Alarm ponsel Versus terdengar.
Versus menyambar perangkat di sampingnya itu dengan mata masih setengah terpejam, angka yang terpampang di layar 06.25. Hari Senin.
Versus bangkit dari kasur lesehan, kaki telanjangnya menginjak lantai keramik dingin. Ia bangkit bergerak ke kamar mandi yang ada di sudut ruang kosannya ini.
Mandi selesai, Versus bergegas ke lemari rakit dan menarik seragam putih abu-abu yang sudah disetrika rapi sejak malam sebelumnya. Handuk masih melilit di perut.
Usai bersetelan putih-abu, Versus menghela napas panjang di depan papan cermin, lalu mulai mengacak-acak meja belajar pendeknya. Tumpukan buku paket fisika, catatan kimia, dan beberapa novel bekas bacaan berserakan di atas lantai.
Versus mulai memindahkan satu per satu.
Akhirnya, di balik tumpukan buku yang paling tebal, ujung dasi itu menampakkan diri. Versus hampir tertawa geli pada dirinya sendiri.
Dengan gerakan terburu-buru, Versus melilitkan dasi itu di kerah, memastikan simpulnya tidak terlalu miring, lalu menyambar tas sekolah dan mengunci pintu kamar kos.
Udara pagi masih terasa segar, embun di dedaunan sudah mulai menguap tersengat matahari yang perlahan meninggi.
Versus berjalan kaki. Jalanan perumahan yang biasanya sunyi di pagi buta kini mulai dihidupkan oleh raungan mesin motor dan klakson ringan mobil antar-jemput siswa.
Beberapa teman sekolah Versus sudah melaju cepat di atas sepeda motor, seragam sekolah mereka bergoyang-goyang tertiup angin pagi.
Versus menyempatkan diri menarik napas dalam-dalam, mengatur langkah agar tetap stabil.
Di kepala Versus, pikiran tentang tugas yang tertunda dan jadwal pelajaran yang padat mulai berputar, ia segera menekan kekhawatiran itu.
Bangunan sekolah akhirnya tampak di ujung jalan, Versus langsung disambut oleh pemandangan yang sudah sangat akrab: kekacauan khas Senin pagi.
Gerbang besi berwarna hijau itu dipenuhi oleh gelombang siswa yang berdesakan. Di sisi kanan, dua guru piket berdiri tegak dengan clipboard di tangan, mata mereka tajam memeriksa kuku dan panjang rambut siswa yang mengantre.
Beberapa anak terlihat cemas, sementara yang lain berlarian kecil mengejar waktu sebelum bel pertama berbunyi.
Suara tawa, teriakan panggilan nama, dan derap sepatu yang menghantam aspal menciptakan simfoni pagi yang khas.
Versus tidak menerobos. Ia berjalan pelan menuju antrian paling belakang, tepat di bawah naungan pohon trembesi raksasa yang dahan-dahannya sudah mulai rindang. Bayangan pohon itu memberikan sedikit keteduhan dari terik matahari yang mulai menyengat.
Dari balik kerumunan siswa yang terus mengalir menuju gedung utama, pandangan Versus tiba-tiba terhenti.
Di antara barisan siswa yang sedang menunggu giliran pemeriksaan, ia melihat Lia. Gadis itu berdiri sedikit menyamping, tangan kanannya terangkat menyentuh area alis untuk memayungi wajah dari silau matahari pagi, sementara tangan kirinya mencengkeram erat tali tas sekolahnya.
Postur Lia rileks, tapi matanya tampak waspada menatap ke arah guru piket.
Versus sejenak lupa akan antrian di depannya. Ia hanya memperhatikan dari jauh, tidak berani mengambil langkah untuk menyapa.
Rasa gugup kembali merayap di d**a. Dari jarak itu, Versus bisa melihat jelas bagaimana cahaya matahari pagi memantul lembut di kulit Lia, dan yang paling mencuri perhatiannya adalah pita rambut berwarna biru muda yang dikaitkan rapi di ikatan kuncirnya.
Warna pita kontras dengan seragam putih abu-abu, membuatnya tampak lebih cerah dari biasanya.
Versus mencatat detail itu dalam benaknya, seolah menyimpan foto diam yang akan ia ingat sepanjang hari, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan saat gilirannya diperiksa tiba.
Setelah lolos dari pemeriksaan kuku dan rambut yang ketat, Versus menyusuri koridor menuju kelas XI IPA 2.
Suasana di dalam kelas sudah cukup ramai, namun masih jauh dari hiruk-pikuk di luar.
Versus menuju bangku biasa di barisan ketiga, dekat jendela yang menghadap ke halaman sekolah. Kursi kayu itu terasa familiar, seolah menyambutnya pulang ke zona nyaman.
Di sebelah Versus, Budi sudah duduk dengan wajah masam, pensil mekanik di tangannya berputar-putar gelisah di atas buku tulis yang masih setengah kosong.
“Lo tau nggak, Ver?”
Budi langsung bicara begitu Versus meletakkan tas.
“PR Matematika Pak Haris itu nggak cuma satu halaman. Itu dua halaman penuh, dan gue baru ngerjain nomor tiga. Rumus integralnya tadi malam gue lupa semua. Gue bener-bener nggak nyangka soal nomor lima bisa sekeras itu.”
Versus tersenyum tipis sambil membuka tas dan mengeluarkan buku paket Matematika.
“Gue juga sempet stuck di situ. Tapi coba liat lagi langkah substitusinya, pasti bisa. Lagian kita kan masih ada waktu sebelum Pak Haris masuk.”
Budi menghela napas, tapi ketegangannya sedikit mencair.
“Mudah-mudahan sih. Ngomong-ngomong, makan siang di kantin ya? Gue udah laper dari tadi. Terus tugas kelompok Biologi buat minggu depan itu kita belum bagi-bagi juga, lo mau ambil bagian presentasi atau bikin makalah?”
“Gue ambil makalah aja,” jawab Versus sambil duduk nyaman. “Presentasi biar lo yang handle, toh lo kan jago ngomong di depan kelas. Tapi nanti sore kita diskusi bentar, ya. Biar hasilnya nggak asal-asalan.”
“Deal,” sahut Budi sambil mengangguk lega.
Percakapan ringan itu terus berlanjut, mengisi waktu sebelum pelajaran dimulai dengan obrolan tentang jadwal ekstrakurikuler, rencana liburan semester, dan keluhan kecil tentang cuaca yang semakin panas. Versus menikmati momen ini.
Di tengah kesibukan akademik dan tekanan hari Senin, adanya Budi dan rutinitas kelas yang familiar terasa seperti jangkar yang menahannya tetap stabil.
Tiba-tiba, suara bel masuk berbunyi nyaring, memotong semua obrolan dan tawa di dalam kelas. Deringnya panjang dan tegas, menandai batas antara waktu santai dan waktu belajar.
Semua siswa dengan sigap kembali ke tempat duduk masing-masing, buku-buku dikeluarkan, dan kelas perlahan hening.
Versus menarik napas pelan, lalu membuka buku paketnya di halaman yang ditandai. Ia menatap tulisan di bab pertama, menyadari bahwa hari ini tidak akan penuh kejutan dramatis atau peristiwa luar biasa.
--