Chapter 33 (Deon) ●●● Lelaki berkemeja hitam yang digulung sesiku dengan celana panjang hitamnya dan sepatu hitam mengkilapnya itu duduk di atas kursi sambil menopang satu kakinya. Tangannya memegang gelas berisi teh hangat yang sangat dia sukai sejak dulu, teh aroma khas ibunya yang sangat dia rindukan. Deon sering melakukan hal ini, menghirup teh aroma khas ibunya untuk menghilangkan kerinduannya kepada sosok yang dia hormati itu, karena baginya dengan melakukan ini Deon merasakan ada ketenangan di dalam dirinya yang sedang memberontak. Wajah Deon terlewat santai, seperti keahliannya yang sudah melekat dalam dirinya. Deon sangat baik dalam mengendalikan emosinya. Kemudian pikiran Deon kembali kepada malam tadi saat dia berdiam di dalam kamar gadis itu, tidak seharusnya Deon berkata

