“Hmmm, Mas. Aku ...." "Apa Sen?" “Aku mau balik ke kamarku.” “Jangan pergi.” Aku tak mengindahkan ucapannya. Aku berjalan menuju pintu tapi Mas Dewa segera mencegahku. Mas Dewa berdiri menghalangi pintu kemudian mendorong bahuku untuk mundur. Menyuruhku untuk duduk kembali. “Sudah malam, Mas.” “Yeah. Apa masalahnya.” “Apa Mas Dewa tidak ingat kalau kita ada janji dengan calon nasabah.” Aku ingat tujuanku pergi ke kota ini. “Sudah kubereskan.” “Apa maksudmu.” “Sudah beres urusannya.” “Benarkah?” “Iya.” “Kenapa Aku tidak diajak?” “Tidak. Aku minta bayarannya saja.” “Apa maksudmu?” “Seperti apa yang kau pikirkan.” “OMG. Apa staff mu yang lain kau perlakukan sepertiku.” “Tidak.” “Tidak?” “Ya. Mereka dengan sukarela menyerahkan diri. Tidak sepertimu.” “Oh Tuhan. Kenapa bisa

