Seperti dipermainkan ketika aku bertemu, berpisah kemudian seolah bersatu dan akhirnya berpisah Kembali
POV Dana
Sesampainya aku di rumah sakit, aku menuju ke sebuah ruangan yang merawat Anti kekasihku, kulihat Anti ditemani oleh keluarga besarnya. Aku berniat menyampaikan semua keresahan hatiku tentang perasaanku dan Antara kemudian membantu Antara menyatakan perasaannya pada Anti. Itu hanya keinginan dalam hati kecilku.
“Selamat sore Om, tante” Aku memulai percakapan itu ketika aku membuka pintu ruang rawat tersebut. Ayah Anti segera mempersilahkan aku untuk masuk dan kemudian duduk mendekati Anti. Terlihat Ayah dan Ibuku yang melupakan keluarga Dirgantara itu juga ada di sana, semakin khawatir akan semua ini karena aku khawatir mengapa keluarga sudah berkumpul disini.
“Apa yang terjadi dengan Anti Om” aku memberanikan diri bertanya terlebih dahulu.
“Anti sekarang baik- baik saja Dan, tapi tidak tau esok” sambil melirik ke arah ayahku yang juga melihat ke arah ayah Anti.
“Maksudnya apa Om?” Melihat gerak gerik keduanya aku menjadi khawatir, walaupun aku memang tidak mencintai Anti namun aku juga tidak tega orang yang sudah menjadi pacarnya hampir 3 tahun ini menderita lagi.
Fabian Dirgantara, itulah nama ayahku yang begitu tampan mempesona kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang masih terlihat terkejut dengan kata-kata mereka.
“Dana anakku, Ayah sudah pernah mengatakan bahwa Anti adalah anak sahabat ayah dan ibu, sekarang dia sakit. Setelah kalian lulus, ayah ingin kalian segera bertunangan” ayahku memulai pembicaraan ini dan aku sangat terkejut.
“Apa?” kepalaku mendadak pusing, kemudian aku memejamkan mataku agar mampu menjaga keseimbangan badan, nafasku pun mulai sesak. ‘bagaimana mungkin aku akan menyampaikan perasaan hatiku ini tentang Dea kepada Anti dan keluargaku sekarang’ pikirku lagi. Aku menarik nafas dalam- dalam dan kembali mendengarkan kata-kata mereka.
“Kamu anak yang baik Dan, selalu menurut kepada orang tua. Yakinlah kau pasti akan bahagia” Ibuku pun melanjutkannya.
“Iya ayah, Ibu. Terserah kalian saja” Sambil melirik ke arah Anti, ia tersenyum padaku membuat ku semakin bingung.
‘Apakah harus melepaskan Dea lagi?’ aku mulai gelisah dan bergumam sendiri dalam hati. Aku mengelus da-daku seolah hatiku sendiri ingin mengatakan untuk bersabar dan bersabar.
*
POV Dea
‘De, maafin aku. Aku tidak bisa berjuang untuk cinta kita, Anti butuh aku. Sekali lagi maaf’ Pesan itu aku terima dari Dana. Semalam saja aku mendapat harapan yang tinggi dari rasa kami, namun waktu itu terlalu cepat berlalu hingga membuat harapan itu hancur berkeping-keping dengan segera.
Aku dudukkan bokongku di ranjang, aku melamun hingga kemudian tiba- tiba Handphone berbunyi berkali-kali. Pendengaranku mulai terganggu karena suara telfon itu. Aku menyambar benda pipihku itu dan segera meletakkan di samping telingaku.
“Halo sayangnya kakak, apa kabar? Telfon yang aku terima panggilannya bersuara. Membuat lamunanku menjadi buyar, walau orang di seberang tidak bisa melihat gestur tubuhku namun aku refleks menggeleng dan dengan santai menjawabnya.
“Baik aja kak”
“Oh ya, kapan pelulusannya sayang?” Alex menambahkan
“2 hari lagi kak, Oh ya doakan ya” pintaku
“pastilah sayang, Dea lanjut studi disini ya barengan kakak, supaya kakak nggak kesepian lagi”
“nggak ah kak, ntar aku nggak boleh modusin cowok ganteng, ha ha haaa…”
“ha haaa” terdengar suara kak Alex tertawa
“Emang nya kamu dah move on dari Dana? Trus dah bisa mencintai kakak?” sambungnya lagi dan itu sukses membuatku diam dan mengingat kejadian kemarin. Bagaimana mungkin kebahagian itu cepat sekali datang dan pergi.
“Maaf De, ada kakak kok yang selalu mencintai Dea”
“Makasih kak”
“Bye sayang, kakak lanjut kegiatan kakak dulu”
Sebagai pacarnya harusnya aku tau Alex melanjutkan studi apa, atau di Universitas apa. Aku mah nggak peduli, bagiku belajar dengan giat untuk diriku sendiri adalah tujuanku. Kalau jodoh dengan Alex akan aku terima sebagai takdirku. Namun selagi masih bisa aku berusaha, aku harus mengejar cintaku untuk Bahagia.
Aku tau bahwa Alex saat ini di Makasar sedang mengikuti Pendidikan Penerimaan Akpol yang setelah pengumuman Alex dinyatakan 10 besar siswa terbaik dan membuatnya sibuk dalam pendidikannya sehingga aku menjadi sedikit terabaikan dan kesepian. Ternyata perhatian demi perhatian yang diberikan Alex padaku sedikit membuatku mampu merasa nyaman, namun sekarang aku pun kembali merasa kesepian.
Setelah ujian nasional telah berlalu kini tibalah pengumuman tiba, aku kembali menjadi yang terbaik dalam nilai Ujian Nasional. Kulihat Dana tersenyum dan turut bahagia dari kejauhan. Anti pun terlihat seperti sedang merasa cemburu dari pandangan matanya yang melirik ke arah Dana dan kemudian ke arahku.
Perayaan keberhasilan pelulusan ini kami rayakan di sebuah tempat wisata bersama teman- teman kami. Aku ditemani sahabat- sahabat terbaikku, Moning Suci dan Siti serta sahabat di kelasku. Dana Bersama Anti dan juga teman sekelasnya. Sejak pengumuman kelulusan pagi hari, kami sudah mendatangi 3 tempat wisata untuk sekedar mengabadikan moment- moment terakhir kami bersama teman – teman se angkatan kami.
Di sebuah pantai aku duduk memandangi bibir pantai yang bersih dan air yang tenang. Bibir pantai yang panjang itu seakan mengingatkan aku akan panjangnya perjalanan cinta suci aku dan Dana yang indah namun tak berakhir bahagia, cukup menjadi rahasia hati kami. Rahasia hatiku dan Dana yang tidak bisa kami ungkap ke keluarga masing- masing karena tingginya tembok pemisah di antara mereka, restu orang tua.
‘Haa hhh’ desahku panjang.
“Ayo foto De” Moning mengajakku selfie di ikuti oleh Suci dan sahabat- sahabat yang lain. Dalam keramaian itu tampak Dana dan Anti juga sedang berfoto bersama, mata kami saling bertemu dan aku langsung membuang pandangan itu ke tempat yang lain. Mendesah karena kecewa atau sedih, entah apapun itu namanya.
Dalam kebahagiaan itu ada kesedihan yang aku rasa, semua cerita putih abu- abuku benar – benar kelabu dan akan berakhir abu- abu pula.
“Dea, itu ada Dana kesini” Suci mendekatiku. Aku langsung melihat ke arah mana Dana datang dan benar saja, Dana datang sendirian dengan sedikit berlari menuju kearahku.
“Selamat ya De, prestasinya dan kelulusannya” dia mengulurkan tangannya padaku.
“Untuk mu juga Dan” jawabku dan mencoba menenangkan hatiku yang tiba-tiba sesak karena bertemu dengannya.
“Ayo foto bareng” Dana meminta Moning mengambil gambar kami dan aku menarik Suci dan Siti ke samping ku.
“Temani aku foto” aku bermohon. Mereka tertawa ngakak sambil mengejekku.
“Kangen, rindu atau apalah katamu. Sekarang saatnya berdua, malah ngajakin aku sih” Suci mengejekku. Aku menahan tangannya untuk menemani aku berfoto dengan Dana.
Sekali saja gambar di ambil, namun kemudian Dana berbisik pada Suci dan Siti.
“Aku pengen berdua aja fotonya dengan Dea, boleh ya” mohon Dana pada sahabat- sahabatku.
“Kenapa jadi begini Dan? Kenapa setelah semuanya kamu begini?”
“Maaf, please boleh ya”
Aku menatap Dana lirih, dia tersenyum dan menarikku hingga memelukku tipis. Tangan kanannya melingkar dipinggang dan tangan kirinya mengelus rambutku yang panjang dipinggang. Memang dia sangat senang dengan rambutku yang panjang ini hingga pernah bermohon selagi cinta itu ada dihatiku, maka harus membiarkan rambut ku ini tetap sepanjang pinggang. Merawatnya tetap indah dan tumbuh seperti cinta yang harus di pelihara.
“satu, dua dan tiga” Moning mengintruksikannya dan dibantu teman yang lain untuk menjadi pengarah gaya dan sesi foto kami ini.
“Cekrek…. “
“Sekali lagi” Dana mengubah tangannya sehingga kepala kami bersampingan.
“Cekrek…”
“Cukup ah.. capek” Moning menyudahinya.
“Terimakasih” bisik Dana di telingaku dan aku mengangguk kemudian memilih kembali bersama sahabat- sahabatku. Berada lama- lama didekat Dana rasanya jantungku tidak akan sanggup dan juga hatiku tidak mampu menguasai diri.
Anti mendekati Dana dan mereka kembali berpegangan tangan berlalu dari hadapan kami.
‘Oh Tuhan, harusnya aku tidak mau melakukan adegan berfoto itu, terlalu menyakitkan’ pikiranku berkelana lagi. Sahabatku mengalihkan kekacauan pikiranku dan menarikku ke bibir pantai untuk menikmati indahnya pemandangan pantai itu. Kami bermain bersama dan tertawa bersama, berusaha melupakan kejadian tadi dan bersiap bahwa kedepan mungkin kami akan benar- benar berpisah karena pelulusan ini telah tiba.
Dea’s home..
“Ayah ibu, aku nggak mau lanjut kuliah ya” kataku pada ayah dan ibu.
“kenapa nak?” Mereka bingung
“Dea mau dirumah saja dengan Ayah dan Ibu, nolongin ibu dan ayah”
“Nggak De” Ibuku mengernyitkan dahi dan berbicara dengan nada yang lebih keras.
“Anak cewek nggak boleh nggak kuliah, kamu tau nak perempuan itu sebelum nikah harus punya modal yang bisa menjadi bekalnya ke rumah mertua. Pokoknya ibu dan ayah mau kamu kuliah, titik” tegasnya ayahku.,
“aku nggak mau kuliah di Makasar yah, Aku ke Gorontalo saja”
“Kenapa?” kali ini ibu terlihat bingung
“Teman- temanku sekelas ada yang kuliah di sana bu”
“Trus bagaimana dengan rencana kamu kuliah di Makasar?, bukannya kamu lulus jurusan keperawatan disana? dan kamu bisa dijaga sama nak Alex disana” Ayah menyambung lagi dengan penekanan suaranya yang lebih lembut.
“Boleh ya yah, Dea kuliah dulu. Lagian bukannya Dea nggak boleh dekat- dekat sama kak Alex, kok sekarang tiba- tiba kayak mau nyerahin sama kak Alex sih?” aku sedikit frustasi dengan komentar-komentar ayah dan ibuku.
Ayah menarik nafasnya dalam- dalam dan kembali mengelus rambutku lembut.
“Dea, Alex sekarang sementara mengikuti pendidikan Polisi, makanya dia sibuk. Dia berniat segera melamar kamu karena dia merasa sudah memiliki pekerjaan tetap. Jadi sebaiknya sekalian dia ngejagain kamu disana” Ayah panjang lebar menjelaskannya padaku.
“Nggak ah yah, boleh dong aku kuliah dengan nyaman. Seru-seruan dengan temen” lirikku sama Ayah dan Ibu sambil memohon sedikit.
“Jadi fix nih ke Gorontalo?” tanya ayah.
“Horee… berarti boleh nih” Tawaku kali ini renyah sekali. Mereka tertawa juga melihat tingkahku.
Sebenarnya aku memiliki cita- cita menjadi dokter atau perawat, namun karena mengingat kak Alex ada di Makasar, aku sekali kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan menjadi Guru dikemudian hari. Sepertinya ini lebih menyenangkan, berkeluh kesah dengan anak - anak sekolah dan berbagi cerita seperti Ketika aku masih sekolah. Namun sepertinya aku harus berpindah haluan. Aku lulus di jurusan Akuntansi.
Aku meninggalkan cit-cita yang sejak kecil aku harapkan. Bukannya takut dengan Alex karena dia baik denganku, tapi aku hanya ingin bebas dari yang namanya cinta, perasaan dan ikatan. Aku akan memulai hidupku yang baru, walaupun hubunganku dengan Alex masih berpacaran tapi setidaknya dengan LDR aku nggak akan terbebani.
Perpisahan itu tiba, Aku melanjutkan studiku dan yang aku dengar terakhir kali dari sabahatku Dana berangkat ke Palu untuk kuliah dan mengambil course. Itupun tidak secara pasti karena Dana nggak pernah mau bercerita padaku. Kami benar-benar kehilangan kabar dan benar- benar berpisah.
Bersambung...