Shera Fuji Lesmana Aku menunduk, kemudian melihat pada tubuhku sendiri. Baiklah, mari kita coba telaah baik-baik. Kemeja putih yang kusut, debu jalanan, dan kotoran kotoran lainnya juga sudah menempel di sana. Wajah semerawut, rambut acak-acakan, mata juga bengkak. Tubuh yang lelah kondisi jiwa yang labil dan, aarkkhh! Axel rupanya benar. Aku tidak memiliki apapun yang bisa ku banggakan untuk pulang. Jika aku nekat pulang, saat sampai di Semarang nanti, Bapak dan Ibu pasti akan menanyaiku dengan berbagai macam hal. Meski tak membawa apapun, setidaknya aku harus pulang dalam keadaan baik-baik saja. "See ... akhirnya kamu mikir juga,'kan? Kamu sadar kalau kamu nggak bisa pulang dalam keadaan kaya gini?" Dan Axel berbangga diri sekarang. Karena apa yang dikatakannya memang benar. Aku ter

