Empat Puluh Satu

1622 Kata

Rasa bersalah menggerogoti hati Marsha. Ia melihat kekecewaan di mata Andrean. Ia tahu rasanya kecewa dan ia tidak pernah ingin mengecewakan seseorang. Tapi hari ini, ia telah mengecewakan orang lain. "Apa aku salah, Marcel?" gumam Marsha sembari menatap langit-langit ruang inapnya. "Aku tahu keinginan Andrean, aku telah berjanji untuk melibatkan dia. Tapi ... sejak dia bertemu masa lalunya, keraguan melingkupi hatiku, Marcel. Ada yang aku takutkan. Aku tidak tahu apa? selain itu, aku juga khawatir padanya. Apa salah aku membiarkannya istirahat? Aku tahu dia lelah setelah seharian bermain bersama anak-anak." Air mata keluar dari ujung matanya, seketika ia hapus. Marsha melirik anaknya Cio yang masih terlelap di sofa. Beruntungnya anak itu tidurnya tak banyak tingkah hingga tidak terjatu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN