Aurel mencebik tidak mengerti, tetapi seharusnya jangan menjadikan Gisel sebagai sasaran pelampiasan! Dirinya jelas tidak merasa rela, karena sudah telanjur—mau bagaimana lagi, 'kan? "Mendingan ngelaksanain plan baru yang dibikin waktu itu. Now is the perfect time, right?" Geez, penyakitnya langsung kumat lagi. Aurel menganggukkan kepala dengan gerakan pasrah. Sebenarnya Auva ini teman yang sesungguhnya atau bukan, sih? Masa teman malah mengajaknya ke jalan penuh kesesatan dibanding kebaikan? Tapi Aurel juga enggan menolak. Dirinya terkadang bertanya-tanya, apakah semua ini adalah tindakan yang benar? Sesungguhnya dirinya agak bimbang ketika menjalani itu dengan Auva. "Lo mau apa sih malam-malam kumat begini, Va? Mau nyari ribut?" Auva langsung bersiul pelan sembari pura-pura tidak

