10. Alasan Pak Wolf Menikah Kontrak Dengan Saya Apa?

1001 Kata
"Ya, sangat. Saya sangat mencintai Yuri dan itulah alasan saya melamarnya. Oleh karena itu, restui saya menjadi suami Yuri," sahut Wolf mantap. Sejak dulu, Wolf tidak pernah main-main dengan cinta. Satu kali pria itu jatuh cinta, maka ia akan selalu mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Dan untuk Yuriko, seharusnya ia merasa bersyukur karena Wolf pria original. Belum pernah tersentuh oleh wanita mana pun karena ia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. "Ya, ya, ya, nenek merestuimu. Semoga rencana yang kau susun untuk merebut hati Yuri berhasil. Hanya satu pesan nenek, jangan pernah sakiti hati Yuri dan yang paling penting jangan pernah menduakannya karena hal itu yang paling Yuri benci," ujar Nenek Yuana mengingatkan. "Baik, Nek. Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hati Yuri dan tidak akan pernah menduakannya. Saya akan selalu mencintai Yuri sampai ajak menjemput," balas Wolf berjanji. Pembicaraan antara nenek dan calon cucu mantu berakhir. Yuriko kembali masuk ke dalam dan mempertanyakan alasan sang nenek menyembunyikan penyakitnya. Namun ternyata, Nenek Yuana menyembunyikan penyakitnya selama ini hanya tidak ingin membuat Yuriko khawatir. "Bagaimana bisa Yuri tidak khawatir, Nek? Di dunia ini hanya Nenek yang Yuri miliki." Yuriko menangis sambil memeluk neneknya. "Tapi sekarang kau punya Wolf. Nenek yakin, Wolf akan menjagamu dan akan selalu mencintaimu. Jadi meskipun nenek pergi, kau tidak akan sendirian," sanggah Nenek Yuana menatap Wolf sendu. Meski ia harus pergi sekarang, ia tidak akan pernah menyesalinya. Karena akhirnya, ada sosok pria yang bisa menggantikannya menjaga Yuriko. Selama ini ia tidak bisa tenang karena takut akan pergi meninggalkan cucunya sebelum menikah. Itulah alasan mengapa selama ini Nenek Yuana meminta Yuriko untuk segera menikah. "Nenek! Sampai kapan pun, Nenek akan bersama Yuri," terkejut Yuriko mendengar penuturan neneknya. Ucapan Nenek Yuana seolah seperti pesan terakhir sebelum pergi operasi. Hal itu yang membuat Yuriko begitu terkejut dan merasa takut detik itu juga. "Iya-iya. Nenek akan hidup sampai kau memiliki anak dan cucu," ujar Nenek Yuana menenangkan. "Memang sudah seharusnya begitu. Pokoknya Nenek harus melihat anak cucu Yuri nanti," sanggah Yuriko menggebu. "Ya sudah. Tiba waktunya nenek dibawa ke ruang operasi. Nenek ingin kau pergi ke kantor catatan sipil dan menikah dengan Wolf hari ini juga. Nenek ingin melihat kartu nikah kalian setelah keluar dari ruang operasi. Apa kau mengerti?" Yuriko cukup terkejut mendengar ucapan sang nenek. Kenapa ia merasa neneknya dan Wolf sangat mirip? Mereka berdua terlihat tidak sabar untuk segera mendaftarkan pernikahannya dengan Wolf. Sedangkan Wolf, pria itu tersenyum senang karena Nenek Yuana mengerti sekali akan keinginannya. "Baiklah Yuri mengerti, tapi Nenek harus keluar dari ruang operasi dalam keadaan baik-baik saja," pinta Yuriko. "Iya, nenek janji," balas Nenek Yuana. Akhirnya, Nenek Yuana dipindahkan ke ruang operasi dengan diantar oleh Yuriko dan Wolf. Sebelum benar-benar masuk ke dalam ruang operasi, Nenek Yuana kembali mengingatkan agar setelah keluar dari ruang operasi nanti ia sudah bisa melihat kartu nikah Yuriko dengan Wolf. "Sebenarnya, apa yang Anda bicarakan dengan Nenek saya?" tanya Yuriko curiga. "Aku menceritakan segalanya tentang nikah kontrak pada nenekmu," sahut Wolf malas. "Apa?!" terkejut Yuriko, tetapi mulutnya lekas dibungkam oleh Wolf. "Ini rumah sakit dan bukan lapangan," ujar Wolf memprotesnya. Yuriko berusaha melepas tangan Wolf dari mulutnya. Menghempaskan tangan pria itu dan menatapnya sinis. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap bos sekaligus calon suami kontraknya itu yang sok akrab dengannya. "Tidak mungkin Pak Wolf bilang seperti itu, bukan?" tanya Yuriko tidak percaya. Kalau iya, mana mungkin neneknya bersikap biasa-biasa saja alih-alih marah. "Lalu menurutmu, apa yang aku katakan?" tanya Wolf sambil melipat kedua tangannya di depan. "Mana saya tahu. Memangnya Bapak pikir saya ini cenayang yang bisa tahu pembicaraan orang lain meski dari kejauhan?" balas Yuriko ketus. "Ya sudah tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik sekarang, kita persiapkan persyaratan untuk kita menikah dan setelah itu kita langsung pergi ke kantor catatan sipil," ujar Wolf terlihat sangat terburu-buru dan tidak sabaran. Mau tidak mau, Yuriko mengiyakan ucapan Wolf. Tidak mungkin bukan kalau ia menolak, setelah biaya operasi dan tunggakan dilunasi oleh pria itu? Apalagi, sang nenek sudah mengetahui bahwa ia akan menikah dengan Wolf. Jadi meskipun ia tidak suka pria tampan, ia tetap harus menikah dengan Wolf. Yah, meskipun hanya nikah kontrak, tetapi tetap saja ia harus waspada. Takutnya seiring berjalannya waktu ia jatuh hati pada pria itu dan menyesal di kemudian hari. "Baiklah," balas Yuriko lesu. Lagi-lagi, Wolf meraih tangan Yuriko dan menggenggamnya. Yuriko hanya bisa menatap tangannya tanpa berencana untuk melepaskan diri. Lagi pula, percuma juga karena ia yakin Wolf tidak akan melepaskan tangannya meski ia memohon. "Rumahmu di dekat sini bukan?" tanya Wolf basa-basi. Padahal ia sudah tahu dan sudah pernah mengantar Yuri ke rumah secara sembunyi-sembunyi. "Iya," sahut Yuriko singkat. Jujur, ia masih tidak rela meski hanya nikah kontrak. "Oke. Sekarang kita ambil syarat milikmu lebih dulu. Setelah itu, kita ke apartemenku untuk mengambil syarat milikku," kata Wolf bersemangat. "Baiklah," balas Yuriko singkat sambil menghela nafas panjang. Calon sepasang suami istri kontrak itu berjalan menyusuri koridor ruang operasi. Mereka keluar area rumah sakit dan menuju ke rumah Yuriko. Kemudian, mereka langsung pergi ke apartemen Wolf. Setelah itu, mereka pergi ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Sepanjang perjalanan, Yuriko hanya diam. Wolf ingin sekali membuka suara sekedar untuk memecah suasana canggung. Akan tetapi, ia tidak tahu harus berkata apa. Terlebih sejak tadi, Yuriko hanya menjawab pertanyaannya dengan sangat singkat dan tidak pernah bertanya balik. Jadi, hal itu semakin mempersulit Wolf yang bukan tipe pria banyak bicara. "Pak Wolf?" panggil Yuriko. Entah sudah berapa lama wanita itu baru mau membuka suara. "Ada apa?" tanya Wolf menoleh sekilas. "Saya boleh tanya sesuatu tidak, Pak?" izin Yuriko sambil menatap Wolf sejenak. Lalu, ia kembali menatap lurus ke depan. "Boleh. Memangnya kau mau tanya apa? Kenapa tidak langsung bertanya saja?" tanya Wolf sambil mengerutkan keningnya. "Sebenarnya, alasan Pak Wolf ingin menikah kontrak dengan saya apa? Kenapa tidak dengan wanita lain saja yang lebih cantik daripada saya yang berwajah pas-pasan?" Pertanyaan seperti itu sudah Yuriko siapkan sejak di perusahaan. Ia begitu penasaran dengan alasan Wolf mengajaknya menikah kontrak sementara banyak wanita cantik di luaran sana yang tergila-gila padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN