Chapter 8

868 Kata
Menuju kantin, sambil berjalan Jojo bernyanyi dengan suara cemprengnya tanpa malu, aku dan Hannah pun ikut bernyanyi seakan-akan menunjukan siapa yang paling terbaik. Tanpa terasa sama sekali, kami telah sampai. Seperti biasanya, Jojo menggebrak meja kemudian memesan makanan, "Ibu Asmira, seperti biasanya," pesan Jojo. Sambil menunggu pesanan tiba, Hannah bertanya, "Nad, lo tau gak bakalan ada Polisi yang masuk ke sekolah kita untuk pemeriksaan?" "Tau, kok," jawabku. "Sejak kapan?" "Barusan," balasku, kulihat dari mimik wajah Hannah, dia ingin menampolku. "Hadeh, kirain udah lama. Gemes deh, pengen nampol," balasnya pula dengan kesal. Benar bukan? Apa yang kuduga terjadi selanjutnya. "Emangnya kenapa sih kalau Polisi masuk buat pemeriksaan? Heboh banget," tanyaku. "Polisi yang masuk tuh semuanya ganteng-ganteng, Nad. terus hot lagi," jawab Hannah, aku tersenyum jahil, "Hati-hati, siapa tau ganteng tapi belok, Han. Gimana?" tanyaku dan ia menggerutu kesal, hihihi. "Ih, soal maho gue langsung ilfeel deh, semoga gak gitu yah," balas Hannah dan aku mengangguk. Kulihat Jojo menatap ponselnya dengan serius, kualihkan pandanganku dan menatap Hannah untuk mengodenya. Untungnya Hannah mengerti, langsung saja Hannah merebut ponsel Jojo dan melihat apa yang dilihat pria itu. "Astaga, Jojo. Lo nge-stalk sempak cewek? Tobat, Nak," Hannah menjitak dahi Jojo kemudian menyimpan ponsel tersebut di atas meja. "Lo mau jadi perancang celana dalam?" tanya Hannah dan Jojo mengangguk polos. Jojo dengan santainya mengambil ponselnya kembali kemudian menunjukan berbagai model celana dalam perempuan. "Mau beli sempak? Beli di toko SEJO 'Sempak JOJO' hahaha," aku dan Hannah kompak menyentil kening Jojo, "Gemes, pengen buang ke laut." Sekilas aku melihat Kak Kean menatapku kemudian melanjutkan langkahnya. Pipiku merona dengan perhatian kecilnya, terima kasih, Kak. "Pesanan tiba, silahkan dimakan. Jangan ngutang lagi yah, Jo. Kasian Hannah sama Nadia yang bayarin mulu," peringat Ibu kantin. "Tenang aja, Bu. Kali ini kubayar, minggu depan," balas Jojo dan Ibu kantin menarik senyumnya paksa, "Lama-lama kantin Ibu tutup, Jo, Jo." Setelah makan, Jojo mengajak kami pergi ke lapangan. Sampai di lapangan, Jojo ikut bermain bola. Banyak yang bersorak gembira, tak sedikit pula yang menyukai Jojo. Kulit sawo matang, tubuh tinggi dan atletis siapa yang nggak mau coba? Kecuali aku, kalau Hannah gak tau sih. "Semangat, Jo!" teriak kami kompak, penyakit Jojo mulai keluar, yaitu menggoda gadis-gadis sekolah hingga tak sadar sebuah bola mengenai kepala Jojo dan membuatnya terjatuh. Hannah tak dapat menahan tawanya tapi aku tidak, bukan tawa namun perasaan khawatir. Khawatir kalau otak Jojo geser dikit, bisa-bisa kegilaannya bertambah. Jangan sampai. "Ish, Jo. Lo sih, tebar pesona mulu, ingat sahabat lo yang khawatir," ucap ku kemudian memapah tubuhnya bersama Hannah. Kami membawa Jojo ke Uks dengan pelan karena Jojo memegang kepalanya yang pusing, "Tahan yah, Jo. Bentar lagi sampai," lanjutku. Sampai di Uks, Hannah mengomeli Jojo, "Makanya jangan sok keren, ngakak kan gue." "Jahat lu, di depan banyak orang ngetawain gue. Nadia, Abang Jojo cakit, nih," ucap Jojo layaknya anak kecil yang mengadu karena terluka, benar sih. Ini mah, bocah dewasa. Aku dan Hannah memijit kepala Jojo dengan lembut, manja sih tapi gak papa. Namanya juga sahabat, harus saling bantu. Saat aku berbalik, mungkin hanya salah lihat, tapi, sebuah bayangan di balik jendela begitu kentara kemudian menghilang dalam sekejap. "Han, lo liat gak tadi ada bayangan?" tanyaku ke Hannah. "Nggak tuh, mungkin lo salah liat kali, Nad," jawab Hannah dan aku mengangguk, mungkin yang dikatakan Hannah benar, hanya salah lihat. *** Pulang sekolah, aku sampai di parkiran namun mobil Kak Kean tidak ada, mungkinkan ia pulang? Lebih baik aku menunggunya. Satu jam telah berlalu, namun Kak Kean belum datang juga membuatku dilema antara pulang atau tetap menunggu, dan kupilih pulang daripada menunggu yang tidak pasti. Berjalan sendirian di tengah kota pasti merasa khawatir akan bahaya yang datang begitu saja. Baru aku bahas, sekelompok preman menghalangi jalan tiba-tiba, ternyata aku tidak sadar telah melewati lorong dimana mereka berkumpul. "Kok jalan sendirian, sih? Kita temenin yah, biar aman," tawar mereka lalu menyolek daguku. "Apaan sih, minggir gak?!" "Widih, galak juga tapi cantik," balasnya. Sepertinya mereka belum tahu keganasan seorang Nadia Reanandika. Sebelum mereka menyentuhku aku menendang kelemahan utama bagi kaum laki-laki, pusaka mereka. "Maju, Aku potong burung kalian," ancamku namun tak membuat mereka gentar. Oke, aku diremehkan. Salah satu dari mereka maju, selangkah dan buk. Kuinjak kakinya lalu meludahi wajahnya, sedikit finishing, hal yang sama aku lakukan pada korban sebelumnya. Benda pusaka sebagai target utama. "Maju lagi? Kuinjak sampai remuk," ancaman kali ini tidak main-main, lelaki b***t seperti mereka harus dikupas tuntas agar tidak mengulanginya kembali. "Kabur!" "Alhamdulilah, lanjut jalan kaki," ucap ku setelah para preman itu lari terbirit-b***t sambil menutupi pusaka mereka. Sekitar dua jam perjalanan aku telah sampai di rumah, ternyata Kak Kean belum datang sehingga aku sedikit khawatir, "Kak Kean ke mana sih? Kunci rumah dia pegang lagi," sebalku. Berulang kali aku meneleponnya tapi selalu sibuk, apa yang ia kerjakan sehingga mengabaikan Istrinya? Padahal baru sehari coba. Ish, Kak Kean makin nyebelin. Waktu terus berjalan dan langit mulai menggelap sedangkan aku masih setia di depan pintu rumah, aku semakin takut hingga menangis. "Kak Kean, Nadia takut hiks," lirihku, berulang kali aku memanggil namanya namun tanda-tanda kedatangan Kak Kean terasa hampa. Lelah, menunggunya hingga malam telah tiba, meninggalkan Istrinya di sekolah hingga pulang berjalan kaki dan menghadapi bahaya seorang diri. "Kak Kean, perut Nadia sakit hiks," lirihku kemudian gelap menghampiri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN