Dewa

1300 Kata

“Masih panas?” “Panas sekali.” Aku duduk di tepian kasur. Mengibas-ngibaskan kedua telapak tangan ke wajahku. Mas Dewa mendekatiku dan mulai memegang dahiku. Sentuhan tangannya di dahiku malah semakin menyiksaku. Keringat mulai bercucuran. Kucoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan kuhembuskan karbondioksidanya secara perlahan. Mengatur nafasku yang mulai terengah-engah. Mas Dewa kemudian memegang wajahku dan mengelap keringat di wajahku dengan tisu. Wajahnya terlalu dekat dengan wajahku sehingga terpaan nafasnya yang hangat membuatku semakin kacau. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku tambah frustasi. “Ja-ngan berpura-pura, Mas.” “Apa maksudmu?” “A-ku kepanasan.” “Lalu?” Aku berfikir pasti ada sesuatu di dalam minuman yang Aku minum sebelumnya. Yang Aku ingat, Ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN