Abimanyu Bertemu Arras

1522 Kata
Abimanyu belum memiliki kendaraan apapun di desa ini. Ia tidak enak jika lagi - lagi harus datang ke rumah Leandra, hanya sekadar untuk meminjam sepeda. Apalagi tadi pagi ia sudah datang dengan gaduh bersama Banyu untuk menyampaikan sebuah kabar ambigu, antara memiliki manfaat yang baik, namun sedikit menyakitkan. Tentang rencana menyelenggarakan majelis. Sepertinya Banyu butuh sekolah kepribadian — atau sejenisnya — agar ia bisa menjaga sikap di depan orang lain. Terlebih di depan orang yang lebih tua seperti orang tuanya Leandra. Abimanyu tak ada pilihan selain meminjam sekuter milik Banyu. Seperti yang sudah Abimanyu duga, Lelaki itu memaksa ingin ikut saat ia mengutarakan ke mana gerangan ia akan pergi. "Jadi kamu sudah dapet alamatnya, Bi?" Abimanyu hanya mengangguk malas. "Coba lihat!" Abimanyu menunjukkan sebuah foto yang dikirim Leandra via w******p sekitar satu jam yang lalu. "Woah, itu, mah aku tahu banget tempatnya. Nggak terlalu jauh, sih, dari sini. Desa sebelah doang. Tapi wilayahnya agak terpencil gitu. Daripada kamu nanti nyasar, lebih baik berangkat sama aku." "Pak Banyu, saya sendiri saja. Nanti Langit, Awan sama Jingga gimana kalau ditinggal?" "Gampang, Bi. Tinggal nitipin mereka ke rumahnya Leandra!" "Astaghfirullah, Pak Banyu." Abimanyu mengelus d**a. Ia saja tak enak hati ke sana lagi — sekali lagi, meskipun hanya untuk pinjam kendaraan — eh, Banyu malah ingin menitipkan ketiga buntutnya di sana. Padahal ia sudah sangat sering melakukannya. Seharusnya Banyu memiliki rasa sungkan barang sedikit. "Pak Banyu, saya pinjem sekuter boleh, nggak?" Abimanyu mengulang permintaannya tadi. "Nggak perlu pinjem, biar aku yang anter!" Banyu juga mengulangi jawaban yang sama. "Pak Banyu di rumah saja jaga anak-anak Bapak. Saya pinjam sekuternya saja. Kalau nggak boleh, nggak apa - apa. Saya bisa jalan kaki." "Dibilangin nggak perlu pinjem, Bi. Biar aku yang anter!" "Pak Banyu, saya pijem sekuter boleh apa, nggak?" Banyu tergelak kali ini. "Si Abi, segitunya nggak mau diikutin sama bapak - bapak!" ledek Banyu di sela - sela tertawanya. "Iya, deh, iya. Aku nggak ikut!" putusnya. Abimanyu terlihat lega dengan keputusan Banyu pada akhirnya. Syukurlah. Abimanyu bukannya tidak mau Banyu ikut. Sungguh. Ia hanya khawatir pada anak - anak Banyu yang belakangan ini semakin sering ditinggal ayahnya. Mereka sudah ditinggal ibunya merantau, apa iya harus ditinggali ayahnya terus - terusan juga? "Tapi bentar, deh, Bi!" ucap Banyu lagi. "Kamu yakin itu alamat Romza yang sebenernya? Gimana kalau dia cuman bohong aja? Gimana kalo surat itu dia ambil sembarangan dari orang lain? Bukannya nuduh, cuman antisipasi aja." Abimanyu terdiam, berpikir. Benar apa yang dikatakan oleh Banyu. "Saya juga nggak tahu, itu alamat yang sebenarnya atau bukan. Tapi nggak ada salahnya dicoba dulu." Banyu mengangguk - angguk. "Ya udah, deh." Banyu meraih sebuah kunci yang ia letakkan pada paku yang tertanam di dinding. "Ini kunci sekuternya." Abimanyu menerima kunci yang diberikan oleh Banyu. Ia segera berbalik setelah mengucapkan terima kasih. Ia harus bergegas. Semakin cepat fakta terungkap. Semakin cepat pula ia bisa menjalankan majelis itu. *** Abimanyu merasa sedang diawasi. Mereka menatap setiap gerak - geriknya dengan awas. Abimanyu berusaha pura - pura tenang. Pura - pura tak tahu akan pengawasan mereka. Meskipun di setiap sisi jalan, mereka berdiri berjajar, menatapnya tajam, dengan rupa dan bentuk mereka yang beragam. Kadang saking mengejutkannya rupa dan bentuk mereka, membuat Abimanyu terpaksa harus menahan napas. Abimanyu tidak melihat Romza di antara mereka. Seperti yang sudah - sudah, Romza tetap tak mau muncul di mana ada dirinya. Romza masih begitu kesal dan marah padanya. Kini hal itu ada baiknya. Segala hal memang selalu memiliki hikmah. Berarti Romza belum mengetahui rencana membuat majelis ini. Setidaknya Romza tidak akan menghalangi usahanya. Abimanyu tahu benar bahwa Romza akan semakin marah padanya setelah ini. Namun apa yang akan terjadi setelahnya, itu adalah demi kebaikan semua pihak. Termasuk Romza sendiri. Semoga saja, mereka yang berjajar mengawasi Abimanyu itu, tidak mengatakan hal yang aneh - aneh pada Romza. Lelaki tinggi itu sampai di sebuah rumah megah. Rumah ini terlihat paling mencolok dibandingkan rumah para tetangga. Benar apa yang dikatakan Banyu. Tempat ini sedikit terpencil. Dan pada tempat seterpencil ini, ada sebuah bangunan yang sebesar ini. Benar - benar besar dan indah. Arsitekturnya khas lokal. Namun tatanannya benar - benar apik. Memberikan kesan berkelas dan modern. Dengan sedikit sentuhan nuansa rustic. "Cari siapa, Pak?" Tiba - tiba terdengar sebuah suara. Abimanyu terjingkat karena kaget. Ia terlalu asyik mengamati rumah di hadapannya. Hingga tak sadar ada seorang satpam yang menghampirinya, dan sekarang berdiri di sampingnya. Seorang laki - laki yang sudah cukup berumur. "S - saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini." Abimanyu mulai coba menjelaskan maksud kedatangannya, meski jantungnya masih dag - dig - dug tak keruan. Satpam itu terlihat curiga. Ia mengamati Abimanyu. Meski pun tak ada yang janggal dari penampilannya, namun tak biasanya ada tamu yang mengutarakan niat kedatangannya seperti apa yang dilakukan Abimanyu ini. Para tamu biasanya akan segera menyebut nama. Bukannya menyebut pemilik rumah ini. "Anda dari mana?" tanya si Satpam lagi. Masih dengan tatapannya yang penuh curiga. "Saya dari Rembang. Mohon maaf karena saya datang mendadak. Saya ingin menanyakan beberapa hal pada pemilik rumah ini. Dan mohon maaf lagi, karena saya belum tahu siapa nama sang Pemilik." Si Satpam masih terlihat curiga. Namun tutur kata dan pembawaan Abimanyu yang sopan dan santun, membuat rasa curiga itu terkikis sedikit. Meski pun rasa curiganya masih lebih besar. "Kalau boleh tahu, hal apa yang akan Anda tanyakan pada Pak Arras?" Sang satpam masih coba terus menginterogasi. Ia hanya coba menjadi profesional. Menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. "Oh, jadi nama pemilik rumah ini adalah Pak Arras!" seru Abimanyu. "Saya ...." Abimanyu ragu hendak mengutarakan hal ini atau tidak. Namun sepertinya kejujuran adalah satu - satunya kunci agar ia bisa masuk dan menjalankan segala niat. Jika tidak, si Satpam pasti tetap tak akan membiarkannya masuk. "Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang ... Romza," jujur Abimanyu akhirnya. Abimanyu melihat satpam itu terdiam. Terlihat tercengang. Entah karena apa. Namun hal itu secara tak langsung telah mengonfirmasi, bahwa Romza memang ada hubungannya dengan rumah ini. Setidaknya Romza tidak berbohong tentang asal - usulnya. Makhluk itu sepertinya memang mencintai Leandra dengan tulus. Dan benar - benar serius ingin menikahi Leandra nanti, tanpa adanya dasar kebohongan. Sejauh yang bisa Abimanyu tangkap. Juga dari cerita Leandra saat Romza melamarnya, makhluk itu sepertinya telah mencapai pada sebuah titik di mana ia merasa frustrasi dengan segala hal yang menimpanya. Ia sudah lelah menahan perasaannya seorang diri, tanpa bisa melakukan apa - apa. Padahal ia selalu di sana, saat Leandra memohon pada Tuhan untuk segera dipertemukan dengan jodohnya. Manusia mana yang tahan menatap pujaan hatinya meratap. Ia ada, namun seakan hanya sebuah benda mati. Seakan hanya sebuah saksi bisu. Romza ingin menolong, namun dunia mereka berbeda. Sampai - sampai, kini Romza nekat menjalani sebuah tirakat yang berbahaya, demi Leandra. Demi bisa kembali seperti dirinya yang dulu. Hal itu belum tentu benar adanya. Karena Romza sejauh ini tak pernah mau berinteraksi dengannya. Abimanyu hanya mengira - ngira. Namun sepertinya memang begitu adanya. Ya ... memang benar seperti itu. Makanya semua harus segera dihentikan. Selain hal itu melanggar kodrat alam, juga untuk menghindarkan Romza sendiri dari berbagai macam bahaya yang akan ia dapat nantinya. "Gimana, Pak? Saya boleh, kan, ketemu sama Pak Arras?" Abimanyu mengulang pertanyaannya karena seseorang di hadapannya masih belum memberi reaksi apa pun. "Saya nggak tahu bagaimana Anda bisa tahu tentang Mas Romza. Tapi ... mari saya antar masuk! Saya tidak menjamin bahwa Pak Arras akan mau membicarakan Mas Romza lagi. Namun silakan dicoba!" Satpam itu mempersilakan Abimanyu untuk mengikutinya. Abimanyu mengucap syukur dalam hati. Meskipun bayang - bayang penolakan dari sang Pemilik rumah masih ada. Setidaknya dengan diperbolehan masuk, Abimanyu bisa melakukan berbagai usaha agar dapat mengumpulkan informasi dari Romza barang sedikit. Berbanding terbalik dari ukuran rumah yang begitu besar — di mana seharusnya rumah ini dihuni oleh banyak orang — namun suasana di sini begitu lengang. Asisten rumah tangga terlihat hanya ada satu dua. Sunyi yang kentara sungguh terasa. Abimanyu berdiri dengan canggung. Menunggu keputusan dari satpam yang saat ini sedang berdiri membelakangi Abimanyu, berbicara dengan seseorang lewat walky talky. Seseorang itu Abimanyu yakini sebagai Arras. Selesai bicara, satpam itu berbalik menghadap Abimanyu. "Pak Arras sebentar lagi turun." Abimanyu mengangguk. Sebuah kelegaan besar menyertai, membuatnya mengucapkan banyak limpahan syukur dalam hati. Tak lama kemudian seseorang terlihat berjalan menuruni tangga. Abimanyu terhenyak menatapnya. Menatap kemiripan fisik seseorang itu dengan Romza. Ia ... Arras, kan? Satpam tadi memanggilnya dengan sebutan Pak, sementara ia memanggil Romza dengan sebutan Mas. Abimanyu pikir, Arras adalah ayahnya Romza. Tapi dilihat dari segi fisik, Arras sepertinya belum setua itu untuk memiliki anak yang sudah sedewasa Romza. Bisa jadi ... Arras adalah kakaknya. Arras tak segera menyapa Abimanyu. Masih menelisik, memperhatikan lelaki itu. "Katanya Anda ingin bicara dengan saya?" tanyanya kemudian. Abimanyu mengangguk. "Ya. Saya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda tentang ... Romza." Abimanyu bisa melihat perubahan air muka Arras. Garis wajahnya terlihat menegas. Mengeras. Menandakan bahwa pernyataan dari Abimanyu adalah hal yang sama sekali tak ia harapkan. Juga, merupakan hal yang cukup sensitif baginya. Hingga ia menjadi emosi seperti ini. Tak apa. Abimanyu akan menghadapinya. Seperti rencana awal, ia akan mengambil segala konsekuensi. Meski pun itu akan jadi sangat menyulitkan dirinya sekali pun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN