Bab 3

1060 Kata
Suasana kantin sangat kacau. Aroma minyak goreng panas, uap mie instan, dan kuah bakso yang gurih bercampur menjadi satu di udara. Suara piring yang beradu dengan sendok serta teriakan siswa yang mencoba memesan makanan menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. "Gue mau bakso aja deh. Lo mau apa?" tanya Budi saat mereka sampai di area stan makanan. "Sama, bakso juga," jawab Versus sambil matanya menyapu seisi kantin. Kantin sedang dalam kondisi puncak keramaian. Mereka harus mengantre cukup lama di salah satu stan bakso favorit yang paling ramai. Di sela-sela menunggu, perhatian Versus teralih ke sebuah meja di sudut kantin yang sedikit lebih tenang dibandingkan area tengah. Di sana, Lia duduk bersama dua teman perempuannya. Ia sedang membuka botol air mineral, tampak tenang di tengah hiruk-pikuk di sekelilingnya. Versus menyadari bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengembalikan catatan tadi. Setelah berhasil mendapatkan dua mangkuk bakso yang mengepul panas, Versus dan Budi mencari tempat duduk. "Bud, bentar ya. Gue mau balikin ini dulu ke Lia," kata Versus sambil mengeluarkan kertas dari sakunya. Budi menghentikan langkahnya, menatap Versus dengan dahi berkerut. "Sekarang? Di depan temen-temennya? Ver itu terlalu formal banget, mending ntar aja di kelas." "Nggak apa-apa, mumpung inget," jawab Versus tegas, mengabaikan godaan Budi. Dengan langkah yang sedikit ragu namun dipaksakan untuk tetap stabil, Versus mendekati meja di sudut itu. Rasa gugup yang tadi pagi ia rasakan kembali merayap di dadanya. "Li," sapa Versus saat sudah berada di dekat meja mereka. Lia menengadah, matanya yang waspada menatap Versus sejenak. Teman-temannya pun berhenti mengobrol, membuat suasana di meja itu mendadak hening. "Ini... kertas catatan yang tadi. Makasih banyak ya, sangat membantu banget tadi di kelas," kata Versus sambil menyerahkan kertas yang sudah dilipat rapi. Suaranya agak pelan, berusaha agar tidak terlalu mencolok bagi orang-orang di sekitar mereka. Lia menerima kertas itu. Senyum tipis muncul di wajahnya—tipe senyum yang sopan namun cukup untuk membuat Versus merasa sedikit lega. "Sama-sama, Ver," jawab Lia tenang. "Syukurlah kalau berguna. Kalau ada bagian di catatan itu yang kurang jelas atau tulisannya susah dibaca, tanya aja nanti ya." "Iya, makasih ya sekali lagi," ucap Versus singkat. Ia tidak ingin berlama-lama di sana agar tidak menciptakan situasi yang semakin canggung. Ia segera berbalik dan berjalan kembali ke meja tempat Budi sudah menunggu dengan wajah penuh seringai. "Ciee... 'tanya aja nanti ya'," ejek Budi menirukan nada bicara Lia saat Versus duduk. "Kayaknya ada kemajuan nih." Versus hanya menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik mangkuk bakso. Ia mulai menyeruput kuah baksonya yang hangat, merasa beban di pikirannya sedikit berkurang. "Tugas kelompok Biologi minggu depan gimana?" tanya Budi, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Lo mau ambil bagian mana? Presentasi atau bikin makalah?" "Gue makalah aja," jawab Versus mantap. "Presentasi biar lo yang handle, lo kan jago ngomong di depan kelas. Tapi nanti sore kita diskusi bentar ya buat bagi materinya." "Siap, Bos!" sahut Budi sambil mengacungkan jempolnya. Sisa waktu istirahat mereka habiskan dengan obrolan ringan tentang jadwal ekstrakurikuler dan keluhan mengenai cuaca yang semakin terik di luar. Versus menikmati momen ini. Di tengah hiruk-pikuk sekolah dan tekanan hari Senin, interaksi singkat dengan Lia dan obrolan santai dengan Budi terasa seperti jangkar yang membuatnya tetap tenang. Saat bel tanda masuk kembali berbunyi, mereka berdiri dan berjalan santai menuju kelas, siap menghadapi jam pelajaran berikutnya. Bagi Versus, meskipun hari ini dimulai dengan sedikit kepanikan, segalanya terasa jauh lebih baik sekarang. -- Hujan sore baru reda ketika Versus menutup pagar besi kosannya. Suara sepatu berderak pelan di aspal, sementara tas sekolah tergoyang seiring langkahnya. Langit di atas gang Melati masih berwarna abu-abu keperakan, menyisakan genangan yang memantulkan cahaya lampu jalan yang baru menyala. Ia menaiki tiga anak tangga kayu menuju kamar nomor 4. Lantai berderit. Kunci berputar dua kali. Kamar Versus hanya tiga meter kali empat. Kasur lipat, meja belajar yang permukaannya penuh coretan rumus fisika dan jadwal try out, kipas angin berputar meski suaranya seperti mesin jahit kehabisan oli, dan lemari plastik kecil yang menyimpan seragam putih-abu serta dua helai handuk bersih. Versus melempar tas ke kursi plastik, langsung duduk di tepi kasur, dan membuka ponsel. Layar menyala. Notifikasi aplikasi *SentuhSehat* muncul di bagian atas: `Pesanan Baru: Pijat Refleksi & Punggung 60 menit` `Lokasi: Jl. Kenanga No. 8, Ibu Ratna` `Waktu: 17.30` Versus menghela napas pendek. Matanya sudah berat sejak jam pelajaran terakhir, tapi tangannya sudah bergerak otomatis. Ia membuka laci, mengeluarkan kemeja kerah putih yang sudah disetrika rapi, minyak kayu putih, handuk bersih, dan rol pemijat kayu. Di cermin kecil yang retak di sudut lemari, wajahnya terpantul: rahang masih muda, tapi ada garis lelah di bawah mata yang tak bisa disembunyikan oleh usia delapan belas tahun. “Ver masih sempat makan?” suara Bu Kos menyapa dari lorong. Wanita itu sedang menyapu daun kering yang hanyut dari halaman. “Sempat, Bu. Nanti saya beli nasi bungkus di warung Pak Dar,” jawab Versus sambil menyelipkan kunci kos ke saku celana. “Jangan begadang lagi, Nak. UN tinggal dua bulan.” “Iya, Bu. Makasih.” Versus turun, berjalan menuju halte. Siang tadi ia masih duduk di bangku kelas XII IPA 2, mendengarkan guru matematika membahas limit fungsi dengan spidol yang hampir habis. Sore ini, ia jadi terapis panggilan yang ratingnya 4,9 di aplikasi. Tidak ada yang tahu di sekolah. Dan ia lebih suka begitu. Rumah Ibu Ratna sederhana, berpagar bata merah yang ditumbuhi rambat sirih. Wanita paruh baya itu membuka pintu dengan bahu yang tampak kaku. “Mas, tolong punggung sama leher saja, ya. Seharian duduk di depan komputer, pegalnya sampai ke kepala.” “Siap, Bu. Saya siapkan handuk hangat dulu. Boleh saya pakai ruang tamu?” “Silakan, Mas. Lantai sudah saya alas karpet.” Di ruangan yang diterangi lampu kuning lembut dan beraroma teh melati, Versus bekerja. Ia tidak terburu-buru. Tangannya menekan pelan, mencari titik tegang di otot trapezius, lalu mengulur perlahan sepanjang tulang belikat. Aroma minyak kayu putih bercampur dengan lavender menyebar di udara. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali: “Tekannya terlalu keras, Bu?” “Enggak, pas. Di bawah pundak itu memang sering kram. Terima kasih, Nak. Kamu masih sekolah, ya?” “Iya, Bu. Kelas tiga.” “Pintar sekali bisa bagi waktu. Jangan sampai lupa makan siang.” “Iya, Bu. Nanti saya makan.” Di tengah sunyi itu, pikiran Versus melayang ke soal besok: try out biologi, tagihan listrik kos yang jatuh tempo minggu depan, dan apakah nilai rapot semester lalu cukup untuk lolos jalur SNBP.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN