EPISODE 3

1520 Kata
Hulya masih saja menangis melihat kondisi putranya yang kini malah menjadi terpuruk sejak sadar pasca operasi. Apa yang dilakukan oleh Syima dan Derya jelas membuat mental Haidar hancur berkeping-keping, terlebih sekarang dia benar-benar tak bisa mengerakkan kedua kakinya sama sekali. Bayang-bayang kelumpuhan membuat Haidar merasa takut dan semakin tak bisa menerima kenyataan. Haidar kini tengah menatap ke arah jendela rumah sakit. Kaki dan tangannya diikat kuat-kuat oleh perawat, setelah beberapa kali berusaha mencoba untuk bunuh diri. Jiwa Haidar telah kacau, ia terus mengingat-ingat bayangan terakhir pada malam kecelakaan yang menimpanya. Semua terngiang-ngiang dengan jelas, membuatnya ingin mengakhiri hidup, ditambah bayangan-bayangan tentang Syima dan Derya yang menghantamnya hingga semakin terpuruk. "Nak, ayo makan dulu. Jangan begini terus, Nak, Ibu tidak sanggup melihatmu dalam keadaan seperti ini," bujuk Hulya. "Maka dari itu biarkanlah aku mati, Bu. Aku tak bisa hidup seperti ini. Aku tak bisa menjalani hidup tanpa kedua kakiku, Bu," pinta Haidar. "Jangan berkata begitu, sayangku. Ibu menyayangimu, Nak. Ibu tidak bisa jika harus kehilangan dirimu," mohon Hulya, sepenuh hati. "Ibu lihat sendiri, aku ditinggalkan oleh calon istriku saat dia tahu bahwa aku akan menjadi lumpuh seumur hidup. Jadi untuk apa aku hidup, Ibu? Untuk apa lagi aku menjalani hidup ini jika aku tidak lagi mempunyai kaki?" tanya Haidar, yang kini mulai menangis lagi. "Nak, ini hanya sedikit cobaan dari Allah yang diberikan untukmu setelah sekian banyak nikmat yang Dia berikan di dalam kehidupanmu. Kau harus bersabar sayang, hanya orang-orang yang bersabarlah, yang akan mendapat kebahagiaan yang berlimpah," jawab Hulya, sebisa yang ia mampu. Emir masuk ke dalam ruang perawatan itu, ia membawa makanan untuk Hulya yang sudah tidak makan sejak semalam demi menjaga Haidar. Hulya pun menerima makanan itu, lalu meninggalkan Haidar bersama dengan Emir. Emir menatap ke arah Haidar dan mencoba menyuapinya pelan-pelan. "Tuan Haidar, ayo makan dulu," bujuk Emir. "Aku ingin mati saja, Emir. Aku ingin mati saja," ujar Haidar, lirih dan dengan tatapan mata yang kosong. Emir pun mengembuskan nafasnya sangat pelan. Ia begitu bersedih saat mendengar apa yang Haidar harapkan saat itu. "Sejak remaja, Tuan Haidar selalu mengatakan bahwa Tuan begitu ingin membahagiakan kedua orangtua jika sudah dewasa. Lalu, jika sekarang Tuan Haidar ingin mati, siapakah yang akan membahagiakan kedua orangtua Tuan Haidar nantinya?" tanya Emir, mengingatkan Haidar tentang impian pria itu. Haidar pun terdiam. Ia tak mengatakan apa pun dan hanya meneteskan airmatanya. "Tuan, aku tidak akan ada di sini jika Tuan Haidar tidak pernah bertemu denganku saat kecil dan meminta Tuan Abizard memberiku pekerjaan saat aku masih remaja. Tuan Haidar adalah orang yang baik. Aku mengenal Tuan Haidar bukan satu hari atau dua hari, tapi telah bertahun-tahun. Tuan Haidar pernah menjadi penopang hidup yang sangat berarti bagiku, jadi untuk membalas kebaikan hati Tuan Haidar, maka aku bersedia menjadi kaki bagi Tuan. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Pengobatan, terapi, dan hal apa pun yang dibutuhkan untuk kesembuhan Tuan Haidar, aku akan membantu, Insya Allah," janji Emir. Haidar pun menatap ke arah Emir, lalu membuka mulutnya. Emir pun mulai menyuapinya perlahan-lahan, agar Haidar tak lagi merasa kesakitan. Dokter Jocelyn--yang awalnya hendak masuk untuk memastikan bahwa Haidar tak lagi mengamuk--segera mengurungkan niatnya tersebut. Ia telah mendengar bagaimana Emir membujuk Haidar, dan ia rasa apa yang Emir lakukan adalah hal yang tepat untuk Haidar saat ini. Dokter Jocelyn pun beranjak menuju ke arah ruangannya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita yang begitu ia kenal. "Najla," panggilnya. Wanita yang selalu mengenakan hijab di manapun itu menoleh ke arah Dokter Jocelyn yang memanggilnya. Ia tersenyum sendu ke arah Dokter yang telah berjuang selama setahun lebih untuk menyembuhkan kedua orangtuanya tersebut. "Masya Allah, aku pikir diriku tidak akan pernah lagi bertemu denganmu setelah kedua orangtuamu meninggal dunia. Aku bahagia sekali karena bisa bertemu lagi denganmu sekarang," ungkap Dokter Jocelyn. "Dokter, maaf karena aku baru bisa kembali menemui anda sekarang. Aku harus memakamkan kedua orangtuaku dan juga menjual rumah kami untuk membayar biaya rumah sakit yang belum sempat kulunasi. Sekarang, semuanya sudah selesai Dokter. Aku... aku hanya perlu ...." "Kau menjual rumahmu? Lalu kau akan tinggal di mana, Najla? Bagaimana juga dengan kuliahmu? Apakah kau akan berhenti begitu saja?" tanya Dokter Jocelyn, merasa amat khawatir. Najla tersenyum dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia menatap Dokter Jocelyn yang tengah begitu mengkhawatirkannya. "Dokter tenang saja, aku akan mencari pekerjaan. Apa pun pekerjaan itu pasti akan kulakukan asalkan halal di mata Allah. Tentang kuliah, aku rasa ini memang sudah saatnya bagi diriku untuk menyerah. Kalau Allah menghendaki, maka aku akan bisa melanjutkannya suatu hari nanti. Namun apabila Allah tidak menghendaki, maka aku takkan memaksakan kehendak," jawab Najla, sambil menyeka airmatanya. Dokter Jocelyn pun memeluk Najla dengan erat. Selama setahun terakhir, ia begitu dekat dengan putri tunggal kedua pasiennya. Ia tahu kalau Najla adalah wanita yang kuat dan tidak pernah mengeluh. Sehingga ia telah menganggapnya seperti Adik sendiri. Namun kini, Najla hanya hidup sebatangkara. Kedua orangtuanya meninggal dunia di hari yang sama, satu minggu yang lalu. "Kalau begitu tinggallah denganku sementara waktu, sampai kau menemukan pekerjaan. Aku tidak mau kau terlunta-lunta seperti ini sendirian, Najla. Demi Allah, tinggallah bersamaku sayang," bujuk Dokter Jocelyn. "Maaf Dokter, aku tidak ingin merepotkan anda. Keberadaanku hanya akan ...." "Demi Allah Najla, kau tidak akan membuatku repot sama sekali. Tinggal bersamaku Najla, setidaknya sampai kau menemukan pekerjaan," Dokter Jocelyn memohon. Najla pun terdiam. Hatinya jelas merasa tak enak kalau harus menumpang tinggal di rumah Dokter Jocelyn. Dokter Jocelyn sudah begitu baik padanya sejak mereka saling kenal hampir dua tahun yang lalu. Kini, Najla merasa tak bisa terus merepotkannya. Ia merasa malu jika harus terus-menerus membebani Dokter Jocelyn dengan keberadaannya. "Dokter, aku benar-benar tidak bisa menerima tawaran anda. Anda sudah terlalu baik padaku dan juga pada Almarhum kedua orangtuaku. Aku tidak bisa jika harus kembali merepotkan anda, aku merasa Dokter, aku merasa malu," ungkap Najla, dengan jujur. Seseorang pun tiba-tiba menyentuh bahu Dokter Jocelyn, hingga Dokter Jocelyn harus melepaskan pelukannya pada Najla. Orang itu adalah Hulya, yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu. "Bagaimana jika dia bekerja untuk keluargaku? Dia akan membantu merawat putraku, Haidar?" tawar Hulya secara tiba-tiba. *** Abizard kini tengah menghadapi klien yang proyeknya baru saja diresmikan oleh Haidar pada hari putranya mengalami kecelakaan. "Maaf sekali, Tuan Abizard. Proyek ini tidak bisa berdiam lama-lama, dan harus segera berjalan sebagaimana mestinya. Jika saya harus menunggu kesembuhan Tuan Haidar, maka sudah jelas perusahaan saya akan mengalami banyak kerugian," ujar Altan Maher--CEO dari Maher Holdings. "Tuan Altan, anda tahu sendiri bahwa kecelakaan yang menimpa putra saya terjadi secara tidak terduga. Kini dia sudah sadar kembali, namun butuh waktu untuk menjalani pengobatan dan pemulihan. Saya akan pastikan bahwa proyek ini akan tetap berjalan di bawah pengawasan saya. Saya jelas takkan mengecewakan anda dalam ...." "Tapi saya sudah memutuskan untuk mengalihkan proyek ini pada Tuan Erdem Evren, CEO Double E Corp. Peresmiannya akan terjadi malam ini, jadi saya harap anda mengerti dengan keputusan yang saya ambil, Tuan Abizard," tekan Altan, tak mau mendengar apapun lagi dari Abizard. Abizard pun tak punya pilihan lain, ia pasrah saja dengan keputusan yang sudah diambil oleh Altan Maher saat itu. Satu proyek akhirnya terlepas dari tangan Neo-C Corp, dan keadaan itu jelas akan sangat mempengaruhi nilai saham yang mereka miliki di mata investor. Sekarang, Abizard hanya bisa mempertahankan proyek yang masih tersisa. Sebisa mungkin, ia akan kembali bekerja seperti dulu, sebelum ia menyerahkan perusahaan pada Haidar. Emir telah menerima kabar tersebut, Altan Maher akhirnya mengalihkan proyek pada Erdem Evren, CEO Double E Corp. Ia tahu betul bahwa Abizard telah berusaha keras untuk mempertahankan proyek tersebut. Namun tanpa Haidar, jelas Altan Maher takkan bisa mempercayakan proyek besarnya. Terlebih, Erdem pasti telah bergeriliya ketika mendengar kabar bahwa Haidar mengalami kecelakaan. Erdem sudah sangat berambisi ingin memenangkan proyek itu sejak enam bulan yang lalu, namun sayangnya Haidar lah yang justru memenangkan proyek tersebut. Sekarang, Erdem jelas merasa sangat merdeka setelah Haidar mengalami kecelakaan. Dia merasa memiliki banyak peluang untuk merebut proyek itu dari tangan Haidar, saat Haidar tengah kehilangan kekuatannya. Sialnya, Emir juga tengah tak bisa menangani semua itu karena ia tengah fokus membantu Hulya mengurus Haidar di rumah sakit. Hulya muncul tak lama kemudian di ruang perawatan itu. Emir menatapnya, begitupula dengan Haidar yang masih saja merasa depresi dengan apa yang telah menimpanya. Kedatangan Hulya diikuti oleh sosok seorang wanita berhijab yang sedari tadi terus saja menundukkan kepalanya menatap lantai. Emir penasaran dengan sosok tersebut, Hulya segera memintanya mendekat tepat di sampingnya. "Nak Emir, ini adalah Nak Najla. Dia sekarang akan bekerja membantumu untuk mengurus semua keperluan Haidar selama sakit. Dia tidak bisa menyentuh Haidar karena Haidar bukan mahramnya. Jadi, Nak Emir tetap yang akan mengurus Haidar seperti biasanya, dan Nak Najla yang akan menyiapkan pakaian, makanan, obat-obatan dan juga bersih-bersih di kamar Haidar saat di rumah nanti. Apakah jelas yang aku katakan ini, Nak Emir?" tanya Hulya, begitu lembut. "Iya, Nyonya Hulya. Insya Allah aku mengerti dengan apa yang telah anda jelaskan," jawab Emir, sangat sopan. "Alhamdulillah. Kalau begitu, bisakah sekarang Nak Emir mengantar barang-barang milik Nak Najla ke rumah? Aku akan berada di sini bersama Nak Najla untuk menjaga Haidar sampai Nak Emir kembali," pinta Hulya. Emir pun tersenyum. "Tentu Nyonya Hulya, akan segera saya bawa barang-barang milik Najla ke rumah," balas Emir, dengan tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN