11. Cerita di Belakang Layar

1484 Kata
Lisa menatap Dion selama beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lisa masih sangat terkejut dengan sikap Rey yang diluar dugaannya. Tak pernah terbesit dalam benaknya jika Rey akan mampu membatalkan pernikahannya tepat di hari pelaksanaannya. Lisa pun begitu takjub akan keberanian Rey, sekaligus tercengang. Pria itu membatalkan pernikahan di depan orang tuanya, orang tua Sherly, tamu undangan, dan para pelayan gereja. Sebuah tindakan yang akan membuat banyak pihak tersinggung dan marah. Tindakan yang membuat banyak orang akan begitu dipermalukan. Lisa masih tak mengerti alasan dibalik tindakan Rey itu. Jika Rey tidak menginginkan pernikahan ini, seharusnya pria itu membatalkannya sedari lama, bukan ketika hari pelaksanaan. Jika pria itu tak serius menikahi Sherly, seharusnya ia tak merencakan pernikahan ini. Perbuatan Rey hanya membuat banyak orang terluka. Lisa benar-benar tak menyangka bila mantan kekasihnya itu sanggup melakukan hal itu. Lisa melirik ke sekeliling ruangan. Ia melihat banyak orang saling berbisik sambil menatap ke arah keluarga pengantin. Lisa bisa mendengar bisikan keterkejutan dari orang-orang di ruangan itu. Ia juga melihat wajah syok Sherly dan keluarganya saat ini. Matanya menangkap raut wajah ke dua orang tua Rey yang penuh emosi.  Lisa sebenarnya sedikit cemas dengan situasi ini. Ia khawatir orang-orang akan menghubungkan keputusan Rey dengan dirinya. Banyak teman-teman SMA-nya yang ada di ruangan itu. Mereka tentu tau kisah apa yang pernah terjalin antara dirinya dengan Rey. Dan seperti dugaannya, Lisa menangkap beberapa orang melirik ke arahnya. Mereka berusaha meneliti reaksi wajahnya. Mereka seakan sedang menebak isi hati dan kepalanya saat ini. Hyena yang duduk bersama Andrew di depan Lisa langsung membalikan badan ke arahnya. Hyena langsung berseru dengan nada setengah berbisik, "Lis... Rey bener-bener gila!". "Untuk kali ini, aku setuju dengan kamu. Rey memang gila!" timpal Andrew. Lisa masih terdiam beberapa saat. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Tindakan Rey memang telah membuatnya begitu syok. Namun bila terus diam, semua orang akan curiga dengan reaksinya. "Gue juga gak tau kenapa Rey segila ini," ucap Lisa. "Kamu bener-bener gak tau dia bakalan bertindak kayak gini?" tanya Dion. "Ya gak mungkinlah aku tau. Kalaupun aku tau ending-nya bakalan begini, ngapain juga aku dateng," jawab Lisa. Lisa sebenarnya curiga dengan sikap Rey selama ini. Rey bersikap seolah masih memiliki kemungkinan untuk kembali dengannya. Rey tak pernah berperilaku layaknya seorang pria yang akan menikah. Pria itu masih secara konsisten membujuknya untuk kembali, tanpa mempedulikan perasaan calon istrinya. Mantan kekasihnya itu bertindak seolah bukan seorang pria yang akan beristri. "Dia pasti udah rencanain ini semua dengan matang. Rey bukan tipe orang yang bertindak diluar logika," ucap Andrew. Andrew merupakan sahabat Rey sejak kecil. Mereka tumbuh besar bersama. Karena itu, Andrew tau betul sikap Rey. "Bener sih. Dia gak mungkin batalin pernikahan dengan cara kayak gini kalo gak punya rencana," timpal Hyena. Andrew dan Hyena tampak berpikir bersama tentang Rey. Mereka terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. "Sebentar lagi... dia pasti bakalan dateng ke kamu buat ngajak balikan," ucap Dion dengan tatapan penuh kekhawatiran. Lisa masih membisu dengan tatapan kosong. Ia masih berusaha mencerna situasi ini. Ia tak bisa menenangkan kekhawatiran Dion, karena itu memang mungkin saja bisa terjadi. Keputusan Rey ini pada akhirnya pasti berdampak pada dirinya. Semua mata pasti akan mengarah padanya sebagai penyebab kegagalan pernikahan ini. Lisa memegang keningnya dan masih terus membisu selama beberapa saat. Ia tak tau harus bereaksi seperti apa dalam situasi ini. "Are you okay, Lis?" Dion menatap ke arah Lisa dengan cemas. Dion tentu menangkap raut wajah Lisa yang tampak termenung dan gusar. Lisa segera menoleh ke arah Dion. Kemudian tersenyum meski terkesan dipaksakan. "Aku baik-baik aja. Kamu tenang aja." "Lo takut ya, Lis?" tanya Hyena. Andrew yang tampak tak mengerti akhirnya bertanya, "Takut kenapa, Lis?" Hyena memukul pelan lengan Andrew. Hyena terlihat kesal melihat kelambatan berpikir kekasihnya itu. "Yah orang-orang pasti mikir kalo Lisa penyebab Rey batalin pernikahannya. Gimana sih kamu!" Andrew mengangguk, tanda paham. "Oh iya! Ya wajar sih orang-orang mikir gitu. Secara Rey emang susah move on dari Lisa. Putusnya dari kapan, eh ngajak balikannya sampe sekarang. Udah kayak gak ada cewek lain aja." "Yah kamu pacarin aku dari jaman SMA, emangnya gak ada cewek lain? Kenapa masih sama aku terus?!" Hyena mendengus kesal. "Lho... kok jadi kita yang berantem sih sayang. Aku mah cinta mati sama kamu." Andrew memeluk Hyena dan merayunya agar tidak marah. Lisa hanya bisa menghela nafas melihat drama percintaan di depan matanya. Ia sedang tak ingin melihat adegan romantis dihadapannya. "Dion, kita cabut yuk. Biarin mereka bermesraan disini." Dion tertawa, tapi mengangguk setuju. "Kita cabut dulu ya," ucap Dion ke Hyena dan Andrew. "Ih! Kok ninggalin gue sih, Lis?!" protes Hyena. "Nanti kan ketemu di rumah, Hyena. Gue mau cabut ah. Udah ya. Bye!" Lisa segera merangkul lengan Dion, lalu berjalan pergi meninggalkan gereja itu. Lisa terus berjalan meski sebetulnya Hyena masih menahannya untuk berada di sana lebih lama. Lisa merangkul lengan Dion sepanjang keluar lorong gereja. Rangkulannya semakin erat ketika banyak mata yang menatap ke arahnya dan berbisik tentangnya. Lisa hanya bisa diam membisu sambil terus berjalan. Seolah dirinya tak tau orang-orang sedang membicarakannya. *** Sherly mencampakan buket bunganya dengan kasar ke lantai. Ia mengacak tatanan rambutnya dan menghapus lipstiknya dengan asal. Emosinya memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya. Ia lalu mengambil vas bunga yang ada di sebelahnya, lalu melemparkannya ke dinding dengan keras. Sherly mulai meluapkan rasa amarahnya dengan menghancurkan barang-barang di sekelilingnya secara membabi buta. "Nona... tenang... kita masih di Gereja. Kendalikan emosi Nona." Asisten pribadi Sherly berusaha membujuk untuk berhenti melempar barang. Mereka sedang ada di ruang tunggu yang terletak di belakang ruang ibadah. Rasanya tidak etis membuat keributan di sini. "Kamu bilang apa?! Tenang?! Aku dipermalukan habis-habisan di acara pernikahanku! Berani-beraninya dia mempermalukanku!" Sherly kembali melempar sebuah vas bunnga. Lantai kini mulai penuh dengan pecahan kaca, hingga asistennya mulai takut untuk mengambil langkah. "PANGGIL REY! PANGGIL REY KE SINI JUGA!!" teriak Sherly dengan penuh emosi. "Tapi Nona... saya gak yakin Tuan Rey akan kembali." Sherly berjalan menghampiri asistennya dengan tatapan penuh amarah. Ia berjalan tanpa memperhatikan lantai sehingga telapak kakinya berdarah karena menginjak pecahan kaca. Namun raut wajah Sherly tak menunjukan kesakitan. Matanya justru semakin terbelalak penuh emosi. Sherly mencengkram bahu asistennya dengan kuat, lalu mendekatkan wajahnya dan menatap dengan sangat dekat. "Lakukan perintahku atau kamu akan mati detik ini juga! Panggil Rey sekarang juga! Panggil pria itu dan bawa dia kehadapanku sekarang!" bisik Sherly dengan nada mengancam. Asisten itu mulai gemetar ketakutan. "Baik Non. Saya akan panggil Tuan Rey." Sherly melepaskan cengkraman tangannya. Ia lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Sherly menyilangkan kakinya dan memejamkan matanya. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti tau, kalau wanita itu sedang berusaha memendam ledakan emosinya sampai pria bernama Rey datang ke hadapannya. *** Rey melangkahkan kakinya kembali ke Gereja setelah mendapat telepon dari Lina, asisten pribadi Sherly. Lina menyuruhnya untuk datang sambil menangis ketakutan. Rey tau Sherly pasti mengamuk dan melampiaskannya ke Lina. Ia bisa membayangkan bagaimana amukan emosi Sherly hingga membuat orang disekelilingnya ketakutan. Watak wanita itu memang terkadang temperamental. Keputusan dan perbuatannya hari ini memang bisa menjadi alasan yang kuat untuk wanita itu mengamuk penuh emosional. Wanita manapun memang pasti akan emosi jika ditinggalkan ketika hari pernikahan, apalagi Sherly yang memiliki watak temperamental. Reaksi Sherly memang sudah Rey perkirakan, sehingga ia tidak terlalu kaget ketika Lina menyuruhnya kembali dengan nada penuh ketakutan. Rey membuka pintu tempat dimana Sherly berada. Ia sedikit kaget melihat lantai yang penuh pecahan kaca yang berserakan. Matanya terbelalak ketika mendapati wanita itu duduk di sofa dengan telapak kaki yang penuh darah. Sherly langsung menatapnya dengan tajam dan wajah dingin ketika ia duduk. Suasana seketika mencengkam ketika mereka saling menatap. "Maaf..." ucap Rey. Hanya satu kata itu yang mampu mewakilkan perasaannya saat ini. Sherly tertawa sinis. "Kata maaf tidak akan menyelesaikan keadaan memalukan ini Rey Hutomo." "Aku tau... tapi aku tidak punya pilihan. Kamu gak mau ikutin rencana aku. Aku terpaksa tempuh jalan ini," ujar Rey. "Kita sudah sepakat kan awalnya untuk pura-pura menikah, lalu bercerai. Kamu gak bisa seenaknya rubah kesepakatan kayak gitu. Apa yang kamu lakukan hari ini justru telah mempermalukan aku di depan umum! Bukan cuma aku, tapi juga keluarga aku!" teriak Sherly dengan mata terbelalak penuh emosi. "Aku ternyata gak bisa pura-pura menikah dengan kamu, Sher. Aku masih menganggap pernikahan terlalu suci untuk kita permainkan. Aku pikir ini cara terbaik supaya aku bisa lepas dari jerat keluargaku. Aku ingin menjalani hidup tanpa disetir orang lain. Maaf kalo caraku ini melukaimu," ucap Rey tulus. Sherly kembali tersenyum sinis. Matanya masih menunjukan sorot kebencian dan amarah. "Kamu akan menanggung akibatnya, Rey. Aku bukan tipe orang yang menyelesaikan semuanya dengan kata maaf. Kamu lihat nanti, apa yang bisa aku lakukan," kata Sherly dengan nada mengancam. "Terserah kamu. Cuma menurut aku, sebaiknya kamu cari kebahagiaanmu sendiri daripada balas dendam ke aku. Kita mirip, walau tak sama. Kamu ingin lepas dari pengawasan Ayahmu, begitu juga dengan aku yang ingin lepas dari ke dua orang tuaku. Aku harap kamu bisa hidup bahagia." "Cih! Apa yang akan kamu lakukan hari ini justru akan membuat Ayahku mengamuk! Setiap akibat yang aku terima, akan aku pastikan kamu mendapatkan dua kali lipat balasannya," teriak Sherlly dengan mata melotot penuh emosi. "Maafkan aku," ucap Rey dengan kepala tertunduk. Rey lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Sherly yang masih berteriak penuh emosial. Rey menutup pintu, sementara Sherly masih melempar barang dengan kasar. CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN