"Boleh, perusahaan selalu terbuka untukmu, kapan aja kamu merasa siap, Intan."
"Makasih, Pah!" Intan langsung memeluk ayahnya penuh rasa terima kasih.
"Kamu udah ketemu kakakmu?" tanya Harun, mengajak putrinya duduk di kursi sofa, sementara dirinya mengambilkan minuman dingin dari lemari pendingin di seberang kursi.
"Udah, dia menyusulku ke rumah nenek."
"Dia sangat mencemaskan kamu, Intan," ungkap sang ayah apa adanya.
"Aku tahu." Intan menghela napas saat mendapati sang ayah menyodorkan s**u kotak padanya.
"Kamu sepertinya kehilangan banyak berat badan? Tapi, nggak apa-apa. Kamu tetep kelihatan cantik, sama persis seperti mendiang ibumu," tukas Harun, sambil menyunggingkan senyuman tipis pada putrinya.
"Intan minta maaf, selama ini selalu menuduh Papah .... Ah, seharusnya aku nggak boleh melakukan tindakan seperti itu. Aku tahu, Papah juga sedih atas kehilangan mamah," ujar Intan, tersurat kuat bahwa dirinya saat ini sedang diliputi rasa sesal luar biasa.
"Itu manusiawi, Nak. Papah tahu, kamu melakukan itu sebagai bentuk kesedihanmu akibat kehilangan mamahmu."
"Tapi aku nggak memahami perasaan Papah, sebagai seorang suami yang sangat kehilangan istri yang dicintai."
"Nggak apa-apa, kita jadi tahu sama tahu, bahwa rasa cinta kita sama besarnya untuk mamahmu, Sayang," ucap Harun, kali ini berhasil membuat mata Intan kembali berkaca-kaca.
"Kalau bukan karena ibunya, sebenarnya aku sudah lama meninggalkan rumah mas Anan," ungkap Intan, akhirnya mengakui kenapa sampai kini bertahan di rumah Danan, sedangkan sikap pria itu sangat buruk terhadap dirinya sebagai istri.
"Papah bisa lihat, kamu bahkan lebih jatuh cinta pada ibunya, melebihi Danan, yang papah anggap hanyalah sebuah obsesi kosong semata."
Intan mengangguk-angguk setuju dengan semua perkataan sang ayah.
"Kembalilah seperti dulu, Intan. Posisi kamu di keluarga ini, begitu pun di perusahaan masih sama seperti dulu, sebelum kamu memutuskan untuk berkelana beberapa saat."
Lagi-lagi Intan tersenyum dan mengangguk penuh haru pada ketulusan ayahnya.
"Apa papah perlu memindahkan posisi Danan, agar kamu bisa lebih nyaman?" tawar Harun, penuh dengan keseriusan.
"Ah, nggak perlu, Pah. Intan pasti bisa mengatasinya. Aku juga mau berterima kasih, karena papah sudah menyingkirkan perempuan itu dari perusahaan."
"Itu cuma urusan gampang. Perempuan itu nggak akan hidup dengan mudah, sebelum kamu merasa cukup untuk menyiksanya."
***
Sementara itu, Danan mencoba mencari keberadaan Intan. Ia mendatangi rumah nenek Intan lagi, tetapi tidak berani masuk karena pagarnya tertutup rapat. Pikirannya diliputi rasa malu dan takut. Ia sadar bahwa semua ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri.
"Nyari siapa, Mas?" tanya salah seorang tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah neneknya Intan.
"Oh, saya lagi nyari Intan, Pak."
"Rumah ini udah lama banget kosong, Pak. Sejak nenek yang dulu ditinggal di sini meninggal, mas Billy juga udah pindah. Kalau mbak Intan kabarnya sih tinggal bareng suaminya."
"Oh, Baik, terima kasih infonya, ya," sahut Danan, seraya meninggalkan lokasi itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan.
Hari-harinya terasa kosong tanpa Intan. Meski selama ini ia mengabaikan wanita itu, kehadiran Intan sebenarnya memberikan rasa nyaman yang tidak pernah ia sadari.
Seminggu pun berlalu, dan hidupnya menjadi semakin sunyi. Ia bahkan merasa sulit untuk fokus bekerja, apalagi harus mengurus juga ibunya.
Namun, kejutan besar menantinya saat ia tiba di kantor pada suatu pagi. Saat masuk ke ruang rapat untuk sebuah pertemuan penting bersama seorang investor baru, matanya membulat melihat sosok yang duduk di ujung meja, mengenakan setelan formal dengan aura penuh wibawa.
“Selamat pagi, semuanya. Saya Intan Savanah. Saya akan menjadi kepala divisi pemasaran yang baru, menggantikan pak Munarwan yang sudah mendapatkan promosi sebagai Direktur Pemasaran di cabang Kediri. Semoga kita bisa saling bekerjasama dengan baik,” kata Intan dengan suara tenang.
"Selamat pagi, Bu Intan!" jawab peserta meeting secara serempak.
Danan tertegun. Ia tidak pernah tahu bahwa Intan memiliki latar belakang pendidikan sehebat ini. Selama menikah, Intan selalu tampak sederhana dan tidak pernah membanggakan apa pun tentang dirinya.
Setelah pertemuan selesai, Danan mencoba mendekati Intan. Tetapi wanita itu hanya memberikan senyum tipis dan berkata, “Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik, Pak Danan.”
Danan merasa seperti orang asing di hadapan Intan. Sikapnya yang profesional dan tenang membuat Danan merasa semakin kecil.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian berat bagi Danan. Ia harus bekerja di bawah kepemimpinan Intan, yang kini menjadi atasannya. Hubungan mereka berubah drastis. Intan memperlakukannya seperti karyawan lain, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi pribadi.
Namun, di balik sikap tegas dan profesional itu, Intan masih menyimpan luka. Meski ia mencoba bersikap kuat, hatinya sering kali bergetar setiap kali melihat Danan. Tetapi ia tahu, menunjukkan kelemahan hanya akan membuatnya terlihat lemah di mata pria itu.
Sementara itu pada setiap kesempatan, Danan terus berusaha mendekati Intan. Ia mencari-cari alasan untuk berbicara dengannya, baik secara profesional maupun pribadi.
“Intan, aku tahu ini bukan tempat yang tepat, tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk bicara,” katanya suatu hari di ruang kerja Intan.
Intan menatapnya dengan dingin. “Kita hanya bisa bicara soal pekerjaan, Pak Danan. Yang lain nggak ada hubungannya lagi.”
"Di saat seperti ini, kamu bisa memperlakukan aku sebagai orang asing, Intan? Aku masih suamimu."
"Kamu sendiri yang memulainya, kenapa sekarang jadi aku yang salah?" tukas Intan, masih saja memandang Danan dengan ekspresi setenang mungkin.
"Tan!"
"Silakan keluar, kalau sudah tidak ada urusan pekerjaan yang bisa kita bahas!" usir Intan, menunjukkan betapa tegas dirinya yang sekarang.
Danan merasa frustasi. Ia sadar bahwa memenangkan kembali hati Intan tidak akan semudah yang ia bayangkan.
***
"Aku harus mencari tahu, apa benar Intan bekerja di sini memakai koneksi pemilik perusahaan, seperti yang dikatakan orang-orang," batin Danan, merasa ada yang tidak beres dengan keberadaan Intan yang tiba-tiba di dalam perusahaannya.
Ia sendiri mengingat, bahwa atas andil Billy sehingga bisa diterima di perusahaannya sekarang, sebagai bentuk bantuan karena ia telah menyandang status sebagai suami Intan yang wajib menafkahi.
Danan duduk di kursi kafetaria kantor tempat Billy bekerja, meremas jemarinya yang berkeringat dingin.
Menghadap langsung pada Billy, sosok kakak yang selama ini tegas dan berwibawa, membuat keberaniannya hampir luntur. Tapi, ia harus melakukannya. Jika ingin Intan kembali, ia harus melewati lelaki ini terlebih dahulu.
"Kamu baru mengajak aku bertemu, setelah berbulan-bulan berlalu, Danan," ucap Billy begitu sampai di ruangan tamu yang ditempati Danan.
“Billy.” Danan membuka pembicaraan dengan suara berat. “Aku ke sini karena ingin tahu lebih banyak tentang Intan, di mana dia sekarang tinggal? Aku merasa selama ini, aku benar-benar nggak mengenal dia.”
Billy menyilangkan tangan di d**a, menatap tajam ke arah Danan. “Sekarang kamu baru ingin mengenalnya? Setelah menghancurkan hidupnya, begitu?”
"Soal itu, aku minta maaf, Bill."
"Dengan semudah itu, kamu minta maaf?" cecar Billy, meskipun raut wajahnya masih memendam rasa kesalnya, ia masih bisa bersikap tenang.
Danan menunduk, tak membantah. Ia tahu apa pun yang keluar dari mulut Billy saat ini adalah kebenaran yang harus ia terima.
"Tiba-tiba adikmu jadi atasanku di perusahaan. Aku tahu, itu bukan koneksi sembarang hingga bisa berada di posisi itu dalam waktu singkat. Benarkah berita rumor yang mengatakan bahwa ... bahwa Intan ada hubungannya dengan pemilik perusahaan tempatku bekerja?"
"Sebenarnya apa maksud pertanyaanmu itu? Hubungan macam apa yang sedang kamu tafsirkan?"
"Bukan begitu, Billy. Aku cuma kaget aja karena tiba-tiba Intan bersikap asing sama aku dan ... dia sekarang jadi atasanku."
“Intan itu adikku yang paling berharga,” ujar Billy. “Kami memang nggak suka hidup mengandalkan nama besar papah. Itu alasan kenapa Intan memilih hidup sederhana. Dia ingin dicintai sebagai dirinya sendiri, bukan karena status atau harta keluarganya.”
Danan mengangguk kecil. Perasaannya semakin bercampur aduk. Mengapa selama ini ia begitu buta?
“Tapi, Danan,” lanjut Billy dengan nada dingin. “Perselingkuhanmu itu sangat keterlaluan. Aku nggak akan pernah memaafkan tindakan itu.”
Tanpa peringatan, sebuah bogem mentah mendarat tepat di wajah Danan. Rasa sakit menjalar ke rahangnya, tetapi ia tidak membalas. Ia tahu ia pantas menerimanya.
“Anggap itu balasan dari seorang kakak yang marah karena adiknya dihancurkan,” kata Billy, menghela napas panjang.
“Sekarang, berikan kepastian pada Intan. Kalau kamu ingin bercerai, urus segera. Jangan gantung dia di tengah jalan.”
Danan memegangi rahangnya yang nyeri, tetapi hatinya jauh lebih sakit. Ia merasa semakin kecil di hadapan Billy, di hadapan rasa bersalah yang membesar setiap harinya.
"Aku nggak akan menceraikan Intan."