Shera Fuji Lesmana Cukup lama kami berlari, hingga pada akhirnya langkah kaki ini semakin melambat. Keringat bercucuran di seluruh tubuh terutama pada bagian dahi dan leherku. Aku mengusapnya sambil mengembuskan napas yang tersengal-sengal karena cukup lelah juga. Di sampingku ada Axel. Ku lihat, Axel juga sepertinya sudah tak lagi merasakan dingin atau menggigil. Dan itu semakin terbukti karena dia, tak lagi menggenakan jaket hitamku di tubuhnya. Melainkan, ia ikat pada pinggangnya. Tenaga dan semangatnya pasti sudah terbakar sekarang ini. "Gimana? Masih ngerasa dingin, huh?" tanyaku dengan nada meledek. "Nggak sama sekali, sekarang aku malah ngerasa gerah banget. Nanti sampai di rumah harus langsung mandi nih," jawab Axel sambil menyeka keringat yang memenuhi wajahnya. Aku tertegu

