Azam terduduk tiba-tiba di ranjangnya. Dengan napas memburu dan keringat dingin bercucuran tiada henti. Angin menerpa wajahnya, tersadar jika jendela kamar terbuka. Hawa malam di pondok pesantren Darul Mu’min membawa sisa-sisa air hujan yang deras mengguyur bumi di luar sana. Menciprati kusen jendela, kedua kacanya saling membentur-bentur akibat angin kencang.
“Astagfirullah,“
Azam mengusap wajahnya yang basah, membuang ludah tiga kali dengan isyarat ke sisi tempat tidurnya. Lantas ia bersandar di ranjang, merenung sembari menormalkan jantung.
“Mimpi itu lagi.“ Gumamnya. Tidak, itu bukanlah mimpi. Bukankah mimpi akan selalu menyajikan visualisasi berupa serangkaian kejadian bagi yang mengalaminya? Tetapi Azam tidak mengalami itu. Tak ada kejadian dalam kepalanya. Hanya gelap tak berujung. Lalu sesak napas menyerangnya, Azam akan berteriak-teriak agar seseorang mendengar dan menolongnya. Menolongnya supaya tidak jatuh. Konyol, bukannya dia hanya melihat gelap? Kenap takut jatuh? Namun selubung gelap itu memiliki dasar. Terbukti dengan tubuhnya yang terhantam-hantam disusul oleh suara ledakan dan semuanya makin menghitam seperti tinta. Seluruh tubuhnya sakit, bau amis dan berdarah-darah. Azam dibiarkan sendirian menikmati detik-detik penyiksaan itu.
“Apa sebenarnya yang kualami ini?” semakin ia ingin tahu, maka semakin ia merasakan tusukan tajam di kepalanya. Tusukan yang tak tertahankan, seolah sebuah besi mengoyaknya dengan keji. Yang akan menghantarkannya pada rasa marah, marah yang hebat pada dirinya sendiri. Azam benci situasi ini, ketika dia dikuasai amarah yang begitu besar.
Semua ini berawal dari kejadian yang diceritakan kedua orang tuanya, ketika dia berumur hampir 15 tahun. Abi dan Uminya mengatakan bahwa Azam mengalami kecelakaan yang parah ketika pulang dari kecamatan mengambil sekardus buku untuk keperluan pesantren. Hanya itu, ketika Azam bertanya apa yang terjadi selanjutnya, mereka bungkam seribu bahasa. Menyuruhnya untuk istirahat. Begitu aneh hidupnya
Azam tak ingat apa-apa tentang dirinya. Tidak untuk masa kecil, tidak untuk wajah asing Umi dan Abi. Bahkan dia mengetahui namanya dari Paman Sulaiman. Dan satu-satunya ingatan yang melekat hanya rubik dari Paman dokter itu, kebaikannya dan perawatan di rumah sakitnya yang sederhana. Mereka semua berkata bahwa Azam tak perlu risau, bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Tapi Azam tak pernah merasa baik. Tak pernah, selalu sakit dan marah. Kecuali jika ia mengambil air wudhu atau membaca Al-Qur’an. Darul Mu’min mungkin salah satu tempat terbaik di dunia baginya. Tak apa, Azam mempercayai mereka. Mereka semua yang bilang dia baik-baik saja.
***
“Berkatalah jujur padanya, Khadija. Betapapun menyakitkannya, namun sebuah kebenaran tidak seharusnya disembunyikan.“ Kiyai Muis berdiri di depan jendela rumahnya, berlatar Siti Khadija yang menangis tersedu hampir menyungkurkan diri ke kaki suaminya.
“Sudah terlalu lama kita menyimpan rahasia ini darinya. Semakin aku melihatnya tumbuh dengan banyak pertanyaan dalam benaknya, semakin aku ingin mengungkapkan hal yang sebenarnya.” Terus terang Kiyai Muis berkata, membuat tangis Khadija semakin tak terbendung. Sebab ia berpendapat bahwa sebaik-baiknya menyembunyikan ialah lebih baik mengutamakan kejujuran yang menyakitkan.
Khadija memegang lengan suaminya. “Abi, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak berkata apapun demi kebaikannya? Bukankah Abi sendiri mendengar pesan yang disampaikan Sulaiman dan Ma’fuz? Berita yang terlalu mendadak akan mempengaruhi psikisnya, susah payah kita memberikannya perlindungan dan kesembuhan.”
Kiyai Muis mengambil napas, kelihatan sulit seperti menghirup belerang. “Yang memberi perlindungan dan kesembuhan itu hanya Gusti Allah, Khadija. Kita hanya perantara yang kebetulan diberi kesempatan untuk merawatnya.”
Khadija mengambil napas sama susahnya, tahu kalau keputusan yang diambil suaminya akan mutlak. “Tidakkah Abi menyayanginya? Umi benar-benar tidak sanggup kehilangan Azam, bertahun-tahun lamanya dia berada dalam asuhan Umi. Mana ada seorang Ibu yang rela melihat putranya hancur?”
Kiyai Muis berbalik, memandang istrinya yang sudah salah kaprah atas ucapannya. “Tidak ada yang ingin menghancurkannya, Khadija. Tidak kau atau aku. Aku hanya ingin melihatnya damai dalam menjalani hidup ini. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia mengetahuinya melalui orang lain? Sekarang, aku bertanya tidakkah kau iba melihatnya kesakitan sepanjang malam sementara orang lain tertidur nyenyak?”
“Lantas apa yang membedakannya? Umi rasa justru rencana Abi itulah yang akan memperparah keadaannya. Kepalanya bisa terkena serangan yang berbahaya seperti kata Sulaiman.” Khadija bersikeras, betapa sayangnya ia terhadap putra lelakinya itu. Khadija khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi jikalau Azam mengetahui kebenaran itu. “Umi jelas prihatin mengamati kondisinya setiap malam, tidak pernah sebelumnya Umi melihat orang kesakitan seperti itu, jiwanya terluka. Tetapi Bi, beberapa hari lagi Azam akan menghadapi ujian tahfiznya, janganlah Abi menghapus ayat-ayat Al-Qur’an yang telah hidup dalam pikirannya.” Kiyai Muis menimbang yang dikatakan istrinya, sedikit banyak menemukan mudharat.
Khadija mengusap bahu suaminya. “Sekarang marilah kita lupakan pembahasan ini, Abi. Biarkan Azam memulai hidupnya yang baru, biarkan Azam mengetahui jikalau kitalah orang tua kandungnya. Cukup hanya kita.”
“Dan membiarkan aku tetap hidup dalam kebohongan?” Khairul Azam tiba-tiba muncul dari lorong rumah, memandang tanpa ekspresi pada kedua orang tuanya yang berjengit kaget. Bah! Orang tua? Mereka bahkan mengakuinya sendiri bahwa dia bukanlah anak kandung sang Kiyai dan istrinya. Mata kumbangnya yang biasa mencerminkan santun menguap, tergantikan oleh kekecewaan yang dalam. Azam begitu terluka ketika mendengarnya, detail percakapan itu mengendap di telinganya.
“Gus, tidak seperti itu,“ Khadija melangkah tapi Azam menghentikannya dengan isyarat tangan. Azam mengusap wajah kasar, kenyataan ini membuat sakit kepalanya kambuh bahkan terasa lebih hebat lagi.
“Bertahun-tahun aku hidup dalam kebingungan. Tersasar dalam gelap dan sakit tanpa tahu apa yang menyebabkanku mengalami hal demikian. Aku bertanya berulang kali pada kalian, namun tak ada yang bersedia menjawabnya. Tak ada seorang pun yang menceritakannya padaku, tak ada yang mau memberiku petunjuk.” Tersenyum getir, tapi matanya berkilat marah pada Khadija dan Kiyai Muis. “Tidak terduga, ternyata aku di sini hanya kambing bodoh yang dicocoki kebohongan terus-menerus.“
“Azam!” suara Kiyai Muis meninggi, memperingatkan.
“Tak perlu marah, Abi.” Azam menekan kata terakhirnya. “Aku yang seharusnya berhak marah atas sikap egois kalian berdua.“
Khadija menyeru putranya, menggeleng berkali-kali akan tuduhan Azam. “Ya Allah, kami bahkan memikirkan dirimu, Gus. Demi kebaikanmu.”
Azam menaikkan alis, meletakkan kitab kuning yang sebelumnya berada dalam genggaman ke atas rak milik Kiyai Muis. Berbicara kebaikan pada situasi tidak baik membuat segala hal baik dalam dirinya terusir.
“Aku hidup di tempat yang baik, tetapi tak ada kebaikan yang datang padaku. Kalian hidup di tempat yang baik, tetapi tidak pernah benar-benar mengajarkan kebaikan padaku. Kau sebut itu kebaikan untukku?”
“Khairul Azam, jaga bicaramu!” suara menggelegar itu tak pernah disangka akan meluncur dari bibir Kiyai Muis. Lelaki yang penuh dengan kesabaran itu sama marahnya dengan anak lelakinya, sesungguhnya sama kecewanya.
“Bicaralah hormat pada Umimu! Kau tidak pantas meninggikan suaramu di hadapannya!”
Azam melepas kopiah hitamnya, secara tak sadar melepaskan satu persatu kebaikan.
“Umi? Bukankah tadi kalian sendiri yang mengatakan bahwa biarkan aku menganggap kalian sebagai orang tua kandung? Padahal sebenarnya bukan, itu kebohongan namanya!” Azam memejamkan mata, membukanya lagi dan semakin marah. “Apalagi yang perlu aku ketahui? Katakan padaku! Semua! Aku mengalami gangguan jiwa?! Dan kalian ikut-ikutan mengalaminya dengan menyembunyikan semua itu dariku?!”
“Keterlaluan!”
“Ya Allah, Abi!”
Sengatan rasa sakit akibat ditampar itu tidak mengurangi sakit di kepala. Malahan sakit kepalanya bertambah hebat. Azam menahan diri untuk tidak tersungkur. Memberi senyum tipis untuk Abdullah Muis Zailani.
“Seseorang yang mengalami gangguan jiwa butuh bimbingan, Pak Kiyai. Bukan kebohongan untuk menutup-nutupi kondisinya.”
Khadija merangsek maju, mengelus wajah Azam yang memerah. “Tidak, Gus! Kau tidak mengalami apapun itu yang kau katakan. Kau sehat wal’afiat, nak. Sangat sehat.” Air matanya mengenai baju koko yang dikenakan Azam. Namun tak mampu mencairkan hati Azam yang terlanjur beku.
Azam mundur selangkah, ancang-ancang mengambil keputusan. “Terima kasih untuk segalanya, Pak Kiyai. Atas pengajaran yang berharga ini.” Azam melepaskan tangan Khadija dari wajahnya tanpa memandangnya. Langkahnya cepat melewati kedua orang tua itu.
Khadija berlari, mencekal tangan Azam dan memohon-mohon padanya untuk tidak meninggalkan rumah. Betapapun menangisnya perempuan paruh baya itu, hati Azam takkan pernah lagi terpanggil untuk menengok apalagi kembali.
“Tolonglah Azam, jangan kau pergi dari rumah ini, jangan tinggalkan Umi.”
“—Abi, tolong jangan biarkan Azam pergi. Gus! Azam!”
Azam tidak mau mendengar. Azam telah pergi...
Kecewa, adalah satu hal lumrah yang sering dialami manusia. Apa yang terjadi padanya menjadi bukti nyata bahwa rasa kecewa menyebabkannya tidak bisa lagi berpikir menggunakan iman, logika dan kesantunan. Dalam sekejap mata saja, semuanya seolah hilang atas nama rasa sakit. Detik itu, Azam bersumpah bahwa ia takkan sudi bersinggungan dengan ajaran Tuhan. Tuhan telah meninggalkannya tanpa jejak yang dapat ditelusuri akan masa lalu, kini saatnya ia yang meninggalkan.
Tak akan lagi meminta atau memohon, sebab ia tahu jika segala yang dilakukannya hanya berujung sakit, marah dan kesia-siaan.
Bagaimana mungkin mereka tega menyembunyikan hal itu darinya?
***
“Keadaannya baik-baik saja, hanya terguncang—“
“Hanya terguncang?”
“Ya—saya rasa. Dia tidak memiliki riwayat penyakit apapun.”
Azam menangkap sayup-sayup pembicaraan itu, ingin bangun tapi kepalanya seperti digencet batu. Lintasan demi lintasan gelap masih menghinggapi benaknya. Tak ingat apapun kejadian yang membawanya terdampar di tempat ini. Ruang tidur besar dengan langit-langit berhias lampu kristal.
“ARGH!” Pekiknya, mencengkeram rambut.
Seorang lelaki berseragam TNI menghampiri. Wajahnya agak ketimuran, tinggi dan berkumis melintang. Menampakkan wajahnya yang tanpa senyum ke hadapan Azam yang meringis kesakitan.
“Kau tidak apa-apa?” suaranya yang tegas memberi kekuatan Azam untuk bangun.
“Siapa kau?” tanyanya curiga. Orang yang ditanyai mengangkat alis.
“Tidak terbalikkah pertanyaan itu, anak muda? Aku yang seharusnya melontarkan pertanyaan itu. Kau ditemukan tergeletak dekat lapangan tembak pribadiku dan aku ingin tahu siapa kau.” Tekan suara tegas itu. Alih-alih menjawab, Azam malah berjengit sambil memijit pelipisnya. Tergeletak pingsan di jalan? Masa?
“Siapa namamu dan dari mana asalmu? Siapa kau sebenarnya?” orang itu masih menuntut. Azam menyipitkan mata, di mana-mana TNI itu memang arogan. Gaya bicaranya yang khas malah membuat Azam merasa berada di penjara.
“Khairul Azam, dan aku bukan siapa-siapa untuk pertanyaan apapun yang kau maksudkan itu, mengerti? Aku bukan penyusup yang mau mencuri pistol-pistol di lapangan tembakmu.” Kata Azam jengkel.
Lelaki berseragam TNI itu ikut menyipit, tidak berharap ketemu pemuda yang sebegitu lancang dan tidak tahu sopan-satun kepadanya. Begitu berani.
“Apa yang terjadi padaku?” giliran Azam yang bertanya.
Anggota TNI itu melipat tangannya di d**a, ikut jengkel dengan sikap Azam yang terlihat angkuh. “Kan sudah kubilang kalau kau tergeletak di lapangan tembakku. Tapi kau tidak jatuh pingsan, dokter tadi bilang kau kolaps.”
“Kolaps?”
“Kau bukan pecandu, kan?”
Azam mendengus, menyibak selimut dan turun dari kasur. “Sudah kubilang aku bukan siapa-siapa yang kau maksudkan itu. Seperti informasimu, aku hanya tak sengaja jatuh di situ.” Azam menyugar rambutnya, memerhatikan seragam TNI Angkatan Darat yang dikenakan lelaki itu. “Well, Pak—apapun pangkatmu, terimakasih banyak atas bantuanmu, tapi sayang sekali aku tak sempat balas budi.”
Lelaki itu menyeringai tipis, takjub sekaligus tak habis pikir pada tingkah pemuda di hadapannya. Sang TNI mengikuti langkah Azam yang berderap ke pintu jati dengan matanya.
“Namaku Giri Harimun Pamungkas.”
Azam menggantungkan tangannya di pintu, menatap lelaki itu sembari menaikkan alis. “Terima kasih atas informasinya, tapi aku sudah baca di seragammu.”
Lantas sosoknya yang menarik pintu melengos begitu saja. Dua terima kasih yang benar-benar tidak dapat diterima Giri. But well, sepadan karena akhirnya dia menemukan replika Sanadharta Wiratama bangkit dari kematiannya yang menggemparkan. Sosok sombong, angkuh, arogan dan tahu segalanya.
Anak yang kini berubah seratus persen. Giri merogoh ponsel di saku celana PDLnya, menghubungi nomor panggilan cepat ke urutan 11.
“Aku menemukannya, kembali ke markas dan putuskan kerjasama apapun dengan Saga Malinggi.”
Untuk beberapa saat tak ada sahutan di seberang sana. “Wait—wait—kau menemukan Saka?”
Giri mengulum senyum terselubung. “Benar, jadi hentikan pencarianmu bersama Malinggi dan pulanglah, Raihan. Ada tugas yang perlu kau kerjakan.”
Suara yang terdengar kemudian agak ragu-ragu. “Membawanya pada Malinggi?”
“Oh tentu saja tidak, sobat. Akan lebih baik bagi Malinggi untuk tidak mengetahui keberadaan adiknya. Biarkan Saka Panji Wiratama benar-benar mati.” Giri mengambil gelas wine di dalam lemari dalam kamarnya.
“Aku punya rencana lain, propaganda yang sangat hebat bagi Sanadharta Wiratama. Dia, akan menjadi alat yang ampuh bagi kita untuk menjatuhkan rezim Sanadharta dalam militer.”
Raihan Harahap tergoda dengan kalimat sahabatnya. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”
Giri meneguk cairan merah itu pelan-pelan, meresapi pahit dan hangatnya minumannya. “Kau bisa membujuknya agar bergabung bersama GPN45, bukan, Raihan? Berikan apapun yang dibutuhkannya. Tempat tinggal, uang, pelatihan, pendidikan, lingkungan, apapunlah—apapun, kau mengerti?”
“Of course.” Di ujung sana Raihan terkekeh, GPN45 akan menemukan anak emas baru.
Giri mematikan ponselnya, duduk di sofa dari kulit macam. Berkesempatan tersenyum, ternyata anak itu telah tumbuh. Sayang sekali menuruni sifat Ayahnya yang lebih b******k.
“Kalau saja kau tahu. Bahwa akulah yang membawamu pergi ke rumah sakit dengan Ibumu setiap minggu. Nyatanya kau benar-benar tidak mengenaliku sama sekali ya, Saka.” Lelaki itu memejamkan matanya, kelebatan masa lalu menggelayuti pikirannya tanpa ampun.
Yah, apa salahnya diganti dengan bangkai rusak ya, kan? Tak ada yang bakal tahu, tak akan masuk ruang otopsi, kondisinya rusak berat, terpotong-potong. Anak yang muncul tiba-tiba menggendong ransel itu adalah anugerah terbesar dalam hidupku—
Hebat, caramu lari dari amukan Sanadharta—
Oh benar, sialan juga sih hilang begitu saja. Aku harap diseret harimau—
Sepenggal percakapan itu keluar masuk dari pendengarannya. Aneh benar, dunia memang janggal ketika Giri memata-matai kaki tangan Sanadharta 12 tahun lalu. Bahwa Sahrir Manggalang tak pernah melaksanakan tugasnya untuk membunuh Saka.
Sekarang, Giri bisa mereka-reka kejadian sebenarnya dalam kepalanya. Saat Sahrir tengah melancarkan aksinya, ada seseorang yang memergokinya menggenggam pisau di samping tubuh Saka Panji Wiratama. Seorang anak lelaki memanggul ransel yang tersesat di dalam hutan. Sahrir panik melihat anak itu lari ke bawah Gunung Luseur, hampir mendekati posko pertama. Dan dengan berbagai pertimbangan, Sahrir memutuskan untuk mengejar anak itu, membunuh dan meledakkan tubuhnya dengan bom. Sekembalinya dari adu kejar dan proses pembunuhan tak terduga itu, dia menemukan bahwa tubuh Saka sudah tak ada di tempat sebelumnya. Saka menghilang. Akhirnya, dia nekat mengganti putra sang Marsekal dengan tubuh anak remaja yang diledakkannya.
Semudah itu mengukir nama Saka Panji Wiratama di atas batu nisan.
***