Bab 16. Tembok di Sekeliling Hati

1122 Kata
Senja mulai turun, menyapu langit dengan semburat oranye yang memudar perlahan. Intan duduk di ruang kantornya yang sunyi, memandang layar laptop tanpa benar-benar membaca apa yang terpampang di sana. Pikirannya melayang, seakan terbawa oleh alunan lembut musik klasik yang berputar dari speaker kecil di meja. Hari ini adalah hari yang melelahkan, bukan karena pekerjaan, tetapi karena pertemuan singkatnya dengan Hamka Wibi di ruang rapat. Hamka Wibi—nama itu mendadak muncul dalam hidupnya seperti badai kecil yang tak terduga. Pria itu bukan hanya sekadar investor yang dipilih ayahnya untuk perusahaan, tetapi seseorang yang memancarkan kharisma begitu kuat hingga mengusik keseimbangan batin Intan. Dengan tinggi semampai, wajah yang matang, dan sikap sopan namun percaya diri, Hamka bukan tipe pria yang bisa diabaikan begitu saja. Namun, bagi Intan, tak ada lelaki yang bisa ia biarkan mendekati tembok kokoh yang telah ia bangun di sekeliling hatinya. Ketukan pintu memecah lamunannya. “Masuk,” ucap Intan singkat, matanya kembali menatap layar. Hamka melangkah masuk dengan langkah tenang dan senyum tipis di wajahnya. Intan mendongak, agak terkejut, tetapi buru-buru menyembunyikan reaksinya. “Maaf jika mengganggu waktunya, Bu Intan,” ujar Hamka ramah. “Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat Anda hari ini. Saya sangat mengapresiasi bagaimana Anda memimpin rapat tadi.” Intan mengangguk tipis. “Sama-sama, Pak Hamka. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya.” Nada bicaranya datar, profesional, tanpa cela. Hamka duduk di kursi tamu tanpa diundang, sikapnya santai, tetapi penuh perhatian. “Jangan terlalu formal begitu, Bu Intan. Panggil saya Hamka saja. Rasanya lebih enak di telinga, bukan?” Intan terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Baik, Pak Hamka.” Hamka tertawa kecil. “Tetap ‘Pak’, ya?” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia kemudian mengamati Intan dengan tatapan yang lebih dalam, seolah-olah mencoba menembus lapisan dingin yang mengelilingi perempuan itu. “Anda tahu, Anda mengingatkan saya pada seseorang yang pernah saya kenal. Kuat, tangguh, tetapi menyembunyikan sesuatu di balik sikapnya yang tegas.” Intan mengerutkan kening, enggan menanggapi lebih jauh. “Saya rasa kita sebaiknya bicara tentang pekerjaan aja, Hamka. Kalau nggak ada hal lain, saya masih banyak tugas yang harus diselesaikan.” Hamka tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, seolah bisa membaca ketegangan di mata Intan. “Baiklah, saya nggak akan memaksa. Tapi saya harap kita bisa bicara lain kali, di luar pekerjaan. Hanya sekadar teman yang berbincang, bagaimana?” Intan tak menjawab. Ia hanya menatap Hamka dengan ekspresi netral, meski di dalam hatinya terasa ada sesuatu yang bergetar samar. Hamka berdiri, merapikan jasnya, dan pamit pergi. Saat pintu tertutup, Intan bersandar di kursinya, napasnya tertahan. Pria itu aneh, pikirnya. Terlalu ramah, terlalu hangat, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Keakraban seperti itu selalu membawa rasa takut, seakan akan ada luka baru yang mengintainya di balik setiap senyum. --- Beberapa minggu berlalu. Interaksi antara Intan dan Hamka semakin sering terjadi, meskipun semuanya masih dalam ranah profesional. Namun, Hamka selalu punya cara untuk menyisipkan perhatian kecil yang membuat hati Intan bergejolak. Kadang, pria itu membawakan kopi dengan ucapan sederhana, “Kebetulan aku mampir beli, sekalian buat kamu.” Kadang, Hamka hanya mengomentari hal kecil tentang gaya kepemimpinan Intan, selalu dengan nada yang tulus. Bagi orang lain, ini mungkin hanyalah percakapan biasa. Tetapi bagi Intan, ini seperti langkah-langkah kecil yang mencoba merobohkan tembok kokoh yang ia bangun. Sesuatu yang membuatnya cemas, sekaligus marah pada dirinya sendiri. Sore itu, ketika Intan hendak pulang, ia mendapati Hamka berdiri di parkiran, bersandar pada mobilnya. “Hamka? Ada apa?” tanyanya dengan nada heran, mencoba untuk menjaga jarak. Hamka berbalik, senyumnya tetap hadir. “Kebetulan aku juga mau pulang. Apa aku boleh menemani kamu makan malam?” Intan mengernyit. “Sebenarnya aku nggak terbiasa makan malam bersama rekan kerja di luar urusan kantor.” “Aku tahu,” jawab Hamka ringan. “Tapi, bagaimana jika kita bertemu sebagai dua orang yang kebetulan lapar di waktu yang sama?” “Tapi—” “Aku janji nggak akan membicarakan masalah pribadi, Intan,” potong Hamka dengan lembut. “Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kamu udah membuat proyek ini berjalan baik. Sama sekali nggak ada maksud lain.” Intan diam lama, mencoba menilai maksud pria itu. Akhirnya, ia mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi hanya satu jam, nggak apa-apa, 'kan?” "Itu udah lebih dari cukup." Hamka tersenyum puas, seolah satu jam itu adalah pencapaian besar baginya. Restoran kecil dengan lampu temaram menjadi saksi bisu pertemuan mereka malam itu. Intan duduk di seberang Hamka, jaraknya sengaja ia jaga. Namun, pria itu tampak santai, seperti tidak terganggu sama sekali. “Kamu kelihatan lelah,” ujar Hamka setelah beberapa menit hening. Intan mendongak. “Nggak sih, biasa. Pekerjaan memang banyak.” “Bukan hanya itu,” Hamka melanjutkan, tatapannya lurus menembus mata Intan. “Kamu seperti orang yang sudah terlalu lama berjuang sendirian. Seakan kamu sudah lupa bagaimana caranya berbagi beban.” Intan tercekat. Kalimat itu menusuk jauh ke dalam dirinya, menembus pertahanan yang ia bangun begitu rapat. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali. “Aku nggak tahu maksud kamu, Hamka. Aku baik-baik aja. Selalu baik-baik aja,” jawabnya kaku. Hamka tersenyum samar, seakan tak percaya dengan kebohongan itu. “Kalau kamu merasa begitu, aku harap suatu hari kamu bisa benar-benar percaya dengan kata-katamu sendiri.” Percakapan malam itu berakhir dengan keheningan panjang di antara mereka. Intan merasa lelah, tetapi bukan karena pekerjaan—melainkan karena Hamka yang seakan memiliki kemampuan membaca sisi terdalam dirinya, sesuatu yang bahkan ia hindari untuk dilihat oleh siapa pun. Saat Hamka mengantarnya pulang, pria itu berkata pelan sebelum Intan membuka pintu mobil, “Aku tahu kamu membangun tembok di sekeliling hatimu, Intan. Tapi aku bukan orang yang suka merobohkan tembok itu secara paksa. Aku akan menunggu di sini, di luar, sampai kamu sendiri yang memutuskan untuk membuka pintu itu.” Intan menatap Hamka lama, hatinya terasa semakin kacau. Ia membalas dengan suara bergetar, nyaris seperti bisikan. “Jangan menunggu, Hamka. Tembok ini sudah terlalu kokoh untuk diruntuhkan.” Hamka hanya tersenyum lembut. “Kita lihat aja nanti.” Saat mobil Hamka melaju pergi, Intan berdiri di depan pintu rumahnya, perasaannya campur aduk. Malam itu, ia duduk termenung, memandang keluar jendela ke arah kota yang gemerlap. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada seseorang yang berani mendekatinya tanpa menghakimi masa lalunya, seseorang yang sabar menunggu tanpa memaksa. Namun, bisakah ia benar-benar membiarkan orang itu masuk ke dalam hidupnya? Air mata turun perlahan di pipinya. Intan tahu, hatinya belum siap. Tidak sekarang. Tidak setelah apa yang ia lalui. “Maafkan aku, Hamka,” bisiknya pada keheningan malam. “Aku belum bisa. Luka yang aku terima dari Danan belum sepenuhnya mengering. Aku nggak mau, kamu menjadi pelarianku, sama seperti yang Danan lakukan padaku dulu, saat dia melihat Rena menikahi pria lain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN