"Apa seindah itu drama yang kalian lakoni? Sudah bosan jadi umat Nabi Muhammad, makanya jalan perzinahan ini yang harus kalian ambil?" cerca Nurmah, tentu saja dengan suara bergetar karena menyimpan segudang kemarahan.
"Bu ...."
"Diam kamu!" sentak Nurmah, mencoba untuk menghentikan anaknya ikut campur di dalam perdebatannya dengan Rena.
"Apa kamu masih percaya pada kesetiaan laki-laki yang jelas-jelas sudah mengucapkan sumpah ijab qobul sampai-sampai para malaikat menangis dan arsy pun bergetar?"
Rena meneguk ludahnya yang terasa pahit di dalam tenggorokan. Kepercayaan tingginya saat datang ke rumah Danan nyatanya kini porak-poranda di hadapan perempuan yang telah melahirkan kekasih gelapnya itu.
Dia sangat malu, tetapi terlalu jauh untuk mundur dan kalah dalam peperangan yang dia ciptakan ini.
"Saya sudah mengenal Danan lebih dulu, Bu daripada Intan," ungkap Rena, mencoba untuk membela diri.
"Lebih dari dua belas tahun, seperti perjuangan Intan agar bisa masuk ke keluarga ini?" tukas Nurmah, melayangkan tatapan sengit pada Rena.
Rena gelagapan, memandang ke arah Danan agar pria itu mau membantunya mengatasi sang ibu. Namun, bukannya mengeluarkan kalimat yang diharapkan, pria itu malah menghela napas panjang.
"Pulanglah, Ren. Kamu malah makin memperkeruh situasiku dengan ibu. Lain kali, pikirkan dulu sebelum bertindak. Nggak aku sangka, kamu nggak lebih sabar daripada Intan."
"Kamu ngomong kayak gini sama aku, Mas? Setelah pengorbananku selama ini buat kamu?" Mata Rena membelalak saking kagetnya, disudutkan seperti itu di hadapan ibu calon mertuanya.
Rasanya tidak percaya, omongan Danan yang manis tentang masa depan mereka kelak, ternyata memang hanya bualan mulut semata.
"Sudah aku bilang. Cuma orang bodoh yang memercayai omongan manis laki-laki beristri. Jangan naif lah jadi perempuan. Dikiranya, kalau sudah merebut suami orang, terus artinya kamu lebih baik dari istri sahnya? Lebih hina itu yang benar," sengit Nurmah kesal.
Perempuan itu segera menarik tuas pada kursi rodanya lalu menjalankannya menuju ke kamar. Tangisannya kini terdengar begitu menyayat hati. Sampai-sampai Danan dibuat terduduk di kursi tanpa daya.
Rena sebenarnya bukan tipe perempuan jahat bila berurusan dengan orang tua. Mendengar kelakuannya membuat ibu dari kekasihnya menangis penuh kemarahan, dia pun akhirnya hanya bisa mematung tidak berdaya di ambang pintu utama.
"Pulanglah, Ren. Aku akan menemuimu kalau situasinya sudah tenang. Ibuku sangat terpukul dan merasa kecewa denganku. Aku nggak pernah menyangka kamu berani datang ke sini tanpa berpikir kalau ... kedatanganmu semakin membuat posisiku menjadi rumit."
"Kamu di sini yang nggak tegas, Mas. Aku nggak sudi buat mundur dan mengalah pada situasi ini. Mumpung semuanya udah terbuka, aku ingin kamu segera merealisasikan perceraianmu dengan Intan dan nikahin aku seperti janjimu. Aku nggak akan membiarkan kamu bebas dari tanggung jawabmu karena sudah meniduriku bertahun-tahun."
"Hei, kita melakukannya atas dasar suka sama suka!" Danan pun memberontak atas tuduhan Rena, bahwa dirinya memanfaatkan perempuan itu.
"Uangku pun nggak sedikit yang aku kirimkan untuk kebutuhan hidupmu. Jangan gila kamu, yak!"
"Uang itu nggak cukup untuk—"
"Mencukupi kebutuhan hidupmu bersama sopir mantan suamimu!" potong Danan, dan kalimat itu mampu membuat kedua mata Rena membelalak kaget.
***
"Kamu agak kurusan tuh," goda Billy sambil memeluk adik kesayangannya, Intan. Tidak lupa ia mengelus kepalanya penuh sayang.
Mereka saling melepaskan diri lalu duduk bersebelahan di kursi sofa. Intan menggamit lengan Billy, seperti seorang adik yang sangat merindukan abangnya setelah beberapa saat tidak bertemu.
Pria itu membiarkan sang adik bersandar padanya.
Entah bagaimanapun, meski sangat kesal dengan sifatnya yang keras kepala, Billy tidak bisa marah pada adik semata wayangnya ini. Dorongan rasa sayang itu pula yang membuatnya bergegas menyusul Intan, yang memilih untuk pulang ke rumah neneknya.
Cinta memang membutakan segalanya. Billy tahu, memberikan nasihat orang yang sedang dilanda jatuh cinta sama dengan memberi tahu bahwa daging dan lengkuas di dalam masakan rendang itu susah dibedakan, tanpa mencicipinya lebih dahulu.
"Aku akan tegak lagi, kalau aku masih dapat dukunganmu, Bang," sahut Intan, seraya memamerkan giginya yang putih rapi dengan senyuman lebar.
"Rumah kita selalu akan menjadi tempatmu pulang dan Bang Billy akan tetap jadi sandaran ternyaman untuk adek tersayang."
"Ah, aku jadi terharu nih?" Intan mengusap matanya yang mulai tampak berkaca-kaca.
Selama ini dia merasa malu bila harus mengakui, bahwa peringatan yang diberikan papah dan abangnya ini demi kebaikannya.
Hidupnya dulu hanya berpusat pada Danan dan tidak ada impian lain yang ingin diraih, selain bisa hidup bersama pria itu.
Rasanya seperti membuang banyak waktu. Namun, berkat dukungan dari ayah dan abangnya tidak pernah pudar, Intan yakin mampu menata hidupnya lagi lebih baik.
"Jadi, Danan menyelingkuhi kamu?"
"Nggak usah dibahas lah, Bang."
"Aku nggak mau memaksamu. Apapun keputusanmu, Abang bakal dukung. Termasuk kalau memang ingin bertahan, atau malah cerai dari dia."
"Abang serius, nggak maki-maki dia atau ... mengataiku bodoh atau gimana gitu?" Intan dibuat melongo dengan perkataan yang baru aja terucap dari mulut bijak sang kakak.
Sangat di luar prediksinya, Abangnya satu ini akan berubah sedewasa ini. Tapi, bila dilihat dari kepulangannya ke rumah lagi untuk merawat papahnya, Intan pun jadi yakin bahwa kakaknya memang setulus itu hatinya.
"Aku malah lebih tertarik dengan rencana apa yang akan kamu lakukan setelah ini. Setelah pernikahanmu hancur. Meskipun sebenarnya aku menyimpan kemarahanku untuk Danan juga."
"Entahlah. Kerja untuk membunuh waktuku mungkin."
"Lalu pernikahanmu bagaimana? Dua belas tahun untuk mengejar cinta, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk menghapusnya, bukan?"
"Bang Billy benar. Tapi, apa yang bisa diperbaiki, kalau cinta itu bertepuk sebelah tangan," ucap Intan mengakui betapa bucinnya dia pada sosok sahabat abangnya itu.
"Akhirnya kamu paham juga. Cinta itu butuh kesetaraan, Intan. Bukan cuma tentang rasa yang setara, tapi pengorbanannya juga. Aku salut karena kamu mampu berjuang sendirian selama dua belas tahun. Kalau aku sih, kemungkinan besar nggak kuat."
Billy tertawa kecil setelah mengatakan itu, tentu saja dia segera memberikan usapan gemas pada wajah adiknya yang mulai cemberut padanya.
Rasanya seperti baru kemarin dia ikut menimang-nimang bayi mungil bernama lengkap Intan Savanah ini, ternyata waktu terlalu cepat dan di depannya anak ini sudah tumbuh dewasa.
"Kamu harus buat perhitungan tersendiri untuk membalas orang-orang yang mengkhianatimu, Intan," ucap Billy pada akhirnya, setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Caranya?" Intan pun berjengit, menegakkan tubuhnya saking ingin melihat keaslian ekspresi abangnya.
"Jadilah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Selama ini Danan selalu meremehkan kamu, tidak menghargaimu sebagai orang yang tulus ada untuknya. Aku harap kamu nggak menyalahkan diri atas datangnya perempuan baru di dalam hidup Danan."
"Iya, Bang. Aku sempat berpikir kalau memang aku nggak pernah menarik di mata Danan." Raut wajah Intan yang tadinya dipaksakan untuk ceria pun mendadak berubah muram.
"Kalau memang Danan ingin melepaskanmu, biarkan dia yang berusaha lepas. Biarkan dia yang berjuang untuk memulangkanmu ke rumah ini lagi. Fokuslah pada hidupmu, nggak usah memikirkan status kalian lagi," nasihat Billy, kali ini langsung diberikan anggukan kepala Intan.
"Kalau dia mau bercerai dan menikahi perempuan simpanannya itu, biarkan dia yang mengajukan perceraian. Jangan menggunakan sepeserpun uangmu untuk memudahkan jalan mereka hidup bersama."
"Iya, Bang." Air mata Intan mulai menggenangi pipinya. Meskipun terasa sangat menyesakkan d**a, tetapi apa yang dikatakan abangnya merupakan pilihan terbaik untuknya.
"Jangan memfasilitasi hubungan mereka dengan kemudahan. Biarkan Danan berjuang menyelesaikannya. Selebihnya, aku pasrahkan padamu. Aku tahu, kamu sudah cukup dewasa untuk menggunakan segala pengalamanmu selama ini agar nggak sampai jatuh ke lubang yang sama."
Billy merangkul pundak Intan dan memberikan tepukan semangat untuk sang adik kecilnya. Dia hanya bisa mendoakan agar Intan bisa kuat menghadapi cobaan hidupnya dan bisa lepas dengan perasaan legowo.
"Jangan memuja manusia melebihi Tuhanmu," bisiknya ringan.
"Jangan mendewakan perasaan cintamu, seakan-akan akan habis untuk satu manusia saja. Kalau Danan bisa membagi-baginya dengan perempuan lain, kenapa kamu nggak bisa?"
"Maksudnya?" Intan langsung mendongak, menatap senyuman yang hadir setelah mata mereka saling beradu pandang.
"Cari laki-laki lain yang pantas jadi tempat melabuhkan cintamu, Intan. Dunia ini luas, laki-laki nggak cuma Danan saja."