5. Panji dan Yuni

1433 Kata
Panji menatap Yuni tepat di hadapannya sembari menggenggam kedua tangan Yuni. “Yun, aku serius ingin melamar kamu... Tapi aku enggak bisa basa basi kayak biasanya kalau udah serius!” Panji menatap sendu pada Yuni. Tatapannya membuat jantung Yuni berdebar semakin kencang. “Aku... aku minta waktu ya!” jawab Yuni terbata-bata. “Untuk apa?” tanya Panji penasaran. “Untuk menjawab maksud dari pernyataanmu!” Yuni kembali menjawab. “Aku akan menunggu sampai kamu yakin.” Panji akan setia menunggu jawaban Yuni. Yuni galau memikirkan pernyataan Panji yang begitu serius menatap Yuni. Hingga Yuni menceritakan pada ibu angkatnya. Winarni terharu karena Panji serius hendak melamar Yuni. Hanya saja Yuni takut jika kedua orang tua Panji tidak menyetujuinya. Lantaran Yuni adalah anak panti asuhan yang sudah sebatang kara. Namun Winarni berhasil meyakinkan Yuni untuk memberikan keputusan sesuai dengan isi hati Yuni. “Nak, pikirkanlah sebaik mungkin! Ikuti kata hatimu! Ibu merasa Panji adalah pemuda yang baik... buktinya selama kamu mengenalnya, dia tidak pernah berbuat yang macam-macam sama kamu.” Winarni tersenyum menatap Yuni yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Lantaran Winarni seorang janda kembang sepeninggal suaminya yang hingga kini tidak ingin menikah lagi. “Ibu benar... Bang Panji selalu menghargai aku sebagai seorang perempuan, semoga keputusan Yuni yang terbaik ya, Bu.” Yuni memeluk Winarni. “Amin.” Winarni tersenyum bahagia jika Yuni pun bahagia. Selang dua hari sejak Panji menyatakan keseriusannya, Yuni pun akhirnya memberikan jawaban sesuai dengan isi hatinya. Yuni menerima cinta dan niat serius Panji. Panji yang merasa lega dan sangat bahagia, mengajak Yuni untuk menemui kedua orang tuanya di kampung halaman Panji. Mereka memanfaatkan libur panjang untuk mengajak Yuni ke kampung halaman Panji dan mengenalkan Yuni pada mereka. Kedua orang tua Panji menyukai Yuni karena lemah lembut dan sopan terhadap kedua orang tua Panji. Panji pun menjelaskan pada kedua orang tuanya, bahwa Yuni tinggal di panti asuhan. Niat serius Panji untuk melamar Yuni pun di dukung oleh kedua orang tuanya. Lantaran Yuni adalah gadis yang baik dan juga sopan. Sebelum Panji menikahi Yuni, dia menyewa sebuah rumah sederhana di pinggiran kampung dekat dengan terminal Kampung Rambutan. Alasannya rumah yang ia sewa harganya cukup terjangkau dengan dua kamar tidur dan lokasinya tidak begitu jauh dari kantor perusahaan tempat mereka bekerja. Hari bahagia Panji dan Yuni telah tiba. Hari itu, Panji telah sah menjadi suami Yuni. Acara sederhana dan pengajian sederhana dilaksanakan di panti asuhan. Mereka berbagi kebahagiaan bersama adik-adik panti asuhan. Malam yang begitu hangat membuat suasana hati Panji dan Yuni ikut menghangat. Tatapan mesra Panji membuat hati Yuni semakin berdebar. Kini hanya ada mereka berdua di dalam peraduan. Di antara keheningan malam, hanya ada perlakuan Panji yang selalu memuja istrinya. Belaian lembut Panji membuat Yuni semakin meremang. Seakan terhanyut dalam buaian penuh kelembutan dan kasih sayang suaminya. Satu persatu Panji melepas kancing baju tidur yang Yuni kenakan. Yuni hanya bisa menatap dan menikmati setiap jengkal perlakuan Panji padanya. Tatapan Panji perlahan mengarah pada ranum bibir Yuni yang terlihat sangat halus. Panji merasakan debaran yang tidak biasa ketika dirinya mulai mendekatkan wajahnya ke depan wajah Yuni. Dilihatnya bidadari cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya. Debaran itu seakan terhanyut semakin cepat kala bibir Panji mulai mengecup bibir Yuni. Desah napas mereka saling terpaut saat ciuman mereka makin memanas. Gelora yang selama ini terpendam seakan membuncah dalam kenikmatan surga dunia. Sesuatu yang sangat berharga yang Yuni jaga selama ini, telah Yuni berikan pada Panji. Yuni membiarkan Panji menikmati setiap jengkal napas dan juga tubuhnya yang halus. Begitu pula dengan Panji yang berusaha membahagiakan istrinya hingga perasaan mereka membuncah ke puncak asmara di malam pertama. Malam bersama Panji telah Yuni lewati dengan perasaan bahagia yang semakin jelas menjadi sebuah kerinduan dalam hatinya. Perasaan cinta semakin tumbuh subur dalam hati mereka berdua. Tibalah saatnya mereka pindah ke rumah kontrakan yang sudah Panji siapkan untuk istri tercinta. Winarni merasa berat berpisah dengan Yuni. Namun dirinya merasa bahagia karena Yuni telah menikah dengan pemuda yang baik. Yuni pun merasa berat meninggalkan panti asuhan tempat dirinya dibesarkan dan dirawat oleh Winarni. Sebelum mereka menempati rumah yang telah disewa Panji, Yuni dan Panji meminta izin dan maaf pada Winarni. Hal itu sangat mengharukan. Lantaran Winarni sangat menyayangi Yuni. “Bu, maafkan kesalahan Yuni selama ini... terima kasih saja rasanya tidak akan pernah cukup mewakili kasih sayang dan curahan perhatian Ibu pada Yuni selama ini.” Yuni bersimpuh di kaki Winarni. Winarni yang tidak dapat membendung air matanya, langsung memeluk Yuni. “Yun, Ibu yang sangat berterima kasih... sejak Yuni hadir dalam hidup Ibu, rasa hampa yang selama ini terbenam dalam hati Ibu, berubah penuh warna... Ibu sayang sama Yuni....” Winarni masih memeluk Yuni dengan penuh kasih sayang seperti anak kandung Winarni. “Panji... jaga Yuni sebaik mungkin! Jangan pernah sakiti hatinya!” Kalimat itu selalu terngiang dalam ingatan Panji. “Insya Allah, Panji akan selalu menjaga Yuni, Bu.” Panji meyakinkan Winarni. Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan setelah berpamitan pada Winarni dan seluruh pengurus panti asuhan. Tak lupa, adik-adik panti asuhan pun menyalami dan memeluk Yuni. Mereka berdoa untuk kebahagiaan Yuni dan Panji. Panji dan Yuni tengah beristirahat sesaat setelah sampai di rumah yang telah mereka sewa. Rumah dengan cat warna hijau dan pintu berwarna cokelat tua itu menjadi saksi perjalanan kisah cinta Panji dan Yuni. Panji meminta Yuni untuk resign dari kantor Tuan Bagyo. Lantaran peraturan perusahaan yang melarang pasangan suami istri untuk bekerja satu kantor. Peraturan itu bertujuan untuk menjaga profesionalisme semua karyawannya. Kesibukan Yuni setelah resign dari perusahaan Tuan Bagyo, antara lain membuka jasa pemesanan kue, karena selama di panti asuhan, Yuni mendapat tutorialnya juga sering membantu Winarni membuat pesanan kue. Kehidupan sederhana sudah menjadi bagian dari kehidupan Winarni dan Panji. Tanpa mengeluh dan selalu menikmati seberapa pun besarnya penghasilan mereka. Hingga suatu hari Yuni memberikan kabar bahagia pada Panji. Yuni mengandung anak pertama mereka. Kebahagiaan pun kembali mereka rasakan setelah anak pertama mereka terlahir ke dunia. Seorang bayi lelaki yang mereka beri nama Lukman Perdana. Tak hanya itu mereka pun merawat Lukman dengan penuh kasih sayang. Selang tujuh tahun kemudian, Yuni melahirkan anak kedua mereka seorang bayi perempuan. Mereka memberi nama Wulan Kinanti, karena Yuni dan Panji sangat menantikan kehadiran anak kedua mereka. Kehidupan rumah tangga mereka semakin bahagia. Lukman sangat menyayangi Wulan. Kedua orang tuanya pun sangat memperhatikan mereka. Semua berubah ketika Yuni mengandung anak ketiga mereka. Menjelang kelahiran anak ketiga mereka, Panji telah diangkat menjadi sopir pribadi Tuan Bagyo. Lebih tepatnya menjadi sopir istri muda tuan Bagyo. Sejak saat itu, Panji lebih sibuk mengantar tuannya dari pada memperhatikan keluarganya. Hingga pada suatu ketika, Yuni hendak melahirkan anak ketiga mereka pada pukul 01.00 WIB dini hari. “Lukman! Lukman!” Yuni memanggil Lukman yang tertidur di kamar sebelah. Lukman yang mendengar suara Yuni yang memanggil namanya, seketika berjalan menuju kamar ibunya. “Iya, Bu.” Lukman masih setengah mengantuk saat itu. Mata Lukman terbelalak ketika mendapati ibunya meringis kesakitan sembari memegangi perutnya yang sedang berkontraksi. “Ibu... kenapa?” Lukman panik melihat kondisi Yuni. “Lukman... tolong panggil Cang Abdul sama Cing Denok ya! Ibu mau melahirkan!” Yuni berusaha memberi tahu Lukman agar Lukman meminta tolong pada tetangga terdekat mereka yang bernama Abdul dan Denok. Lukman bergegas menyambangi rumah Abdul dan meminta pertolongan padanya. Tak lama kemudian Abdul dan Denok datang untuk menolong Yuni. Mereka memanggil taksi untuk membawa Yuni ke rumah sakit. Denok menemani Yuni ke rumah sakit. Sedangkan Abdul menunggu Lukman dan Wulan di rumah. Abdul bingung harus mencari di mana keberadaan Panji. Lantaran zaman dahulu masih belum ada ponsel. Hanya ada telepon rumah atau kantor. Namun menelepon ke kantor tempat Panji bekerja pun percuma. Sedangkan Abdul tidak mengetahui nomor telepon rumah majikan Panji. Yuni sangat membutuhkan Panji malam itu. Dukungan dan perhatian Panji sangat Yuni harapkan. Namun Panji belum juga terlihat batang hidungnya. Jangankan batang hidungnya, bayangannya pun belum terlihat. Denok yang mengerti perasaan Yuni, berusaha menelepon rumahnya. Namun sepertinya Abdul masih berada di rumah Yuni, sehingga dia tidak mengangkat teleponnya. Denok yang gelisah hanya bisa menyemangati dan menemani Yuni. “Yun, elu yang semangat, ye! Aye nemenin elu, mungkin laki elu lagi sibuk nganter si Bos.” Denok berusaha menenangkan Yuni. “Iya, Mpok ... saya ngerti, makasih ya Mpok!” Yuni berusaha menutupi perasaannya. Berada di ruang bersalin adalah salah satu momen terpenting dalam kehidupan wanita. Di sanalah perjuangan seorang wanita akan diuji. Pertaruhan antara hidup dan mati, demi melahirkan buah hati yang tak berdosa yang akan melihat indahnya dunia. Naluri seorang wanita yang akan melahirkan sangat kuat. Dia akan berjuang sepenuh jiwa raga demi keselamatan buah hati tercinta. Sakit, perih, lelah yang dirasakan seketika hilang setelah mendengar tangisan sang bayi. Keberanian yang terpendam seketika hadir merasuki relung jiwanya. Tak gentar merasakan perih, tak mundur merasakan letih, tak putus untuk selalu berdoa beriringan dengan tenaga yang ia keluarkan. Peluh yang bercucuran seakan menyiratkan perjuangan pahlawan kehidupan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN