Wulan bersiap mengetuk ruangan HRD yang dimaksud. Dalam hatinya berdoa agar semua berjalan dengan lancar. Ia mulai mengetuk pintu ruangan HRD. Dari dalam ruangan terdengar suara yang memerintahkan untuk masuk ke sana. “Selamat pagi, Pak.” Wulan tersenyum dan memberikan senyumnya. Wulan melihat seorang pria paruh baya dengan rambut sedikit beruban. Memakai kaca mata yang cukup lebar dan raut wajahnya sangat serius. “Silakan duduk!” Pria paruh baya itu menyuruh Wulan untuk duduk. “Terima kasih, Pak!” Wulan melangkah menuju kursi yang terasa seperti kursi panas di depan dewan juri. Bagaimana tidak? Semua karena suasana itu membuat Wulan merasa seperti duduk di kursi panas. Wulan melihat papan nama yang ada di depan meja kerja pria paruh baya itu. Namanya Subroto, terkesan tegas dan disipl

