"AUREL!"
Tampak seorang gadis yang tengah berkacak pinggang seraya membuka jendela yang ada di balkon kamar, menyibak tirai yang menutupi sinar matahari pagi ini menyilaukan. Suara cetar membahana memungkinkan telinga orang tuli dibuatnya.
"Tuh, anak, kok, gak bangun-bangun?" Ia seketika melirik seseorang yang terlelap bersembunyi di balik selimut putih gadingnya.
"Gue udah teriak pake toa juga masih nyenyak? Kebo banget." Gadis bernama Auva—membuka selimut yang membelit tubuh seorang gadis dengan cepat.
Katakanlah, apa yang bisa ia lakukan ketika melihat Aurel yang tidur sudah sangat mirip dengan kepompong versi gedenya?
"Katanya tahan dingin ama AC, buktinya sampe menggigil gitu. Ngeyel amat, sih, jadi orang." Gadis itu menampar pipi gadis itu lumayan keras, harapannya setelahnya gadis bernama Aurel ini terbangun. Namun nyatanya, hanya bergumam tidak jelas dan melek-merem.
"Rel, kalo lo gak mau bangun ... gue gak jamin bawain lo bekal sarapan pagi ini kalo sampe telat lagi." Tidak ada suara maupun pergerakan dari Aurel.
"Gue bakal jual semua peralatan make up punya lo itu ke teman gue yang gila dandan, gimana?" Seketika kedua mata Aurel terbuka, terlihat sorot matanya yang siwer-siwer setengah sadar.
Saat nyawanya sudah terkumpul, Aurel melotot kepada Auva yang berdiri santai di samping tempat tidurnya. Menghela dari acara tidurnya dan mengucek-ucek mata yang pastinya ada belek—ups!
"Maap gue lelet bangunnya," kata Aurel menatap polos Auva," gue abis mimpi indah, takut bangun lagi."
"Kalo lo mau, gue bisa pinjemin mimpi buruk buat lo. Biar kalo pagi, bisa duluan daripada gue. Mau gak?" Auva menaik-turunkan alisnya.
"Enggak, makasih. Gak lucu nanti gue jadi kucel plus kantong mata nongol karena mimpi buruk,"
Aurel bergidik. "Ngeri euy!"
"Ya, mangkanya buruan sana mandi!" Auva menatap Aurel sinis.
"Gue tinggalin gak, nih?" Aurel cepat-cepat melompat dari ranjang, menyambar handuk.
"Jangan! Tunggu sepuluh menitan!"
"Mau ngapain, sih? Positif thinking otw semedi buat luluran." Auva membuang napas, berjalan mendekati nampan sarapan yang sudah ia letakkan di meja dekat pintu keluar kamar Aurel.
"Kalo kelamaan, roti kejunya gue makan!" teriak Auva bermaksud mengancam Aurel agar tidak terlalu lama melakukan ritual mandinya.
"Iya-iya gue usahain cepat ih!" pekik Aurel dari dalam kamar mandi. Terdengar suara shower yang mengiringi.
Auva menatap pintu kamar mandi yang bernuansa putih itu, lalu mengedarkan pandangan ke balkon yang menampilkan pohon-pohon yang membuat mata gadis itu yang sebelumnya sedikit mengantuk jadi segar kembali. Tangan kuning
langsat itu mengambil segelas air putih dingin dan menyeruputnya pelan, sambil menunggu Aurel selesai mandi.
Auva diam-diam tersenyum, sang sahabat-lah yang membawanya sampai ke kediaman rumah itu. Andai Aurel tak merengek ke orang tuanya untuk memungut dirinya, mungkin sekarang gadis tomboy itu tak akan berdiri menunggui Aurel di kamar ini.
Ya, Auva itu anak angkat atau gampangnya adalah anak yang diadopsi oleh keluarga Aurel. Tempat tinggalnya dahulu tentu jalan raya. Ia dulu untuk mencari sesuap nasi pun harus rela mengamen setiap hari, mengemis makanan ke warung-warung sekitar, atau membersihkan nasi tercampur pasir yang diambilnya di dekat pertokoan saat penjaganya pergi.
Namun, sekarang Auva tak perlu melakukan semua itu lagi. Karena ia punya kewajiban ... menjaga Aurel Apdilla Preanliza dari marabahaya apa pun atas perintah mama dan papa Aurel dan keinginan sendiri, hitung-hitung balas budinya terhadap keluarga sahabatnya yang sudah membesarkan sampai detik ini. Auva patut bersyukur, setidaknya dia bisa tinggal di sini sampai umurnya bisa terbilang dewasa.
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aurel yang sudah siap dengan seragam merah dan rok hitam selututnya. "Gue cepat, kan? Harusnya empat menit lagi baru selesai."
"Lo gak luluran? Biasanya juga lama banget, kan suka lebih lima belas menit." Auva melihat sekilas jam tangannya.
"Gila aja, ya, gue masih santai kek gitu, bentar lagi telat. Gue males dengerin ceramah dari Pak Ali." Aurel mendengkus.
"Gue santai aja, sih, selama kita yang telat dihukum barengan." Alhasil ia mendapat jitakan dari Aurel yang menatapnya sebal.
"Ogah dihukum lagi, mendingan di dongengin mapel sejarah aja, daripada sama lo mulu."
***
Sreet!
Suara skateboard yang bergesekan dengan aspal jadi alunan musik yang menyenangkan di telinga Auva. Gerakan yang lihai dan gesit dalam menyalip kendaraan lain itu—suatu asupan di mata orang-orang yang sudah terbiasa melihat fenomena seperti ini.
Mungkin banyak orang akan berpikir, jarang sekali ada anak sekolah yang suka pergi ke sekolah dengan bermain skateboard.
"Gue lupa." Auva menyumpali telinganya dengan headset, mendengarkan lagu dari ponselnya yang dibiarkan tergenggam.
"Va, lo gak takut hapenya jatuh?" teriak seseorang di depan sana. Aurel menyembulkan kepalanya ke jendela bus, menatap sahabatnya dari kejauhan.
"Kagaklah!" Aurel terkekeh, Auva memang karakternya keras, bertindak dan berpakaian seperti lelaki, kamarnya pun dicat warna hitam dan putih khas cowok. Akan tetapi, dia paham di balik semua itu sang sahabat menyimpan masa lalu yang kelam, yang tak pernah diceritakan pada siapa pun. Di balik tawa dan senyum yang semu, ada tangis terselubung.
Meski Aurel mengetahui tanpa Auva bicara, dia tak ingin memaksakan sahabatnya untuk bercerita. Tak apa-apa, kalau Aurel dianggap sahabat, pasti Auva akan menceritakannya suatu hari nanti.
Keduanya sudah berteman dari kecil sejak hari Auva mulai tinggal di rumah Aurel. Saking lamanya mereka sangat mengetahui kebiasaan yang mungkin diri sendiri, kadang bisa saja lupa. Masing-masing hafal tingkah dan perasaan satu sama lain.
Delapan tahun cukup lama, kan? Akan tetapi, bagi Aurel dan dirinya, waktu itu adalah waktu yang singkat bagi mereka yang sudah melalui suka dan duka bersama. Sekarang umur mereka masing-masing sudah beranjak enam belas tahun. Sudah genap masuk SMA, baju yang dulunya berwarna putih-biru sekarang bertransformasi menjadi putih abu-abu.
"Nggak terasa udah naik ke SMA," gumam Auva memandangi sekitar parkiran gedung SMA yang ternyata tidak ada tempat untuk skateboard kesayangannya.
"Anjir, jahat banget yayasan! Masa gak nyediain tempat skateboard?" umpatnya kesal. Spontan menendangi ban motor di dekatnya.
"Lo kok gak tau malu, sih? Kita, kan, baru masuk." Aurel memegangi pundak Auva yang ngos-ngosan menahan rasa jengkelnya.
"Gimana gak marah? Lo tau gimana rasanya jadi gue?" tanya Auva sambil mendesis.
"Lo, tuh, jangan buat masalah baru bisa? Kita bukan dirumah, ini tempat baru. Lo harus paham itu!" peringatnya.
Aurel menoleh kanan-kiri, merasa malu diperhatikan oleh murid-murid baru yang berlalu lalang.
"Tapi—" Aurel langsung menyela.
"Udahlah, ini bukan sekolah lama. Tempat baru, fasilitasnya juga beda. Lagian lo bisa sembunyiin skateboard lo di warung jajanan tradisional aja, biar gak ketahuan guru BK." Ide yang bagus! Mengapa itu tidak terpikirkan oleh Auva?
"Lo jenius, Rel." Auva menepuk lengan Aurel berseri-seri. Berasa habis menang lotre keliling dunia.
"Hm. Gue emang jenius! Buruan masuk kelas, jangan sampe kita kena semprot guru yang jaga di gerbang."
"Kita sempat, nih ke kantin? Kan, terlalu jauh." Auva memeluk benda persegi panjang yang memiliki roda kecil-kecil berjumlah empat tersebut, seolah tidak ingin berpisah barang sedetik pun.
"Pake alasan lagi, padahal kemarin pas MOS lo mau-mau aja tuh naik angkot. Kok, sekarang jadi susah, sih, dikasih tau?" Aurel mencak-mencak sendiri.
"Kemarin terpaksa naik angkot karena terdesak, sekarang gue demen pake skateboard." Sebelum melayangkan protesnya, Aurel kicep melihat sosok bertubuh tinggi itu berjalan ke arah Auva yang sibuk mengumpat.
"Kalo skateboard lo kerjaannya cuma nyusahin. Mending kasihin aja ke gue yang butuh."
Sosok itu datang merampas benda yang didekap oleh Auva dengan santainya. Aurel menepuk kening, bertambah lagi sebuah masalah.