Setelah selesai memandikanku lalu dia kembali menciumi tubuhku lagi dengan intens. Menggigiti daun telingaku dan menjelajahi leher jenjangku. Tangannya sudah aktif meremas-remas kedua gunung kembarku. Memainkannya dengan gemas. Mas Dewa mulai memercikkan air perlahan di wajahku berharap Aku segera sadar. “Sayang, Bangun. Ayo bangun yuk.” Kesadaranku mulai kembali sedikit demi sedikit ketika Mas Dewa semakin kontinyu mencumbui seluruh tubuhku. Memainkan tangannya dengan lihai di gunung kembar dan labiaku secara bersamaan. Lenguhan dan desahan kembali lolos terus menerus dari bibirku. “Akhhh ... ahhh ... ahhh.” Aku belum begitu sadar sepenuhnya dari pingsanku. Aku merasa masih berada di alam mimpi. Aku menggeliat dan terus mendesah tanpa membuka kelopak mataku. “Ssshhhh ... hmmmp ... ah

