Keluarga Harumi mengerumuniku, bertanya banyak macam hal padaku. Aku meladeni mereka satu persatu, sampai kepalaku pusing. Kakak ipar Harumi menepuk ringan bahuku. "Yusuf, istirahat saja dulu, nampaknya kamu kelelahan." Dia tersenyum tipis. Aku menghela nafas lega, kakak ipar Harumi ini adalah seorang malaikat. Dia telah menyelamatkanku dari kerumunan ini. "Baik Kak, terima kasih." Aku mengangguk senang, akhirnya ada waktu sendirian juga. "Kamu tau di mana kamar Harumi kan?" tanya kak Dzawin. Aku jelas tersentak kaget. "Eh?" "Kenapa?" tanya kak Dzawin heran. "Ah, apa tidak ada kamar lain Kak?" tanyaku canggung. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Hmm... kamar tamu sudah dipakai sama bibi, tidak ada kamar lain lagi. Lagian kamu dan Harumi sudah sah jadi suami-istri kan?" tanya

