Sejak pagi Lisa terlihat tak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya, bahkan tak fokus setiap kali staff-nya berbicara. Padahal Lisa dikenal sebagai pribadi yang berdedikasi dalam pekerjaan. Tentu setiap staff butik merasa heran melihat mata Lisa yang sering kali terlihat kosong hari ini. Tak jarang Lisa juga tertangkap sedang melamun.
Begitu pula dengan Dion, ia juga bisa menangkap sikap tak biasa itu dari Lisa. Dion lalu memutuskan untuk menghampiri Lisa yang sedang sendirian diruangannya. Dion memilih langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Hai, Lis. Kamu lagi ngapain?" tanya Dion sambil duduk.
"Hai Dion. Ya kayak biasanya aja. Aku lagi cek sample bahan yang mau dipakai buat gaun. Kenapa?" tanya Lisa balik.
"Ehm... are you ok?" Dion menatap Lisa dengan lekat dan sorot penuh kekhawatiran.
Lisa mengerutkan keningnya. Pertanyaan yang Dion ajukan terasa tak biasa olehnya. "Kenapa nanya gitu?"
"Karna aku dapet laporan kalo kamu aneh hari ini. Aku sendiri juga ngerasa begitu."
"Siapa yang ngelapor? Emang aku kenapa?"
"Semua staff dan tukang jahit kita bilang kamu hari ini suka ngelamun dan gak konsen. Aku juga ngerasa kamu kayak gitu. Jadi kenapa? Ada masalah?" Dion menatap Lisa cukup serius.
Lisa terdiam selama beberapa detik. Lisa tampak enggan membalas tatapan Dion. Kepalanya tertunduk dengan mata menatap lantai. Lisa menyadari jika dirinya memang tak bisa sepenuhnya dapat menutupi kondisi hatinya. Kegundahan hatinya tak bisa ia tutupi dengan sempurna.
Lisa menyadari kemunculan wajah Rey memang cukup menggoncang hatinya. Masa lalu itu ternyata masih bisa menyakiti dirinya. Rey masih bisa memberikan luka pada hatinya. Dan celakanya, itu terlihat di mata orang-orang butiknya. Lisa memang mengakui banyak diam dan melamun. Pikirannya tidak bisa fokus. Ia kesulitan untuk menampilkan wajah baik-baik saja. Tidak heran Dion menghampirinya sekarang dan mengajukan pertanyaan tentang kondisinya.
"Aku cuma lagi gak enak badan kok. Mungkin nanti aku harus langsung pulang dan istirahat." Lisa masih berusaha menutupi fakta sebenarnya. Ia tak ingin membuat Dion mencemaskan dirinya. Lisa juga masih enggan membicarakan Rey ke sahabatnya itu. Rey hanyalah sebuah masa lalu yang tak perlu untuk dibahas diantara mereka.
"Terus kemarin kenapa kamu pulang sebelum waktunya?" Dion masih tampak tak percaya. Pria itu bertanya dengan tatapan bak seorang penyidik. Meyakinkan Dion memang bukanlah perkara yang mudah untuk Lisa. Mereka sudah bersahabat dan menjadi rekan kerja selama bertahun-tahun. Karena itu, Dion pasti bisa melihat kejanggalan jika Lisa berusaha membohonginya.
Lisa mencoba menatap Dion dengan tampilan raut wajah penuh keyakinan. "Ehm... karena pengen cari udara seger aja. Kenapa? Kamu keberatan ya? Maafin aku ya, Ion. Lain kali gak akan aku ulangi," ucap Lisa.
Dion menggelengkan kepalanya. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke Lisa dan menatap matanya dengan sorot cemas. "Gak gitu, Lis. Aku khawatir dan penasaran. Kamu itu kenapa? Aku denger dari staff, kemarin kamu banting pintu dan langsung keluar butik. Aku juga denger kamu berdebat penuh emosi dengan calon suami Sherly. Dia ngapain kamu?"
Dion kembali menatap Lisa dengan penuh selidik. Segala gerakan wajah Lisa ia cermati. Berusaha menangkap kebenaran dari ekspresi wajah Lisa. Dion lalu berbisik dengan lembut dan menatap Lisa penuh lekat. "Kalo dia ganggu dan bikin kamu gak nyaman, kita cancel aja pesanan mereka. Butik tetap akan jalan tanpa order-an Sherly Zanna."
Lisa menggelengkan kepalanya. Dengan tegas Lisa menolak usulan Dion itu. Pekerjaan adalah pekerjaan. Urusan pribadi adalah urusan pribadi. Lisa tak akan pernah mencampur adukan ke dua hal itu, apapun yang terjadi. Meskipun masalah pribadinya begitu pelik dan berat.
"Jangan! Kita gak profesional kalo batalin pesanan pelanggan seenaknya, Dion! Aku bisa atasi ini kok," tegas Lisa.
"Oke... kalo gitu tell me, kemarin kamu kenapa? Apa yang dilakukan calon suami Sherly itu sampe bikin kamu emosi dan sulit kendalikan diri?" tanya Dion dengan sebelah alis terangkat. Dion tetap mencercar Lisa dengan pertanyaan.
Dion memicingkan matanya ketika melihat raut wajah Lisa yang semakin gelisah. "Kalau lo gak bisa jawab, yaudah kita cancel gaun Sherly Zanna itu. Karna kamu gak bisa kendalikan emosi hatimu," tegas Dion.
Lisa menghela nafasnya. Ia tak punya pilihan selain menjawab jujur pertanyaan Dion itu. Sedari awal seharusnya ia sadar jika tak bisa membohongi sahabatnya itu. "Baiklah. Aku akan cerita," ucap Lisa dengan kepala tertunduk.
Dion tersenyum sambil tetap menatap Lisa dengan lekat. "Aku akan mendengarkan, Lis."
Lisa terdiam beberapa saat. Ia menyiapkan hatinya untuk membuka lembar kenangan lama beserta luka hatinya. Mengungkapkan kisah yang sebenarnya masih ingin ia sembunyikan.
Setelah siap, Lisa akhirnya mulai bercerita, "Rey Hutomo, calon suami Sherly Zanna itu... adalah mantan kekasihku ketika SMA dulu."
Dion tampak cukup terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya. Dion tak pernah menyangka jika pria bernama Rey itu ternyata adalah mantan kekasih Lisa. Hal yang lebih membuatnya terkejut, Lisa terusik dengan kehadiran Rey. Fakta itu membuatnya merasa jika hubungan dan kisah mereka belumlah tuntas.
"Terus kemarin dia apain kamu?" tanya Dion dengan nada sedikit emosi.
"Dia ngomong kalo merindukanku dan masih menyayangiku. Padahal dia calon suami wanita lain." Lisa tertawa sinis. Ia merasa situasi yang sedang dihadapinya terasa benar-benar konyol.
"Rey itu benar-benar cowok b******k!" seru Dion dengan sorot mata penuh emosi. Perasaan Dion bercampur cemburu dan juga amarah. Sangat terlihat jelas jika ia tak rela ada pria lain yang mengganggu Lisa, apalagi berusaha merebut hatinya.
"Dia sebenarnya gak b******k, Dion," ucap Lisa tanpa menatap mata Dion.
Dion tampak heran dengan sikap Lisa. "Kok kamu malah belain dia sih?! Godain cewek lain padahal udah punya calon istri. Apalagi kalau bukan b******k?! Dia itu player, Lis!" Nada bicara Dion mulai meninggi. Raut wajah Dion benar-benar menunjukan emosi hatinya. Dion terbakar cemburu.
Namun Lisa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak sependapat dengan pendapat Dion itu. Lisa mengenal Rey. Dia tau betul Rey bukan tipe pria yang suka mempermainkan wanita. Meskipun apa yang dilakukan Rey kepadanya bukanlah hal yang bisa dibenarkan.
"Dia bukan player, Dion. Aku setuju kalau dia memang gak seharusnya bilang itu ke aku dengan statusnya sebagai calon suami Sherly. Sekalipun jika benar hatinya memang masih untukku, dia gak seharusnya mengatakan itu. Cuma tetap... dia bukan bukan player. Aku paham situasi yang dihadapinya. Keluarganya pasti menuntut pasangan Rey itu harus memiliki status sosial ekonomi sepadan atau bahkan diatas dari mereka. Itu alasanya kami putus dulu ketika SMA. Aku gak tahan dengan tekanan keluarganya dan memilih menyerah. Rey pasti menghadapi tekanan itu dan diperhadapkan dengan situasi harus menikahi wanita yang gak dia cintai," ujar Lisa.
"Jadi apa kamu masih punya perasaan ke pria itu?" Dion sebenarnya cemas mengajukan pertanyaan ini. Ia khawatir akan mendapat jawaban yang hanya akan menyakiti hatinya. Namun pertanyaan ini dirasa penting untuk tetap diajukan.
"Aku gak mau terlibat lagi dengan keluarga Hutomo. Aku masih belum memenuhi syarat mereka buat jadi pasangan Rey. Sherly Zanna-lah perempuan yang tepat buat keluarga itu, bukan aku. Aku juga gak mau terlibat dalam hubungan yang rumit. Rey dan aku telah selesai, Dion. Itu faktanya," jawab Lisa sambil menatap Dion.
Dion tertunduk kecewa. Lisa sebenarnya tak menjawab pertanyaan yang ia ajukan tadi. Lisa tidak mengatakan apakah masih menyukai Rey atau tidak. Gadis itu hanya bilang jika mereka tak bisa bersama karena berbagai hambatan. Dion bisa menangkap jika Lisa belum sepenuhnya membersihkan hatinya untuk mantan kekasihnya itu.
"Menurutku sebaiknya kita batalkan order-an Sherly Zanna itu. Aku rasa kamu gak akan nyaman ngerjain ini," ucap Dion.
"Jangan... kita akan terlihat sangat tidak profesional, Dion. Kita gak punya alasan yang cukup kuat untuk batalin ini. Aku juga gak mau bilang ke Sherly tentang kisah masa laluku dengan Rey. Itu terlalu ribet. Kalo Sherly sampe tau aku mantan calon suaminya... kamu bisa bayangin kerumitan apa yang akan terjadi," kata Lisa.
"Ini bukan karna kamu pengen ketemu Rey terus, kan?" tanya Dion dengan tatapan curiga bercampur dengan perasaan cemburu.
"Enggaklah! Gila aja!" sanggah Lisa. Lisa tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Baiklah. Kalo ngerasa berat, sebaiknya kamu bilang ke aku. Aku gak mau ngeliat kamu sedih, apalagi tertekan." Dion menatap Lisa dengan lekat, berharap kesungguhan hatinya bisa dirasakan Lisa. Dion tak ingin Lisa terjebak dalam situasi yang sulit dan menyiksa hati. Namun Dion tau, sekeras apapun ia melarang... jika tentang pekerjaan, Lisa sangat keras kepala. Percuma ia melarangnya.
"Thanks, Dion. Aku akan menyelesaikan busana mereka secepatnya. Jadi gak perlu berlama-lama ketemu dua makhluk itu." ujar Lisa sambil tersenyum, berusaha menenangkan Dion.
Dion membalasnya dengan senyuman datar dan tatapan cemas. Ia tak yakin masalah ini akan berlalu begitu saja seperti apa yang Lisa katakan. Dion punya firasat, jika pria bernama Rey itu tidak akan dengan mudahnya pergi dari kehidupan Lisa.
"Jika pria itu gangguin kamu, bilang ke aku. Biar aku hajar dan usir dia!" ucap Dion penuh geram.
Lisa tersenyum. Melihat Dion begitu emosi, itu menunjukan betapa kepedulian pria itu terhadap dirinya. Setidaknya ia bisa merasa aman. Meski ia tak akan mungkin mengadukan tingkah Rey pada Dion. Lisa tak ingin ada pertengkaran diantara Dion dan Rey.
"Makasih ya, Ion. Makasih kamu selalu ada buat aku."
"Kamu gak perlu terima kasih, Lis. Itu sesuatu yang memang seharusnya aku lakukan. Aku gak suka ada pria yang akan beristri godain kamu. Sekalipun itu mantan kamu. Aku gak mau selama kamu di butik ini... justru kamu merasa gak bahagia dan gak aman. Aku lebih baik kehilangan klien dan uang, jika harus mengorbankan kamu. Enggak! Kamu lebih penting."
Lisa kembali tersenyum. Ucapan Dion begitu menyentuh hatinya. Lisa bisa merasakan kepedulian dan kecemasan Dion. Perasaan itu tulus. Lisa bisa merasakannya. "Kamu tenang aja. Aku akan baik-baik aja. Jika enggak, aku pasti bilang ke kamu."
"Janji?"
Lisa menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Aku janji."
Sebenarnya Lisa tak yakin akan baik-baik saja. Sekarang pun ia sedang merasakan tidak sedang baik-baik saja. Kemunculan Rey yang secara mendadak cukup mengacaukan hatinya. Situasi yang dihadapinya bukan saja rumit, tapi juga menyakitkan.
Lisa tak bisa mengabaikan fakta jika Rey masih bisa memberikan rasa sakit pada hatinya. Lisa ingin tetap teguh pada pendiriannya. Tetap teguh untuk menjadikan Rey hanya bagian dari masa lalunya. Namun ia tau betul betapa keras kepalanya pria itu. Ia tau Rey akan terus berusaha mengguncang hatinya. Menggoyahkan ketetapan hatinya. Berusaha untuk membujuk dirinya kembali pada pria itu.
Lisa menatap Dion dengan senyuman yang sebenarnya ia paksakan. Sesempurna mungkin menampilkan raut wajah yang baik-baik saja.
***
Lisa sedang melihat progress penjahitan gaun-gaun dan jas yang menjadi tanggung jawabnya. Beberapa gaun yang tidak sesuai dengan sketsa design-nya, ia minta untuk diperbaiki oleh tukang jahitnya. Lisa juga sibuk memeriksa beberapa setelan jas yang sudah finish dan siap diambil oleh pemesannya. Namun tiba-tiba Tina menghampirinya dengan wajah penuh antusias.
"Kenapa?" tanya Lisa bingung.
"Di ruangan Ibu udah ada sebuket bunga mawar merah besar. Gila bagus banget bunganya, Bu! Kelihatan banget itu mahal," jawab Tina dengan sorot mata penuh kekaguman.
Lisa mengerutkan keningnya. Raut wajahnya menunjukan kebingungan. "Dari siapa?" tanya Lisa heran.
Lisa tak pernah menerima bunga dari siapapun. Termasuk dari Dion. Dion bukanlah tipe pria yang menunjukan perasaannya lewat buket bunga. Lisa juga tak merasa sedang dekat dengan pria lain selain Dion. Karena itu, Lisa tak bisa menebak siapa pengirim buket bunga itu.
Tina mengangkat bahunya. "Aku juga gak tau, Bu. Ada amplop suratnya sih. Cuma aku gak berani buka. Nanti aku disebut lancang pula kalo buka-buka. Makanya aku suruh aja pengantarnya buat taruh di ruangan Ibu."
"Oke. Terima kasih ya," ucap Lisa.
Lisa lalu langsung menuju ruang kantornya. Ia sedikit penasaran tentang siapa pengirimnya. Daripada terus menebak dan terperangkap dalam rasa penasaran, lebih baik ia segera melihat buket bunga yang diceritakan Tina itu.
Setelah sampai di ruangannya, Lisa langsung menemukan buket bunga itu. Buket itu ditaruh diatas meja kerjanya. Ukurannya benar-benar besar hingga membuat dirinya takjub. Mulut Lisa bahkan sampai menganga ketika melihat berapa banyak mawar yang ada di buket itu. Seratus mawar ditata begitu cantik dan mengesankan didalam kotak hitam itu. Mawar-mawar itu disusun melingkar di dalam wadah kotak hitam dan ditata layaknya setengah bola bunga. Benar-benar cantik. Lisa terkagum selama beberapa saat dihadapan buket bunga itu. Matanya tak berhenti menatap susunan mawar merah yang ada dihadapannya.
Lisa semakin penasaran akan sosok pengirim buket ini. Siapakah pria romantis yang memberinya hadiah indah ini. Lisa melihat sebuah amplop surat tampak diselipkan di tengah rangkaian bunga. Lisa lalu segera mengambil dan membukanya dengan hati-hati. Tampak selembar surat yang dilipat rapi di dalam amplop itu. Ia lalu membuka kertas itu dan terlihat rangkaian tulisan tangan yang digurat dengan indah di sana. Dengan perlahan Lisa membaca kata-kata yang ada di sana sambil duduk di sofa ruang kantornya.
---------------------------------
To : Lisa Nataline
From : Rey Hutomo
Hai Lis. Aku sengaja kirim bunga ini buat kamu. Semoga kamu terima dan gak dibuang.
Maafin aku muncul dihadapan kamu dengan situasi yang cukup tidak nyaman. Aku tau kalau aku calon suami wanita lain. Cuma kamu harus tau, aku tidak akan pernah menikahinya. Bukan karena kamu, tapi karena aku memang tidak mencintainya. Pernikahan ini direncanakan bukan atas keinginanku dan Sherly, tapi karena keinginan keluarga kami. Akan ada saatnya pernikahan ini akan dibatalkan dan aku bisa kembali ke kamu.
Percayalah... aku masih mencintai dan menginginkanmu.
Aku masih mengusahakan jalan supaya kita bisa kembali bersama. Ini hidupku. Aku akan menikahi wanita yang ingin aku nikahi. Keluargaku tidak bisa selamanya mengatur masa depanku.
Sampai detik ini... wanita yang aku inginkan itu masih kamu.
Aku merindukanmu. Meski dengan cara yang menyakitkan seperti ini, aku cukup senang bisa ngeliat kamu dengan kedua mataku secara langsung.
---------------------------------
Lisa terdiam dan menatap surat itu selama beberapa saat. Ia menarik nafas dan berusaha menenangkan emosi hatinya. Kemudian secara perlahan ia merobek surat itu hingga menjadi potongan kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Lisa lalu mengambil buket bunga itu lalu membawanya keluar dari ruangan kantornya. Ia menghampiri Tina yang sedang sibuk di meja kerjanya. "Tolong buang buket bunga ini ya," pinta Lisa sambil menaruh buket itu di atas meja Tina.
Tina tampak bingung dengan permintaan Lisa. Bunga itu masih sangat cantik dan bagus untuk dibuang ke tempat sampah. "Sayang amat, Bu. Buat saya aja yak? Lumayan buat pajangan di rumah. Ponakan saya pasti pada suka," ucap Tina sambil memandangi buket bunga itu.
"Terserah. Pokoknya saya gak mau liat bunga ini di butik," pungkas Lisa.
"Siap, Bu!" seru Tina.
Lisa lalu kembali ke ruang kerjanya dan menyibukan diri dengan sketsa design-nya. Meski usahanya itu sebenarnya sia-sia. Rey telah sukses mengacaukan hatinya. Susunan kalimat yang baru saja ia baca tadi cukup membuat hatinya merasakan emosi yang campur aduk.
Lisa bisa merasakan ketulusan pada setiap kalimat yang ia baca pada surat itu. Ia tau Rey tulus menyayangi, merindukan, dan menginginkannya. Namun ia tak akan pernah membenarkan cara yang pria itu tempuh. Bagaimana mungkin pernikahan dibuat sebuah permainan hanya untuk melancarkan tujuannya. Sekalipun Rey dan Sherly ternyata memang sepakat melakukan hal itu, Lisa masih tak bisa memahaminya.
Kerumitan jalan yang harus ditempuh Rey hanya untuk mengusahakan bisa kembali padanya, hanya membuktikan jika mereka tak mungkin bersama. Rey hanya terlalu memaksakan. Tindakan yang Rey lakukan hanya menampakan kembali secara nyata bahwa mereka tak berjodoh. Jurang pemisah mereka terlalu lebar. Jika dipaksakan, ujung dari kisah ini hanya akan ada kesakitan. Lisa menolak mengalami luka hati yang sama.
Lisa juga tak ingin berada dalam posisi sulit di hadapan Sherly. Rey begitu egois hingga tak mempertimbangkan situasi dirinya. Rey mungkin melupakan fakta jika Sherly adalah klien butiknya. Ia tak ingin karna masalah pribadinya, butik menjadi dirugikan.
Lisa lalu berusaha mengabaikan Rey dan segala kata yang tertuang di dalam surat tadi. Rey adalah masa lalunya. Tidak akan pernah lebih dari itu.
***
Dion membawa dua kotak sushi yang ia pesan melalui aplikasi jasa pengantar online. Ia sengaja memesannya untuk dimakan bersama Lisa untuk makan malam. Seperti biasanya, gadis itu masih berkutat di ruang kerjanya dan menyibukan diri dengan sketsa design yang sebenarnya masih bisa dikerjakan esok hari.
Dion langsung masuk ke ruang kantor Lisa tanpa mengetuk. Ia menunjukan kotak sushi dengan wajah tersenyum ke arah Lisa. "Waktunya makan malam!" teriak Dion.
Lisa lalu menghentikan aktivitas kerjanya dan menghampiri Dion yang terlihat sibuk membuka kotak sushi. Ia tersenyum sambil duduk di hadapan Dion. "Kamu gak perlu nyiapin makan malam setiap hari, Dion. Sekali-kali pulanglah lebih cepat."
"Hah?! Gak salah tuh? Harusnya nasehat itu ditujukan ke kamu. Sekali-kali pulanglah lebih cepat, Lis. Kamu ngerjain apaan sih?" tanya Dion sambil geleng-geleng kepala.
"Yah menyelesaikan apa yang harus diselesaikan," ucap Lisa sambil mengunyah sepotong sushi.
"Semua itu bisa diselesaikan besok, Lis. Udah seminggu ini kamu pulang malam terus. Apa gak capek?"
"Enggak. Toh di rumah juga mau ngapain. Mending di sini kerja."
"Yaudah kamu tinggal di butik aja sekalian." Dion geleng-geleng kepala.
"Yah gak gitu juga."
"Oh ya, gimana order-an Sherly Zanna?"
"Udah 25% progress-nya. Wanita itu mengharapkan gaun pengantinnya itu wow, padahal kita cuma dikasih waktu sebulan," jawab Lisa sambil berdecak kesal.
"Kalo busana calon suaminya gimana?"
Lisa terdiam beberapa saat sambil mengunyah sushi-nya. Ia lalu menatap Dion sambil tersenyum datar. "Design-nya baru jadi. Besok atau lusa aku mau minta dia datang dan tanya pendapatnya."
"Oke. Kasih tau kapan dia datang."
Lisa mengerutkan keningnya. "Buat apa? Itu kan klien aku."
"Gak papa. Cuma mau nyapa dia aja," jawab Dion singkat.
"Kamu gak ngerencanain hal-hal yang aneh, kan?" tanya Lisa sambil menyipitkan matanya.
Dion tersenyum sinis sambil mengambil sepotong sushi. "Enggaklah. Buat apa. Aku cuma mau nyapa dan ngeliat kayak apa bentukan si Rey itu. Aku penasaran aja selera pria kamu waktu SMA itu kayak apa hahaha."
"Yah gak jelek-jelek amatlah."
"Dih masih muji mantan," sindir Dion.
"Yah lagian kamu mau ngejek aku. Ya aku bela diri dong," ucap Lisa sambil tertawa cekikikan.
"Oke... baiklah." Dion geleng-geleng kepala.
CONTINUED