Bab 2

2047 Kata
Tiga hari berada di rumah sakit Talitha memaksa untuk pulang. Dia sangat tidak betah berada di rumah sakit yang walaupun berada di ruangan VVIP, tetap saja tidak senyaman berada di rumah. Home sweet home berlaku bagi Talitha. Di mana pun dia berada, tak ada yang senyaman rumah baginya. "Kamu emangnya sudah baikan? Yakin banget kayaknya mau pulang. Kalo masih sakit lagi gimana?" tanya Kartika sekali lagi. Sebagai perempuan yang sudah melahirkan Talitha, dia sangat tahu bagaimana keras kepala Sang Putri Bungsu. "Kakakmu belum mau pulang, lho, Ta. Masa kamu udah mau pulang aja?" Talitha menarik napas panjang, mengembuskannya dengan lumayan kuat. Rasanya tadi dia sudah mengatakan alasannya, tapi Bunda tetap saja bertanya. Kalau dihitung-hitung, ini sudah keempat kalinya Bunda bertanya hari ini. Apakah Bunda tidak bosan? Dia saja bosan menjawabnya. "Talitha bosan di sini, Bun. Baunya nggak enak banget!" Alasan yang kesekian. Dia sudah bosan mengatakan alasan yang sama berkali-kali. Mungkin saja Bunda akan menghentikan interogasinya setelah ia memberikan alasan lain lagi. "Talitha pengen nyium aroma rumah biar bisa istirahat bener-bener." Kartika yang sedang menggendong cucunya mengernyit. Bolehkah dia mengatakan kalau alasan Talitha terlalu mengada-ada? Aroma rumah? Yang benar saja! Kartika menggeleng pelan, mulutnya berdecak. Talitha benar-benar mirip dengannya. "Kamu nggak punya alasan lain lagi, ya?" tanya Kartika tajam. Dia membawa cucu mungilnya duduk di sisi tempat tidur Talitha. "Jangan bohong sama Bunda!" Talitha memutar bola mata jengah. Entah kenapa insting Bunda sangat kuat, selalu saja tahu kalau dia berbohong. Namun, kali ini dia berkata jujur, berada di rumah sakit sangat membosankan. lebih membosankan daripada harus menunggu kedatangan Alex. Ini adalah hari ketiga, dan Alex sudah terlambat saja menjenguknya. Padahal tadi malam suaminya itu berjanji akan datang pagi-pagi, tapi sekarang sudah jam sepuluh Alexander belum datang juga. "Kamu susuin Angel dulu, gih." Kartika memberikan cucunya ke tangan Sang Ibu agar disusui. "Cucu Bunda haus kayaknya." Talitha tersenyum manis, menerima bayinya, dan mulai menyusui. Bunda benar, Angel sepertinya kehausan, tapi tidak menangis. Bayi mungilnya terus saja tertidur dengan pulas. Talitha mengusap pipi bayinya yang kemerahan menggunakan punggung ibu jari. Membawa tangan mungil Sang Putri ke.mukut dan menciuminya. Tangan dengan jari-jari mungil itu terasa sangat lembut bersentuhan dengan bibir dan pipinya. D*da Talitha menghangat, perasaannya sebagai seorang Ibu meluap. Dalam hati berjanji menjadi Ibu yang terbaik bagi bayi mungilnya. "Thalia katanya kapan pulang, Bun?" tanya Talitha menatap Kartika yang merapikan box bayi Angel. "Bunda nggak tau," jawab Kartika tanpa menatap. Dia terus saja melakukan aktivitasnya. "Katanya, sih, sampai sembuh benar." Talitha mengernyit. "Sembuh benar? Maksudnya?" tanyanya tidak paham. Kartika mengangkat bahu. "Bunda juga nggak paham, Ta," jawabnya. Dia menghampiri Talitha, kembali duduk di sisi kosong tempat tidurnya. Tersenyum melihat Sang Cucu yang menyusu dengan lahap. "Kamu tahu, 'kan, gimana kakak kamu cengengnya. Sakit dikit aja Lia udah ngeluh." Talitha mengangguk, mengiakan apa yang dikatakan Bunda. Dia dan thalia sangat berbeda. Bisa dikatakan dia lebih keras daripada Sang Kakak yang lembut, atau lebih kerennya cengeng. Sebenarnya itu yang dikatakan Alex padanya, dan dia setuju akan hal itu. Thalia terlalu cengeng, selalu menanggapi semuanya dengan hati dan air mata. Lalu, bagaimana dengannya? Dia tidak merasa lebih tangguh, hanya saja sangat jarang menangis. Dia.senang mengamuk daripada harus menumpahkan air mata. Namun, itulah yang sudah membuat Alex jatuh cinta padanya. "Kayaknya dia bakalan lama di sini," ucap Kartika. "Bunda nggak tau, Ta. Bagi Bunda, mau kalian di mana pun yang penting Klian baik-baik aja. Cucu-cucu Bunda baik-baik aja. Iya, 'kan, Sayang?" Kartika mengajak cucunya berbicara. Tersenyum lebar melihat senyum kecilnya. "Angel senyum, Ta!" Kartika berseru heboh. Talitha mengangguk. Mencium pipi kemerahan putrinya yang terus saja lelap. "Padahal dia tidur, lho." Kartika mengusap pucuk kepala berambut pirang cucunya. "Tau aja, sih, Sayang, Nana-nya ada di sini. Angel senang, ya, ada Nana?" Senyum Talitha semakin lebar. Dia bahkan melupakan kekesalannya karena Alex yang belum juga datang saat jam menunjukkan pukul sebelas. *** Sebenarnya Alex ingin pagi-pagi sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk istri dan bayinya yang baru berumur tiga hari, setelah tadi malam ia pulang ke rumah karena ada suatu urusan. Namun, asisten pribadinya menghubungi. Ada rapat penting pagi ini yang tak bisa ditunda, dan ia harus menghadirinya, tidak bisa diwakilkan. Alex hanya berharap agar istrinya tidak mengamuk atas keterlambatannya. Alex mempercepat langkah, ia sudah tidak sabar bertemu dengan dua orang perempuan yang paling penting dalam hidupnya. Alexander Jensen tidak mengenal siapa ibunya. Sejak kecil ia hanya hidup bersama Abraham Jensen, Sang Ayah yang selalu sibuk mengurusi semua bisnisnya. Ia tumbuh besar tanpa.kasih sayang seorang perempuan yang bisa dipanggil Ibu. Hanya ada Astrid, pengasuhnya, yang menemani. Meski begitu ia tetap merasa sendirian. Astrid memang perempuan, tetapi dia bukan ibunya. Astrid tidak memiliki hubungan darah dengannya, perempuan itu mau merawat dan menjaganya hanya karena dibayar. Alex mengetahui arti kasih sayang seorang Ibu sejak berteman dengan Hanson. Keluarga Hanson masih utuh, mereka keluarga yang ramah dan hangat. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka daripada di rumahnya sendiri, yang meskipun besar tetapi tidak memiliki kehangatan. Astrid memang menyayangi dan merawatnya seperti putranya sendiri, tapi tetap saja sifat keras Abraham Jensen mendominasinya. Ia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kasar dan semaunya. Tak ada yang dapat menjinakkan kecuali Talitha. Mereka bersua pasangan serasi yang saling melengkapi. Oleh sebab dirinya yang tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu secara utuh, Alex berniat tidak akan membiarkan putri kecilnya mengalami hal yang sama seperi yang ia rasakan dulu. Putrinya harus mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Ia tidak akan bertingkah seperti ayahnya yang tidak memedulikan putranya. Angelica harus mendapatkan semuanya, baik itu perhatian maupun kasih sayang. "Bagaimana kabar putri kecilku hari ini?" tanya Alex begitu ia.sudah berada di dalam ruangan Sang Istri. Alex menghampiri Talitha, mengecup keningnya kemudian menghampiri box bayi yang berjarak satu meter dari ranjang Talitha. "Bagaimana juga kabar malaikat kecil Daddy hari ini?" tanyanya pada baby Angel. "Apa dia selalu tidur seharian?" Alex bertanya pada Talitha tanpa menatap istrinya itu. Ia.masih fokus pada malaikat kecilnya yang selalu tertidur setiap kali ia menjenguknya. Sungguh, ia sangat ingin menggendong bayinya seperti yang dilakukan oleh Ayah mertuanya. Sayangnya sampai sekarang ia masih belum berani. Ia takut akan meremukkan tubuh mungil itu. "Tidak juga," sahut Talitha. "Tadi dia bangun sebentar, hanya untuk menyusu kemudian tidur lagi." "Bangunlah gadis kecilku. Biarkan Daddy melihat matamu." Alex sangat menyukai mata Angel yang sewarna matanya, dan ingin melihatnya lagi. Baru satu kali ia melihat mata cantik putrinya setelah itu baby Angel selalu tidur saat ia menjenguknya. "Kære (Sayang), bisakah kau membangunkannya? Aku ingin mengajaknya bicara." Talitha mendelik mendengar permintaan Alex, apalagi melihat wajah memelasnya itu yang sumpah demi apa pun sangat tidak pantas untuk seorang Alexander Jensen. Bukannya kasihan yang ada dia justru semakin kesal. Dia jadi teringat kalau suaminya tersayang ini hari ini terlambat menemui mereka. "Salahmu yang datang terlambat!" ketus Talitha dengan bibir meruncing. "Jangan meminta yang aneh-aneh! Biarkan putrimu tidur!" Alexander tidak pernah takut pada siapa pun, kepada ayahnya sekalipun. Orang-orang yang takut dan segan padanya. Sifat dingin dan wajahnya yang tak pernah tersenyum membuat siapa pun orangnya, termasuk lawan bisnis, akan berpikir dua kali untuk berbicara dengan nada tajam seperti itu. Hanya satu orang yang berani melakukannya. Talitha Darmawan, atau lebih tepatnya Talitha Jensen, perempuan yang sudah dinikahinya lebih dari setahun yang lalu, ibu dari bayi mungilnya yang sampai sekarang masih saja tertidur pulas. Alex menelan ludah kasar melihat mata kucing istrinya bersinar mengancam. Talitha, saat masih gadis seperti seekor anak kucing yang sangat cantik, setelah menikah dia menjelma menjadi kucing dewasa yang elegan, begitu melahirkan Talitha bertambah galak seperti seekor singa betina. Alex lebih memilih menghampiri dan duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung pada dinding di belakangnya. "Aku hanya ingin melihatnya saat dia terjaga," ucap Alex memeluk bahu Talitha dan mengusapnya. Berusaha meredakan kekesalan Sang Istri melalui usapannya, dan biasanya itu berhasil. Ia tahu kenapa Talitha kesal padanya, dia baru saja mengatakannya tadi. "Nanti juga dia akan bangun kalau haus," sahut Talitha. Dia merebahkan kepala di bahu Alex yang terbalut jas. "Sebentar lagi dia pasti bangun, tadi tidurnya sudah lama, kurasa sudah satu jam " "Benarkah?" Talitha mengangguk di bahu Alex. "Angel selaku bangun hampir setiap satu jam sekali," lapornya. Alex memutar tubuh, sekarang ia menghadap Talitha. Tangannya membingkai kedua sisi wajah wanitanya. "Maafkan aku datang terlambat hari ini," ucap Alex lirih. "Aku sudah bangun pagi-pagi, sudah menyiapkan semuanya, tapi Jorge menghubungiku mengatakan ada pertemuan penting yang harus kuhadiri." Kekesalan Talitha perlahan menguap mendengar alsan itu. Dia percaya Alex mengatakan hal yang sebenarnya. Mata ambernya tidak berbohong Dia sudah sangat mengenal Alex, kebohongan sekecil apa pun yang dilakukan pria itu, dia bisa membacanya. Itu tidak terlihat di mata yang dikaguminya. Lagipula, dia tahu kalau Alex hampir tidak bisa berpisah dari putri mereka. Seandainya tidak ada pekerjaan, dia yakin Alex akan tetap di sini menemani mereka satu kali dua puluh empat jam. "Dari tempat pertemuan aku langsung ke sini." Alis Talitha berkerut. Kalau Alex langsung ke rumah sakit setelah pertemuan penting yang dia yakin tidak diadakan di kantor suaminya itu, lalu bagaimana dengan Jorge? Jorge Thompsen adalah asisten pribadi Alex yang merangkap sebagai sekretaris. Oleh karena itu Jorge selalu menyertai Alex di mana pun dan ke mana pun suaminya berada, selama itu dalam urusan bisnis. Alex mengatakan tadi menghadiri pertemuan penting terlebih dahulu sebelum menemuinya dan putri mereka, dan Jorge pasti mengikuti. Kedua pria itu pasti berada di satu mobil yang sama, mobil Alex Namun, dia tidak melihat pria itu di sini? Apa mungkin Jorge menunggu di tempat parkir atau di luar sana? Apa mungkin Alex mengantar Jorge ke kantor dulu sebelum ke sini? Hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Suaminya tidak akan mau melakukan hal itu. Gengsi seorang Alexander Jensen terllau tinggi hanya untuk mengantarkan seseorang. Ia tak pernah memberikan tumpangan kepada siapa pun. "Lalu, di mana Jorge sekarang? Ia tidak ikut ke sini?" Talitha tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya. Dia menduga Alex meninggalkan Jorge di tempat pertemuan mereka itu. "Aku meninggalkannya di tempat pertemuan," jawab Alex tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mata Talitha melebar, dugaannya benar. "Tidak penting membawa Jorge ke sini, tugasnya di kantor, bukan menjengukmu di rumah sakit." Talitha menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan. Beruntung dia memiliki stok kesabaran yang tak terbatas, kalau tidak mungkin ia sudah meneriaki Alex tepat di depan wajah tampan itu. Astaga, suaminya benar-benar! Bagaimana mungkin meninggalkan asistennya sendirian tanpa kendaraan, sementara dirinya sudah berada di sini? "Seharusnya kau mengantarkannya dulu baru ke sini." "Dan membuatku semakin terlambat menjenguk kalian?" tanya Alex mendesis. Kepalanya menggeleng sekali. "Tidak akan pernah!" Sekali lagi Talitha mengembuskan napas pelan. Dia benar lagi. "Jorge yang sudah membuatku terlambat mengunjungi kalian, tidak ada alasan bagiku untuk untuk mengantarkannya kembali ke kantor. Biarkan saja dia naik taksi atau kereta api." Talitha mengangguk. Percuma berdebat untuk sesuatu yang sudah terjadi, waktu tidak akan terulang kembali meskipun kau menangis dengan air mata darah. Hanya saja, ini tetap menyebalkan baginya. Gengsi dan keegoisannya yang tinggi dari seorang Alexander Jensen tetap tidak berubah meskipun pria itu sudah menjadi Ayah. "Dengarkan aku, Kære. Sangat tidak penting membicarakan seseorang yang bukan merupakan bagian dari keluarga kita, apalagi orang itu seorang pria. Jangan membuat suamimu cemburu.* Talitha mengangkat sepasang alisnya. Cemburu? Alex cemburu pada Jorge? Astaga! Bagaimana mungkin? Baiklah, Alex sudah keterlaluan, suaminya terlalu mengada-ada baginya. Siapa pun yang mengenal Jorge pasti tahu kalau pria itu merupakan bagian dari kaum pelangi dan sudah memiliki seorang kekasih. Yang seharusnya cemburu adalah dirinya, bukan Alex. "Kau cemburu pada Jorge?" tanya Talitha dengan alis berkerut. Alex berdecak. Perlukah ia mengulangi perkataannya tadi? Ia yakin Talitha pasti mendengarnya, indra pendengaran istrinya sangat tajam. "Astaga!" Talitha juga berdecak. "Kau tahu, 'kan, kalau Jorge sudah memiliki kekasih?" tanyanya. Alex mengangguk malas. Pembahasan mereka jadi melantur. Sangat menyebalkan baginya. "Katanya Jorge akan segera menikah dengan kekasihnya itu." "Lalu?" "Kau juga mengenal kekasihnya, bukan? Seingatku Jorge pernah mengenalkannya padamu, pria cantik itu." Alex mendengkus. Tentu saja ia mengingatnya. Otaknya berfungsi dengan baik, ia selalu mengingat semua yang pernah dilihat dan didengarnya. "Kau pasti tahu bagaimana Jorge," sambung Talitha. "Lagipula dia itu asistenmu." Sekali lagi Alex berdecak. Ia baru sadar kalau Jorge tidak tertarik pada makhluk yang bernama perempuan. "Baru sadar, ya?" sindir Talitha. Senyum mengejek terbit di bibirnya. "Tetap saja tidak boleh membicarakan pria lain di depan suamimu." Alexander Jensen yang tidak pernah mau mengakui kekalahan. Lagi-lagi Talitha mengembuskan napas, dia sabar. "Aku ingin pulang ke rumah, sudah bosan terus di sini " Alex mengerutkan kening. "Kalau kau tidak mau mengurus kepulanganku, aku akan mengurusnya sendiri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN