3. Sherly Zanna

3280 Kata
From : ReyHutomo@gmail.com To : Lisa_Nataline@gmail.com Hai Lis, Aku sekarang udah terjun di bisnis keluargaku. Aku dipercaya menjadi Manager Sales dan mulai belajar di sana. Jika aku sudah benar-benar menguasai alur bisnis, mungkin orang tuaku akan segera memberikan jabatan direktur dan menjadi partner mereka. Sejak aku memimpin divisi sales, penjualan naik 100%. Ini rekor baru yang belum pernah dicapai oleh orang yang pernah duduk di jabatanku sekarang. Orang tuaku cukup salut akan prestasi ini. Kamu juga bangga gak liat prestasi aku ini? :D Kalau pekerjaan kamu gimana? Kamu jadi designer sekarang? Di butik mana? Lis... bisa gak kamu balas email ini? Aku pengen tau kabar kamu langsung dari kamunya. Sebenernya aku bisa lacak kamu ada dimana dan sedang apa, tapi aku masih tunggu kamu ngomong langsung ke aku. Percayalah... sebentar lagi aku akan berhasil menciptakan jalan supaya kita bisa bersama. Aku masih berusaha. Someday... aku bakalan samperin kamu dan tarik kamu ke sisiku untuk selamanya. I miss you. Regards, Rey Hutomo ___________________________________ Lisa tersenyum datar dengan sorot mata penuh kesinisan ketika ia membaca email terakhir yang dikirimkan oleh Rey itu. Ia melempar pelan ponselnya ke ranjang, lalu menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Rangkaian kata-kata yang baru saja dibacanya terasa seperti sebuah omong kosong. Banyak tahun yang telah terlewat dan Rey tak pernah menampakan wajahnya. Email itu hanya terasa seperti sebuah dongeng pengantar tidurnya. Lisa tak mengerti apa yang Rey maksud dengan jalan yang sedang diciptakannya untuk mereka dapat bersama. Ia juga enggan untuk membalas dan menanyakan hal itu secara langsung pada Rey. Baginya Rey hanya kisah masa lalu yang tak perlu dibuka, apalagi dijalani ulang. Hasilnya pasti akan sama, jika status sosial ekonomi dirinya belum sepadan dengan keluarga mantan kekasihnya itu. Jikalaupun kembali, ia hanya akan mengulang cerita dan luka yang sama. Tidak ada satupun orang yang ingin merasakan sakit yang berulang, termasuk Lisa. Awalnya Lisa masih bermimpi untuk sukses dan setara dengan keluarga Rey. Namun standar yang harus dicapainya dirasa terlalu tinggi untuk digapai, hingga ia mulai lelah untuk mengejarnya. Pria itu juga tak pernah terlihat berusaha meyakinkan keluarganya dan mendapatkan kembali hati Lisa. Hubungan tanpa ada perjuangan kedua belah pihak, rasanya akan sulit untuk berhasil dan hanya membuahkan perasaan lelah serta kesakitan. Lisa segera memejamkan matanya. Ia membuang semua pikiran tak bergunanya tentang Rey. Lebih baik ia tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, daripada terus menengok ke masa lalu yang tak akan pernah menjadi masa depannya. *** Lisa memulai rutinitas kerjanya dengan memeriksa setumpuk dokumen laporan di atas mejanya. Ia terlihat tersenyum puas ketika mendapati laporan penjualan butik meningkat 30% dari bulan kemarin. Sebuah prestasi yang memang bukan semata-mata karna dirinya, tapi ia juga ikut merasa senang dengan buah dari kerja keras team-nya. Ini memang butik milik Dion, tapi ia juga merasa memiliki karena ikut membantu mendirikan dan mengembangkannya. Setiap kemajuan yang dicapai butik ini, terasa seperti sebuah pencapaian untuknya juga. Rasanya cukup bahagia ketika melihat butik ini semakin berkembang dan bertambah cabang. Namun ia lebih bahagia ketika melihat raut wajah pelanggan yang puas dengan rancangan gaunnya dan setiap produk yang dikeluarkan butik ini. Apalagi ketika melihat berbagai orang yang datang kembali dan menjadi pelanggan tetap di butiknya. Ini lebih memuaskan daripada memenangkan penghargaan di bidang fashion. "Tok... tok... tok..." Tina, staff butik, masuk ke ruangan dan menghampirinya. "Bu, saya mau ingetin kalau ada pelanggan VVIP atas nama Sherly Zanna yang mau coba gaun pestanya." Lisa menghela nafas ketika mendengar nama itu keluar dari bibir staffnya. Ia sangat tau betul siapa pelanggan itu. Sherly Zanna, putri dari keluarga Zanna Group. Perusahaan ekspedisi dan batu bara terbesar di negeri ini. Wanita itu sudah menjadi pelanggan butiknya selama dua tahun. Ia sangat paham bagaimana watak dan selera fashion Sherly. Sherly memang terkenal angkuh dan kasar secara verbal. Wanita itu jarang ramah. Ia lebih banyak mendongakan kepala dibandingkan tersenyum. Kata-kata yang diucapkannya terasa menusuk hati dan menyakitkan telinga. Wanita itu berlagak seolah ia paling hebat dan tak membutuhkan orang lain. Ia menilai orang berdasarkan status sosial ekonominya. Semakin rendah, semakin tak dianggap keberadaannya. Lisa hanya bisa menduga karakter itu terbentuk karena Sherly adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat kaya raya. Sherly mungkin terbiasa hidup berkelimpahan tanpa memiliki kepekaan sosial. Wanita itu mungkin tak diajari bagaimana seharusnya memperlakukan manusia meski berada di level ekonomi berbeda. Ini bukan kali pertama Lisa menghadapi fenomena seperti ini. Di lingkungan sekolahnya dahulu Lisa terbiasa menghadapi fenomena karakter orang-orang yang memiliki status sosial ekonomi di atas. Termasuk karakter dari orang tua mantan kekasihnya itu. Sebagian besar karakter mereka memang tak jauh berbeda dengan Sherly.  "Jam berapa dia datang?" tanya Lisa dengan ekspresi kesal. Ia sebenarnya malas menemui Sherly. Wanita yang sangat berbakat menghancurkan mood-nya itu. Namun tak mungkin ia menuruti hasrat hatinya. Bagaimanapun Sherly adalah pelanggan VVIP yang sudah sepatutnya ia temui dan layani dengan sangat baik. Lisa tak mungkin membiarkan perasaan pribadinya mempengaruhi professionalitasnya dalam bekerja. "Setengah jam lagi, Bu." Tina menggigit bibirnya. Sorot matanya menunjukan kecemasan. Lisa bisa menangkap ketakutan dari bahasa tubuh staffnya itu. "Kamu tenang aja. Lakukan kayak biasanya aja. Toh saya yang akan layani dia, bukan kamu." Lisa menepuk pundak Tina dengan senyum ramah, berusaha menenangkan staff-nya itu. "Makasih, Bu. Sejujurnya saya gak kuat mental menghadapi dia. Orangnya sombong dan mulutnya pedes banget. Yah meski dia juga baik sih. Suka ngasih uang tip gede. Cuma kalo tertekan batin juga buat apa," ungkap Tina dengan kepala tertunduk. "Ya udah. Biar saya aja yang urus. Kalian siapin gaun yang bakalan dia fitting ya. Pastikan gaun itu tak bercacat dan bernoda. Kalian tau gimana wataknya dia, kan?" ucap Lisa dengan nada penuh penekanan. Lisa tau betul bagaimana tabiat Sherly ketika tidak puas dengan baju dan pelayanan yang didapat. Wanita itu tak segan untuk berkata dan bersikap kasar. Mulutnya mampu menusuk dan menghancurkan mental seseorang, apalagi para staffnya. Dahulu bahkan Sherly pernah melemparkan gaun ke wajah staffnya dengan kasar. Wanita itu marah karena busananya terdapat setitik noda tinta yang sebenarnya akan hilang setelah dicuci. Namun Sherly bukan tipe manusia yang mau memahami dan mendengarkan alasan orang lain. Jika menurutnya itu salah, maka akan tetap salah tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk membela diri. Tina memahami maksud Lisa. Karena Tina pernah memiliki pengalaman buruk menghadapi komplain wanita itu. Tina tau Lisa sedang memperingatkannya untuk hati-hati. "Iya, Bu. Kalo gitu saya pamit. Mau siapin gaunnya. Terima kasih, Bu." Lisa mengangguk. Ia lalu kembali duduk dikursinya dan meninjau laporan-laporan yang tadi masih belum sempat dibaca. Setengah jam dirasa cukup untuk menyelesaikannya. Lebih baik ia menyibukan diri dalam pekerjaan daripada merasa frustasi menunggu kedatangan klien VVIP-nya itu. *** Sherly Zanna, gadis dengan dress dan lipstik merah itu berjalan memasuki butik Lawakana dengan langkah penuh percaya diri. Dagu yang terangkat ke atas seakan menjadi ciri khasnya ketika berjalan. Keangkuhan seolah hal alami yang biasa wanita itu lakukan. Seorang asisten pribadi dan pengawal berjalan mengikuti setiap langkah Sherly. Bak seorang putri yang tak dibiarkan kemanapun sendirian, Sherly memang tak pernah absen membawa asisten dan pengawalnya meski hanya pergi ke butik. Sherly akhirnya duduk di kursi tamu dengan kaki yang menyilang, lalu melepas kaca mata dan menaruh tas mahalnya di meja kecil yang terletak di sampingnya. Siapapun yang melihat raut wajah Sherly pasti menyimpulkan jika wanita itu tak ingin bersikap ramah padapun. Bibirnya tak tersenyum. Tatapannya tajam. Ekspresi wajahnya begitu angkuh dan sinis. Sherly bersikap seolah ia menempati kasta tertinggi di sana.  "Di mana Lisa?" tanya Sherly dengan senyum angkuh khasnya. Wanita itu bertanya tanpa menatap mata lawan bicaranya. Tina, Staff yang saat ini berdiri di dekat Sherly terlihat gugup. Bibirnya gemetar hingga tak sanggup mengeluarkan kata. Ia begitu ketakutan hingga melupakan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang staff. Sherly yang melihat kegugupan Tina langsung kesal dan menatapnya dengan tajam. Wanita itu tak senang pertanyaannya tak langsung dijawab dengan cepat. "Lo gak ngerti gue tadi nanya apa? Apa lo i***t? Pantesan aja lo terus miskin dan gak berubah nasib." Kalimat kasar itu terlontar begitu tajam dari bibir Sherly. Namun mengalir dengan lancar tanpa keraguan. Seolah kalimat itu sudah sepantasnya diterima oleh lawan bicaranya. Tak ada raut ekspresi rasa bersalah atas apa yang baru saja dilontarkannya. Meski linangan air mata mulai tampak pada mata Tina, staff yang baru saja ia rendahkan. "Aku di sini, Nona Sherly." Lisa berjalan menghampiri Sherly dan menyuruh Tina untuk pergi dari sana. Lisa langsung mengalihkan perhatian Sherly ke arahnya agar Tina bisa segera beranjak dari ruangan itu. "Jadi... mau coba gaunnya sekarang?" tanya Lisa dengan senyum. Ia mencoba untuk ramah, meski di hatinya tak begitu menyukai sosok Sherly. Lisa seakan memakai topeng untuk menutupi kemuakan hatinya. Jika bukan karna wanita itu adalah klien VVIP butik mereka, Lisa pasti sudah mengusir wanita itu tanpa ragu dari sana.  "Berhenti memanggil gue Nona! Gue bukan majikan lo," ucap Sherly sambil mendengus kesal. "Tapi lo pelanggan butik gue. VVIP pula." Lisa geleng-geleng kepala. Sherly itu memang aneh. Kadang dia ingin diperlakukan sebagai teman, tapi juga ingin diperlakukan bak putri. Lisa sebenarnya lelah mengikuti keinginan gadis itu yang selalu berubah dan sesuka hatinya. Lisa memang mendapat kesan jika Sherly ingin berteman dengannya. Namun wanita itu memang tak tau bagaimana caranya memulai pertemanan. Sherly tetap meninggi meski ingin membuat jaraknya dengan Lisa menjadi dekat. Karena itu Lisa tau dirinya tak akan pernah nyaman berteman dengan wanita itu. "Yah no problem. Lo bukan sekedar pelayan. Yah derajatnya lebih tinggilah daripada itu." Sherly tertawa pelan, tapi dengan tatapan mengejek. Lisa mulai gerah berlama-lama berbincang dengan Sherly. Ia mulai kesal dan lelah dengan sikap Sherly yang seenaknya. Lisa ingin segera mengakhiri percakapan tak berguna ini. "Ya udah. Ayo kita coba gaunnya." Ia langsung berjalan ke ruang fitting dan memberi kode agar Sherly mengikutinya. Tentu saja kode yang tidak akan menyinggung perasaan Sherly. Lisa tersenyum, mengangguk ke arah depan, sambil menunjuk ke arah mereka harus melangkah. "Mbak jalannya pelan dong! Ngebut amat," protes Sherly. Wanita itu kerepotan harus melangkah cepat dengan heels setinggi 7cm, sambil menenteng tas mahalnya. "Ini udah pelan. Lo aja yang jalannya lelet," balas Lisa. Sebenarnya Lisa memang sengaja mempercepat langkahnya. Ia memang ingin membuat Sherly sedikit kesusahan. Setidaknya wanita itu sedikit kewalahan mengikuti langkahnya. Setelah sampai, Lisa memberikan kode ke staff-nya untuk menunjukan gaun milik Sherly. Tak lama kemudian, Tina datang sambil membawa sebuah gaun yang terbungkus rapi didalam plastik. Lisa lalu mengambil gaun itu dan menunjukan hasil design-nya yang dibuat khusus untuk Sherly. Sherly terdiam dan menatap gaun itu dengan sorot mata penuh ketelitian. Ia bisa melihat kalau gaun bewarna merah itu dirancang untuk menunjukan keseksian dan pesonanya. Leher dan kulit bahunya yang putih bisa terekspos dengan cantik karena design kemben pada atasan gaun itu. Panjang gaun yang hanya 3 cm diatas lutut, tetap membuat kaki indahnya terlihat cantik. Hiasan manik-manik dan aksesoris di gaun itu menambah kesan tampilan elegan pada pemakainya. "Seperti biasa... gaunnya cantik. Cuma... kalau gue gak pake kalung, bagian leher akan terlihat kosong," komentar Sherly. Lisa tersenyum. Ia seperti sudah menduga kalau kalimat itu akan keluar dari pelanggan VVIP-nya itu. Ia lalu memberi kode kepada Tina untuk mengeluarkan barang yang sudah disiapkan olehnya. "Lo bisa pakai kalung ini dan sepatu ini," ucap Lisa. Sherly mengambil kalung berliontin merah dengan kalung emas bewarna rose. Matanya penuh dengan sorot kekaguman dan pandangannya tak lepas dari kalung itu. "Ini cantik banget! Benar-benar sempurna!" seru Shery. Lisa menyunggingkan senyumnya. "Gue bener-bener gak pernah mengecewakan lo ya," ucap Lisa. "Tentu. Karena itu gue selalu beli gaun di sini. Design lo ini emang bener-bener sempurna buat acara tunangan gue," ucap Sherly sambil meletakan kembali kalung ke tempatnya. Lisa mengerutkan keningnya. "Lo gak pernah bilang gaun ini buat acara tunangan. Gue pikir ini buat acara party biasa." Sherly tersenyum sinis dan kembali duduk ke sofa dengan posisi kaki disilangkan. "Apa yang istimewa dari acara tunangan? Di mata gue itu cuma party biasa. Yah... tentu sebuah party yang ada beberapa para orang tua hahaha." Lisa geleng-geleng kepala. Wanita dihadapannya itu benar-benar terdengar gila. Sherly seakan menganggap acara tunangan hanyalah hal biasa. Tak berarti, tak spesial, dan tak memiliki kesan. Seumur hidup Lisa, baru kali ini ada klien seperti Sherly. Begitu acuh dengan momentum besar dalam hidupnya. "Kalau gue tau ini buat tunangan, ya design-nya bakalan dibuat lebih wah dari ini lah. Lagian acara tunangan itu bukan party biasa. Lo emang ngaco. Gagal paham sama jalan pikiran lo," ucap Lisa dengan tatapan heran. "Tenang aja... itu cuma acara formalitas. Toh esensinya ada di acara nikah. Oh ya... lo siapin gaun nikah gue ya. Gue mau nikah bulan depan," ucap Sherly sambil memainkan ponselnya. Lisa menatap Sherly dengan mata terbelalak. Mulutnya hanya menganga tanpa sanggup mengeluarkan kata. Ia lebih takjub dengan apa yang baru saja ia dengar dan saksikan. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menganggap pernikahan sesederhana itu. Seolah itu hanya sebuah adegan drama tak penting. Seolah pernikahan adalah sebuah permainan yang harus dilakukan dan tak memiliki makna. Sherly benar-benar wanita unik, sekaligus tak berperasaan dimatanya. Selain itu Lisa juga tak pernah merancang gaun pernikahan hanya dalam waktu satu bulan. Apalagi gaun untuk klien VVIP yang biasanya meminta rancangan khusus, material bahan yang spesial, dan hasil yang sempurna. Untuk merancangnya saja ia membutuhkan waktu. Ada banyak klien juga yang harus Lisa urusi. Belum lagi soal mencari bahan dan proses pengerjaan gaun itu. Pengerjaan gaun pernikahan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, fokus yang baik, dan ketelitian yang amat sangat ekstra. Satu bulan benar-benar waktu yang sangat singkat. Terlalu singkat, hingga Lisa belum pernah melakukannya. Sherly benar-benar gila! "Mingkem mulut lo! Ntar lalat masuk hahaha," ledek Sherly. Sherly tertawa sinis menatap Lisa. Seakan keterkejutan Lisa hanyalah sikap konyol di matanya. "Lo gila ya! Satu bulan?! Mana sanggup gue bikin gaun nikah secepet itu. Lagian klien gue bukan cuma lo doang. Banyak gaun yang harus gue buat. Lo kenapa sih? Lo hamil duluan ya? Makanya pengen nikah buru-buru," Lisa menatap curiga Sherly. Lisa menatap Sherly dengan sorot penuh selidik. Hanya itu alasan yang masuk akal dibenaknya. Alasan kenapa wanita itu merencanakan pernikahan begitu mendadak. "Hamil? Cih! Gue gak berencana punya anak selama lima tahun ke depan. Ya udah, lo butuh waktu berapa lama? Biar gue undur pernikahannya," ujar Sherly begitu mudahnya. Wanita itu seakan bisa melaksanakan pernikahan sesukanya tanpa pertimbangan sama sekali. Lisa memegang keningnya dan menggaruk rambutnya yang sebenarnya tak terasa gatal. Sherly memang pelanggan tergila dalam sejarah karirnya. Bagaimana mungkin acara nikahan terdengar seperti acara pesta ulang tahun yang bisa di undur sesukanya. "Lo mending ke rumah sakit jiwa, daripada ke butik ini." Sherly tertawa keras melihat ekspresi terkejut sekaligus kebingungan yang tercermin di wajah Lisa. Wanita itu justru membalas dengan tatapan heran. Seolah sikap Lisa-lah yang abnormal. "Lisa... Lisa... gitu aja heran. Buat kalangan konglomerat, pernikahan cuma sekedar bisnis. Gue bisa aja sih nyewa designer luar yang terkenal, cuma gue tetep mau lo yang bikin." Lisa mengangguk dengan senyum sinis terukir di bibirnya. Pernikahan adalah bisnis. Kalimat yang terasa tak asing baginya. Kalimat yang sering ia dengar ketika SMA. Kala keluarga kekasihnya saat itu begitu meremehkan status sosial ekonominya yang begitu rendah. Saat dimana dirinya dipandang tak akan prospek untuk menjadi pasangan Rey. Keluarga Rey tak akan mendapatkan keuntungan apapun bila merestui hubungannya saat itu. Pernikahan adalah bisnis... sebuah ungkapan yang Lisa tau betul maknanya. "Kenapa gue? Gak papa kok lo pake orang lain. Gue gak tersinggung. Lagian gue juga gak sanggup nyiapin gaun dalam waktu sebulan," ucap Lisa, berusaha meyakinkan Sherly. Jika bisa, Lisa benar-benar ingin mengalihkan pesanan Sherly ke designer lain. Ia masih tak yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu. "No! Lo harus bikin gaun nikah gue!" tegas Sherly. Raut wajah wanita itu penuh keyakinan. Keinginan Sherly bak perintah yang tak bisa dibantah. Sherly seakan tak mau tau dengan hambatan Lisa. "Why?!" "Karena lo itu temen gue," jawab Sherly singkat sambil mengibaskan rambutnya. Lisa menatap tak percaya dengan jawaban yang baru saja didapatnya. Jawaban yang dirasa sangat tidak masuk akal. Lisa tak merasakan kelekatan sedikitpun dengan Sherly sebagai teman. Dekat saja tidak. Berbicara dari hati ke hati saja tidak pernah. Bagaimana mungkin mereka berteman. "Tapi gue gak pernah anggap lo temen," balas Lisa. "No problem... karena pendapat lo itu gak penting. Oke... gue ambil gaun ini ya. Abis itu lo siapin gaun nikah gue! Gue gak mau tau!" Sherly bangkit berdiri dan memberi kode pada asisten pribadinya untuk mengambil gaun tunangannya itu. Kemudian ia berjalan pergi keluar dari ruangan fitting itu, tanpa menoleh lagi ke belakang. Lisa menoleh ke arah Tina dengan sorot mata penuh keheranan. "Dia gak coba gaunnya?" Tina mengangkat bahunya dengan ekspresi wajah sama bingungnya dengan Lisa. Lisa lalu terduduk lemas di sofa sambil memegang keningnya. Sherly benar-benar pelanggan terunik sepanjang hidupnya! *** Lisa menghempaskan tubuhnya ke sofa ruangan kantor Dion. Raut wajahnya begitu frustasi. Ia menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal. Selama beberapa saat, Lisa hanya duduk bersandar dengan tatapan kosong. Tentu saja Dion merasakan perilaku tak biasa dirinya. Lisa sangat jarang mampir ke ruangan Dion. Kecuali bila Lisa mempunyai masalah atau ingin komplain kepada atasannya itu. "Kenapa?" tanya Dion dari kursi kerjanya. Dion meletakan penanya, lalu berjalan menghampiri Lisa dan duduk disebelah wanita itu. "Aku bener-bener gak habis pikir dengan wanita itu! Gimana caranya aku bikin gaun pernikahan dalam waktu satu bulan?! Kamu tau kan klien yang aku tangani itu ada banyak! Belum lagi kita mau pameran! Wanita itu benar-benar gila!" ungkap Lisa penuh emosi. Lisa terdiam sebentar. Ia berusaha mengatur nafasnya kembali normal. Emosinya memang jarang stabil seusai menghadapi klien gilanya itu. "Siapa sih yang kamu maksud? Coba ceritain pelan-pelan. Biar aku paham," balas Dion dengan nada lembut. "Yah siapa lagi kalo bukan Nona Sherly yang terhormat itu!" Lisa mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh penekanan. Masih terlihat ia sulit mengatur emosinya. "Ah... Dia," ucap Dion sambil mengangguk, tanda mengerti. Pria itu lalu bangkit berdiri, mengambil cangkir teh dari laci kecilnya, lalu membuatkan teh manis hangat. Kemudian memberikannya ke Lisa. "Terima kasih," ucap Lisa sambil menerima cangkir teh itu. Ia lalu meminumnya perlahan. Kehangatan teh itu sanggup meredakan emosi hatinya. Dion memang tau bagaimana cara merilekskan dirinya. Membuatnya nyaman meski dalam situasi yang tidak mengenakan. "Jadi Sherly kenapa? Dia mau nikah bulan depan?" tanya Dion. Lisa meletakan cangkir tehnya. Kemudian menjawab pertanyaan Dion itu dengan tenang. "Iya. Gila, kan? Masa ada orang mau nikah dadakan gitu. Terus ngotot harus aku yang buat gaun pernikahannya. Dia gak mau aku oper ke designer lain. Padahal aku bener-bener gak sanggup." "Dia tetep ngotot? Kenapa?" "Karna katanya aku itu temen dia! Jawaban gila. Dari mananya coba bisa disebut temen." Lisa menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala. Dion tertawa sambil ikut geleng-geleng kepala. "Yah you know Sherly lah. Wanita itu memang suka berbuat sesukanya. Ini bukan kali pertama kamu menghadapi dia, kan? Sejauh ini kamu bisa kok handle dia." "Iya bisa emang. Cuma penuh tekanan mental. Kamu kan tau aku selalu emosi setiap abis menghadapi wanita gila itu. Ditambah target waktu dia yang gila!" "Emang kamu gak bisa ngelobi buat minta perpanjangan waktu?" "Yah bisa sih. Tadi dia nawarin dua bulan. Dia mau undurin waktu pernikahannya karna aku. Gila kan tuh orang?! Pernikahan bener-bener kayak permainan. Bisa dimajuin dan dimundurin sesuka-sukanya dia." Lisa mendengus kesal sambil geleng-geleng kepala. "Hebat. Berarti dia sesuka itu sama design kamu, Lis. Ambil positifnya aja," ujar Dion. "Yah emang. Cuma aneh aja. Heran aja gitu. Kenapa bisa ada orang kayak gitu." "Terus kalo dua bulan bisa? Kekejar waktunya?" tanya Dion. Lisa mengangkat bahu. "Entahlah. Aku usahakan semaksimal mungkin. Lagian emang aku punya pilihan buat nolak? Aku tetep harus ngerjain pesanan dia, kan? Bagaimanapun juga wanita gila itu klien VVIP kita yang cukup loyal. Entah sudah berapa gaun yang ku buatkan untuk dia. Saking terlalu banyaknya." Dion mengangguk setuju. "Bener. Kamu emang harus terima dan gak boleh nolak. Kecuali dia kasarin kamu, baru depak dia. Butik ini gak butuh uang dia kalo tuh orang nyakitin kamu." Lisa tersenyum sambil menatap Dion lekat. "Terima kasih atasan akuuuu." Dion membalas senyuman Lisa, lalu berkata, "Jadi mau makan malam bareng? Aku pikir kamu butuh keluar buat netralisir mood." Lisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "No! Aku mau lembur. Kamu kan tau kalo aku banyak kerjaan. Kalo aku gak kerja keras dari sekarang, pasti bakalan berantakan semuanya." "Yah tapi gak perlu tiap hari lembur juga, Lis. Lama-lama badan kamu yang ancur. Aku gak mau kayak gitu." Dion tampak benar-benar khawatir. Lisa tersenyum, lalu menepuk pelan pundak Dion. "Aku akan jaga kesehatan. Makan teratur dan minum vitamin. Kamu tenang aja," ucap Lisa, berusaha meyakinkan atasan sekaligus sahabatnya itu. "Baiklah. Jika kamu sakit, aku orang pertama yang bakalan tarik kamu ke rumah sakit dan ngelarang kamu buat lembur lagi!" seru Dion bernada mengancam. Lisa tertawa cekikikan. Ia tau Dion begitu peduli padanya. Nada ancaman itu hanyalah sebuah gertakan agar ia menuruti nasehat pria itu. Dion hanya tidak ingin ia sakit dan menyiksa diri dalam pekerjaan. "Baiklah. Aku janji. Makasih ya," balas Lisa dengan senyuman. CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN