Bab 14. Rasa yang Tak Terelakkan

1274 Kata
“Aku nggak punya alasan untuk tetap bertahan,” jawab Intan tanpa ragu. “Aku sudah memberimu dua belas tahun kesempatan untuk melihat cintaku sebesar apa. Bahkan setelah menikah, aku masih memberimu waktu dua tahun untuk membalasnya, menunggumu untuk sekadar menyentuh pundakku dan berkata bahwa kamu mulai mencoba untuk mencintaiku. Tapi, Mas Danan, kamu memilih orang lain, perempuan itu. Itu pilihanmu, dan aku menghormati itu. Tapi sekarang, aku juga ingin memilih diriku sendiri untuk dicintai.” Danan mencoba menggapai tangan Intan, tetapi wanita itu menarik tangannya. “Intan, aku mohon. Beri aku satu kesempatan lagi.” Intan berdiri, memandang Danan dengan mata yang terlihat letih. “Kesempatan itu sudah aku berikan selama bertahun-tahun, Mas. Kamu hanya memilih untuk nggak menggunakannya.” Ia meraih tasnya dan melangkah pergi. Sebelum keluar, Intan menoleh sejenak. “Aku minta maaf karena selama ini sudah merepotkanmu. Aku baru tahu kalau kehadiranku membuatmu mual. Jadi, izinkan aku pergi dan berhenti menjadi beban untukmu.” Sarkasme itu menusuk hati Danan seperti belati. Ia hanya bisa menatap punggung Intan yang semakin menjauh, meninggalkan dirinya dengan penyesalan yang tak berujung. Danan berjalan pulang ke rumah dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan, ia terus teringat ucapan Intan. Ia telah kehilangan segalanya. Sesampainya di rumah, ia duduk di sofa, memandangi ruangan yang terasa kosong tanpa kehadiran Intan. Pikirannya kembali ke masa-masa ketika mereka masih bersama. Ia teringat senyuman Intan, cara wanita itu merawat ibunya, dan ketulusannya yang tanpa batas. “Kenapa aku begitu bodoh?” gumamnya pelan. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Danan tahu tidak ada kata yang bisa membalikkan keadaan. Tidak ada permintaan maaf yang cukup untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan. *** Sementara itu, Intan pulang ke rumah ayahnya dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia tahu perjalanannya belum selesai, tetapi setidaknya ia telah mengambil langkah pertama untuk membebaskan dirinya dari luka yang selama ini ia pendam. Di rumah, Billy menyambutnya dengan senyuman. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya. Intan mengangguk. “Aku baik-baik saja, Mas. Terima kasih sudah selalu mendukungku.” Billy menepuk bahunya dengan lembut. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, Intan. Jangan pernah ragu untuk memilih kebahagiaanmu sendiri.” Intan tersenyum kecil, merasa bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Ia tahu perjalanannya masih panjang, tetapi ia yakin bisa melaluinya. "Maafin, Intan ya, Mas. Dulu nggak pernah mau dengerin nasihat Mas Billy." "Udah, nggak usah dipikirin. Lagian, kita nggak akan pernah tahu, sedalam apa sebuah danau, kalau kita nggak pernah mencoba untuk menyeberanginya, 'kan?" goda Billy sambil tersenyum jahil. "Ya, karena kengeyelan itu juga, akhirnya aku tenggelam ke dasar danau itu juga," sahut Intan, langsung ditanggapi Billy dengan gelak tawa. "Untung kamu masih bawa pelampung. Setidaknya, kamu masih bisa berenang ke pinggiran untuk mengatur nafasnya sekaligus menyembuhkan luka." Begitu mendengar perumpamaan yang disampaikan kakaknya, Intan pun tergerak untuk memeluk kakaknya dengan segenap hati penuh rasa sesal sekaligus terima kasih. "Kalau bukan karena ayah dan Mas Billy yang meraih tanganku, aku nggak tahu, apa masih sanggup menegakkan kepalaku, karena di saat yang bersamaan, ada orang yang selama ini aku perjuangkan telah menginjak-injak harga diriku," bisik Intan, kini benar-benar meluapkan segenap perasaan terpendamnya dengan menangis di pelukan hangat sang kakak. *** Danan hanya bisa menatap kalender di dinding, menghitung hari menuju sidang perceraian mereka. Setiap hari terasa seperti hukuman baginya, mengingatkan pada semua kesalahan yang telah ia perbuat. Ia berharap waktu bisa diputar kembali, tetapi ia tahu itu tidak mungkin. Danan harus menghadapi kenyataan bahwa ia telah kehilangan wanita terbaik dalam hidupnya—wanita yang tidak akan pernah kembali. Suasana di ruang rapat terasa begitu intens. Presentasi tim pemasaran berjalan lancar, dan di ujung meja, Intan berdiri dengan anggun, memberi penjelasan terakhir yang berhasil membuat semua hadirin mengangguk puas. Danan duduk di antara mereka, merasa aneh—sekaligus takjub. Intan yang sekarang bukan lagi perempuan manja yang selalu mengekorinya; ia adalah sosok yang begitu mandiri, profesional, dan penuh wibawa. "Bagus sekali, Bu Intan. Strategi ini akan kita jalankan mulai minggu depan," salah satu manajer senior menimpali. "Terima kasih, Pak," jawab Intan dengan senyum ramah. Sekilas, tatapannya melintas ke arah Danan. Namun, alih-alih mendapati mata yang sama seperti dulu—mata yang penuh cinta dan pengharapan—ia hanya menemukan kehampaan yang menakutkan. Seketika rapat selesai, karyawan mulai berhamburan keluar. Intan bergegas mengemasi berkas-berkasnya, tapi suara kecil yang datang dari beberapa pegawai di pintu ruang rapat membuatnya berhenti. "Bu Intan ini single ya, kok kayaknya nggak pernah cerita soal pacar atau calon suami," ucap salah satu staf perempuan dengan nada bercanda. "Ada yang mau dikenalin mungkin? Kasihan, cantik-cantik masih sendiri," timpal yang lain dengan tawa kecil. Danan yang baru saja hendak keluar ikut berhenti di ambang pintu. Jantungnya mencelos mendengar itu. Bagaimana Intan akan merespons? Apakah ia akan marah? Malu? Atau— Namun, dengan senyum yang lembut, Intan menjawab tanpa ragu. "Saya memang sendiri, Mbak, Mas. Kalau ada yang mau mengenalkan laki-laki baik, yang tulus dan bisa mencintai saya, saya dengan senang hati menerima. Doakan saja saya cepat dapat jodoh." Jawaban itu memancing gelak tawa kecil dari para karyawan, yang kemudian bubar dengan sendirinya. Namun, satu sosok masih berdiri di tempatnya—Danan. Rasanya ada sesuatu yang menghunjam dadanya begitu keras. Perasaan aneh yang ia belum pernah rasakan sebelumnya. Cemburu. Bibir Danan terkatup rapat. Mata hitamnya tajam menatap Intan yang masih sibuk merapikan berkasnya, seolah tak terjadi apa-apa. Hatinya berkecamuk, mendengar dengan telinga sendiri bagaimana perempuan itu ‘mencari jodoh’. Perempuan yang dulu, bahkan beberapa bulan lalu, masih begitu mendambakan cintanya. Sekarang? Seolah dirinya bukan siapa-siapa lagi. Siang itu, Danan menatap meja kerjanya dengan pandangan kosong. Wajah Intan—dengan senyum santun yang tadi ia lihat—terus menghantui pikirannya. Hatinya panas. Intan terlihat begitu baik-baik saja, seakan-akan ia tidak pernah berjuang selama dua belas tahun. Danan mendongak dengan gelisah, kakinya mengetuk-ngetuk lantai tanpa henti. Tidak tahan lagi, ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Jemarinya gemetar. Danan menulis pesan, "Ada waktu sebentar? Kita perlu bicara." Pesan terkirim. Danan menunggu, dan hanya dalam hitungan menit, balasan datang. Intan membalas, "Tentu, Pak Danan. Silakan temui saya di kafe lantai bawah setelah jam makan siang." Kata 'Pak Danan' itu menusuk hatinya seperti duri. Bahkan dalam pesan, Intan tak lagi memanggilnya “Mas” seperti dulu. Tiba-tiba, ia merasa lebih asing dari siapa pun di dunia ini. Kafe di lantai bawah tak terlalu ramai. Suara dentingan gelas dan obrolan sayup terdengar di antara musik instrumental. Intan sudah menunggu di sudut ruangan, penampilannya rapi dengan blazer krem yang membalut tubuh mungilnya. Danan menghampirinya dengan langkah yang ragu. "Terima kasih sudah mau bertemu," ucapnya pelan sembari menarik kursi. "Sama-sama, Pak Danan. Ada yang ingin dibicarakan?" jawab Intan formal, nadanya netral tanpa cela. Danan menatapnya dalam-dalam, mencari celah, mencari sesuatu—entah apa—yang masih mungkin bisa ia genggam. "Intan ... kamu serius soal tadi? Soal jodoh?" tanyanya tiba-tiba. Intan mengangkat alisnya ringan, tampak sedikit bingung. "Maksud Bapak apa?" Danan menghela napas panjang, mencoba mengatur emosinya. "Soal yang kamu bilang di depan teman-teman. Kamu benar-benar ingin mencari jodoh?" Intan menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, suaranya tenang. "Bukankah itu wajar, Pak? Saya berhak bahagia juga, 'kan? Saya sudah belajar banyak. Kali ini, saya hanya ingin laki-laki yang tulus menerima saya." Danan menggertakkan giginya. "Jadi selama ini ... kamu menganggap saya nggak tulus?" Intan tertawa kecil, getir. "Danan," ia memutuskan untuk tak lagi menggunakan sapaan formal, apalagi memanggilnya mas, "kamu tahu jawaban itu lebih dari siapa pun. Kamu lebih memilih Rena. Kamu lebih memilih kebohongan. Kamu bahkan pernah bilang ... mual melihat aku. Apa itu yang kamu sebut tulus?" Kata-kata itu menampar Danan keras. Ia tak bisa membantah. Dulu, semua keluar dari mulutnya sendiri, dan kini ia hanya bisa menanggung akibatnya. "Intan, dengar. Aku ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN