Bab.4 Orang Yang Dulu

1350 Kata
  Setiap malam, Artha baru bisa tidur setelah mengobrol lewat panggilan video dengan Hadi. Meski belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya, hubungan keduanya sangat akrab..   Hadi tersenyum sayang dan menggendong Artha ke dalam pelukannya, lalu dia mencium dahi Artha. Setelah itu, Hadi kembali menatap Lovena dan berkata dengan kesal, “Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pulang? Kami, kan, bisa menjemputmu di bandara!”   Lovena menatap Hadi. Lima tahun lalu, tepatnya tidak lama setelah kejadian malang yang menimpa keluarga mereka, kakaknya mengalami kecelakaan yang menyebabkannya harus kehilangan kedua kakinya. Saat itu, Hadi sempat terbaring di rumah sakit.   Teringat ketika itu, Hadi adalah mahasiswa berprestasi yang berpengaruh dan berbakat di Universitas Bantaram. Hadi kira dirinya akan memiliki karir yang sukses setelah lulus. Tak disangka-sangka, dia malah mengalami insiden seperti itu. Untuk beberapa waktu, Hadi sangat tertekan hingga merasa dirinya lebih baik mati saja.   Tetapi sejak dia mengetahui kemalangan yang menimpa keluarganya, rasa tanggung jawab dalam dirinya telah mengubahnya, yang sebelumnya putus asa, menjadi lebih tenang dan optimis menghadapi masa depan.   Lovena menyeka air matanya dan berseru, “Kakak!”   “Baguslah kalau sudah pulang. Ayo masuk ke dalam!” Berbeda dengan Carmad dan Mariana, penderitaan Hadi secara fisik dan mental telah mengubahnya menjadi sosok yang lebih tangguh dan tenang.   “Iya, benar! Cepat masuk ke dalam," Mariana memasuki rumah sambil menggendong Artha.   Setelah mereka masuk ke dalam rumah, Mariana kembali bertanya dengan air matanya yang mengalir tanpa henti, “Lovena, semua ini salah kami, kami yang membuat kalian mengalami penderitaan seperti ini!”   Lovena duduk di samping ibunya dan menghapus air mata Mariana, “Bu, semuanya sudah berlalu. Jangan terus memikirkan masa lalu. Artha, kemari. Duduk di samping Nenek!”   “Oke,” Artha melompat turun dari bangku dan duduk di samping Mariana, “Nenek, jangan menangis lagi!”   Mariana langsung tersenyum dalam tangisnya. Artha sungguh anak yang mudah membuat hati orang meleleh. Untunglah saat itu Lovena memilih untuk mempertahankan Artha.   Kepalan tangan Carmad mengencang dan mengendur. Sudah beberapa kali dia ingin menggendong Artha, tetapi dia takut Lovena tidak menyukai hal itu. Karena itulah, dia tidak berani melakukannya.   Kesalahan bodoh yang dia perbuat di masa lalu, membuatnya tidak berani mengangkat kepalanya di rumah ini. Kini, ketika hidupnya akan segera berakhir, dia malah merasa lega.   Ketika waktu makan malam hampir tiba, Mariana sibuk di dapur. Artha meletakkan sebuah bangku kecil di dekat pintu dapur dan memperhatikan kesibukan neneknya.   Keduanya terdengar berbicara dan tertawa bersama, begitu membahagiakan dan harmonis.   Lovena menatap keduanya.,kemudian menoleh pada Carmad dan bertanya dengan ekspresi serius, “Ayah, siapa sebenarnya orang yang dulu itu?”   Lovena kira ayahnya pasti akan tahu sedikit banyak tentang hal ini, tapi Carmad hanya menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah, “Ayah juga tidak tahu.”   Selama lima tahun terakhir ini, Carmad telah diam-diam mencari tahu tentang kejadian saat itu. Dia juga ingin tahu bagaimana keadaan anak yang telah dibawa pergi oleh mereka.   Sayangnya, para lintah darat itu sekan hilang tanpa jejak. Masalah ini sama sekali tidak dapat diselidiki sehingga Carmad hanya bisa menyerah..   Hati Lovena terasa pedih setiap kali teringat akan anak yang diambil darinya. Namun, setelah melihat helaian uban di kepala ayahnya, dia tak tega untuk bertanya lebih jauh. Suaranya melembut, “Ayah, bagaimana kondisimu sekarang?”   Melihat putrinya masih memedulikannya, Carmad sangat merasa senang. Matanya yang sudah dipenuhi kerutan pun tampak berseri-seri, “Tidak apa-apa. Ayah baik-baik saja, jangan khawatir!”   Lovena tidak dapat menahan emosinya hingga matanya memerah. Ayahnya seorang penderita kanker paru-paru stadium akhir, mana mungkin dia baik-baik saja?   Lovena kembali teringat akan masa kecilnya. Dulu, ayahnya sering menggendongnya di pundak dan bermain kuda-kudaan.   Lovena diam-diam memutuskan dalam hatinya, “Ayah, perlihatkan rekam medismu padaku. Besok kita ke rumah sakit untuk pengobatan.”   “Tidak. Lagi pula, Ayah sudah setua ini. Penyakit semacam ini tak dapat disembuhkan. Itu hanya akan membuang-buang uang!”   “Untuk kali ini saja, tolong dengarkan aku!” Volume suara Lovena meninggi.   “...” Carmad tiba-tiba merasa sedikit takut pada putrinya ini.   Selama beberapa tahun di luar negeri, Lovena selalu hidup hemat. Dia berhasil menyimpan sedikit uang. Tapi, uang itu jelas tidak cukup untuk pengobatan. Dia harus segera mendapatkan pekerjaan di Indonesia.   Candra Bar.   Sosok wanita memesona dalam balutan gaun warna merah dan sepatu hak setinggi sepuluh sentimeter, berjalan melewati ruangan sambil berlenggak-lenggok. Membuat mata semua orang tertarik ke arahnya.   Lovena sedang duduk di depan konter bar sambil minum segelas air hangat. Dia mengangkat pandangannya untuk melihat seseorang yang berjalan ke arahnya. Kemudian, dia berdiri sambil tersenyum dan berseru, "Merisa Bakri!"   Merisa yang sedetik lalu masih bersikap dingin pun runtuh seketika. Bibir merah lembutnya terbuka dan berseru memanggil Lovena, "Lovena, berani-beraninya kamu memanggil namaku! Kukira kamu sudah mati di negeri orang, kenapa sekarang malah pulang? Dasar gadis tidak punya hati. Selama lima tahun ini, sedikit kabar pun tidak ada!”   Lovena menggigit bibirnya dengan perasaan bersalah. Dia menatap Merisa dengan sedih, "Aku juga punya masalahku sendiri. Merisa sayang, jangan marah lagi. Lihat, setiap kali kamu marah, kerutan di wajahmu semakin terlihat."   Ketika masih kecil, Lovena dan Merisa tinggal di komplek yang sama. Mereka seumuran dan keduanya sekelas dari taman kanak-kanak hingga kuliah. Mereka sudah seperti anak kembar siam. Di mana ada Lovena, di situ ada Merisa.   Akan tetapi lima tahun lalu, Lovena meninggalkannya dan pergi ke luar negeri tanpa pamit. Merisa rasanya sangat ingin memukul Lovena setiap kali teringat akan hal ini.   Merisa memukul Lovena dengan kesal, lalu memeluknya dengan erat. Matanya mulai berkaca-kaca, "Aku sangat merindukanmu!"   “Aku juga merindukanmu! Merisa, aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” Lovena merasa beruntung memiliki sahabat seperti Merisa.   Lovena menghela napas sekali lagi. Pilihannya untuk pulang ke Indonesia adalah pilihan yang tepat. Mengenai hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa depan, Lovena tidak punya pilihan selain menjalaninya. Dia tidak bisa selamanya bersembunyi sambil membawa Artha.   Setelah keduanya selesai melepas rindu, Lovena mulai memberi tahu Merisa alasan kedatangannya.   Sekarang ini, Merisa telah menjadi manajer bar. Setelah mendengar Lovena kemari untuk mencari pekerjaan, Merisa berkata dengan tidak setuju, "Lovena, ini bar, tempat di mana hal-hal tidak baik bercampur jadi satu. Tempat ini tidak aman. Lebih baik kamu cari pekerjaan yang lebih nyaman di tempat lain!"   Dalam sekejap, mata Lovena yang tadinya berbinar menjadi redup, "Aku bahkan belum lulus kuliah, di mana aku bisa menemukan pekerjaan yang nyaman? Aku sangat membutuhkan uang sekarang!"   Tanpa banyak bicara, Merisa mengeluarkan kartu debit yang tersimpan di bagian dalam sepatu hak tingginya, "Di dalam kartu ini ada sekitar 100 juta rupiah. Kamu pakai saja dulu!"   “Tidak… jangan begini!” Lovena merasa tersentuh, dia segera mendorong kembali kartu itu kepada Merisa. Lalu, dia mulai menggoyangkan lengan sahabatnya itu dengan manja, “Merisa, aku benar-benar butuh pekerjaan! Aku tidak bisa seumur hidup bergantung padamu terus, ayolah… kumohon."   Merisa mengerutkan kening dan segera menepis tangan Lovena dengan jengkel, "Sudah, jangan digoyang lagi! Kamu membuatku pusing. Baiklah, kamu menang. Kebetulan kami sedang mencari beberapa pelayan baru. Gajinya berkisar dari ratusan hingga jutaan rupiah dalam sehari. Semua tergantung dari kinerjamu. Tapi kau harus pintar sedikit, segera laporkan padaku jika ada yang mengganggumu.“   “Siap! Terima kasih banyak, Merisa sayang!” Lovena memegang wajah Merisa dengan kedua tangannya dan menciumi kedua pipinya secara berlebihan.   Merisa menyekanya dengan jijik, tetapi sudut bibirnya terangkat, "Sudah hentikan! Simpan saja ciumanmu untuk pacarmu nanti!"   Malam itu juga, Lovena mulai bekerja di bar. Artha sangat dekat dengan nenek dan pamannya akhir-akhir ini, hal ini membuat Lovena lega. Tapi Lovena pun tidak tahu kenapa Artha tidak terlalu dekat dengan kakeknya.   Tentu saja, Lovena merahasiakan pekerjaannya di bar dari keluarganya. Mereka mengira Lovena sedang bekerja di perusahaan normal.   Beberapa hari awal, semuanya berjalan dengan lancar. Saat Lovena melihat uang di tangannya, hatinya terasa sangat senang. Dia sudah bukan lagi seorang gadis remaja berusia 17 tahun. Dia yang sekarang sudah mampu mengatasi beberapa pelanggan yang nakal.   Malam itu, Lovena mendapat tugas malam. Setelah berganti seragam kerja, seorang wanita jangkung bergaun hitam mendekat dan menyerahkan nampan ke tangan Lovena, "Ruangan nomor 308, antarkan ke sana sekarang juga!"   "Baik, Bu Mien." Mien adalah musuh bebuyutan Merisa. Ketika keduanya bersaing untuk posisi manajer, dia kalah dari Merisa. Jadi, wajar saja dia tidak menyukai Lovena yang notabenenya adalah sahabat Merisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN