Dua puluh menit kemudian, Versus tiba di depan pagar rumah Lia dengan plastik berisi martabak telur, dua botol teh botol, dan sebungkus donat.
Saat memarkir motor di ujung teras, Versu biarkan Lia keluar, mengunci pagar besi dengan cepat, lalu saat ia menoleh, Lia datang dan menarik Versus ke pintu rumah.
“Cepet.. Masuk,” bisik Lia sambil tersenyum.
Mereka naik ke lantai kamar Lia.
Begitu pintu kamar tertutup, Lia langsung mengunci dari dalam seperti yang dilakukannya di ruang tamu. Ia mencium pipi Versus sekilas.
Chup..!
“Gue masih ada dua soal lagi. Lo tunggu ya, jangan ganggu dulu,” pinta Lis sambil duduk kembali di depan meja belajar.
"Ok, Nyonya."
Versus meletakkan makanan di meja kecil, lalu duduk di tepi kasur.
Karena bosan menunggu dan tubuh masih panas setelah kerja dan tugas makalah tadi, Versus membuka kancing seragamnya satu per satu.
Lia melirik sekilas dari meja belajar, tidak komentar selain balik menulis.
Versus melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Ia bersandar di kepala kasur, mengambil ponsel, dan membuka kembali video mandi Lia. Tangan kanannya mulai bergerak pelan di antara pahanya, merangsang diri sendiri sambil menatap layar.
Lia diam-diam melirik lagi. Melihat Versus yang sedang m********i dengan serius di kasurnya, bibirnya menahan senyum.
Tanpa suara, Lia mengambil ponsel, memotret payudaranya sendiri dari sudut atas (hanya d**a dan leher, tanpa wajah), lalu mengirim ke nomor Versus.
Ping!
Pesan masuk.
Versus membuka chat. Melihat foto up-view p******a Lia yang dikirim, matanya melebar. Napasnya langsung tersengal lebih cepat. Gerakan tangannya di bawah semakin cepat, dan tanpa sadar ia mengeluarkan suara kecil.
“Nggh… Li…”
Lia tak tahan lagi. Ia tertawa pelan sambil melempar penghapus karet ke arah Versus.
“Pelanin suara lo! Gue masih ngisi soal!” pinta Lia sambil menahan tawa.
Versus memerah. Ia meringis malu, tapi tangannya masih bergerak pelan. “Maaf… hh, hh.. lo kirim foto gitu.. malah bikin gue—”
“Sstt!” Lia tempel jari di bibir, matanya terhibur. “Lanjutin aja, tapi pelan-pelan. Gue selesai 10 menit lagi.”
Versus mengangguk patuh, mencoba menahan suara meski sulit. Ia balik menatap foto yang baru masuk dengan tangan satunya bergerak lebih pelan.
Tak lama kemudian, ponsel Versus bergetar lagi — kali ini pesan dari aplikasi SentuhSehat.
Pesanan Baru:
Pijat punggung 90 menit
Lokasi: Perumahan Anggrek Indah
Waktu: Sekarang (urgent)
Versus menggerutu pelan. “Duh… klien, mana urgent lagi.”
Versus bangkit dengan enggan, membersihkan diri sebentar, lalu mulai berpakaian kembali.
Lia melirik dari meja belajar. “Mau pergi?”
“Iya. Urgent. Gue balik lagi nanti malam ya, paling jam 1 atau 2.”
Lia mengangguk. “Hati-hati. Jangan capek banget. Kunci lagi gerbangnya, ya. Bawa kerja aja dulu kunci rumah di pintu depan.”
Versus mencium kening Lia sebelum keluar kamar. “Oke Nyonya. Lo lanjut belajar. Makan martabaknya jangan lupa.”
---
Pukul 01.35 dini hari, Versus kembali ke rumah Lia dengan tubuh lelah. Motor diparkir di teras, pagar sudah terbuka sedikit. Ia masuk pelan, menutup pintu kamar Lia, dan mengunci dari dalam.
Lampu belajar masih menyala redup.
Di kasur, Lia sudah telanjang bulat.
Ia berbaring menyamping, kepala bertumpu di tangan, rambut tergerai di bahu. Tubuhnya yang putih mulus terpapar cahaya kuning lembut. Matanya menatap Versus dengan senyum kecil yang menggoda.
“Lo lama banget,” pelan Lia. “Gue udah nunggu dari tadi.”
Versus berdiri membelakangi pintu, tas kerja masih di bahu, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di depannya.
Kelelahan yang tadi dirasakan seketika lenyap, berganti dengan gelombang panas yang naik ke d**a.
“Li…” serak Versus saat melongo hingga mendekati.
Lia menggeser sedikit, memberi tempat untuk Versus di pembaringan.
“Mandangi aja terus atau mau langsung ke sini?” komen Lia, jeda untuk menggigit bibir bawah. “PR gue udah beres. Sekarang giliran lo yang bikin gue rileks… pake cara lain.”
Versus meletakkan mini bag di lantai, tangannya sudah mulai membuka kancing kemeja lagi.
Lia tersenyum, mata berbinar penuh hasrat.
“Buruan… gue udah basah, nunggu lo.”
Versus naik ke kasur, langsung menindih Lia dengan lembut. Dan..
Chyapp.. Chyuuphh.. ciip..
Bibir mereka bertemu dalam ciuman panas dan basah.
Lidah mereka saling menari, saling mengejar.
Versus meraba p******a Lia yang sudah mengeras putingnya, meremas pelan sambil ibu jarinya memutar-mutar puncak itu.
“Hhh… Ver…” desah Lia di sela ciuman, pinggul menggeliat pelan di bawah tubuh Versus.
Versus turun ke leher Lia, menciumi kulit halusnya, lalu turun lagi ke d**a. Bibirnya menyedot p****g kiri Lia dengan lembut, lidahnya berputar di sekitarnya.
Tangan kanan Versus merayap ke bawah, menyentuh celah basah Lia yang sudah banjir.
“Gila… lo emang udah banjir banget,” gumam Versus serak sambil mengusap k******s Lia dengan jari.
“Aahh… iya… sentuh situ… hhh… lebih cepet dikit,” erang Lia, pahanya terbuka lebih lebar. Jari Versus masuk perlahan, keluar-masuk pelan di dalam v****a yang hangat dan licin itu.
Lia mencengkeram bahu Versus. “Ver… masukin… gue nggak tahan lagi… masukin titid lo sekarang…”
Versus memposisikan diri, menggesekkan kepala penisnya yang sudah sangat keras pada celah basah Lia, lalu mendorong masuk perlahan.
“Nngghh…!” Lia menarik napas panjang saat merasakan benam dan gerak sosis itu. “Ahh… gede banget… pelan dulu… hhh… enak…”
Versus bergerak perlahan, masuk keluar dengan ritme yang dalam. Setiap dorongan membuat Lia mendesah panjang.
Tubuh mereka saling menempel, kulit saling bertemu, keringat mulai muncul.
Ronde pertama berlangsung intens.
"Ummh.. Lia... naaa.."
Versus mempercepat gerakan, pinggulnya menghantam pelan tapi kuat.
Liana mengangkat pinggul, menyambut setiap ulangan yang berlangsung intens.
“Ver… lebih dalam… A-aaa… Mhhhh… Kena banget… titid lo pas banget di dalem…”
Beberapa menit kemudian, Versus tidak tahan lagi.
“Li… Liana, gue mau keluar."
“Di.. di dalem aja… sembur di dalem… Hhh… gue pengen ngerasain.. panasnya…”
Lia meraih punggung Versus.
"Aaah!!"
Versus mengerang rendah, tubuhnya menegang. Ia menyemburkan cairannya dalam-dalam ke dalam v****a Lia.
"Nhh..!!"
Lia ikut mencapai o*****e bersamaan, dinding vaginanya berdenyut hebat, mengemut p***s Versus.
“Aaahh… Ver… gue keluar… Nhhh… Ke.. kelu.. ar…!”
Mereka berdua terengah-engah, tubuh masih menyatu.
"Hhh.. hh, hh.."
Versus mencium bibir Lia lembut, lalu perlahan menarik diri. Cairan putih kental mereka bercampur mengalir keluar dari v****a Lia yang masih berdenyut.
Lia tersenyum lelah tapi puas, tangannya mengusap d**a Versus. “Belum selesai… gue masih pengen lagi.”
Versus tertawa pelan. “Lo emang strong.”
Lia tak langsung komentar. Mereka berbaring sebentar, saling berpelukan dan berciuman lembut.
Setelah napas mereka agak normal, Lia mendorong Versus hingga berbaring telentang. Ia naik ke atas tubuh Versus, memegang p***s yang masih setengah keras, menggesekkannya ke celahnya yang basah dan licin oleh campuran cairan mereka.
Lia menurunkan tubuhnya perlahan, memasukkan p***s Versus ke dalam k*********a hingga habis.
“Mhh… hh.. masih enak… Masih keras…” desah si molek sambil mulai bergerak naik-turun pelan. "A-aaa.. Veri. Enak banget.. Nhhhh..."
Kali ini gerakan Lia lebih manja, lebih lambat, seolah ingin menikmati setiap senti.
Lia menunduk, mencium bibir Versus dengan pinggulnya terus beraktivitas pelan.
“Ver… titid lo jangan keluar ya…” gumam Lia manja di telinga Versus. “Gue suka kerasnya pas tambah keras di dalem… anget… Full…”
Versus memegang pinggang Lia, membantu gerakannya. "Ummh.. I-Iya… gue tegakin terus… Lo gerak aja sesukanya.”
"Aaa.. a, enak banget. Kerasnya kerasa.."
Lia semakin manja, menempelkan d**a ke d**a Versus, wajahnya tersembunyi di lehernya sambil terus menggerakkan pinggul dengan ritme lambat dan dalam.
Setiap kali turun, Lia mendesah panjang.
“Ahh… hhh… Dalem banget… hhh… lo enakan? Gue masih... Mmhhh.. masih denyutin titid lo…”
Gerakan mereka semakin sinkron.
Lia semakin cepat, napasnya tersengal di telinga Versus. “Ha.. aaa. Veri… gue mau keluar… Tetep di dalem… jangan lepas… please…”
"Nh.." Versus mengangguk, tangannya meremas b****g Lia. Ia mendorong pinggulnya ke atas, menyambut setiap gerakan Lia.
“Aaahh… !"
Lia klimaks dengan getar hebat. Vaginanya berdenyut kuat, mendenyuti p***s Versus seperti sedang memerah s**u. "Nghh.. Ver… gue keluar… Jhh… enak banget… Mmmhh.. Tetep di dalem… jangan cabut…”
"Haa! Li.. stop.."
Versus juga menyemburkan cairannya lagi untuk kedua kalinya, panas dan banyak, memenuhi v****a Lia hingga penuh.
Lia mendesah panjang, lunglai di atas Versus namun tetap menahan pinggulnya agar p***s Versus tidak keluar.
“Jangan dicabut dulu…” bisik Lia manja, suaranya lemah tapi puas. “Umhh.. Gue suka… Masih tegak di dalem… Anget… penuh lo… Ngng.. hhh.."
Versus memeluk Lia erat, mencium keningnya.
Mereka tetap dalam posisi itu, tubuh menyatu, p***s Versus tertanam dalam v****a Lia yang sempit mampat oleh cairan campuran mereka.
Napas mereka perlahan menjadi tenang. Kelelahan dari ronde pertama dan kedua, membuat mata mereka berat.
“Hhh.. hh, hh.. Ver…” gumam Lia pelan, hampir tertidur. “Tetep.. di dalem ya.. hh, hh.. sampe tidur…”
“Iya…” jawab Versus sambil mengusap punggung Lia lembut.
Mereka tertidur. Tubuh masih telanjang saling menempel, p***s Versus masih berada di dalam v****a Lia, hangat dan nyaman.
Hujan rintik kecil kembali turun di luar, menjadi pengiring tidur mereka yang damai dan intim.
---