Tak Punya Pilihan

1440 Kata
Senja ini menurut Leandra teramat muram. Area persawahan di sekitar balaid desa terasa sunyi. Biasanya ada anak - anak yang bermain, atau juga beberapa warga yang lalu lalang. Tapi tidak hari ini. Leandra terdiam menatap hamparan padi yang telah menguning. Seharusnya ia sudah pulang seperti pamong desa lain, tapi ia masih bertahan, diam, enggan pulang. "Leandra!". Suara yang tak asing lagi di telinga Leandra. Meskipun jarang mendengarnya, Leandra sudah hapal milik siapa suara itu. Wanita itu menoleh pada sumber suara, namun tak kunjung melihat sosok yang sudah ia nanti. Sosok itu begitu ia rindukan. Leandra begitu ingin melihatnya kembali, begitu ingin bersua lagi barang sebentar. Leandra pun tak tahu perasaan apa gerangan. Yang jelas segala hal dalam lelaki itu membuat Leandra merasakan kesenangan yang mendalam. Meskipun ia sudah tahu dengan jelas dari Abimanyu, bahwa sosok itu ... bukan lah manusia. Leandra mengulum senyum ketika ia akhirnya melihat sosok itu. Ia berdiri pada jalan setapak kecil, di antara dua petak sawah berisi tanaman padi. Seperti biasa, ia begitu indah. Ia tersenyum manis pada Leandra. Wanita itu tersenyum balik padanya. Tanpa disadari, kaki - kaki Leandra melangkah mendekat. Semakin dekat jarak mereka kini. Romza mengulurkan tangan, meminta Leandra untuk meraihnya. Tinggal sejengkal lagi, dan jemari mereka akan saling bersentuhan. Namun tiba - tiba senyuman pada paras ayu Leandra sirna. Langkahnya terhenti, dan tangannya enggan terus terulur. Leandra seakan tak dapat menggerakkan tubuhnya. Sosok sempurna nan indah Romza, telah sirna. Sosoknya sedikit demi sedikit berubah. Sebuah perubahan yang pelan, namun pasti, menjadi sosok lain yang begitu mengerikan. Tubuhnya menjadi sangat tinggi. Mungkin Leandra hanya setinggi pusarnya. Seluruh badannya menghitam, dipenuhi oleh bulu - bulu yang lebat. Kedua matanya berubah besar, hampir keluar, berwarna merah menyala seperti darah. Jangan lupakan taring putih yang panjang menjuntai. Begitu mengerikannya perubahan pada diri Romza. Leandra ingin memanjatkan doa, juga membaca ayat - ayat suci Al - Qur'an. Ia ingin sosok mengerikan di hadapannya segera terbakar dan menghilang. Semakin keras usaha Leandra untuk mengucap, semakin sulit pula rasanya. Lidahnya kelu, tak mau mengutarakan apapun. Tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali. Bahkan bernapas pun sulit. Leandra menangis karena ketakutan yang begitu besar. Romza menatapnya tajam dalam sosok mengerikan itu. Romza mengulurkan tangannya lagi, hendak menyentuh Leandra. Sebisa mungkin Leandra berusaha menggerakkan diri, untuk pergi. Namun sekali lagi, semua begitu sulit. Sementara jemari makhluk itu sudah hampir benar - benar menyentuhnya. Leandra ingin berteriak sekencang yang ia bisa, meskipun itu tetap tak terjadi. Leandra terengah dalam posisi terduduk. Tangan kanannya bertengger di d**a, ingin mengontrol detak jantung yang tak keruan. Leandra mengambil air putih di atas nakas — meminumnya. Bibir Leandra tak henti - hentinya mengucap istighfar. Seluruh tubuh wanita itu dibasahi oleh keringat dingin. Namun ia tetap bersyukur. Alhamdulillah, semua hanya mimpi. Setelah tahu sosok apa Romza sebenarnya, Leandra semakin sering memikirkan lelaki itu. Meski jelas - jelas ia sudah tahu perihal jati diri Romza — makhluk apa sebenarnya ia — namun bayang - bayang cemoohan masyarakat tentang Genderuwo, tetap membebani hati Leandra seberat ini. Sampai semua terbawa mimpi. Leandra tak tahu, apakah Romza sedang bersamanya atau tidak. Namun jika iya ... huff ... entah lah. Leandra sendiri juga tak tahu, apa yang ia harapkan jika seandainya sekarang Romza ada di sini. Leandra hanya terdiam. Masih bingung dengan dirinya sendiri yang semakin menggila saja. Tak percaya jika kegilaan seperti ini akan terjadi dalam hidupnya secara nyata. *** Romza mungkin tak tahu bahwa Leandra — yang baru saja terbangun dari tidurnya dalam keadaan ketakutan — sedang mengharapkan kehadirannya sekarang. Romza tetap duduk di diam di tepi ranjangnya, tak berani terlalu dekat, takut akan menyentuh wanita yang dicintainya itu. Yang Romza tahu adalah, tentang penyebab Leandra bangun dalam keadaan ketakutan yang luar biasa. Mimpi yang Leandra alami tadi adalah gangguan dari salah satu pimpinan tertinggi koloni Genderuwo. Ia adalah sosok yang menampung Romza selama ini. Ia marah, karena terlalu mencintai Leandra, Romza tak lagi mau bersama mereka sesering dulu. Ia ingin sedikit memberi pelajaran pada Leandra. Apalagi, semenjak Romza jatuh cinta padanya — apalagi setelah Romza mulai berniat benar - benar mendekatinya, dengan mulai melakukan tirakat — si Pimpinan tak lagi tinggal diam. Ditambah, para wanita dalam koloni mereka benar - benar mengalami banyak hal menyakitkan karena Romza lebih memilih Leandra dibandingkan mereka. Sekarang, Romza justru merasa sangat bersalah pada Leandra. Karenanya, Leandra harus mengalami banyak hal yang sesulit ini. Hal itu tak menggentarkan niatnya. Justru ia semakin semangat melakukan tirakat, supaya ia mencapai ajian tertinggi, bisa kembali seperti dulu, dan menjalankan semua niatnya bersama Leandra. Setelah beberapa hari tak bertemu, Romza tak lagi dapat membendung rindu. Ia baru bisa datang selarut ini. Karena jika Romza bersama Leandra di waktu lain, wanita itu pasti ada bersama Abimanyu. Sementara Romza masih sangat enggan untuk bertemu dengan lelaki itu lagi. Tiap kali mereka bertemu, Abimanyu pasti memaksanya untuk mau diajak berinteraksi. Romza ingin berbicara pada Leandra. Mengatakan pada wanita itu untuk kembali tidur, karena jika ia tidur, gangguan kiriman dari si Pemimpin tak akan berlaku lagi. Ia bisa tidur dengan nyenyak, dan Romza akan menemaninya di sini sampai pagi. Tetap duduk di pinggiran ranjang, sembari menatapnya. Sayang, Romza tak bisa mengatakan apapun. Bukan karena tak ingin. Namun karena keadaan yang memaksa. Jika Romza berbicara sekarang, Leandra pasti akan semakin ketakutan. Wanita itu bahkan masih berusaha menenangkan dirinya sendiri karena ketakutan akan mimpi yang baru saja ia alami. Romza tak ingin menambah segala bebannya. Hidup wanita itu sudah berat. Sangat berat. Romza lega ketika akhirnya Leandra kembali berbaring. Romza tersenyum kala Leandra kembali memanjatkan doa, memohon pada Tuhan agar dilindungi dari segala gangguan — lagi — ketika ia sudah terlelap nanti. Wanita itu benar - benar ... sangat baik. 'Sebentar lagi, Le!' batin Romza. 'Sebentar lagi, aku akan kembali seperti dulu. Dan pada akhirnya ... kita bisa bersama.' Bayangan - bayangan indah itu sudah berada dalam otak Romza. Secara tak sadar menciptakan hormon bahagia yang membuatnya tersenyum tipis. Meski di saat bersamaan, kekhawatirannya masih begitu besar. Takut jika rencananya akan gagal, karena gangguan dari pihak - pihak yang kontra akan hubungannya dengan Leandra. *** Setelah Abimanyu pikirkan, rencana yang dikemukakan oleh Banyu tidak ada salahnya untuk dilakukan. Memang benar, pada awalnya itu mungkin — entah sedikit, entah banyak — akan menyakiti Leandra dan orangtuanya. Namun, kesakitan itu nanti akan terbayar, jika pada akhirnya warga yang masih berpikir bahwa Leandra ditaksir oleh seorang Genderuwo, perlahan - lahan menghilangkan pemikiran salah itu. Abimanyu masih mengkhawatirkan tentang Romza sebenarnya. Dengan terlaksananya rencana ini, makhluk itu pasti akan semakin marah padanya. Akan semakin membencinya. "Bi, ayo!" ajak Banyu. Lelaki itu sudah sampai di sini sejak jam lima pagi tadi, dengan Jingga yang masih tidur nyenyak di gendongan. Jangan lupakan Langit — yang hari ini terpaksa bolos sekolah—dan juga Awan. Keduanya sedang tertidur lelap di depan televisi rumah milik Kakek Leandra yang sekarang ditinggali oleh Abimanyu. "Sebentar, Pak Banyu!" "Dari tadi sebentar - sebentar melulu! Keburu anak - anak pada bangun, malah repot, dan rencana ini akan semakin tertunda!" "Masalahnya Pak Banyu ...." Abimanyu terlihat gusar. "Apa masalahnya, Bi?" Banyu semakin tak sabaran saja. "R - Romza, Pak." Garis wajah Banyu menegas. Ia tak suka nama makhluk itu disebut. "Kenapa sama dia? Apa kita perlu persetujuannya juga?" "Tentu saja, Pak Banyu." "Tapi kenapa, Bi? Ini nggak ada hubungannya sama sekali sama dia.". Abimanyu menggeleng. "Ini berhubungan dengannya, Pak. Sesuai dengan rencana Pak Banyu. Pak Banyu ingin agar saya membuka majelis untuk mengatakan pada masyarakat tentang siapa Romza sebenarnya. Menjelaskan pada mereka segalanya tentang Romza. Saya bahkan hanya mengatakan tentang dia pada Pak Banyu, Leandra sendiri, Ibuk, dan Bapak. Tapi Romza sudah sebegitu marahnya pada saya. Bagaimana jika saya mengatakan pada seluruh masyarakat desa?" "Bi, nggak usah ngurusin dia, lah! Biar aja dia marah. Toh, itu nggak akan mengubah apa pun. Yang penting segala masalah tentang Leandra selesai. Aku udah nggak tahan sama segala masalah ini. Kamu ingat, kan, tujuanku manggil kamu ke sini, adalah untuk segera menyelesaikan rentetan masalah-masalah aneh ini?" "Tentu saja saya ingat. Tapi ... begini, Pak Banyu. Posisi saya di sini, adalah sebagai seseorang yang akan membongkar jati diri seorang makhluk. Saya tentu tidak dapat melakukannya, tanpa sepertujuan yang besangkutan. Bahkan sampai dua kali?" "Aku nggak peduli, Bi!" Banyu sedikit mengayun Jingga yang menggeliat dalam gendongan. "Ayo kita ke rumah Leandra sekarang! Kita kasih pengertian ke mereka, nunggu persetujuan, dan segera laksanakan rencana!". "Pak Banyu!" Abimanyu masih berusaha menghentikan lelaki itu. Sayang, Banyu sama sekali tak gentar. Ia tetap berjalan tegas dan cepat, menuju rumah Leandra. Abimanyu benar - benar masih bimbang. Tapi ... ia sepertinya tak punya pilihan lain. Terlebih Banyu sudah berlari pergi seperti itu. Mau tak mau, siap tak siap ... Abimanyu harus siap menghadapi ini semua. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN