Jessica berdehem, membuat teman-temannya langsung berhenti dan menoleh. “Ada anak kecil mengintip dari jendela,” bisik Jessica.
“Orang?” bisik Erika, sementara Jessica hanya mengangguk.
“Mana?” Dio mulai mengawasi sekeliling.
“Rumah cat putih di sebelah kiri.”
Dio dan Dhani diam-diam melirik ke arah anak itu, sementara yang lain tidak peduli. Anak itu masih di sana, menyingkap tirai sampai keadaan di dalam rumah terlihat dari luar. Ia menatap mereka dengan tenang, seakan tidak ada rasa takut sedikit pun.
“Tegar, malam-malam jangan mengintip ke luar rumah!” teriak seseorang dari dalam rumah. Membuat anak itu menoleh, kemudian menutup tirai jendela dan berlari menjauh.
“Mbak ada yang mau ke rumah angker,” balas anak itu, dengan suara yang tidak kalah kerasnya.
Mereka sempat saling berpandangan sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, Jessica terus mengeluh karena mereka tidak juga tiba. Padahal kalau dilihat dari kaki bukit, rumah itu tidak begitu jauh.
“Tempat ini benar-benar terpencil,” celetuk Erika.
“Justru karena terpencil lah makanya banyak roh-roh jahat yang suka berkeliaran,” sahut Ziyu.
“Ssst…tidak perlu menyebutnya. Itu sama saja seperti kau memanggil mereka. Bukankah sudah berkali-kali kuperingatkan?” ucap Tio.
Perlu waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya mereka bisa melihat rumah tua yang masih berdiri kokoh di atas bukit itu. Angin malam sudah membuat bulu kuduk mereka berdiri, ditambah lagi dengan fakta bahwa mereka akan segera memasuki rumah itu. Tidak ada yang spesial jika dilihat dari luar, mungkin keadaan di dalam lah yang spesial.
Dhani mengerang, memandangi rumah di depannya seakan-akan sesuatu yang harus di musnahkan. Sementara di sampingnya, Jessica mulai beringsut ke belakang, berlindung di balik punggung Bomi dan menggamit lengan Erika agar ia tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Rina berlari mendekat. “Labirin? Labirin apa? Omong kosong. Mana mungkin rumah sekecil ini ada labirin di dalamnya?” Teriak Rina yang kini telah berdiri di salah satu sisi rumah seraya berusaha menajamkan pendengarannya.
Erika mulai mengawasi kondisi di dalam dari kejauhan. Ia mencari celah seperti lubang di dinding atau jendela untuk bisa melihat ke dalam, kemudian mengernyit. “Aku melihat seseorang di dalam,” bisik Erika seraya berlari meninggalkan Jessica yang masih berteriak untuk tidak meninggalkannya sendiri.
“Manusia atau yang lainnya?” Tanya Ziyu yang kini telah berada di belakangnya.
“Entahlah, aku tidak begitu yakin.”
“Tunggu sebentar!” sergah Rina saat Dio bersiap untuk membuka pintu dihadapannya. “Aku mendengar suara seseorang didalam. Kurasa dia sedang meneriaki orang lain.”
“Kau yakin itu 'seseorang'?” tanya Bomi dengan ragu.
“Entahlah,” gumam Rina yang kini juga mulai ragu dengan ucapannya sendiri. Ia pun melirik Bomi.
“Hati-hati saat tiba di ruangan nomor empat. Pastikan kau tidak kesana,” bisik Dio pada Jessica yang kini mulai mencicit ketakutan.
“Kenapa?” Tanyanya dengan suara bergetar.
“Labirin berawal dari ruangan itu. Mereka akan menyerang setiap wanita yang masuk kesana.”
“Apakah mereka akan membunuhku?” Suara Jessica semakin bergetar.
“Tidak. Hanya membuatmu menjadi… eum... sebatas gila. Mereka hanya membunuh pria.” Mendengar jawaban itu, Jessica kembali panik.
“Sudahlah, ayo cepat! Sebaiknya kita segera bergegas. Siel, pastikan kau tidak mendengar apapun di balik pintu ini,” bisik Dhani pada Rina yang mulai bergerak-gerak dengan cemas.
Rina berkonsentrasi pada pintu itu, kemudian ia pun mengangguk. “Kurasa aman.”
“Baiklah. Temukan secepatnya!” imbuh Dhani seraya melirik teman-temannya.
Perlahan Rina pun membuka pintu bermotif naga itu. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha mendengar suara sekecil apa pun dan langsung berbalik ke ruangan kecil di samping kirinya begitu ia mendengar gemericik air yang semakin keras. Begitu pintu benar-benar terbuka, sebuah lampu tiba-tiba menyala. Tidak cukup terang, namun berhasil membuat Jessica menjerit seraya menarik lengan Rina.
“Kurasa kita harus berpencar,” usul Tio. “Dengan begitu kita bisa menemukan benda itu secepatnya.”
“Seharusnya kau bisa menemukan itu dengan mudah kan? Kau bisa melihat sesuatu di tempat lain,” bisik Erika pada Dio.
“Tidak semuanya bisa kutangkap dengan kemampuanku.” Dio mendengus.
Mereka semua mulai berpencar, menyusuri ruangan-ruangan yang terasa aneh. Setiap ruangan memiliki nuansa yang berbeda, seolah tidak berasal dari rumah yang sama. Erika masih menyapu ruangan dengan pandangannya. Walaupun ia memiliki pandangan yang sangat tajam, namun mencari kotak hitam di ruangan segelap itu pun akan terasa sangat sulit. Sementara itu, Ziyu yang semula berniat ke ruangan bawah tanah itu pun kini mulai mengumpat saat ribuan laba-laba menyerbu kakinya. Laba-laba itu mengarah ke dua tempat yang berbeda. Satu gerombolan menuju ke ruangan nomor empat, sementara gerombolan lain ke ruangan nomor dua.
“Kalau bisa jangan ikuti laba-laba itu. Sepertinya mereka memang memasang laba-laba itu untuk memancing orang-orang untuk masuk kesana.” Bisik Dhani.
“Di ruangan nomor dua, pastikan kalian jangan panik atau mereka akan membuat kalian semakin jahat. Berhati-hatilah! Terutama kau, Jessy. ” Ucap Dio memperingatkan.
“Apa? Aku? Kenapa? Kau tidak mencoba membuatku takut kan?” Jessica menatapnya ngeri.
“Aku hanya memperingatkanmu,” jawabnya, sebelum akhirnya menghilang di balik kepulan asap yang muncul secara tiba-tiba.
***
Tio melangkah masuk ke sebuah ruangan yang cukup sempit. Ia terdiam begitu menyadari bahwa ruangan itu tidak sepenuhnya kosong. Namun ia berusaha bersikap tenang, sembari terus melihat sekeliling seandainya kotak yang mereka cari ada di situ.
“Apa yang Vicky inginkan dari rumah ini?” bisiknya.
Ia masih berusaha melihat ke arah lain, namun lagi-lagi rasa penasaran menguasainya. Kali ini pandangannya tertuju pada sosok gadis kecil berambut pendek sebahu yang tengah menengadah ke langit-langit dan menggumamkan kata-kata yang tidak sepenuhnya Tio pahami. Tio mendekat dengan pelan, kemudian sadar bahwa itu bukan sebatas gumaman, melainkan seperti sebuah lagu. Namun Tio yakin ia tidak pernah mendegar lagu semacam itu, bahkan liriknya terdengar cukup aneh.
Jangan memanggilku di hari yang cerah
Jika kau sanggup, lakukan lah
Jika kau lemah, cepat pergi lah
Sebelum dia menggenggamnya
Jangan memanggilku di hari yang cerah
Jika kau sanggup, lakukan lah
Jika kau lemah, cepat pergi lah
Sebelum dia memotong kepala
Tio hanya berdiri mematung. Ia mengernyit menatap sosok gadis kecil itu, tidak mengerti lagu macam apa yang dinyanyikannya dan apa maksudnya. Namun selang beberapa saat, ia merasakan sensasi aneh yang kini menguasai seluruh tubuhnya. Tio ingin berbalik, mencoba membiarkan anak itu tenggelam dalam nyanyiannya. Tapi percuma, kaki itu sulit untuk digerakkan, seakan ada sesuatu yang tengah menahannya. Ia mulai bergidik. Bukan karena takut berhadapan dengan anak itu, tapi justru ia takut melihat sosok lain yang ada di sana. Sosok itu adalah pria mengerikan dengan sebuah kapak menancap di kepalanya. Darah mengalir ke seluruh wajahnya, bahkan menggenangi kedua matanya. Sosok mengerikan itu kini tengah mengacungkan sebuah pisau ke arah si gadis kecil itu. Walaupun ia tahu gadis itu adalah roh, namun rasanya tetap saja mengerikan jika melihat sosok lain berusaha menyakitinya.
Hampir saja ia berteriak meminta gadis itu pergi, sebelum akhirnya ia mendengar suara pintu berdecit tepat di belakangnya. Tio berbalik, dan Bomi pun muncul dengan wajah cemas seraya menggumamkan sesuatu yang tidak begitu jelas.
“Pergilah”, batin Tio, berharap Bomi bisa mengerti apa yang coba ia katakan. Bomi langsung mengerutkan keningnya. “Aku harus menyelamatkan anak ini.” Tio terus berusaha menggumamkan itu dalam batinnya, seraya mengedikkan kepala ke samping.
Bomi yang tidak ingin mengganggu Tio pun mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu. Tepat setelah Bomi pergi, Tio berbalik menghadap gadis itu lagi. Namun ia terdiam saat kedua makhluk yang tadi dilihatnya telah menghilang. Ia tidak tahu bagaimana nasib gadis itu. Apakah ia baik-baik saja? Ataukah pria tadi berhasil melukainya? Tio memang mudah menaruh rasa iba walaupun pada sosok tak kasat mata, terutama jika sosok itu adalah seorang anak kecil.
Tio mengerjap, namun kemudian langsung tersadar akan tujuan awalnya. Kini ia harus fokus untuk menemukan benda yang dimaksud Vicky. Benda yang entah benar-benar nyata atau tidak. Benda yang bisa mengurung roh-roh jahat di tempat itu. Benda yang tidak mungkin bisa dengan mudahnya mereka temukan di rumah yang penuh benda-benda tua lain yang tidak berguna. Semua benda itu berserakan di tiap jengkal ruangan.