Bab 46. Shera 27

1260 Kata
Shera Fuji Lesmana Dan akhirnya hari yang ku takutkan benar terjadi. Setelah dilema dalam berbagai macam keadaan yang tak bisa diterima nalar. Aku harus berakhir disini. Janur kuning dengan nama Mawar dan Tama tampak menggantung dengan indah. Sayangnya, akan lebih indah lagi jika saja yang tertera disana adalah Tama dan ... Shera. Ahh sudahlah. Untuk apa juga aku mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Tujuanku datang kesini bukan untuk menunjukan kesedihan. Justru aku harus terlihat baik-baik saja tanpa si penghianat itu. Kebaya putih tulang dengan sedikit sentuhan manik-manik berkilau, rok songket hitam juga high hells berujung runcing tampak membungkus tubuh ini dengan pas ... Aku berjalan menuju salah satu ruangan tempat resepsi pernikahan berlangsung. Jantungku berdebar tak karuan begitu melihat pintu terbuka dengan hiasan bunga-bunga mawar yang cantik. Sebuah pesta untuk kalangan menengah keatas. Aku mendadak insecure, mengingat statusku yang hanya anak dari asisten rumah tangga dan berasal dari Desa. Sedangkan yang ada disini, adalah golongan pejabat berduit yang tinggal gesek dimana-mana. Setelah menunjukan undangan pada petugas di pintu depan, barulah aku bisa masuk ke dalam ruangan tersebut. Luar biasa, jadi tak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam sini. Aku tidak bisa menyembunyikan decak kagum melihat dekorasi setiap sudut tempat ini. Rasanya benar-benar menakjubkan. Perpaduan warna putih, crem dan abu-abu membuat mata ini tak bosan memandang. Haruskah aku bersyukur karena mendapatkan kesempatan hadir di pesta pernikahan yang super wah ini. Atau haruskah aku juga merasa miris, karena aku hanya satu dari sekian banyak kesalahan yang diperbuat Tama. Ya ... dia salah karena telah menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun denganku. Sedangkan jodohnya ternyata adalah Mawar. Aku mengelilingkan pandangan ke segala arah. Hingga akhirnya, pandanganku tertuju pada sepasang pemilik pesta yang tengah berbahagia. Di atas panggung, seorang gadis bergaun putih yang tampak sangat cantik telah menggantikan posisiku. Rasanya sakit sekali. Haruskah aku naik ke atas panggung, memberikan selamat pada mereka, seperti yang lainnya. Apakah bukan sedang mempermalukan diri sendiri namanya? Aku duduk disalah satu kursi kosong, untuk setidaknya menenangkan hatiku yang sebenarnya ingin berontak. Pada akhirnya aku pergi kesini sendirian. Adrian menawarkan diri bahkan mengancam akan marah lagi jika aku bersikeras datang tidak bersama dengannya. Tapi kelasku lebih dulu selesai dan aku bisa kabur lebih dulu. Axel juga sempat menghubungiku. Tapi dengan sengaja ku matikan ponsel ini, agar dia tidak perlu lagi bertanya apakah aku bersedia pergi dengannya, atau tidak, padahal jawabanku sudah jelas "Tidak!" Dengan sedikit sentuhan dari Leana dan Mira, mereka membantuku agar setidaknya wajah ini tidak memalukan untuk hadir di tengah-tengah orang kaya. Ku harap mereka benar-benar membantu dan tidak membuatku seperti badut. "Silahkan, Mbak." Seorang pelayan yang tengah membawa trei berisikan minuman, menawariku satu gelas minuman dingin. Aku tersenyum dan menerima dengan senang hati. Sepertinya, hatiku yang panas ini memang perlu di dinginkan. Menyedihkan sekali. Semua orang sedang berbincang-bincang dengan kerabat mereka. Tapi aku bingung harus bicara dengan siapa. "Shera ...?" Akhirnya setelah beberapa saat ada juga yang mengenaliku. Sebenarnya jika aku berani, didepan ada keluarga Tama yang sudah mengenalku. Mereka memang orang baik. Aku tidak memungkiri itu. Tapi jika di bandingkan dengan Mawar yang sama-sama dari keluarga terpandang. Sikap mereka kali ini pastilah akan berbeda. Gadis yang saat ini menyapaku, terasa tak asing. Tapi aku agak lupa, dimana kami pernah bertemu. "Lo akhirnya dateng juga. Sendirian pula. Wah ... Salut banget gue!" ujarnya. Setelah ku amati baik-baik kurasa dia adalah teman kuliah dari Tama. Aku sering melihatnya di Kampus. Apa aku pernah cerita, kalau aku dan Tama itu satu kampus. Memang, tidak ada yang menceritakan soal masalah dia yang telah menghamili anak orang. Namun dengan berita dia akan menikah mendadak dan juga bukan denganku. Maka netizen bisa membuat penilaian tersendiri. Tanpa harus aku capek-capek menjelaskan. Ahh ... Pertanyaan seperti ini benar-benar menjebak. Jika kubilang datang sendiri, pasti rasanya ngenes banget. Tapi jika ku bilang datang berdua, mungkin dia akan mengatakan aku sedang mengada-ngada. Mana mungkin aku move on secepat itu, sudah jelas di kampus laki-laki yang tampak mengelilingiku selain Tama hanya Adrian. "Gue sama temen kok. Dia lagi kebelakang." Sepertinya jawaban paling aman hanya dengan mengarang cerita. Semoga saja dia tidak bertanya lebih jauh. "Oh ya? Wahhh bagus donk. Ya udah, gue pergi dulu ya. Enjoy aja oke." Gadis itu melambaikan tangannya sambil beranjak pergi. Aku menarik nafas panjang. Untunglah dia tidak bertanya lebih jauh. Saat ku perhatikan, ternyata memang banyak kawan lain yang ku kenal berada disini. Gawatt ...! Harusnya aku tidak datang sendirian kesini. Apa sebaiknya aku pulang. Toh Tama juga sepertinya belum tahu kalau aku ada disini. Mumpung belum terlambat lebih baik segera pergi. Baru saja akan bangkit dari tempat duduk, sesosok tubuh pria kini hadir dihadapanku. Aku mengangkat kepala, untuk mengetahui, kali ini siapa lagi yang akan merasa aneh dengan kehadiranku. Tapi ternyata orang ini adalah pria yang kukenal. Dia tersenyum lebar, seolah menemukan harta karun ditengah keramaian. Bisa kutebak, dia juga pasti datang sendirian. Karena itu raut wajahnya tampak senang. "Akhirnya, gue bisa ketemu lo juga," ujarnya. Padahal aku sudah sengaja tidak menyalakan ponsel. Dan ku pikir mungkin dia akan datang sore atau malam hari, lalu aku tidak perlu bertemu dengannya. Tapi ternyata ... Takdir berkata lain. "Ngapain lo nyariin gue. Nggak punya temen lo ya?" ejekku. Padahal sama saja, aku juga tidak punya teman disini. "Ya ... Habis gimana lagi? Tadi gue nelponin cewek nggak diangkat-angkat. Giliran nyambung, malah sengaja nggak diaktifin," balasnya. "Ckkk, nyindir lo ya?" Betul sekali, karena apa yang dia ceritakan, pastilah pengalamannya tadi pagi saat kesulitan menghubungiku. "Ya kurang lebih kaya gitu. Tapi kalau nggak ngerasa, ya its ok. Bye the way, Sher ..." Tangannya terangkat, ia tiba-tiba saja memegang pipiku dengan lembut. "Apa?" jawabku. "Hari ini kamu beda ya? Lebih cantik," katanya. Waw, nice banget. Dia sudah berani menggombal padaku sekarang. Tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat main-main. Apa sebenarnya, aku memang memiliki kecantikan yang tersembunyi. Axel sendiri sebenernya sangat kalem, ia menggunakan setelah kemeja hitam lengan pendek, dan celana jeans putiih dengan hanya mengandalkan satu buah jam tangan besar sebagai aksesories. Tapi kok nice banget sih kelihatannya. Malah dipikir-pikir sekarang kami tampak layaknya pasangan yang sengaja menggenakan pakaian couple. Aku menggenakan putih-hitam, sedangkan dia menggunakan hitam putih. "Jangan suka kaya gitu ah. Bikin gue geer aja," balasku. Tangannya yang semula bersarang dipipiku mulai turun perlahan-lahan. "Ehm ... Lo udah ke panggung? Salaman sama Tama dan juga ... Ehm sama mantan pacar gue." Aku yang datang sendirian ini, bagaimana mungkin maju dan terang-terangan bersalaman dengannya diatas panggung. Disaksikan oleh banyak tamu dan juga semua keluarganya yang mengenalku. Aku tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Hatiku terlalu rapuh. "Belom ..." jawabku lesu. "Gue nggak akan berani, bahkan tadinya, sebelom lo datang, gue udah mau pulang," tambahku lagi. Mendengar jawabanku yang lemah, Axel tiba-tiba saja menggenggam tanganku. Aku menatapnya dengan penuh pertanyaan. Apa yang mau dia lakukan. "Ayo kita kesana. Selesaikan apa yang sudah kita rencanakan. Kamu ingin kasih tahu sama mereka, kalau kita sudah move on kan?" Perkataan Axel begitu meyakinkan. Itulah tujuan kami untuk datang. Tama dan Mawar harus tahu, bahwa kami baik-baik saja meski menjadi pihak yang disakiti. Tapi kenapa aku jadi ragu. Aku takut tidak akan sanggup menghadapi emosiku sendiri di atas panggung nanti. Namun itu jika aku sendiri. Sekarang sudah ada Axel. Aku dan dia bisa terus bergandengan dan saling menguatkan. "Gimana? Kamu berani?" Aku benci tantangan. Karena setiap kali ada tantangan, maka aku tidak bisa menolak. Sejumput garis tipis dimasing-masing bibirku membentuk sebuah lengkungan. Masalah yang tidak hadapi, hanya akan membuat kami penasaran seumur hidup. Anggaplah ini sebagai ajang pembuktian kalau aku dan Axel memang kuat. "Masih mau ngelamun nih?" tanya Axel lagi. "Ayo ... Kita temui bintang utamanya," ajakku pada Axel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN