian di rumah sakit, ada kejadian yang membuatnya trauma. Mesin MRI yang bertugas untuk merekam isi otak-nya, tiba-tiba meledak. Ia ingat sekali saat Ny. Pratja berlari menyelamatkannya dari ruangan dokter karena ketakutan melihat api di depannya. Mesin yang dipakai untuk MRI ternyata meledak dan menimbulkan percikan api dan bau gosong. Untung saja, Ny. Pratja dan Wish tidak terluka saat itu. Sejak itu, orang tua Wish merasa sudah cukup membawanya ke rumah sakit untuk melakukan penelitian yang tidak ada untungnya. Karena peristiwa itu, orang tuanya selalu melarang Wish menggunakan alat apapun di tubuhnya. Mereka tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak mereka, karena ada kemungkinan berbahaya baginya. Pernah sekali peristiwa, mereka membelikan jam baru untuk anak mereka dan jam itu tiba-tiba mati, padahal baru saja dibeli. Sebelum dipakai Wish, jam itu hidup tetapi, detik pertama dipakainya jam itu langsung rusak. 1 jam kemudian, kini giliran Wish murid terakhir. Chery dan Ardy menunggunya di seberang pintu sambil memakaikan Id Card Electronic (IDC) ke leher mereka masing-masing. Mereka berdua melihat Wish ke belakang karena penasaran mengapa Wish lama sekali melewati pintu itu. "Silahkan.." ucap Mr. Cat. Ia mengatakannya kepada Wish yang ragu-ragu untuk masuk. Mulutnya seperti akan mengeluarkan lava karena begitu kesalnya melihat Wish. Lalu Wish menjawab dengan suara sendu, "Apakah ini akan menyakitkan?" Ardy dan Chery menepuk jidat. Mereka sudah berada di seberang pintu melihat temannya yang ketakutan itu. Mereka sabgat jengkel melihat Wish yang tidak berani melaluinya. "Dia tidak melihat kita baik-baik saja?" kata Chery. "Ada apa dengannya?" Lanjut Chery memandang wajah Ardy lama. "Dia anak yang rumit." Ucap Ardy menggelengkan kepala. "Lebih baik kita pergi duduk sebelum kita dipermalukan dengannya untuk kedua kali." Lanjut Ardy berjalan ke tempat duduk mereka. "Kau benar. Ayo!" Ikut Chery. Suara Mr. Cat membentak, "Tidakkah kau lihat yang lain? Adakah yang mati setelah itu?" Pertanyaan yang tidak masuk akal untuk ditanyakan. Tentu, Mr. Cat merasa kesal. "Cepat masuk." Bentak Mr. Cat lagi. Wish berjalan ragu-ragu tetapi rasa kesalnya lebih besar. Ketika ia masuk, pintu itu tiba-tiba berasap dan meledak. Wish berlari menghindari ledakan asap dan menutup telinganya. Ia pun tersenyum karena tahu akhirnya akan seperti ini. "Benarkan, tidak aman." Ucap Wish berdiri dengan senang. Mr. Cat terdiam. Ia bingung mengapa pintu itu bisa rusak. "Apa yang terjadi? Mengapa bisa meledak?" Ucap Mr. Cat melihat ke arah dekat. "Pelayan!" Teriaknya agar dengan segera pelayan memadamkan api di ujung pojok pintu meski itu tidaklah parah. "Ini tidak aman. Sudah kuduga." Ucap Wish santai lalu pergi menuju Chery dan Ardy yang duduk di bangku tengah sudut. "Apa yang kau lakukan Wish? Apakah kau pengendali metal?" Ucap Ardy sambil menahan tawa. "Kau membuat mesin itu rusak. Wish mendongakkan dagu. "Ini hebat." Sindir Chery. Mendengar itu Wish tidak memberikan tanggapan hanya wajah sombong yang ia perlihatkan karena kedua temannya itu bisa melihat sendiri bahwa apa yang ia takutkan dari awal benar-benar terjadi. "Cek cek," suara Mr. Cat mencoba microphone. "Ini jarang terjadi karena hanya Wish yang tidak melewati mesin WTMD, kita tidak akan menunggu mesin ini diperbaiki." Jelas Mr. Cat. Lalu ia berpikir sebentar dan berkata, "Untuk kamu," tunjuk Mr. Cat kepada Wish. "Kita akan lanjutkan nanti." Lanjut Mr. Cat karena hanya Wish yang tidak mendapat ICE. Jadi ia tidak ingin merepotkan diri sendiri dengan menunggu mesin itu diperbaiki lalu Wish melewatinya. Itu pasti akan memakan waktu. Acara dilanjutkan. Mr. Cat bersiap dengan ceramahnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN