Onggokan Sofa

2018 Kata
Chapter Nine Ba’da magrib, pengajian itu diadakan dengan jamaah para ibu-ibu, kawan-kawan Bunda. Semua berjalan dengan khidmat dan lancar dengan dibimbing oleh seorang pemuka agama, Bu Ustadzah Nurul yang rupanya sangat dekat dengan Bunda. Saat acara selesai, semua orang membawa pulang nasi kotak lengkap dengan buah dan minuman gelas kemasan. Bunda merebahkan diri di ruang depan setelah membawa bantal dari dalam kamar, Ayah masih duduk menonton acara televisi, sofa dan meja belum dimasukan kembali karena Ayah tidak bisa sendiri. “Yah, sofa nanti kehujanan tuh! Mendung!” “Waduh, Bund! Ayah enggak kuat kalau angkat sendirian, sama Bunda yuk!” “Bunda baru saja berbaring ini, Yah! Capek banget ini loh!” “Dengan Zanna saja, Yah!” “Eh, jangan! Zanna udah enggak boleh angkat berat-berat!” larang Bunda. “Yah,” sungutku. “Eh, Zanna tolong antar bingkisan itu aja!” “Bingkisan apa, Bunda?” “Itu, ada di atas meja televisi!” Bunda menujuk ke sebuah kresek berwarna merah. “Oh, untuk siapa Bund?” “Untuk Ibunya Furqan! Beliau tadi tidak hadir mungkin kurang enak badan!” “Deg!” jatungku jadi tidak karuan mengingat respon tak suka dari Ibu Mas Furqan tadi siang. “Zanna? Tolong antar ya? Bunda capek sekali, pinggang bunda mau copot rasanya!” “Ah Bunda ini! Pinggang copot itu bagaimana? Nanti susah mau dipasang kembali!” celetuk Ayah. “Ayah mending pijitin Bunda deh daripada ngelantur begitu!” “Zanna, tadi Bunda suruh apa?” Ayah menoleh kepadaku karena aku sejak tadi hanya diam. “Oh, iya Ayah! Kalau gitu Zanna antar itu dulu ya!” Ayah mengangguk, Bunda nampak memejamkan matanya. Ingin rasanya aku tolak titah Bunda. Kan bisa Bunda saja yang antar ini ke rumah Mas Furqan? Ah, tapi wajahnya terlihat sangat lelah. Apa boleh buat. Lagipula, aku hanya perlu memberi salam atau mengetuk pintu, memberikan ini berkata titipan dari bunda dan kemudian lekas pergi. Aku berjalan kaki ke rumah Mas Furqan yang letaknya tak begitu jauh dari rumah kami. Angin malam semilir meniup jilbabku. Aku mengelus perut buncit ini dengan tangan kanan, sementara bingkisann kresek merah aku bawa dengan satu tangan, sebelah kiri. Aku sampai di halaman rumah Mas Furqan, tiga langkah lagi aku akan sampai di mulut pintu rumahnya. Tapi, secara tak sengaja aku mendengar suara teriakan yang membuatku terkejut. “Sudah Ibu katakan berkali-kali kalau kamu dilarang berhubungan lagi dengan keluarga itu!! kenapa kamu sampai membantu Bundanya Zanna berbelanja segala?? Kamu seperti tidak punya harga diri Furqan! Zanna itu sudah menolak kamu dan sekarang dia sudah menikah!!” suara Ibu Mas Furqan sampai ditelingaku. Aku tahu ini tidak benar, aku tidak boleh menguping pembicaraan mereka tapi kaki ini terasa kebas. Aku tak bisa menggerakannya, dan tetap berdiri di sana dengan jantung berdetak keras. “Bu, Furqan cuma membantu mereka!” suara Mas Furqan amat lantang, aku ternganga. Sejak kapan Mas Furqan sanggup berteriak di depan sang ibu? “Untuk apa? Kamu benar-benar tidak tahu malu, Furqan!” “Membantu ya membantu, Bu! Kenapa harus ada pertanyaan kenapa? Tolong, jangan berlebihan begini Bu! Furqan hanya membantu teman! Itu saja!” “Tapi dia istri orang? Dia sudah menolak kamu!!! Tidak bisakah kamu lupain dia?” “Bu, meskipun dia istri orang! Dia tetap teman Furqan! Lagipula, dia tidak pernah menolak Furqan karena tak pernah ada apa-apa diantara kami!” “Berteman dengan istri pria lain? Kamu sudah tidak waras?” Aku gemetar, tungkai kakiku bertambah lemas demi mendengar teriakan dari dalam rumah itu. rentetan kalimat terus saja keluar dari mulut keduanya. Dan aku tetap di sini, berdiam diri di tempatku. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa beranjak. “Apa salahnya, Bu?” “Furqan! Jangan membantah lagi! Ikuti perintah ibu! Jangan pernah berhubungan dengan keluarga itu lagi! Apa kata suami perempuan itu jika tahu kamu berkeliaran di sekitar mereka??” “Perempuan itu?” lirihku perih, dia menyebutku dengan kata perempuan itu. “Astagfirllah, Bu!” sentak Mas Furqan pada ibunya. “Kamu berani membentak ibu?? Kamu dibutakan oleh cinta, Furqaaaann!!!” Ibunya mulai menangis. Ruang tamu rumah itu kosong, gordyn di bagian belakang terutup. Pasti mereka berdua berada dibaliknya. Bertengkar meributkan diriku yang tengah berdiri di sini, mendengar segalanya dengan hati demikian sakit. “Cinta apa sih, Bu!” “Kamu pilih ibu atau perempuan itu???” ucap sang Ibu dengan suara keras. “Ya Allah, Bu! DemiAllah Ibu sudah keterlaluan!” “Kamu yang keterlaluan!!!” Gordyn kemudian tersibak dengan kasar, Mas Furqan keluar dari sana dengan langkah cepat. Dia berjalan ke luar dan terhenti saat melihat sepasang tungkai di depannya. Dia menaikan dagu dan airwajahnya berubah aneh tatkala melihatku. “Zanna!” serunya salah tingkah dan bingung. Matanya merah, semerah wajahnya yang diterpa amarah. “Ma-maaf, Zanna disuruh Bunda antar ini, Mas!” aku segera mengulurkan kresek itu pada Mas Furqan. Dia menerimanya dengan bingung. “Zanna, kamu dari tadi?” “Ehm?” aku terdiam sejenak, bingung. “Sejak kapan kamu di sini?” “Tadi, Zanna baru saja akan mengucapkan salam tapi..” “Tapi aku keburu keluar ya?” potongnya. “Ehm?” aku semakin bingung. “Ya sudah Zanna pamit, ya!” “Zanna tunggu!” Dia meraih tanganku, aku menampiknya. “Maaf, Mas!” “Oh, maaf Zanna!” ujarnya kikuk. “Tunggu!” dia berlari ke dalam meletakkan kresek di atas meja tamu dan bergegas kembali keluar. “Ayo aku antar pulang!” ucapnya mendahului aku ke arah jalan setapak. Mengantar aku? Setelah pertengkarannya dengan sang Ibu? Itu tidak benar! “Tidak udah, Mas Furqan! Kan dekat!” “Tapi sudah malam, tidak baik ibu hamil jalan sendirian! Apalagi jalanan samping rumah Bude Tutik kan gelap sekali!” “Enggak apa-apa, Mas! Zanna berani kok!” “Jangan! Sudah ayo! Kalau terus nolak nanti malah enggak pulang-pulang!” Mas Furqan tertawa kecil. Sementara aku memaksakan diri untuk tertawa. Aku terpaksa mengizinkan Mas Furqan mengantarku pulang. Ini benar-benar tidak benar, kami berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih. “Lancar acaranya? Maaf ya Ibu tidak datang karena kurang sehat.” Aku mengangguk. “Alhamdulillah, lancar Mas.” “Iya, tadi Ibu mau berangkat tapi tiba-tiba pusing. Maafkan Ibu ya Zanna.” Aku tersenyum, mengangguk kecil. “Enggak apa-apa kok, Mas.” Aku yakin sebentar lagi pria yang tengah berjalan bersamaku ini mulai membahas tentang suamiku, Mas Axel. Aku harus punya jawaban yang meyakinkan agar dia tidak mengira ada sesuatu di antara kami. Seharusnya dia tidak tahu apapun soal hubungan aku dan Mas Axel. Kecuali jika Bunda menceritakan segalanya pada Mas Furqan. Kami melewati rumah Bude Tutik yang terkenal seram saat kami kecil dulu. Mas Furqan tiba-tiba terkekeh pelan. Entah apa yang demikian lucu untuknya itu. “Kamu inget enggak?” “Apa?” tanyaku. “Waktu kecil kamu selalu takut kalau lewat rumah Bude tutik!” “Iya, aku memang penakut.” “Sekarang masih?” “Ehm.” Dia tertawa lagi. Kenapa dia jadi tertawa terus? Apakah pertengkaran dengan ibunya tadi membuatnya agak stress? Kami berdua sudah dekat dengan halaman rumahku, Mas Furqan terus saja membahas masa lalu kami. Membahas hal-hal yang kita lakukan saat kecil dulu. Dia teringat seorang teman yang memiliki ukuran tubuh gembul saat kami duduk di sekolah dasar dulu. Bocah itu selalu takut saat lewat depan rumah Bude Tutik, sampai suatu hari Mas Furqan yang juga masih bocah kala itu. menakuti-nakutinya dengan suara tawanya. Bocah gembul itu lari pontang-panting dan tersandung batu lalu kemudian terjembab di atas tanah. Wajahnya menyentuh kotoran kambing. Mas Furqan tertawa sambil menceritakan ulang kenangan kami itu, aku jadi ikut tertawa karena saat itu memang wajah bocah gembul itu amat lucu. Ada titik hitam di wajahnya karena menyentuh kotoran kambing. Aku tertawa bersama Mas Furqan, tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumah kami. “Zanna!” sebuah suara familiar mengejutkan aku. “Mas Axel!” seruku terkejut bercampur bahagia, siapa yang tak senang melihat sang suami yang telah lama tak bersua kini berdiri di depan sana. Mas Axel mendekati kami, bibirku tadi masih terbuka lebar karena tertawa meski sudah aku tutupi dengan telapak tanganku. Mas Axel nampak berwajah datar saja. Aku melihat ke belakang punggungnya, ada seorang pengemudi ojek nampaknya mengantarnya sampai ke rumah. “Bagus ya! Kamu sekarang semakin liar, Zanna!” ujarnya sinis. “Astagfirllah, Mas. Kenapa bicara begitu?” lirihku sambil melirik Mas Furqan yang tampak tercengang karena perkataan Mas Axel yang sungguh kasar dan ketus. Mas Furqan tampak terdiam dan terheran-heran. “Kamu siapa? Mantan kekasih Zanna?” tanya Mas Axel sengit. Aku buru-buru meraih lengan Mas Axel, hendak mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tapi dia menampiknya dengan kasar. “Mas Axel! Ayo masuk dulu!” ajakku. “Enggak perlu!” Mas Axel menatap bengis ke arah Mas Furqan yang sejak tadi hanya diam balas menatapnya. “Mas, jangan ribut di sini enggak enak sama tetangga!” bujukku. “Tenang saja! Aku enggak akan ganggu acara dating kalian berdua! Aku kesini cuma mau kasih titipan dari Ibuku!” Mas Axel menyerahkan sebuah amplop dengan kasar padaku. Kemudian dia bergegas naik kembali ke atas motor setelah menusuk Mas Furqan dengan tatapan bencinya, dia membenci Mas Furqan tanpa alasan. Sekarang dia pergi begitu saja, apakah tadi dia sudah sempat bertemu Bunda dan Ayah? Apakah sudah? Ya Allah kenapa Mas Axel begitu kejam. Tak bisakah dia bersikap baik pada Ayah dan Bundaku meski dia benci padaku? Aku berdiri canggung disebelah Mas Furqan. Sama sekali tidak mencegah kepergian Mas Axel karena khawatir membuat keributan, aku tidak ingin Ayah dan Bunda malu karena anaknya bertengkar dengan sang suami di depan rumah. Aku melirik Mas Furqan, dia nampak tenang. Hanya sorot matanya tak lepas dari sepeda motor yang mulai menjauh dan kemudian lenyap dari pandangan. Aku dengar dia menghela nafas. Sungguh, aku takut kalau-kalau dia mulai bertanya ini dan itu padaku, tentang Mas Axel dan perangai buruknya barusan. Tapi, ketakutanku tak beralasan. Mas Furqan nampaknya tidak begitu peduli. Ah, Zanna kenapa kamu terlalu percaya diri menganggap Mas Furqan peduli padamu. Nyatanya, dia memang hanya memberi perhatian pada Bunda seperti dulu, itu saja. Tidak ada yang spesial. Jadi, mulai sekarang aku tak perlu lagi cemas jika dia sering mengunjungi Bunda. “Aku antar kamu sampai sini saja, ya? Pasti Bunda dan Ayah sudah tidur! Aku enggak mau mereka bangun!” ucapnya kemudian dengan suara setenang gemericik kolam. “Oh, iya Mas Furqan!” “Aku pulang ya, Zanna.” Aku bergegas masuk ke rumah tanpa menunggu Mas Furqan jauh. Sekilas aku melihat onggokan sofa dan meja yang saling tumpang tindih di teras rumah. Tidak ada yang membantu Ayah membawanya masuk ke dalam. Hal kecil seperti itu, nyatanya membuat hatiku amat perih. Sungguh, kenapa Mas Axel datang tanpa memberitahu aku dulu? Dia adalah suamiku, dan hari ini adalah selamatan calon bayinya. Pantaskah dia bersikap begitu? Datang sekejap mata kemudian pergi lagi? Pantaskah dia begitu padaku? Dia bahkan mengabaikan salam santun pada Bunda dan Ayah yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Dia seperti laki-laki tak berpendidikan. Entah bagaimana jalan pikirannya. Kenapa dia tak lebih dulu masuk menyapa Bunda dan Ayah dengan baik, meski sesungguhnya masalah kami begitu banyak. Tapi, setidaknya dia berbasa-basi di depan Ayah dan Bunda. Aku buru-buru masuk ke kamar setelah sekian detik menatap Bunda dan Ayah yang tergeletak di atas karpet di ruang depan, mereka sudah tidur dengan sangat lelap. Perlahan kukunci pintu depan, airmataku meleleh tak tertahakan. Menarik nafas dalam berkali-kali rasanya sama sekali tidak membantu, aku tetap merasakan sesak yang amat sangat di dadaku. “Tega sekali kau, Mas Axel.” Isakku dengan suara pelan. Jangan sampai Bunda dan Ayah tahu kalau dari Mas Axel datang kemudian pergi lagi, juga jangan sampai mereka dengar suara tangisku ini. Biarlah hanya Allah yang tahu betapa hatiku amat terluka karena perlakuan tak adil Mas Axel padaku. “Ya Allah, pantaskah aku masih berharap padanya? Apakah rumah tangga ini masih bisa dipertahankan? Sungguh, aku tak ingin bayiku lahir dengan kondisi orang tua yang pincang, hanya ada ibu tanpa ada ayah. Membayangkannya saja hati ini sudah amat hancur. Tidak apa-apa, Zanna! Menangis saja untuk malam ini, besok kamu harus kembali tegar. Demi anakmu, Zanna! to be continue... Halo reader baik, jangan lupa tap love dan follow aku yaaaa^^ maaciwh banyak^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN