Kamu Tidak Perlu Merasa Bersalah

1028 Kata
Evan mengerang, menghentikan gerakannya. Dia berusaha istirahat sejenak setelah rudalnya melakukan tugasnya dengan baik. Valen merasakan liangnya terus mengejang. "Astaga, rasanya enak! rasanya seperti di surga. Uhhhhh! Ini betul-betul enakkk." Tubuhnya terus mengejang. "Wuhhh. Oh." Valen mengerang penuh semangat, menghirup udara dengan lapar. Tubuh mereka masih menyatu, Valen dan Evan memompa dan menggeliat hingga tidak ada yang bisa bergerak lagi. Mereka merosot lemah, kemudian p****t telanjang Valen meluncur turun dari tepi sofa dan dia terjatuh ke lantai berkarpet tebal. Rudal Evan meluncur keluar dari liang gadis itu yang ketat. Evan ikut-ikutan berbaring di atas karpet. Mereka berdua terbaring berkeringat di sisi tempat tidur. "Astaga, ini betul-betul hebat!" Evan tersentak, benar-benar kelelahan. Karena takut dan merasa tidak nyaman, takut ketahuan, maka Vallen sudah duduk dengan bersandar pada sofa. Evan menyeret dirinya ke posisi duduk di samping Valen, yang masih ngos-ngosan di sampingnya. "Ini sangat luar biasa! Ugh!" kata Evan di sela-sela hembusan nafas cepatnya. Emily tersenyum padanya. Rasa malu kembali memenuhi hatinya. Evan melirik ke arah s**********n berdarah gadis itu. Dia terdiam kemudian menatap kedua bola mata gadis muda itu. "Maafkan aku. Aku sudah keterlaluan padamu." Vallen buru-buru menggeleng. "Kamu tidak perlu minta maaf." "Aku bersalah padamu." "Kamu tidak perlu merasa bersalah." Gadis ini tidak tega untuk menambahkan rasa bersalah pada pria yang saat ini sedang berada dalam keadaan galau setelah perselingkuhan yang dilakukan istrinya itu. "Tapi aku telah merebut hal paling berharga dari seorang wanita yang harusnya dengan bangga dipersembahkan kepada lelakinya di pernikahannya." Vallen tersenyum. "Kalau mau aku, calon suamiku nanti harus menerima aku apa adanya dalam keadaan diriku yang seperti ini. Kalau dia tidak mau menerimaku, berarti dia tidak layak bersama aku." tegas Valen. Evan tersentak sedikit, kedua matanya bertemu dengan dua mata Valen. "Aku harus pergi sebelum aku ketahuan." Vallen langsung bangkit dan mengenakan semua pakaiannya. Saat Valen sedang memakai bajunya, Evan terus memikirkan semuanya. Dia masih merasa bersalah karena telah mengambil kesucian gadis ini. Gadis yang terlihat sangat alim yang nampaknya akan mengalami masa depan yang tidak pasti setelah peristiwa ini. Evan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Apa yang membuat dia begitu lancang mengambil madu tersegel dari tubuh gadis itu. Sebelumnya Evan pikir gadis ini yang langsung menyambutnya dengan sepenuh hati tanpa ada penolakan sama sekali itu sudah biasa melakukan hal seperti ini. Tapi saat batangnya masuk, saat tubuhnya menyatu dengan tubuh gadis ini, saat dia merasakan kepolosan gadis ini dan sempitnya liang gadis ini, maka Iya tahu kalau Ini pertama kalinya bagi gadis ini. Dari mimik wajah yang tidak bisa dipalsukan dan darah di selangkangannya, maka dia tahu kalau gadis ini telah menyerahkan harta paling berharganya kepadanya. Evan bangkit berdiri menyambar pengamannya, mendekati gadis yang tingginya tidak sampai sebahu darinya ini. "Mengapa kamu melakukan ini?" Vallen bingung dengan pertanyaan Evan. "Apa maksudmu? Apa yang aku lakukan? Bukankah bapak yang melakukan itu padaku?" "Tapi kenapa kamu tidak menolak? Kalau kamu menolakku, aku tidak akan melakukan ini kepadamu." Vallen memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia menatap Evan. "Aku punya alasannya." "Apa alasannya? Katakan padaku." "Kamu akan tahu nanti. Yang jelas, kamu tidak perlu merasa bersalah atau apapun, karena aku bertanggungjawab atas diriku sendiri." Kata-kata itu terasa seperti melepaskan beban dalam diri Evan, membuat Evan tidak perlu bertanggungjawab kepada gadis muda ini, tetapi itu malah semakin menambah rasa bersalah di hati Evan. Evan beberapa kali tergagap. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tidak sanggup mengatakannya dengan sempurna hingga dari gadis itu sudah mulai memutar kunci pintu sehingga Evan harus menyambar pakaiannya untuk memakai pakaiannya. Evan buru-buru menuju ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya. Saat Evan sudah memakai bajunya, dia keluar dari kamar mandi tapi dia tidak lagi menemukan gadis itu. Evan terduduk di tempat duduk, tempat di mana tadi dia menggagahi gadis itu, mengambil keperawanan gadis itu dengan teganya. "Oh, apa yang aku lakukan? Kenapa aku melakukan hal itu kepadanya? Kalau saja dia sudah tidak perawan lagi, maka aku tidak akan merasa seperti ini." ** Sementara itu, di tempat lain, seorang wanita sedang mengulum batang seorang pria. Pria itu menengadahkan kepalanya ke atas. "Aku Suka caramu melakukan ini, Jojo. Ohhh." "Aku suka rasa rudalmu, Rahul!" "Apakah kamu selalu terangsang seperti ini?" Rahul tertawa, menangkup salah satu p******a wanita telanjang ini. "Hanya disekitar laki-laki yang sangat aku sukai. Tentu saja seperti kamu ini. Lihat, punya kamu sudah semakin keras lagi!" "Kamu memang hebat." Rahul mengerang. Setelah itu, tubuh dua orang tukang selingkuh ini sudah menyatu di atas tempat tidur dengan hasrat yang bergejolak di d**a mereka. Tubuh Rahul menempel dj tubuh Jojo, dia mendorong dalam-dalam. Hampir terasa sepertinya dia cukup dalam untuk mencapai indung telur Jojo. Suatu hal yang membuat Jojo mengerang. Semakin Rahul mendorong, semakin tubuh Jojo meresponnya dengan goyangan yang luar biasa. Ranjang ini bergoyang, seakan ada gempa yang terjadi. Pergulatan kedua orang ini, berjalan semakin seru. Jojo ingin menangkap Rahul dan menariknya ke arahnya, tapi dorongan Rahul terasa semakin cepat. Keluar dan masuk. Terus menabrak tubuh Jojo. Jojo memegangi payudaranya, berusaha keras agar payudaranya tidak terlalu gemetar. Selain itu, dia ingin memberikan stimulus lebih di bukit kembarnya untuk meraih kenikmatan lebih dalam lagi. "Aku semakin dekat." Rahul bergerak lebih cepat dan sedikit lebih keras, sekarang seluruh tubuhnya bergetar setiap kali dia membenturkan tubuhnya ke arah Jojo. Kekuatannya mencengkeram pinggul Jojo dan pada dasarnya menggerakkan Jojo sesuka hatinya. Jojo bolak-balik, didorong dan ditarik, masuk dan keluar dalam hentakan birahi dalam permainan yang mereka akrabi selama dua tahun terakhir ini. Jojo mengorbankan payudaranya dan melepaskannya ke amukan hentakannya Rahul, sementara tangan Jojo sudah mencengkeram seprai di bawahnya. Entah bagaimana, namun permainan Rahul yang buas ini, telah membuat Jojo terpikat, sehingga dia tenggelam dalam arus permainan Rahul yang telah sejak awal dia kenal Rahul, telah meninabobokan Jojo dalam permainan bermain api yang semakin menjerat dirinya. Semuanya terasa tidak masuk akal bagi Jojo. Dia yang dulunya sangat alim, telah berubah menjadi hamba nafsu sejak dia mengenal Rahul, yang membuatnya menjadi orang lain. Menjadi bukan dirinya sendiri. Menjadi pribadi yang siap untuk mengorbankan keluarganya demi hawa nafsu yang ditawarkan Rahul dalam permainan cinta yang membawa mahligai pernikahannya, dan masa depan anak-anaknya di tepi jurang kehancuran. "Ya ampun! Aku akan keluar!" Aku merasakan dia membengkak, mendorong jauh ke dalam diriku terasa lemas. Ahhhh. Rahul. Kamu benar-benar enakkkk!" Jojo mengerang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN